Mafia Couple Love

Mafia Couple Love
Melepasmu


Chiko tampak duduk selonjoran di balkon apartemennya. Chiko tampak menikmati langit malam yang bertabur bintang. Sehabis melakukan pekerjaannya yang begitu menumpuk bahkan lembur, hingga memastikan tuan Fino kembali di kediamannya dengan selamat. Akhirnya Chiko bisa menikmati istirahatnya dengan tenang.


Chiko mulai menyeruput kopi varian cappuccino yang begitu nikmat ia cecap. Chiko kembali memeriksa ponselnya, saat mendengar sebuah notifikasi masuk di ponselnya. Chiko hanya mampu memicingkan matanya saat melihat potret bahagia dari wanita yang pernah dekat dengannya.


“Selamat atas pertunangan mu nona Lexa, semoga kau bahagia. Maafkan aku yang menjauhi mu tanpa alasan”ucap Chiko sambil menatap potret bahagia dua pasangan yang baru saja bertunangan.


Chiko kembali membayangkan saat ia begitu tega mengatakan suatu hal yang menyakitkan kepada Lexa. Hingga wanita itu tidak pernah lagi bertemu dengannya.


Flashback on


Enam bulan yang lalu, dimana chiko begitu sibuk mencari istri majikannya. Sementara Lexa yang baru saja sembuh pasca operasi mata yang dilakukannya terus saja menghubungi Chiko dan menanyakan perihal keadaan Chiko yang tak kunjung menemuinya. Lexa terus menghubungi Chiko untuk mengetahui kabarnya, namun Chiko malah menghilang bak di telan bumi. Nomor ponsel yang ia gunakan saat dekat dengannya sudah tidak aktif lagi, sepertinya Chiko sudah memusnahkannya.


Hingga pada akhirnya, Lexa turun tangan untuk menemui Chiko di perusahaan Alexander Group. Lexa begitu nekatnya, kembali menginjakkan kakinya di perusahaan tersebut. Dimana dirinya dulu mendapatkan sebuah penyiksaan hingga menjadi cacat.


Terlihat Lexa sudah berdiri di depan Perusahaan Alexander Group yang menjulang tinggi. Lexa tampak muslimah dengan pakaian syar'i yang telah ia kenakan. Lexa kemudian melangkahkan kakinya memasuki gedung pencakar langit. Lexa memilih menghampiri para staff resepsionis untuk menanyakan ruangan Chiko.


“Permisi mbak, saya ingin bertemu dengan Sekretaris Chiko”ucap Lexa dengan ramah.


“Silahkan duduk terlebih dahulu nona”ucap Staff wanita begitu ramah. Lalu ia pun menghubungi Chiko.


Lexa kemudian memilih duduk di kursi tunggu, sambil menunggu informasi dari staff resepsionis.


“Maaf nona, tuan Chiko sedang rapat. Dia tidak bisa diganggu”ucap Staff wanita.


“Eem sebaiknya saya tunggu saja mbak sampai selesai rapat. Dan bolehkan saya meminta nomor ponsel sekretaris Chiko?”ucap Lexa dengan ramah.


“Tidak masalah nona, jika anda ingin menunggunya. Tapi mohon maaf nona, saya tidak berani memberikan nomor ponsel tuan Chiko ke sembarang orang tanpa persetujuannya sendiri”ucap staff wanita.


“Baiklah mbak”ucap Lexa sambil mengangguk. Kemudian memilih duduk di kursi tunggu.


Lexa yang sudah bosan menunggu berjam-jam lamanya, mulai berinisiatif untuk mencari Chiko sendiri. Lexa mulai memasuki lift yang akan membawanya ke lantai 10 untuk mencari keberadaan Chiko.


Sementara Chiko baru saja keluar dari ruang rapat yang berada di lantai 10 bersama tuan Fino dan para petinggi perusahaan Alexander Group. Chiko sempat menghentikan langkahnya, saat mendapati wanita yang begitu dikenalinya berjalan ke arahnya, dengan cepat Chiko berinsiatif untuk melakukan suatu tindakan. Chiko langsung menarik tangan karyawan wanita yang berada di sampingnya.


“Ada apa tuan Chiko menarik saya”ucap wanita tersebut yang seumuran dengan Chiko.


“Nanti saya jelaskan mbak Rani, berpura-pura lah menjadi kekasih saya didepan wanita itu”ucap Chiko sambil menunjuk ke arah Lexa.


“Baiklah, yang jelas ada tipsnya, lumayan buat beli popok bayiku”ucap Rani sambil tersenyum yang mulai setuju.


“Hemm"ucap Chiko kemudian menggenggam tangan Rani.


Chiko dan Rani mulai menjalankan aktingnya dengan cara berjalan beriringan sambil bergandengan tangan di hadapan Lexa yang sudah diam ditempat dengan wajah yang sulit di artikan.


“Chiko!”ucap Lexa dengan wajah datarnya yang menghentikan langkah keduanya.


Seketika Chiko dan Rani menghentikan langkahnya dan langsung melirik ke arah Lexa.


“Mengapa kau menjauhiku, aku terus menghubungi mu dan mencari mu sampai saat ini”ucap Lexa kesal dan lebih kesalnya Chiko begitu mesra dengan wanita di sampingnya.


“Siapa kamu, jangan ganggu pacar saya”ucap Rani tegas, sambil bersandar di lengan Chiko.


Lexa langsung menutup mulutnya dan sama sekali tidak percaya dengan ucapan wanita yang bersama Chiko. Ia langsung tidak suka melihat kedekatan Chiko bersama wanita lain.


“Ini bohong, mengapa kau setega ini kepadaku!”ucap Lexa dengan mata berkaca-kaca.


“Maafkan aku nona Lexa, tapi memang ini kenyataannya. Kami berpacaran, aku hanya mendekatimu selama ini karena kasihan kepadamu. Jadi jangan terlalu di ambil hati kebaikanku.. Kami sudah bahagia, tolong mengertilah”ucap Chiko dingin.


“Aku benar-benar kecewa kepadamu, kau bahkan pernah mengatakan untuk terus menjagaku dan hidup bersama dengan ku, tapi kenyataannya kau hanya berdusta. Ternyata omongan manis seorang lelaki tidak bisa di percaya. Saya pikir kamu adalah lelaki sejati yang akan menemaniku selamanya”ucap Lexa dengan emosi.


Sedangkan Chiko memilih diam mendengar makian wanita yang pernah dekat dengannya.


“Terima kasih, karena kau sudah berada di sampingku saat hidupku di penuhi dengan kegelapan. Aku memang bukanlah wanita yang pantas untuk bersamamu, apalagi harus dicintai olehmu. Maafkan aku yang pernah merepotkan mu, terima kasih atas hari-hari yang pernah kau luangkan untuk bersamaku, terima kasih kau sudah menjadi sahabat terbaikku”ucap Lexa dengan mata berkaca-kaca yang sebentar lagi akan tumpah.


Aku benar-benar minta maaf nona Lexa karena sudah menyakitimu. Kau bagaikan rembulan yang tidak mampu ku gapai. Inilah jalan terbaik untuk kita, semoga kau terus bahagia. Batin Chiko.


“Semoga kau bahagia bersama kekasihmu”ucap Lexa menunduk sambil menghapus kesal air matanya yang mulai tumpah.


“Permisi”ucap Lexa yang langsung berbalik badan dan kembali melangkahkan kakinya yang terasa berat berjalan menuju lift yang akan membawanya ke lantai dasar. Lexa di selimuti rasa sakit hati yang mulai teriris di jantungnya. Semuanya begitu sakit bahkan berubah secepat itu, perasaan yang pernah tumbuh di hatinya.


“Ambillah”ucap Chiko yang menyerahkan beberapa lembar uang kepada Rani. Kemudian berlari menyusul Lexa.


“Terima kasih tuan Chiko”ucap Rani senang yang menerima imbalannya.


Air mata Lexa benar-benar tumpah di dalam lift. Saat pintu lift terbuka, Lexa dengan cepat berjalan keluar dari perusahaan tersebut.Sementara Chiko masih berusaha mengikuti Lexa secara diam-diam dari belakang.


Lexa bahkan berlari menuju parkiran yang sudah berderai air mata. Bahkan tanpa sengaja ia kembali menubruk dada bidang seorang lelaki yang baru saja turun dari mobilnya.


“Hei, kalau jalan pakai mata”ucap kesal lelaki yang mendorong Lexa dengan kesal.


Lexa sama sekali tidak menimpali ucapan lelaki tersebut, ia pun memilih menjauh dan masuk ke dalam mobilnya. Kemudian langsung menancap gas meninggalkan tempat tersebut. Sedangkan lelaki tersebut tampak mengepalkan tangannya menatap kepergian Lexa yang sama sekali tidak meminta maaf atas kejadian itu.


Aku melepas mu dengan perasaan lega. Sehat selalu dan berbahagialah dengan kehidupan barumu nona Lexa. Ku harap kau akan segera menemukan lelaki yang pantas untuk mu. Batin Chiko dengan perasaan bersalah.


Flashback Off


Chiko tersadar dari lamunannya, dikarenakan angin malam mulai menggerogoti kulitnya. Chiko memilih masuk ke dalam kamarnya. Kemudian memilih mengistirahatkan tubuh lelahnya di atas tempat tidur.


Sementara di tempat lain tepatnya di Negara A…


Di kediaman Tuan Alvin…


Lexa masih saja memandangi cincin pertunangannya yang sudah tersemat sempurna di jari manisnya. Ia pun kembali mengingat ucapan David kepadanya.


‘Kau akan menyesal dengan perjodohan ini’.


Lexa kembali tersenyum mendengar ucapan David.


“Aku tidak akan pernah mengecewakan kedua orang tuaku dengan perjodohan ini. Aku bahkan tidak ingin mundur dengan ancaman mu tuan David. Lihat saja nanti, siapa yang lebih pintar, aku atau dirimu”ucap Lexa yang memilih bersandar di badboard tempat tidurnya.


“Aku pernah berharap untuk bisa bertunangan dengan sahabatku. Tapi rencana Tuhan sungguh jauh berbeda dengan realita kehidupanku. Dia bahkan sudah bahagia dengan kekasihnya”ucap Lexa sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.


“Ku harap kedepannya baik-baik saja, aku tidak ingin membuat ayah, bunda dan papah menghawatirkan nasibku”ucap Lexa sambil memejamkan matanya.


Sementara di kediaman tuan Fino….


Milan dan Fino mulai mengajak baby Malfin bermain di waktu dini hari. Habis menikmati ASI ibunya, baby Malfin tampak aktif menatap papah dan mamanya yang sedang mengajaknya berbicara.


“Mas, coba giliran mu yang menggendong baby Malfin”ucap Milan sambil tersenyum menatap gemes bayinya.


“Berikan padaku”ucap Fino yang ingin mengambil alih baby Malfin. Namun secepat kilat baby Malfin kembali menangis.


“Tidak usah, baby Malfin marah, sepertinya dia lebih senang berada di gendonganku”ucap Milan sambil tersenyum.


Mereka tampak asik bermain dengan baby Malfin yang tak kunjung juga tertidur.


“Milan, sepertinya kita harus memberikan adik untuk Malfin. Setelah itu, Aku ingin kembali memiliki anak lagi dan lagi hingga anak kita begitu banyak. Supaya rumah ini ramai dengan kehadiran anak-anak kita nantinya”ucap Fino sambil tersenyum tipis memegangi tangan mungil baby Malfin.


Sementara Milan tampak tercengang mendengar ucapan suaminya. Apa dia pikir buat anak hanya sekedar buat adonan kue, pikirnya.


“Nanti saja kita pikirkan mas, aku sebenarnya ingin kembali mengandung buah hati kita. Tapi belum saatnya, sebaiknya kita perbaiki terlebih dahulu hubungan kita dengan mama dan lainnya” ucap Milan.


“Aku akan membawa kalian berdua menemui mama, setelah baby Malfin genap dua tahun.”ucap Fino dingin.


“Tapi mas, itu terlalu lama”ucap Milan.


“Mengertilah sayang, kau tidak tahu kemarahan adikku Darren”ucap Fino sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.


“Baiklah, aku akan mengikuti keputusan mas Fino”ucap Milan sambil tersenyum yang mulai mengantuk.


Fino dan Milan kembali mengajak baby Malfin bermain yang tak kunjung juga mengantuk. Sementara kedua orang tuannya tampak mengantuk. Fino dan Milan bergantian menggendong bayi Malfin yang tak kunjung juga tertidur. Keduanya kembali tertawa terbahak-bahak melihat tingkah baby Malfin yang sudah menggemaskan.


Inilah realita kehidupan sepasang suami istri yang dikarunia buah hati, kedepannya akan mendapatkan kejutan demi kejutan dari buah hatinya.


Bersambung…..


Terima kasih atas dukungannya teman-teman 🙏🙏🙏