Mafia Couple Love

Mafia Couple Love
Bersamamu


“Tolong pergilah!, aku ingin sendiri”ucap Milan sambil buang muka. Ia benar-benar butuh sendiri dan tidak ingin diganggu. Apalagi ia kembali dipertemukan dengan masa lalunya yang membuatnya tersakiti.


“Tidak Milan, aku akan tetap di sampingmu sampai kapan pun. Jangan seperti ini, walau bagaimana pun kau mengusirku, aku akan tetap berada di sampingmu untuk menjaga mu. Asal kau tahu, kau adalah istriku. Maafkan aku yang pernah menyakitimu,”ucap Fino dengan mata berkaca-kaca yang sedang duduk di kursi, samping tempat tidur Milan.


Mata Milan ikut berkaca-kaca mendengar ucapan Fino. Entah mengapa perasaannya sedikit tersentuh dengan ucapan Fino. Namun ia tidak ingin kembali mengenang masa lalunya.


“Cukup tuan!, jangan berbicara omong kosong. Kita sama sekali tidak memiliki hubungan apapun, jadi tolong jangan panggil saya sebagai istri tuan dan tolong jauhi saya!. Saya sudah bahagia dengan kehidupan baru yang kujalani, kumohon pergi dari kehidupanku”ucap Milan sambil mengatupkan salah satu tangannya, memohon dihadapan Fino.


Fino menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Milan.


“Aku memang banyak salah terhadap mu, Tolong maafkan aku Milan. Kali ini, aku benar-benar tidak ingin kehilanganmu. Asal kau tahu, aku begitu frustasi mencari mu kemana-mana, bahkan aku mencari mu ke berbagai Negara, demi menemukanmu, agar kita kembali bersama dan membangun bahtera rumah tangga yang bahagia. Jangan membuatku tersiksa Milan karena aku ingin selalu di dekatmu”ucap Fino yang menatap manik mata Milan dengan begitu dalam, sambil memegangi tangan Milan.


Tatapan Milan pun tidak berpaling dari manik mata Fino yang menatapnya dengan tatapan yang berbeda.


“Kau masih istriku, perceraian itu tidak terjadi. Chiko yang sudah bekerja keras menggagalkan perceraian kita. Amplop coklat yang kau terima, hanyalah sebuah sertifikat apartemen pemberian adikku Darren. Percayalah Milan, kita tidak bercerai, kau masih berstatus istriku. Aku ingin bersamamu selamanya, bahkan ingin menua bersamamu”ucap Fino dengan mata berkaca-kaca, kemudian langsung memeluk Milan untuk melepaskan rindu yang terpendam yang sudah lama ia rasakan.


Milan hanya diam di peluk oleh Fino, tiba-tiba saja air matanya menetes dengan sendirinya, ia pun kembali merasakan perasaan aneh, debaran jantungnya kembali bereaksi, begitu halnya yang dirasakan oleh Fino. Keduanya berpelukan saling diam dengan debaran jantung yang kembali on, perasaan rindu keduanya terbayarkan lewat pelukan hangat yang cukup lama.


Pintu ruangan VIP yang di tempati Milan terbuka, dan menampilkan sosok Novi yang membawa parcel buah.


Milan dengan cepat melepaskan pelukannya. Sementara Fino sama sekali tidak melepaskan pelukannya.


“Permisi, eeh maaf sudah mengganggu”ucap Novi dengan hati-hati. Kemudian dengan cepat meletakkan parsel buah yang di bawah nya di atas meja.


“Mbak Milan cepat sembuh ya, kalau begitu saya permisi dulu”ucap Novi yang terlihat buru-buru dan tidak ingin mengganggu kebersamaan mereka.


“Novi” ucap Milan yang melihat ke arah Novi yang terus saja berjalan hingga berlalu dibalik pintu.


“Sudahlah, sebaiknya kamu beristirahat”ucap Fino yang sudah melepaskan pelukannya.


Fino kembali membantu Milan dengan hati-hati berbaring di tempat tidur. Kemudian menarik selimut untuk menyelimuti tubuh istrinya agar tetap hangat.


“Jika butuh sesuatu, kamu hanya perlu memanggilku. Aku siap siaga selama 24 jam di ruangan ini, untuk menjagamu. Beristirahatlah sayang”ucap Fino lalu mencium kening istrinya.


Wajah Milan memerah, mendengar ucapan Fino yang memanggilnya dengan kata sayang. Fino kembali menuju sofa untuk kembali menyelesaikan pekerjaannya. Fino terlihat berkutat dengan laptopnya, ruangan tersebut ibarat rumah ketiga bagi Fino, karena ia mampu bekerja dan beristirahat di ruangan itu demi menjaga istrinya.


Walaupun sedang bekerja, terkadang Fino curi-curi pandang melihat ke arah tempat tidur, dimana istrinya berada, yang sudah tertidur pulas dan terlelap dalam mimpi. Fino bernafas lega, karena pekerjaannya bisa ia selesaikan. Waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari waktu setempat. Harusnya waktu tersebut ia gunakan untuk beristirahat bukan sebaliknya. Tapi Fino tidak ambil pusing dengan semua itu, yang jelas ia mampu memanfaatkan waktunya dengan baik.


3 hari kemudian….


Kondisi Milan sudah membaik, fino mulai merasa lega dan selalu berada di sampingnya jika Milan membutuhkan sesuatu. Seperti halnya menyuapi Milan, membantu Milan mengganti pakaiannya, membantu Milan ke toilet dan melakukan hal kecil yang membuat Milan mulai merasa nyaman berada disisinya.


Hari ini sepasang suami istri itu begitu bahagia, karena ia kembali diizinkan untuk mengunjungi bayinya.


Fino merasa tidak nyaman, karena sampai saat ini, ia belum juga jujur kepada Milan tentang rahasia di masa lalu, yang selalu saja ia tutupi dari Milan. Fino mulai berusaha keras untuk berkata jujur kepada Milan, namun waktunya selalu saja tidak tepat. Berhubung karena kondisi Milan belum sepenuhnya pulih, ia tidak ingin Milan kembali emosional dan bisa saja membahayakan dirinya dengan bayinya.


"Tuan, sebaiknya kau juga sarapan pagi bersama ku, kau tidak perlu lagi menyuapi ku"ucap Milan yang memilih menolak suapan dari Fino.


"Sampai kapan kau memanggilku dengan sebutan tuan, panggil aku mas atau sayang, sekarang juga!"ucap Fino sambil mencubit kecil hidung mancung Milan.


"Aku lebih suka memanggil mu dengan tuan"ucap Milan dengan mata berbinar.


"Baiklah terserah kamu saja. Aku sudah sarapan lebih awal dari mu. Jadi cepat buka mulut mu, supaya bubur ini bisa menambah tenaga mu"ucap Fino dengan tatapan tajam.


Milan menjadi patuh, suapan demi suapan bubur ayam sudah mengisi perutnya. Fino begitu senang bisa menyuapi istrinya. Fino kembali memberikan segelas air putih untuk Milan. Milan tersenyum manis menerima segelas air putih, lalu meminumnya.


"Tolong ambilkan aku sisir tuan, aku ingin terlihat rapi di depan bayiku"ucap Milan sambil tersenyum ke arah Fino yang sedang duduk di samping nya.


Fino kembali mengulurkan tangannya untuk mengambil tas kosmetik yang sudah ia siapkan untuk Milan. Ia pun mengambil sisir dalam tas tersebut.


"Biar aku yang membantu mu, mendekatlah lebih dekat dengan ku"ucap Fino yang sudah memegang sisir.


Milan lalu melakukan apa yang di perintahkan oleh Fino. Sementara Fino dengan hati-hati mulai menyisir rambut panjang istrinya. Fino begitu menjaga dan merawat istrinya dengan baik. Keduanya merasa nyaman tinggal bersama di ruangan itu. Setelah selesai, Milan kembali menanyakan penampilannya kepada Fino.


"Apa aku sudah terlihat rapi"tanya Milan.


"Kau sangat rapi dan semakin sempurna di mataku"ucap Fino sambil memindahkan anak rambut Milan.


"Terima kasih"ucap Milan yang tersipu malu.


Kini mereka sudah berada di ruang NICU dan masing-masing menggunakan pakaian steril di ruangan tersebut. Detak jantung Milan kembali memompa dengan cepat, karena untuk pertama kalinya ia akan melihat buah hatinya. Fino yang berada di samping nya, hanya bisa menggenggam tangannya dengan erat.


Dokter yang berada di ruangan NiCu, kembali mengarahkan Milan beserta Fino pada inkubator bayinya. Terlihat bayi mungil yang masih memerah sedang terlelap dengan nyaman di dalam inkubator nya, layaknya tempat tidur ternyaman nya. Mata Milan berkaca-kaca melihat sosok malaikat kecilnya yang sedang terlelap di dalam inkubator.


"Malaikat kecil ku, anakku sayang. Tetap sehat di dalam sana. Maafkan ibu yang tidak bisa menjagamu dengan baik"ucap Milan yang terlihat merasakan memiliki dunia baru, melihat sosok yang selalu saja ingin ia lihat di dunia ini. Tak terasa air mata Milan kembali membasahi pipinya.


Fino kemudian merangkulnya untuk menenangkan dirinya.


"Sabar sayang, anak kita pasti bisa melewati semua ini. Dia anak yang kuat yang pastinya juga memimpikan untuk kembali bersama dengan kedua orang tuanya.


"Maksud ku anak kita, ya anak kamu juga, anakku"ucap Fino gelagapan.


Apa aku harus mengungkapkan rahasia di masa lalu kami. Tidak, ini waktu belum tepat. Setelah Milan dan anakku kembali ke kediaman ku, saat itulah aku akan mengungkapkan rahasia kami kepada Milan. Batin Fino.


Milan kembali melihat ke arah bayinya, sambil menghapus air matanya.


"Apa saya bisa menggendongnya dok"ucap Milan kepada dokter yang berjaga.


"Belum bisa nona, kemungkinan besar umur bayi sudah memasuki 2-4 bulan di dalam inkubator ini. Karena peralatan medis masih melekat di tubuh si bayi. Jadi saya mohon nona bersabar dulu"ucap Dokter wanita sambil tersenyum ramah.


"Baik dok, saya akan sabar menunggu waktunya"ucap Milan sambil terus menatap bayinya.


"Lihatlah sayang, dia mirip dengan mu"ucap Fino sambil tersenyum menunjuk ke arah inkubator bayinya.


Apanya yang mirip dengan ku, aku rasa bayi ku lebih mirip dengan tuan Fino. Bagaimana mungkin ini semua bisa terjadi, mengapa bayi ku lebih mirip dengan tuan Fino. Apa jangan-jangan saat aku mengandungnya, wajah tuan Fino selalu terbayang di pikiranku, sehingga bayi ku mirip dengannya. Ini begitu mustahil, aku jadi aneh..... Batin Milan yang tidak mampu ia lanjutkan.


"Dia pasti sangat senang, karena kita mengunjunginya"ucap Fino sambil tersenyum yang terus memperhatikan bayinya.


"Iya tuan, dia pasti sangat senang melihat sosok ibunya sudah berada di samping nya"ucap Milan dengan mata berkaca-kaca.


"Maafkan mama sayang, karena tidak menepati janji mama untuk melahirkan mu secara normal"ucap Milan sambil terisak.


"Kau sudah hebat sayang, karena bayi kita masih bisa bertahan di dalam perut mu"ucap Fino dengan mata berkaca-kaca.


"Aku bahkan ingin melahirkannya secara normal, karena aku ingin merasakan kesakitan yang luar biasa dirasakan oleh seorang ibu untuk melahirkan buah hatinya"ucap Milan dengan air mata yang terus saja membasahi pipinya.


"Kau tidak boleh bersedih mulai saat ini. Kau sudah menjadi ibu yang hebat baginya"ucap Fino sambil menghapus air mata Milan.


Sepasang suami istri itu, hanya bisa memperhatikan bayinya di dalam inkubator. Ia belum bisa menggendongnya, seperti yang diimpikan oleh keduanya. Tak terasa, waktu berkunjung mereka habis, Fino beserta Milan kembali meninggalkan bayinya. Mereka berdua kembali ke ruangan Milan, guna untuk beristirahat.


Malam harinya.....


Milan mulai membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, jarum infus kembali tertancap di tangannya. Milan masih saja belum bisa tertidur, ia terus saja memikirkan bayinya. Sementara Fino baru saja keluar dari toilet, ia pun mendapati Milan yang masih saja belum tertidur. Fino langsung menghampiri nya.


"Kenapa belum tidur?"ucap Fino yang kembali duduk di kursi.


"Aku tidak bisa tidur, aku kepikiran dengan bayiku"ucap Milan sambil menunduk.


"Tidurlah, bayi kita baik-baik saja. Aku mengerahkan beberapa anak buah ku untuk berjaga-jaga di area ruangan bayi kita"ucap Fino yang kembali menenangkan istrinya.


"Benarkah"ucap Milan.


Fino hanya mampu mengangguk sebagai jawabannya.


"Sebaiknya kamu tidur, aku juga ingin tidur di sofa"ucap Fino sambil tersenyum.


"Selamat malam"ucap Fino sambil mencium kening istrinya yang sudah menjadi kebiasaannya.


Fino lalu berbalik badan, Milan dengan cepat memegang tangannya.


"Tidurlah di samping ku, aku tidak tega melihat mu, terus tidur di sofa kecil itu"ucap Milan sambil menunduk.


Fino tersenyum mendengar ucapan Milan.


"Jangan-jangan kau ingin memelukku kan"ucap Fino sambil menggoda Milan.


"Tidak, aku hanya tidak ingin kau kedinginan seorang diri"ucap Milan dengan wajah merona.


"Baiklah"ucap Fino lalu naik ke tempat tidur, kemudian membaringkan tubuhnya di samping istrinya.


"Jangan salahkan aku, jika aku sampai berbuat macam-macam kepada mu"ucap Fino yang lagi-lagi menggoda Milan.


"Kau!.."ucap Milan sambil memukul lengan Fino menggunakan salah satu tangannya.


"Tidak sayang, mana mungkin aku setega itu kepada mu. Aku hanya bercanda"ucap Fino sambil tersenyum tipis.


Milan ikut tersenyum menatap Fino. Fino sedikit memberi ruang kepada istrinya, jangan sampai tubuhnya bisa saja melukai kembali luka istrinya.


"Tidurlah"ucap Milan sambil tersenyum.


"Kau juga harus tidur. Selamat malam dan mimpi yang indah"ucap Fino sambil membelai wajah istrinya.


Sungguh Fino benar-benar bahagia bisa bersama dengan istrinya, apalagi sedekat ini dengan istrinya. Suasana hatinya kembali berbunga-bunga dengan kehadiran sosok wanita yang dicintainya dan kehadiran buah hati dari hubungannya dengan Milan menambah anugerah terindah untuknya.


Bersambung.....