
Semuanya menjadi gelap, hidupnya menjadi hancur berkeping-keping. Pikiran yang selama ini menghantui nya, terbukti sudah. Dua garis merah terpampang jelas di bagian testpack. Tangannya pun gemetaran memegangi testpack tersebut, hingga tak terasa testpack tersebut terjatuh di lantai. Milan pun ikut merosot ke lantai, air matanya mengalir dengan deras nya.
Hatinya begitu hancur, rasa sesak mulai menyelimuti nya. Ingin rasanya ia berteriak sekeras-kerasnya kepada sang pencipta, agar semua kenyataan menyakitkan tidak benar adanya. Tangisnya pun pecah, Milan hanya mampu menutup mulutnya untuk mengurangi suara tangisnya.
"Mengapa ini harus terjadi kepada ku Tuhan, hiks hiks hiks, mengapa kenyataan ini begitu menyakitkan kepada ku. Mampukah keluarga Alexander menerima janin di perutku. Akkhhh aku membenci semua ini, terutama lelaki b****k yang sudah membuat ku hamil, hiks hiks hiks"ucap Milan sambil meninju dinding tembok dengan perasaan hancur.
"Aku benci dengan semua kenyataan yang menyakitkan untukku, terlebih lagi, tidak akan ada yang mampu menerimaku apa adanya. Sungguh begitu besar ujian yang kau berikan kepada ku Tuhan, hiks hiks hiks"ucap Milan sambil memegangi kedua lututnya.
"Aku sangat takut muncul di hadapan tuan Fino, dengan kondisi ku yang seperti ini. Apalagi aku sedang mengandung janin dari lelaki lain, hiks hiks hiks" ucap Milan dengan tangis pecah, sambil menjambak rambut panjang nya.
Hilang sudah harapannya untuk menjalin hubungan dengan Fino, lelaki yang dibencinya yang selalu saja berbeda haluan, namun mampu membuat jantungnya berdebar-debar tak karuan.
Milan terus menumpahkan kesedihannya di dalam toilet. Ia sungguh hancur, dan menjadi seorang wanita hina dan penuh dosa. Apakah ia harus bahagia dengan kehamilannya sekarang? namun tidak bagi Milan, kehamilan nya mampu membawa bumerang dalam kehidupan nya. Milan menjadi takut dengan kehamilannya sendiri.
Seorang wanita bersuami, pasti sangat bahagia jika ditakdirkan hamil oleh sang pencipta, pastinya mereka akan sangat bahagia karena sudah di berikan kepercayaan menjadi seorang ibu yang akan mampu menjaga dan merawat anak-anak nya kelak, namun tidak teruntuk Milan.
Sementara Fino baru saja bangun tidur, ia tidak menemukan Milan di sampingnya.
"Kemana perginya gadis tua" ucap Fino yang sedang duduk di pinggir tempat tidur.
Terdengar suara gemericik air dari dalam toilet yang mampu didengar oleh Fino.
"Apa dia sedang mandi" ucap Fino, lalu turun dari tempat tidur. Kemudian ia pun berjalan menuju toilet.
Saat di depan pintu toilet, Fino mampu mendengar suara tangis wanita yang begitu memilukan. Fino kembali menajamkan pendengarannya di pintu toilet.
Fino mendengar dengan jelas suara tangisan di dalam sana, ia pun langsung menggedor pintu toilet.
"Hei keluar!, aku ingin menggunakan toilet"ucap Fino yang terus menggedor pintu toilet, layaknya pintu toilet itu akan roboh.
Milan yang berada di dalam toilet terlonjat kaget, dengan cepat ia menghentikan tangisnya.
"Tuan Fino, ya tuhan bagaimana ini" gumam Milan yang langsung menghapus air matanya.
"Apa kau di dalam gadis tua! cepat keluar hah!" teriak Fino.
Milan dengan cepat membersihkan wajahnya dan membereskan kekacauan yang telah ia perbuat. Milan mengambil testpack tersebut lalu membuangnya di tempat sampah bersama bungkusannya. Ia pun kembali melihat penampilan nya di dalam cermin dengan mata bengkak, hidung mampet yang sudah memerah.
Cklek
Milan membuka pintu toilet sambil menunduk, ia tidak ingin wajah rapuhnya di lihat oleh Fino. Sedangkan Fino menatap tajam Milan dengan penuh kecurigaan. Milan melangkahkan kakinya keluar dari toilet, Fino yang masih berdiri di depan pintu toilet, dengan cepat mencengkeram lengannya.
"Ada apa dengan mu" ucap Fino dingin.
Milan berbalik badan menatap tajam Fino.
"Lepaskan"ucap Milan dengan suara seraknya yang masih terdengar habis menangis.
Fino beralih menarik pinggang Milan hingga menubruk dada bidang nya. Milan terlonjat kaget, dengan cepat menundukkan pandangannya.
"Tatap aku!" ucap Fino dengan suara lantang.
Milan sama sekali tidak ingin bersitatap dengan Fino, ia memilih menundukkan pandangannya dengan mata memerah.
"Aku bilang tatap aku hah!" teriak Fino sambil mencengkram erat leher Milan.
"Aku membenci mu" ucap Milan yang mendongak menatap tajam Fino dengan mata memerah nya, yang begitu terdengar menyakitkan di indera pendengaran Fino.
Fino langsung melepaskan tangannya, ia pun memilih masuk ke dalam toilet. Milan masih berdiri di tempatnya, hingga air matanya kembali tumpah.
Mereka tampak sarapan bersama di meja makan. Bi Mina datang pagi-pagi, dan mendapati majikannya sedang ada di apartemen, sehingga bi Mina membuatkan sarapan spesial untuk pasangan suami istri itu, yang sama sekali tidak ia ketahui bahwa mereka adalah sepasang suami istri.
🍁🍁🍁🍁
Kini Fino dan Milan kembali melakukan perjalanan pulang. Disepanjang perjalanan, suasana tampak canggung di diantara mereka, tidak ada obrolan yang keluar dari mulut mereka berdua. Hanya fokus dengan pemikirannya, Fino fokus mengemudikan mobilnya, sedangkan Milan hanya fokus melamun dengan tatapan kosongnya.
Dua unit mobil Jeep dari belakang melaju kencang mengikuti mereka. Fino menatap mobil jeep di kaca spionnya yang melaju dengan ugal-ugalan, bahkan seperti ingin menabrakkan mobilnya.
Fino kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia pun dapat membaca kedua mobil itu, sedang cari masalah dengannya. Milan pun tersadar dari lamunannya dengan laju mobil yang super kencang.
Milan melirik ke arah Fino yang tampak fokus mengemudikan mobilnya dan sesekali melirik ke arah kaca spion. Milan pun ikut melihat kaca spion. Tampak dua unit mobil Jeep sedang mengikutinya dari belakang.
Dor
Mobil Jeep dari belakang menembak mobil Fino. Fino semakin gencar melajukan mobilnya.
"Ambil pistol di dashboard mobil"ucap Fino yang memerintah Milan.
Milan pun dengan cepat mengambil dua buah pistol di dashboard mobil.
"Berikan padaku"ucap Fino yang terus saja membanting setir mobilnya ke arah lain.
Milan tidak mendengar ucapan Fino, ia malah menggunakan pistol tersebut dan menembakkan ke arah mobil Jeep dibelakangnya.
Dor
Tembakan Milan mengenai kaca mobil bagian depan mobil jeep, hingga retak parah. Para penghuni mobil jeep mulai mengeluarkan senapan panjang nya dan kembali melakukan penembakan. Hingga mobil tersebut saling kejar-kejaran dan baku tembak.
Dor
"Sial!" umpat pengemudi jeep tersebut yang merasa kesal, karena bagian depan mobilnya hancur seketika. Bahkan sudah mengeluarkan banyak asap. Tiga orang lelaki dengan cepat turun dari mobilnya. Dikarenakan masyarakat sekitar dan pihak pengendara mobil akan meminta pertanggungjawaban. Mereka pun memberikan ancaman lewat senapan panjang yang dipegangnya. Semua orang tampak ketakutan dan tidak berani mendekat. Lalu ketiga lelaki tadi berlari kencang menuju mobil jeep temannya yang berada dibelakang.
Kemudian mobil jeep itu putar arah, karena melihat situasi kekacauan di depan sana dengan hadirnya pihak keamanan.
"Kita kembali ke markas" ucap seorang misterius yang mengintruksikan kepada temannya melalui earphone. Orang misterius itu berada di dalam mobil sport biru yang sedang terparkir di persimpangan jalan yang tidak jauh dari lokasi kejadian.
"Ok" ucap pengemudi mobil jeep tersebut.
Lalu mereka melajukan mobilnya menuju markas besarnya.
Sementara Milan terus menatap ke arah kaca spion, untuk melihat pergerakan mobil di belakangnya.
"Mereka sudah pergi, kau tidak perlu terus menatap kaca spion itu, bisa-bisa lehermu kesakitan" ucap Fino yang sedang fokus mengemudikan mobilnya.
Milan menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia pun menghentikan aksinya dan memilih bersandar di jok mobil. Pikirannya kembali kemana-mana. Akankah ia harus jujur di depan suaminya, bahwa ia sedang hamil anak lelaki lain.
Sudah pasti ia akan di lenyapkan dan di lempar seperti sampah oleh Fino Alexander.
Sementara di sebuah rumah sakit terbaik di negara B...
Seorang wanita cantik yang masih menggunakan pakaian rumah sakit beberapa hari ini telah menjalani operasi mata yang berjalan dengan lancar. Semua keluarganya tampak bahagia dan bersyukur kepada tuhan karena putri mereka kembali sembuh.
Dia adalah Lexa, wanita yang beberapa tahun di cap sebagai wanita cacat. Keluarga tercintanya selalu mendampinginya dengan penuh sukacita dan menyayangi nya dengan sepenuh hati, hingga ia kembali bisa memiliki kehidupan yang normal.
Dokter yang menanganinya kembali menghampirinya di ruang rawat inap nya. Karena ini merupakan jadwal untuk membuka perban pasien. Wanita paruh baya bersama dua lelaki paruh baya tampak selalu mendampingi putri mereka.
"Kami akan membuka perban pasien" ucap Dokter yang menangani Lexa.
Keluarganya tampak bahagia dan hanya mampu bersyukur kepada Tuhan karena kembali memberikan kehidupan normal bagi putrinya.
Dokter dengan hati-hati mulai melepaskan lilitan kain perban yang menutupi mata Lexa hingga tak tersisa. Tampak mata Lexa masih terpejam, padahal kain perban sudah tidak menutupi matanya.
"Apa nona Lexa sudah siap" tanya dokter lelaki yang menangani Lexa.
Lexa hanya mampu mengangguk. Sementara ketiga orang tuanya begitu gugup menatap putri mereka.
"Baiklah, coba nona buka secara perlahan mata anda" ucap dokter tersebut sambil tersenyum.
Dengan jantung deg-degan, Lexa mulai membuka matanya secara perlahan hingga mampu melihat cahaya remang-remang, hingga pada akhirnya melihat secara jelas sosok orang-orang yang disayanginya.
Nyonya Ira, tuan Alvin dan Riko tersenyum bahagia kepadanya.
"Bunda, ayah, papah...Lexa sudah dapat melihat kalian" ucap Lexa dengan senyum bahagia nya.
"Alhamdulillah" ucap mereka kompak di dalam ruangan tersebut.
"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah"ucap Lexa penuh syukur.
Nyonya Ira langsung memeluknya dengan penuh haru. Sementara tuan Alvin dan Riko tersenyum bahagia dan saling rangkul.
"Kalau begitu saya permisi dulu tuan dan nyonya. Eeh untuk check up nya nanti saya kabari" ucap dokter tersebut undur diri bersama kedua perawat wanita.
"Terima dok" ucap Riko yang mengantar dokter tersebut hingga di ambang pintu.
Dokter tersebut hanya tersenyum dan ikut senang dengan kesembuhan Lexa.
Mereka pun mengobrol bersama dan bercanda gurau. Tak lupa mereka mengabari Ziva, bahwa operasi kakaknya berjalan dengan lancar.
Tok
tok
tok
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, Tuan Alvin dan Riko saling pandang. Kemudian Riko membuka pintu ruangan tersebut.
"Selamat siang" sapa seorang lelaki tampan yang tidak lain adalah David yang membawa bingkisan buah. Beserta sekretaris nya yang membawa buket bunga yang lumayan besar.
"Silahkan masuk tuan David" ucap Riko ramah.
"Letakkan di sini saja Jeje" ucap David pada sekretaris nya. Jeje pun meletakkan buket bunga sesuai instruksi atasannya. Lalu pamit undur diri dari hadapan atasannya.
David dan Riko lalu berjalan bersama-sama menghampiri tuan Alvin.
Tuan Alvin mengalihkan pandangannya pada langkah kaki seseorang yang mulai mendekat ke arahnya.
"Tuan David Mayer, mari silahkan duduk" ucap tuan Alvin ramah yang langsung mempersilahkan David duduk.
"Terima kasih tuan Alvin" ucap David lalu meletakkan bingkisannya di atas meja.
Kemudian ia pun duduk di samping kursi tuan Alvin. Sambil mengobrol bersama perihal kedatangan nya menjenguk teman rekan bisnis ayahnya.
Sesekali David curi-curi pandang ke arah tempat tidur pasien. Dimana Lexa sedang disuapin oleh nyonya Ira.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak 🤧