Mafia Couple Love

Mafia Couple Love
Calon Istri Chiko


Di perusahaan Alexander Group di Negara B…..


Chiko tengah bersandar di kursi kebesarannya sambil memijit keningnya yang tidak sakit. Chiko kembali gusar beberapa jam lagi, ia harus membawa calon istrinya di hadapan ibunya.


“Argghh”.


Chiko meninju meja dengan kesal, ia seperti sedang di tagih oleh kreditur motor dengan masalahnya saat ini.


“Kemana lagi, aku harus menemukan wanita yang siap berpura-pura jadi calon istriku”ucap Chiko sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.


“Ibu pasti akan murka jika aku tidak menepati janjinya”ucap Chiko sambil menatap-natap langit ruangannya.


Tok


Tok


Tok


“Masuk”ucap Chiko, kemudian memperbaiki kembali posisi duduknya dengan penuh wibawa.


“Maaf mengganggu waktu tuan Chiko, saya kesini cuman ingin menyampaikan bahwa anak magang yang bernama Novi tidak masuk hari ini tuan, berhubung karena sakit”ucap Mega yang menyampaikan pesan dari bawahannya.


Pagi-pagi dia mendapatkan pesan dari Novi yang mengatakan bahwa dirinya sedang sakit.


“Hemm”ucap Chiko dingin.


Mega lalu undur diri dari hadapan sekretaris Chiko.


“Si tomboy ternyata sakit, pantas saja aku tidak melihatnya pagi tadi”ucap Chiko sambil memainkan bolpoin nya.


“Apa dia sakit karena kejadian kemarin”ucap Chiko sambil tersenyum sini. Kemudian Chiko memilih bersandar di kursi kebesarannya sambil membayangkan kejadian di dalam lift bersama Novi.


Flashback on


Chiko mulai berargumen dengan Novi yang tengah diselimuti kemarahan, sedangkan Novi tengah diselimuti ketakutan, namun tetap saja Novi berusaha melawan Chiko dengan kata-kata.


“Hah, pintar bicara kamu, tapi sebelum itu terjadi, aku akan merobek mulut mu dengan kasar”ucap Chiko dingin sambil mencengkram pinggang ramping Novi diikuti dengan tatapan tajam.


“Ayo lakukan!, aku sama sekali tidak takut denganmu”tantang Novi, entah kekuatan dari mana ia menentang seorang mafia di hadapannya.


“Kau!”ucap Chiko dengan rahang yang mengeras dan siap menerkam mangsanya.


“Apa hah!”ucap Novi yang juga tampak garang sambil mendongak menatap manik mata Chiko dengan penuh kebencian.


Chiko dengan kesal menarik tengkuk Novi dan langsung menyambar bibir gadis yang sudah menentangnya, tangan satunya digunakan untuk mencengkram kuat pinggang Novi. Sedangkan Novi terus saja memberontak di dekapan Chiko, agar ciumannya terlepas. Novi terus saja memberontak dengan wajah memerah, bahkan lututnya ia gunakan untuk membela diri.


Bugh..


Novi terus melayangkan tendangannya ke lutut Chiko yang seperti batu, hingga Chiko melepaskan ciumannya.


Plakk…


Sebuah tamparan melayang dengan keras di wajah Chiko. Chiko mengepalkan tangannya dengan rahang mengeras yang sudah murka dan langsung saja Chiko mencengkram tangan Novi.


“Kau, kurang aj…..”.ucap Novi kesal dengan tangan yang kembali di cengkram kuat oleh Chiko.


Kemudian Chiko langsung mendorong tubuh Novi di dinding lift dan langsung memojokkannya. Kedua tangan Novi langsung di cengkram kuat hingga diatas kepala Novi, sedangkan kakinya di gunakan untuk mengunci pergerakan Novi. Tanpa basa-basi Chiko langsung mencium r*k*s bibir Novi dan tidak segan-segan *****. Novi terus saja memberontak, namun apalah daya tenaganya tidak sebanding dengan Chiko.


Sudah dua kali pintu lift yang mereka gunakan terbuka, namun Chiko sama sekali tidak menggubris, ia hanya fokus dengan kegiatannya.


Chiko terpaksa melepaskan ciumannya, karena ia pun merasa kehabisan nafas. Sedangkan Novi jangan ditanya lagi, gadis itu tampak ngos-ngosan layaknya baru saja berlari mengelilingi perusahaan tersebut. Cengkraman tangannya pun ia longgarkan.


Pintu lift kembali terbuka, Novi langsung menyelonong keluar dan berlari kencang menuju parkiran. Sementara Chiko mengusap bibirnya yang sedikit basah sambil melihat kepergian Novi.


Flashback off.


“Sepertinya aku harus menjenguk si tomboy, aku harus meminta maaf kepadanya atas kejadian kemarin”ucap Chiko sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.


“Tiga jam lagi, tuan Fino akan tiba di tanah air. Aku sebaiknya cepat menghubungi anggota The Tiger untuk menyambut kedatangan tuan Fino”ucap Chiko, kemudian memilih menghubungi rekan-rekan mafianya.


Sementara di kediaman Novi……


Novi masih saja berada di dalam kamarnya dan tengah berbaring di atas tempat tidur sambil memainkan ponselnya mencari di situs pencarian dampak dari berciuman.


Wajah Novi memerah membaca situs online tentang dampak dari berciuman. Novi dengan bodohnya kembali memukul keningnya dengan kesal.


“Aku tidak rela di cium si coki-coki”ucap Novi sambil menutup wajahnya menggunakan bantal. Sementara kakinya di hentak-hentakkan.


“Kakak, ayo dong keluar. Makan siang dulu bareng kami”ucap Adik kembarnya yang tengah berdiri di depan pintu kamarnya.


“Kalau kakak tidak keluar, Dafi dan Dafa yang akan menghabiskan makan siang kakak”ucap Dafi sambil menaikkan alisnya di depan Dafa.


Krukk


Krukk


Krukk


Perut Novi langsung berbunyi mendengar kata makan siang, karena sedari pagi Novi belum pernah keluar dari kamarnya dan melewatkan sarapan bersama keluarganya.


Cklek


“Ayo kita makan siang bersama”ucap Novi dengan rambut acak-acakan.


“Itu kak rambut mu mirip hantu”ucap Dafa sambil tersenyum bersama Dafi.


Novi yang memasang wajah cemberut langsung menggulung naik rambutnya, kemudian mengikatnya dengan asal.


Kini mereka tengah duduk bersama di meja makan dan sedang menikmati makan siangnya.


“Kenapa itu bengkak kak”ucap Dafi sambil menunjuk bibir kakaknya.


“Kakak kebanyakan makan sambal jadi seperti ini”elak Novi sambil menyentuh ujung bibirnya.


“Oh”ucap mereka kompak yang langsung percaya.


Bandara internasional Negara B….


Pesawat jet pribadi Fino baru saja mendarat dengan mulus di bandara internasional Negara B.


Fino membawa keluarga kecilnya keluar dari bandara, diikuti oleh para pelayannya yang tengah membawa koper dan barang-barang lainnya.


Tampak Chiko bersama rekan mafianya sedang berbaris menyambut kedatangannya. Tiga buah Mobil sudah terparkir rapi dan siap membawanya ke kediamannya.


“Selamat datang kembali tuan dan nona”ucap Chiko dengan penuh hormat yang membukakan pintu mobil untuk tuannya.


“Hemm”ucap Fino sambil menepuk pundak Chiko, kemudian masuk ke dalam mobil dan meletakkan Malfin dengan hati-hati di kursi belakang. Milan kemudian menyusul masuk dan terlihat lelah habis melakukan perjalanan jauh. Maklum ia sedang hamil, jadi mudah lelah.


Setelah itu, Chiko berlari kecil masuk ke dalam mobil dan langsung duduk di kursi kemudi. Chiko langsung menancap gas meninggalkan tempat tersebut. Kemudian diikuti dua mobil dibelakangnya yang sedang iring-iringan mengikuti tuannya.


Saat mobil melaju beberapa meter, Milan melirik ke arah kedai milik ibu Novi yang sedang banyak pembeli.


”Apa Novi tidak ke kantor hari ini?”tanya Milan kepada Chiko.


“Sakit, aku rasa anak itu tidak pernah sakit. semoga dia cepat sembuh. Oh iya, aku ingin meminta tolong kepadamu untuk membawakan Novi oleh-oleh dari Negara A”ucap Milan yang tengah bersandar di pundak suaminya.


“Baik Nona”ucap Chiko yang selalu saja fokus menatap ke depan.


"Sepertinya Novi cocok menjadi istri Chiko"Bisik Milan ditelinga suaminya.


Fino hanya mampu mengerutkan keningnya.


"Mas jodohkan mereka ya, aku jadi gemes melihat mereka"ucap Milan sambil mengelus manja lengan kekar suaminya.


"Hemm". Ucap Fino mengiyakan.


Tak terasa mobil yang membawa keluarga kecil Fino tiba di kediamannya dan berhenti tepat di halaman. Seluruh pelayan dan para penjaga begitu bersemangat menyambut kepulangannya.


Bi Sri dengan sigap membukakan pintu mobil untuk majikannya.


Milan tersenyum menatap Bi Sri, kemudian dengan hati-hati turun dari mobil, kemudian di susul oleh Fino yang tengah menggendong Malfin yang masih saja tertidur pulas. Chiko ikut turun dari mobil, kemudian membuka bagasi mobil untuk mengambil beberapa paper bag yang merupakan oleh-oleh dari Negara A untuk keluarganya dan keluarga Novi.


Milan bergandengan tangan dengan suaminya sambil berjalan memasuki kediamannya yang beberapa minggu telah ia tinggalkan.


Sedangkan Chiko memilih masuk ke dalam mobilnya yang sempat ia memarkirkan di area gerbang utama.


“Aku harus menemui si tomboi cerewet”. Ucap Chiko kemudian menancap gas meninggalkan kediaman tuannya.


Hanya 30 menit, Chiko tiba di kediaman Novi. Tampak matahari mulai masuk di peradabannya dan sebentar lagi akan petang. Chiko kemudian turun dari mobil sambil menenteng beberapa paper bag yang sudah bertuliskan nama pemiliknya yang merupakan oleh-oleh untuk Novi dan keluarganya.


Langkah Chiko sedikit lambat saat mendengar perdebatan gadis cerewet yang membuatnya kesal.


Katanya sakit, tapi masih bisa berdebat dengan orang dihadapannya.


“Mengapa kalian selalu saja datang menagih kami!, ingat hutangku sudah lunas kepada kalian, jadi jangan selalu mengganggu kami”ucap Novi kesal yang sedang berhadapan dengan seorang rentenir bersama lima anak buahnya. Sedangkan Bu Ani hanya mampu berdiri di belakang anaknya dengan wajah sendunya.


“Hutang mu belum lunas, uang yang kau berikan dulu hanya bunga dari hutangmu. Aku akan menganggapnya lunas jika kau menjadi istri kelima ku”ucap lelaki bandot tua sambil tersenyum mesum dengan banyaknya perhiasan di sekujur tubuhnya.


“Enak saja, jangan mimpi kau, kalian semua pembohong dan sudah menipu kami. Ingat aku sama sekali tidak lagi memiliki hutang kepada kalian dan tidak akan pernah membayarnya, camkan itu!”teriak Novi dengan marah sambil menunjuk-nunjuk bandot tua di hadapannya.


Inilah alasanku mengapa aku harus menjadi wanita tomboy, sedari dulu ayah memintaku untuk berpenampilan tomboy, agar si tua Bangka ini tidak mengejar ku untuk menjadikanku sebagai istrinya. Batin Novi kesal, sambil mengepalkan tangannya.


“Semuanya tidak akan berakhir, sebelum kau menikah denganku. Hei kerjakan tugas kalian”ucap lelaki bandot tua kepada anak buahnya.


“Tolong jangan lakukan tuan damar”ucap Bu Ani sambil menangis. Karena setiap kali mereka datang, pasti akan memporak-porandakan kedai makanannya.


“Hentikan”ucap seseorang dari belakang.


Coki-coki. Batin Novi sambil mengepalkan tangannya.


Namun para anak buah Damar mulai menghancurkan isi dari kedai Bu Ani. Chiko langsung melepaskan jasnya dan melemparnya ke arah Novi, dan anehnya Novi dengan sigap menangkap jas Milik Chiko.


Chiko langsung saja menghajar para anak buah Damar hingga babak belur. Hanya lima menit, kelima anak buah Damar sudah bersimpuh di kaki Chiko untuk memohon pengampunan. Sedangkan Bu Ani dan Novi hanya mampu melongo menyaksikan pertarungan mereka.


Damar terlihat ketakutan di tatap tajam oleh Chiko, aura mafia Chiko benar-benar keluar saat itu juga. Chiko langsung melayangkan tendangan di perut si rentenir, membuat Damar terjungkal ke belakang, Chiko kemudian kembali menghajar wajah Damar tanpa ampun. Berkali-kali Damar memohon ampun, namun Chiko tidak menggubrisnya hingga Damar tergeletak di tanah akibat tendangan mematikan Chiko.


“Mengapa kau membohongi mereka, sebenarnya hutang mereka sisa berapa?”ucap Chiko dingin sambil menginjakkan kakinya di perut buncit Damar


“Sebenarnya hutang mereka 200 juta dan sisanya masih sekitar….”ucap Damar yang kesusahan bernafas.


“Katakan yang benar”ucap Chiko yang kembali menginjak perut Damar.


“Mereka sudah membayar lunas hutangnya, hanya saja aku yang terus mencari masalah dengan keluarganya, karena aku menginginkan gadis itu menjadi istriku”ucap Damar dengan kesakitan penuh yang sudah kesusahan bernafas.


Novi mengepalkan tangannya mendengar ucapan Damar, memang dia sudah menduga siasat licik dari rentenir tersebut. Sedangkan Bu Ani langsung menutup mulutnya mendengar ucapan Damar.


“Aku memberimu sebuah pilihan, hutang mereka lunas atau nyawamu yang melayang”ucap Chiko dingin.


“Ampun tuan, tolong jangan bunuh saya. Hutang mereka sudah lunas, aku tidak akan pernah mengganggu mereka. Maafkan aku karena sudah membohongi kalian”ucap Damar dengan kesakitan di sekujur tubuhnya.


“Hemm”ucap Chiko kemudian menjauh dari tubuh Damar.


Para anak buah Damar yang babak belur dengan cepat mengangkat tubuh bosnya yang sepertinya sudah patah tulang dan melarikannya masuk ke dalam mobilnya.


Chiko berjongkok mengambil paper bag yang di letakkan nya di samping mobilnya.


“Terima kasih tuan Chiko sudah membantu keluarga kami”ucap Bu Ani.


“Sama-sama. Sebaiknya anda tidak perlu memanggilku tuan, panggil saja Chiko”ucap Chiko, kemudian menyerahkan paper bag kepada bu Ani.


Bu Ani sedikit bengong menerima paper bag tersebut.


“Ini sedikit oleh-oleh dari Nona Milan untuk keluarga anda”ucap Chiko.


"Terima kasih, baik bener nak Milan"ucap Bu Ani yang begitu senang dengan pemberian Milan.


Sementara Novi hanya diam di samping ibunya. Novi menjadi canggung berada di dekat Chiko, apalagi Chiko baru saja membantunya dari para rentenir.


“Masuk dulu tu.., maksud ibu nak Chiko”ucap Bu Ani, kemudian menarik tangan Chiko untuk masuk di kediamannya.


Kini Chiko tengah duduk bersama dengan keluarga Novi di ruang tamu dan disuguhkan dengan aneka cemilan dan minuman hangat. Dafa dan Dafi tampak menatap Chiko dengan penuh intimidasi. Karena sedari tadi gerak-gerik Chiko tertangkap basah olehnya yang sedang curi-curi pandang kepada kakaknya. Sementara Novi hanya menyilangkan tangannya di depan dada, sambil menatap jengkel Chiko.


“Saya ingin meminta izin kepada ibu untuk membawa Novi jalan-jalan”ucap Chiko yang sedari tadi menimbang-nimbang kata-katanya.


Novi langsung melirik Chiko dengan tatapan tajam.


“Ya sudah ibu mengijinkannya, Novi sana siap-siap”ucap Bu Ani yang langsung setuju dan menyuruh anak gadisnya untuk segera bersiap.


Chiko sedikit bernafas lega, pasalnya ia akan mengajak Novi untuk bertemu dengan orang tuanya.


Tak berselang lama kemudian, Novi kembali menghampiri mereka dengan menggunakan pakaian santainya. Kaos oblong dan celana training yang tengah melekat di tubuh Novi.


“Ayo, kita di sekitaran bandara saja, soalnya aku tidak enak badan”ucap Novi ketus.


Tak lupa Novi dan Chiko berpamitan kepada Bu Ani. Kini mereka tengah berada di dalam mobil Chiko yang sedang melaju kencang menuju kediaman Chiko.


Sesekali Chiko melirik ke arah Novi yang sangat berbeda malam ini. Sedangkan Novi hanya mampu meremas tangannya karena merasa canggung. Mobil Chiko kini memasuki kediamannya dan berhenti tepat di halaman rumah dua lantai. Keduanya masih saja diam di dalam mobil.


“Jangan sampai sandiwara mu tidak berhasil, ingat kau berhutang kepadaku. Satu lagi, kau berpura-pura menjadi calon istri Chiko, ingat baik-baik”ucap Chiko yang mulai angkat bicara.


Chiko kemudian turun dari mobil diikuti dengan Novi yang tampak anggun dengan balutan gaun merah dibawah lutut.


Chiko berhasil mengubah penampilan Novi sebelum membawanya ke kediaman orang tuannya. Novi benar-benar berbeda malam ini, ia tampil cantik dan anggun. Riasan wajah yang natural namun terkesan manis, jangan lupa rambutnya tergerai indah. Bahkan Chiko begitu terpesona melihat penampilan Novi saat di butik tadi.


”Apa kau sudah siap ”ucap Chiko.


Novi hanya mampu mengangguk, padahal dalam hatinya ia meronta-ronta untuk tidak melakukan hal gila tersebut. Ditambah ia begitu risih dengan gaun mewah yang ia kenakan. Chiko langsung menggandeng tangannya dan membawanya masuk ke dalam rumah, dimana kedua orang tuannya sudah menunggu kedatangannya sedari tadi.


Bersambung


Aku lakukan reka adegan ulang Chiko dan Novi, soalnya komentar teman-teman bikin ngakakk....🤣


Selamat membaca 🤧