
Fino merasa jengkel berada di ruangannya. Ia pun memilih berjalan menuju roftop perusahaannya. Bagaimana tidak, seorang wanita asing tiba-tiba ngompol di ruangannya, membuat moodnya jadi buruk.
Fino memilih duduk di kursi besi di atas roftop perusahaannya. Angin berhembus kencang menerpa wajahnya, tatanan rambutnya mulai berubah dan melambai-lambai di terpa angin. Suasana siang itu begitu mendung, sepertinya hujan akan turun.
"Hufff... Sepertinya aku harus ke negara A untuk mencari keberadaan Milan, semoga ucapan wanita tomboi tadi bisa membawaku bertemu dengan Milan" ucap Fino sambil menikmati suasana roftop perusahaannya.
"Aku harus kembali menemui mama, bagaimana pun kemarahan mama kepada ku, aku harus meminta maaf kepadanya" ucap Fino sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Tiba-tiba ponsel Fino berbunyi dengan hebohnya. Fino lalu mengeluarkan ponselnya dari saku jasnya.
Fino sempat memicingkan matanya melihat panggilan masuk dari nomor yang tidak di kenal. Kemudian Fino langsung menggeser ikon berwarna hijau untuk menerima panggilan masuk tersebut.
"Halo"ucap Fino dingin yang sedang memandangi gedung-gedung pencakar langit yang berjejeran di pusat kota.
"Halo kawan!, Apa kau masih mengingat ku?" tanya seorang lelaki misterius yang menghubungi nya.
"Aku tidak peduli siapapun kau" ucap Fino dingin.
"Ha ha ha, rupanya kau sudah melupakan suaraku tuan Fino Alexander"ucap lelaki misterius itu disertai gelak tawanya.
"Oh ternyata kau, masih berani juga menghubungi ku. Apa kau tidak takut jika aku kembali menghancurkan perusahaan mu"ucap Fino dingin yang dapat menebak si penelpon, lalu tersenyum sinis.
"Aku sudah hebat dan mampu menghancurkan perusahaan mu termasuk dirimu, ha ha ha" ucap lelaki misterius itu sambil tersenyum bangga.
"Aku tunggu waktunya dan siap meladeni mu kembali Malik Ibrahim!, jangan hanya menjadi benalu kecil yang hanya bisa menusuk di belakang" ucap Fino dingin dengan seringai licik diwajahnya.
Fino langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak. Ia tidak ingin buang-buang waktunya mendengar ocehan lelaki bodoh itu.
"Rupanya benalu kecil itu akan balas dendam kepada ku"gumam Fino sambil tersenyum sinis.
Lelaki misterius itu langsung mengepalkan tangannya, lalu melemparkan ponselnya dengan kemarahan.
Sementara Chiko masih menyeret tubuh Novi dengan jijik keluar dari ruangan tuannya. Novi hanya mampu mengekori langkah kaki Chiko yang terus menyeretnya hingga sampai di pintu lift.
Brukk
Chiko mendorong tubuh Novi hingga terjatuh di lantai. Chiko kemudian mengeluarkan sapu tangannya lalu membersihkan kedua tangannya dengan jijik. Memang Chiko tipikal lelaki bersih dan super rapi. Sementara Novi mengepalkan tangannya, karena lelaki di hadapannya benar-benar semena-mena terhadap nya. Setelah selesai membersihkan tangannya, Chiko lalu melemparkan sapu tangannya ke wajah Novi.
"Jangan pernah muncul di hadapan tuan Fino. Dengar... masalah mu belum selesai dengan ku, jadi sewaktu-waktu aku akan menemui mu. Sekalian memberikan perhitungan kepada keluarga mu yang sudah berani menyembunyikan nona Milan waktu itu. Pergilah, bersihkan tubuhmu yang menyengat itu" ucap Chiko dingin lalu berbalik badan.
Novi mendengar ucapan Chiko mengepalkan tangannya dengan marah.
"Saya juga seperti ini, gara-gara anda. Jadi jangan salahkan saya"ucap Novi menantang, keberaniannya kembali muncul secara tiba-tiba.
"Sok bersih, untungnya tadi aku cuman ngompol, bagaimana jika aku....."ucap Novi yang tidak dapat melanjutkan ucapannya..
"Dasar jorok" potong Chiko sambil berbalik badan dan langsung menatap tajam Novi.
Novi langsung buang muka karena kesal. Ia pun mulai bangkit dan berjalan dengan cepat masuk ke dalam lift yang akan membawanya ke lantai dasar.
"Awas kau choki-choki, aku akan membalas mu. Siapa sih tuan tampan yang sangat menakutkan itu. Aku benar-benar takut kepadanya, tapi bukankah dia mengatakan bahwa mbak Milo istrinya, apa jangan-jangan tuan tampan itu... suami mbak Milo" ucap Novi dan langsung menutup mulutnya dengan ucapannya sendiri.
Sementara dua karyawan yang satu lift dengannya, hanya mampu menutup hidungnya dengan kesal, karena mencium aroma tidak sedap, apalagi di dalam lift. Karyawan itu mulai mengomel tidak jelas, sambil olahraga tahan nafas. Novi hanya mampu menunduk, ia pun menutup wajahnya menggunakan topi, karena Omelan kedua orang itu sangat tertuju kepadanya.
Pintu lift terbuka, Novi dengan cepat keluar dari lift, kemudian berlari menuju pintu keluar. Novi kembali berlari menuju parkiran untuk mengambil motornya, dan tidak butuh lama, ia langsung menancap gas meninggalkan perusahaan tersebut.
🍁🍁🍁🍁
Malam harinya......
Malik baru saja tiba di negara B, Para anak buahnya sudah menunggu kedatangannya di bandara internasional negara B. Malik berjalan menuju mobil yang sudah disiapkan oleh anak buahnya. Mobil melaju kencang menuju kediamannya di kawasan perumahan elit di pusat kota.
Tak lupa Malik mengirimkan pesan kepada istrinya, bahwa ia sudah tiba di negara B. Mobil yang membawanya tiba di sebuah rumah mewah dengan dua lantai. Para penjaga mulai menyambutnya dengan hormat. Malik memilih berjalan masuk ke dalam rumahnya, ia benar-benar butuh istirahat, karena habis melakukan perjalanan jauh.
Malik lalu berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya. Ia pun buru-buru masuk ke dalam toilet untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai, Malik memilih membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Untungnya ia menyempatkan waktunya makan malam di restoran favoritnya di negara B yaitu restoran Ziva food.
Malik kemudian melakukan video call dengan istri dan anaknya. Entah mengapa Malik merasa tidak rela meninggalkan orang terkasihnya. Cukup lama mereka mengobrol lewat sambungan video call untuk mengurangi kerinduan mereka masing-masing. Hingga berakhir dengan mengucapkan kata selamat malam.
Malik memejamkan matanya dengan perasaan lega, karena baru saja mengobrol bersama orang terkasihnya. Besok ia akan menjalankan rencananya untuk menghancurkan Fino Alexander, karena merasa lelah, ia tidak mungkin menghadapi musuh terbesarnya dengan keadaan seperti itu.
Keesokan harinya......
Rencana matang-matang yang sudah di susun oleh Malik siap untuk dijalankan. Ia pun terlebih dahulu mengajak Fino bertemu di restoran yang sudah di boking untuk mereka berdua yang terletak di sebuah pelabuhan.
"Apakah tuan benar-benar ingin menemui Malik malam ini" ucap Chiko yang sedang duduk bersama dengan tuannya.
"Ya Chiko, Aku sangat tahu karakter Malik yang tidak mudah menyerah setelah kalah dari ku"ucap Fino yang sedang menyandarkan punggungnya di sofa ruangannya.
"Bukankah Malik begitu licik tuan, jangan sampai berbuat licik lagi kepada tuan" ucap Chiko dengan penuh kecurigaan nya.
"Aku bisa menghadapi nya, apapun itu rencananya" ucap Fino sambil tersenyum.
"Sebaiknya kita berangkat ke lokasi yang dikirimkan oleh Malik"ucap Fino yang sudah bangkit dari duduknya.
"Baik tuan" ucap Chiko.
Mereka keluar bersama-sama dari ruangan tuannya sang penguasa Alexander Group.
Fino sama sekali tak kenal takut, ia pun selalu melawan para musuhnya dengan kepala dingin. Terkadang para musuhnya kembali bernegosiasi kepadanya hanya untuk menukar nyawanya dengan harta bendanya, demi sebuah kehidupan kembali.
Namun Fino sama sekali tidak meladeni negosiasi mereka, yang jelas bila sudah mengusiknya maka nyawa mereka yang harus melayang.
Chiko terlebih dahulu menghubungi supir pribadi tuannya untuk segera menyiapkan mobil. Karena mereka akan ke lokasi yang dikirimkan oleh Malik kepadanya. Fino dan Malik sudah berada di dalam lift yang akan membawanya ke lantai dasar.
"Soal kejadian tadi, saya minta maaf tuan. Saya benar-benar tidak habis pikir wanita tomboi tadi bisa melakukan hal bodoh di ruangan tuan"ucap Chiko sambil memegangi tengkuknya.
"Wanita itu sangat ketakutan, hal itu sudah sering terjadi. Sudahlah, lupakan saja"ucap Fino acuh.
Chiko pun memilih diam, hingga lift yang membawanya mereka berhenti di lantai dasar. Pintu lift terbuka, Fino kembali berjalan menuju pintu keluar diikuti oleh Chiko yang mengekor di belakangnya.
Mobil mewahnya sudah terparkir di depan perusahaannya bersama sang supir pribadi nya. Chiko dengan cepat membukakan pintu mobil untuk tuannya. Fino lalu masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang. Sementara Chiko ikut menyusul masuk ke dalam mobil dan duduk di samping kemudi.
"Jalan pak"ucap Chiko kepada supir pribadi Fino.
Mobil melaju meninggalkan perusahaannya menuju lokasi yang akan mereka tuju. Tak terasa mobil yang membawa mereka tiba di sebuah pelabuhan, dimana terdapat sebuah restoran mewah yang berada di atas sebuah kapal pesiar. Malik sudah melambaikan tangannya di atas kabin kapal sambil memegang gelas minumannya.
Fino bersama Chiko berjalan melewati jembatan pelabuhan yang melingkar hingga terhubung dengan pintu masuk kapal pesiar. Saat mereka tiba di pintu masuk, dua penjaga restoran yang juga berbadan kekar menghadang mereka, kemudian salah satu penjaga restoran itu terlebih dahulu memeriksa tubuh Fino dan Chiko.
Apabila mereka membawa barang yang mencurigakan terutama barang ilegal maka penjaga itu tidak mengizinkan para pengunjung untuk masuk ke dalam restoran mewah tersebut.
Restoran yang berdesain kapal pesiar itu hanya mampu dikunjungi oleh kaum elit, karena bandrol harga sekali makan di restoran mewah itu membuat kantong jebol dengan menu makanan yang super mahal, namun tetap berkualitas sesuai harganya. Para chef profesional didatangkan langsung dari berbagai negara untuk memasak masakan yang super spesial di restoran itu.
"Silahkan masuk tuan"ucap penjaga restoran yang tidak menemukan barang mencurigakan di tubuh mereka berdua.
Fino dan Chiko kembali berjalan masuk ke dalam kapal pesiar. Seorang pelayan wanita mulai menghampiri mereka dan memintanya untuk mengikutinya. Karena Malik yang meminta pelayan wanita itu untuk menyambut tamu istimewa nya.
Keduanya hanya mampu mengikuti langkah kaki pelayan wanita hingga masuk ke dalam lift yang akan membawanya ke atas kabin kapal. Pintu lift kembali terbuka, pelayan wanita kembali berjalan di lorong kapal pesiar hingga tiba di sebuah tangga yang tertuju di atas kabin kapal.
Kini Fino sudah berada di atas kabin kapal dan sudah berhadapan dengan benalu kecilnya yaitu Malik Ibrahim. Keduanya hanya mampu lempar tatapan dingin.
"Silahkan duduk tuan Fino Alexander"ucap Malik yang memasang wajah yang sulit diartikan dan mempersilahkan Fino duduk di kursi yang berhadapan dengan nya.
Tanpa basa-basi, Fino langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan Malik. Sementara kedua sekretaris mereka hanya mampu berdiri di samping tuannya.
"Kau semakin tampan saja tuan Fino, aku jadi tidak enak hati tidak di undang di pesta pernikahan mu. Eem bagaimana ya, wajah wanita yang sudah menjadi pendamping hidup tuan Fino Alexander. Apakah masih sesuai dengan wanita di pasaran"ucap Malik sinis sambil meneguk kembali minumannya.
Fino mengepalkan tangannya mendengar ucapan Malik yang sengaja mengejeknya.
"Jangan berbasa-basi, cepat katakan maksud dari pertemuan ini"ucap Fino yang berdengus kesal dan berusaha menahan emosinya.
"Aku ingin menantang mu bertarung dengan ku"ucap Malik dengan seringai licik diwajahnya.
"Oh baiklah, aku terima tantangan mu, sudah sejauh mana kemampuan benalu kecil dihadapan ku"ucap Fino sambil tersenyum mengejek.
Malik terpancing emosi mendengar ucapan Fino yang sedari dulu mengatainya hanya benalu kecil. Ya memang sedari dulu, ia hanya mengekor di perusahaan Alexander Group, perusahaan yang dimilikinya hanyalah perusahaan kecil yang tidak mampu berjaya tanpa menjadi benalu kecil di perusahaan Alexander Group yang dipimpin oleh Fino, sehingga hanya perlu bekerja sama dengan perusahaan raksasa. Dan pada akhirnya Fino menerima kerja samanya, namun dibalik semua itu, sifat iri Malik mulai menjadi-jadi saat kesuksesan perusahaan Fino semakin berjaya.
Malik menjadi serakah dan tamak, ia pun menyelewengkan berbagai dana proyek pembangunan apartemen di negara B, agar perusahaannya bisa sejaya dengan perusahaan Alexander Group dengan dana yang dimilikinya.
Namun Fino tidak tinggal diam saat mengetahui semua rencana licik Malik, Fino akhirnya menjadi murka dan dengan sekali kedipan, perusahaan kecil yang merangkak di bawah perusahaannya berhasil ia hancurkan dalam sekejap.
Malik langsung bangkit dari tempat duduknya, tak lupa ia pun melepaskan jas mahalnya dan melemparnya ke arah sekertarisnya. Sedangkan Fino hanya tersenyum tipis, lalu ia pun ikut bangkit dari tempat duduknya. Fino melakukan hal yang sama dilakukan oleh Malik, melempar jasnya kepada sekertaris nya.
Melawan Fino adalah hal yang paling ditunggu-tunggu Malik beberapa tahun silam. Ia sudah menunggu waktu begitu lamanya untuk membalaskan dendam nya kepada Fino.
Akhirnya ia bisa melawan Fino yang merupakan musuh bebuyutan nya. Malik mulai melawan Fino, pukulannya mulai mengarah di wajah Fino, namun Fino dengan lihai selalu menghindari pukulan yang selalu dilayangkan Malik kepadanya.
Malik menjadi emosional, ia menjadi kurang fokus melawan Fino. Namun masih banyak rencananya telah ia susun secara matang untuk dijalankan. Kali ini Fino yang melakukan perlawanan, hanya sekali pukulan, Fino berhasil merobek pelipis kanan Malik. Darah segar mulai mengalir di pelipis kanan Malik. Malik hanya mampu membasuh lukanya menggunakan lengan kemejanya. Keduanya kembali saling melakukan perlawanan tanpa menggunakan senjata.
Fino berhasil membuat wajah Malik babak belur. Fino masih terus menghajar Malik habis-habisan. Walaupun ia juga mendapatkan luka dari pukulan yang dilayangkan Malik kepadanya. Namun Fino tak gencar untuk menghabisi lawannya. Jiwa mafianya terus meronta-ronta untuk membunuh musuhnya secara perlahan. Walaupun sudah babak belur, Malik masih gencar melakukan perlawanan.
Keduanya kembali saling pukul memukul. Hingga keduanya mencoba untuk saling menjatuhkan di atas kapal pesiar. Malik mencengkeram erat leher Fino, begitu pun sebaliknya. Keduanya pun kembali terjatuh di atas lantai kabin kapal. Fino dan Malik kembali saling mengunci. Sedangkan Para sekretaris nya hanya mampu menjadi penonton, keduanya tidak berani ikut campur urusan tuannya.
"Aku sudah memberi mu kehidupan satu kali Malik. Namun sekarang, aku tidak akan mengampuni mu!"ucap Fino dengan tatapan membunuhnya.
"Oh begitu, tapi aku pun tidak akan tinggal diam sebelum menghabisi mu Fino" ucap Malik dengan tatapan yang tak kalah jauh dari tatapan Fino.
Malik kemudian menekan sesuatu dari balik saku celananya , sesaat kemudian terdengar suara letusan di belakang mereka. Kapal pesiar itu mengeluarkan kobaran api, dari ledakan tadi.
Mereka kemudian melepaskan kuncian nya masih-masing. Malik tersenyum getir, lalu kembali memberikan kejutan kepada Fino. Dua buah helikopter mulai terbang ke arah mereka.
Chiko dengan cepat mendekat ke arah tuannya.
"Tuan, sebaiknya kita harus meninggalkan tempat ini"bisik Chiko kepada tuannya.
"Sebaiknya kau saja tinggalkan tempat ini, atur strategi selanjutnya bersama anggota The Tiger. Jangan khawatirkan aku"ucap Fino dengan suara berbisik.
Dor
Tembakan langsung mengarah kepada Fino, untungnya dengan cepat Fino tiarap bersama Chiko.
Malik terus saja tertawa terbahak-bahak melihat kedatangan pasukannya.
Chiko mulai menjauh dari tuannya, ia begitu percaya kepada tuannya bahwa akan menghabisi nyawa Malik saat itu juga. Fino kembali mendekati Malik, sekretaris Malik mencoba menghadang Fino.
Tanpa aba-aba Fino mengangkat tubuh sekretaris Malik dan melemparnya,hingga mengenai meja yang dipenuhi makanan.
Tatapan Fino beralih kepada Malik yang sudah terlihat ketakutan, karena Fino terus mendekatinya.
Dor
Dor
Dor
Tembakan terus mengarah kepada Fino, namun secepat kilat Fino menyeret tubuh Malik. Hingga para anak buah Malik menghentikan aksinya. Dua buah helikopter mulai terbang rendah.
Fino terus menyeret tubuh Malik sambil mencengkram erat lehernya. Saat berada di sudut kabin kapal pesiar, Fino lalu mengangkat tubuh Malik kemudian melemparnya turun ke tebing yang dipenuhi batu karang.
Tiba-tiba dari arah belakang, anak buah Malik kembali menebak Fino secara brutal.
Dor
Dor
Tembakan mereka berhasil mengenai lengan kiri Fino. Kemudian Fino memilih melompat ke dalam air laut. Para anak buah Malik yang sudah mendarat di kapal pesiar, kembali menembak ke dalam air laut dimana Fino melompat. Mereka kembali menyoroti air laut menggunakan lampu helikopternya. Air laut terlihat keruh dengan warna darah yang mulai terlihat. Setelah itu, kembali jernih dan terlihat tenang.
Fino berusaha keras menyelamatkan dirinya di dalam bangkai kapal tenggelam. Ia terus menahan nafasnya beberapa menit di kedalaman air laut.
"Sepertinya dia sudah tewas, ayo kita tinggalkan tempat ini"ucap salah satu anak buah Malik.
Sementara helikopter yang baru tiba dengan ukuran jauh lebih besar, memilih menyelamatkan tuannya yang masih berada di tebing. Terlihat tubuh Malik sudah berlumuran darah, mereka dengan hati-hati mengangkat tubuh tuannya masuk ke dalam helikopter yang berukuran besar.
Para anak buah Malik kembali naik ke helikopter. Setelah itu, mereka pun meninggalkan tempat tersebut.
Fino langsung naik ke permukaan untuk mengambil nafas dalam-dalam.
"Huhhh".
Fino hanya mampu melihat helikopter mulai menjauh. Setelah merasa aman, Fino kembali berenang ke tepi laut, hingga ia menemukan kapal nelayan yang sedang bersandar di pinggir pelabuhan. Sementara Chiko masih berada di lokasi pelabuhan bersama anggota The Tiger lainnya yang sedang mencari keberadaan tuannya.
"Chiko"teriak Fino yang sudah berhasil naik ke atas kapal nelayan.
Chiko beserta anggota The Tiger dengan cepat menghampiri tuannya. Chiko tersenyum melihat tuannya, ia pun langsung mengulurkan tangannya untuk membantu tuannya yang terlihat terluka.
"Sebaiknya kita tinggalkan tempat ini, aku sudah kedinginan"ucap Fino dengan tegas.
Chiko membantu tuannya berjalan menuju mobil yang tidak jauh dari keberadaan mereka. Tak lupa Chiko membantu tuannya melepaskan kemejanya, kemudian kembali memasangkannya dengan kemeja baru yang selalu tersimpan rapi di bagasi mobil tuannya. Mobil pun melaju meninggalkan tempat tersebut.
Bersambung.......