Mafia Couple Love

Mafia Couple Love
Ku Merindukanmu


Setiap permasalahan yang kita hadapi selalu saja akan berbuntut panjang. Entah bagaimana pun cara kita menanggapi nya, semua akan mengalir dengan sendirinya.


Kali ini Milan memilih menanggapi masalah yang ia hadapi dengan kepala dingin, tanpa adanya tindakan kekerasan. Milan disambut dengan hormat oleh pelayan wanita. Semua pelayan wanita tampak senang menyambut kedatangan Milan dengan Suci.


Mereka semua begitu khawatir terhadap majikannya, apalagi masalah tersebut untuk pertama kalinya menimpa pelayan wanita di kediaman tuan Fino. Suci langsung memeluk Sasa sahabat terbaiknya di rumah itu.


"Syukurlah kamu tidak apa-apa Ci. Untungnya nyonya Milan menyelamatkan mu"ucap Sasa yang merasa lega.


Suci hanya memeluk erat sahabatnya. Sementara Milan dan bi Sri tersenyum melihat keakraban mereka.


"Bagaimana dengan acara makan-makan nya nyonya? para chef dan pelayan wanita sudah memasak berbagai aneka makanan. Dan mereka sedang menyajikan di gazebo taman belakang" ucap Bi Sri yang memastikan apakah acara makan-makan akan tetap berjalan atau tidak.


"Acara makan-makan nya tetap dilaksanakan, bi Sri tolong atur segalanya, ajak semua pelayan dan pekerja untuk makan malam bersama. Sepertinya saya tidak bisa ikut makan bersama dengan mereka. Saya sedang kurang enak badan"ucap Milan yang merasa kurang enak badan.


"Baik nyonya" ucap Bi Sri yang begitu patuh terhadap majikannya.


"Jangan lupa bi, siapkan semangkuk bubur ayam dan segelas susu hangat di kamar. Saya hanya ingin makan malam dengan makanan itu"ucap Milan, kemudian berjalan menuju kamarnya.


Bi Sri hanya mengangguk sebagai jawabannya, ia langsung melaksanakan tugas dari majikannya. Menyiapkan bubur ayam dan segelas susu hangat serta mengatur jalannya makan malam bersama di area taman belakang.


Milan baru saja selesai membersihkan tubuhnya. Ia pun memilih memakai piyama tidurnya. Bi Sri sedang menaruh nampan yang berisi semangkuk bubur ayam, segelas susu hangat dan segelas air putih di atas meja.


Milan tersenyum melihat bi Sri begitu telaten menyiapkan makan malam untuknya.


"Silahkan di nikmati nyonya" ucap Bi Sri sambil membungkuk, lalu undur diri.


Tanpa basa-basi Milan langsung duduk di sofa dan mulai menikmati bubur ayam yang begitu lezatnya, bahkan dengan cepat menghabiskan nya. Ia pun kembali menghubungi bi Sri untuk membuat satu mangkuk lagi bubur ayam.


Tak berselang lama kemudian, bi Sri kembali membawa nampan berisi semangkuk bubur ayam.


"Cepat banget bi masaknya" ucap Milan, karena baru beberapa menit, bi Sri kembali muncul membawa semangkuk bubur ayam.


"Saya buat bubur ayam nya lebih nyonya"ucap Bi Sri tersipu malu. Karena belajar dari pengalaman sebelumnya, dimana Milan meminta dibuatkan sup buntut oleh chef profesional di kediaman suaminya, malah minta tambah.


Milan pun manggut-manggut lalu kembali menyantap bubur ayam buatan bi Sri. Sedangkan bi Sri hanya tersenyum melihat nyonya nya makan begitu lahapnya.


Sepertinya nyonya sedang berbadan dua, aku sangat yakin. Batin bi Sri yang memperhatikan cara makan majikannya.


Setelah selesai menghabiskan makanannya, Milan lalu membantu bi Sri membersihkan meja, namun Bi Sri tidak membiarkan majikannya melakukan pekerjaan tersebut. Sehingga Milan hanya duduk sambil memperhatikan bi Sri yang sedang membersihkan meja lalu membawa peralatan kotor ke dapur.


Milan mengelus perutnya dengan manja, sambil menyandarkan punggungnya di sofa.


"Kamar ini terasa sepi tanpa kehadiran lelaki aneh itu"ucap Milan yang sedang mengelus perutnya.


Ia pun kembali menatap foto Fino yang berukuran besar terpampang di dinding. Tampak Fino mengenakan setelan jasnya di bawah gedung pencakar langit, yang sangat ia yakini gedung tersebut merupakan perusahaan suaminya.


"Ngapain juga aku melihat foto lelaki aneh itu, lebih baik aku bobok cantik" ucap Milan acuh yang tidak ingin memikirkan jauh tentang Fino.


Membaringkan tubuhnya di tengah-tengah tempat tidur sambil merentangkan tangannya yang sedang Milan lakukan. Ia pun tertawa kecil sambil terus membolak-balikkan tubuhnya ke kiri-kanan, layaknya penguasa tempat tidur tersebut. Lama kelamaan akhirnya ia pun terbuai dalam mimpi.


Keesokan harinya


Di negara A


Seorang lelaki tengah bekerja keras, ia tidak kenal lelah entah pagi siang malam, ia terus bekerja dan bekerja. Manajemen waktu ia manfaatkan sebaik mungkin, bahkan tidak ingin melewatkan waktunya sedikit pun untuk berhura-hura. Dan sekertaris nya pun terkena imbasnya.


"Kau sudah menginformasikan kepada klien kita, untuk mengadakan pertemuan pagi ini?" ucap Fino yang sedang berjalan di lorong hotel.


"Sudah tuan, sebelum tidur saya melakukan broadcast kepada klien kita" ucap Chiko yang mengekor di belakang tuannya.


"Bagus, pokoknya pekerjaan kita harus selesai secepatnya. Aku ingin pulang secepatnya" ucap Fino yang terus saja berjalan hingga di depan pintu lift.


Fino masuk ke dalam lift kemudian di susul oleh Chiko yang langsung menekan tombol lantai dasar.


"Saya mendapat kabar bahwa nyonya Milan ke kediaman tuan Alberto untuk membebaskan pelayan wanita" ucap Chiko dengan hati-hati.


"Sudah basi, tua bangka itu cari masalah dengan ku. Dia sepertinya menginginkan gadis tua ku" ucap Fino yang sedang memainkan ponselnya.


"Ternyata tuan Alberto kecantol juga sama nyonya Milan" ucap Chiko dan dengan cepat menutup mulutnya karena ia berbicara begitu ceplas-ceplos nya, yang bisa saja membuat tersinggung majikannya.


Fino meliriknya sekilas, Chiko jadi gelagapan.


"Tuan Alberto mau cari mati, apa dia ingin menjadikan nyonya Milan yang ke sepuluh, hebat juga"ucap Chiko dan lagi-lagi menutup mulutnya, karena ucapan nya tidak dapat di rem bahkan disaring terlebih dahulu sebelum di eksekusi.


"Maaf tuan Fino, jangan marah dulu, saya tidak bermaksud seperti itu. Tuan Alberto sangat berbahaya bagi nyonya Milan" ucap Chiko ketakutan dengan wajah memelas.


Fino lalu melepaskan tangannya, pintu lift terbuka, Fino langsung menyelonong keluar dengan memasang wajah datarnya.


Untungnya nyawaku masih panjang. Tuan Fino sangat sensitif, bahkan ingin pulang secepatnya ke negara B, padahal biasanya ia ingin berlama-lama di negara A, apa ini penyebabnya adalah nyonya Milan? ahh sudahlah, aku tidak ingin banyak bicara di depan tuan Fino. Batin Chiko.


Lalu berjalan menuju parkiran untuk menyiapkan mobil untuk tuannya.


🍁🍁🍁🍁🍁


Sementara di kediaman tuan Fino....


Kali ini Milan sedang menjalani spa perawatan tubuh, di sebuah ruangan khusus yang tersedia di rumah itu. Para pelayan mulai membaluri punggung Milan dengan lulur alami yang dibuat khusus untuk mengencangkan kulit yang terbuat dari bahan rempah-rempah alami tanpa mengandung bahan kimia.


Milan begitu rileks menikmati pijatan rileksasi di punggungnya dan di bagian betisnya. Sungguh ia dilayani bagaikan seorang tuan putri. Ia sama sekali jarang melakukan perawatan tubuh, baginya hanya membuang-buang uang semata. Prinsipnya lebih baik memberikan makanan untuk anak jalanan dari pada menghamburkan uang hanya kepentingan pribadi.


"Apa nyonya ingin melakukan perawatan yang plus plus untuk menyenangkan suami"ucap pelayan yang tengah melakukan pijatan rileksasi di punggungnya.


"Tidak perlu"ucap Milan cepat dengan rona wajah memerah yang tahu betul arah pembicaraan Pelayan tersebut. Mana mungkin ia harus melakukan perawatan yang satu itu (" ").


"Pasti nyonya melakukan perawatan hanya untuk membuat tuan Fino semakin klepek klepek kepada nyonya" ucap pelayan wanita yang menggoda Milan.


Apanya klepek klepek, dia bahkan selalu mengejekku. Batin Milan


Milan hanya diam, ia tidak ingin banyak bicara dengan para pelayan wanita yang begitu kepo. Bagi Milan melakukan perawatan tubuh hanya untuk membuat tubuhnya rileks dan fit, apalagi dia sedang kurang enak badan.


Padahal rencana Milan hari ini untuk ngepantai. Namun kondisi tubuhnya tidak mendukung. Sehingga tinggal di rumah hal yang tepat baginya.


Makan tidur, olahraga kecil-kecilan yang hanya di lakukan Milan di kediaman suaminya. Hingga menjelang malam ia hanya tetap berada di dalam kamarnya, sambil menatap ke luar jendela melihat aktivitas para pekerja.


Tiga gelas wedang jahe yang dibuat khusus bi Sri sudah ia habiskan, karena begitu khawatir dengan kondisi nyonya nya yang dianggap masuk angin, bi Sri langsung membuat minuman hangat tersebut. Bahkan untuk makan malam, Milan hanya meminta pelayan membawakan di kamarnya.


Kini Milan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang sudah mengenakan piyama tidur berwarna merah yang cukup seksi, karena ia hanya tidur sendiri, jadi tak masalah menggunakan piyama tidur tersebut. Milan kembali menatap foto Fino yang terpajang di dinding.


"Mengapa aku selalu saja menatap foto lelaki menyebalkan ini, hampir seharian aku menatapnya. Bahkan aku sudah tahu dengan jelas setiap inci wajahnya. Matanya yang tajam, rahangnya yang tegas, alisnya yang berjejer rapi, hidung nya yang mancung dan bibirnya yang tipis yang selalu saja menghinaku"ucap Milan dengan sedikit kesal.


"Apa mungkin aku merindukannya, ihh amit-amit deh, aku sangat membencinya. Semoga lelaki aneh ini tidak pulang selama-lamanya" ucap Milan dengan ketusnya.


Milan memilih memejamkan matanya, berharap hari esok ia kembali fit.


Tepat pukul 2 dini hari sebuah mobil memasuki pelataran rumah tuan Fino. Para penjaga dengan hormat menghampiri mobil tersebut. Lalu turunlah sosok lelaki mengenakan jubah hitam dan disambut dengan hormat oleh para penjaga. Sementara supir mobil tersebut memilih memarkirkan mobil tuannya di garasi mobil.


"Selamat datang tuan Fino" ucap para penjaga penuh hormat.


Ya dialah Fino Alexander yang baru saja tiba di kediaman nya. Fino hanya acuh, ia pun berjalan menuju pintu utama dan kebetulan sekali bi Sri yang membukakan pintu untuknya. Karena Fino sempat mengabari kepulangan nya kepada bi Sri.


Fino kembali berjalan menuju kamarnya, ia benar-benar lelah seharian bekerja dan berlanjut melakukan perjalanan jauh.


Fino membuka pintu kamarnya dengan sangat hati-hati, ia pun lalu masuk dan lampu kamarnya langsung menyala karena memiliki sensor.


Tampak wanita yang dirindukannya sudah tertidur pulas di atas tempat tidur. Fino melepaskan jubah hitam nya, ia pun memilih berjalan menuju toilet untuk membersihkan wajah dan kakinya. Kemudian masuk ke ruang ganti untuk mengenakan piyama tidurnya. Fino mendekat ke arah tempat tidur. Sambil membungkukkan badannya ia menatap Milan yang sudah tertidur pulas.


"Apa kau ingin menggoda ku dengan piyama tidur mu"ucap Fino dengan suara berbisik sambil menelan salivanya berulang kali melihat g**** k**""* istrinya yang menonjol dengan jelasnya.


Fino lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya. Lalu iapun naik ke tempat tidur dan membaringkan tubuhnya tepat di samping istrinya dengan satu selimut. Fino kemudian memeluk istrinya dengan erat, sungguh ia sangat merindukannya.


Tak lupa Fino menciumi punggung Milan yang terlihat polos.


"Hemm harumnya, aku sangat menyukai aroma tubuh mu gadis tua"gumam Fino sambil terus mencium punggung Milan, sampai-sampai aset berharga nya di bawah sana sudah meronta-ronta minta jatah. Tidak mungkin ia membangunkan Milan hanya untuk meminta jatah, harga dirinya begitu tinggi, apalagi meminta hal yang tabu seperti itu kepada Milan.


Fino lalu membalikkan tubuh Milan dengan hati-hati, ia pun merangkak naik ke atas tubuh istrinya. Sungguh ia lelaki normal dan butuh hasrat dari sang istri. Walaupun lelah yang jelas hasratnya bisa tersalurkan dengan baik.


Fino lalu menurunkan tali piyama istrinya, ia pun langsung menikmati bagian atas tubuh istrinya yang tersembunyi, sungguh ia begitu menggila dengan tubuh istrinya.


Milan yang tertidur pulas tiba-tiba saja menggeliat, bahkan mengigau. Fino dengan cepat menggeser tubuhnya ke samping, sungguh ia tidak ingin tertangkap basah oleh istrinya. Fino tersenyum sambil memegangi bibirnya, walaupun belum puas, setidaknya ia mendapatkan kenikmatan sesaat. Ia pun kembali memeluk istrinya.


Akhirnya aku bisa memelukmu gadis tua, sungguh ku merindukanmu. Besok aku akan kembali melanjutkan kegiatan ku. Batin Fino sambil tersenyum tipis.


Bersambung......


Jangan lupa tinggalkan jejak 😉