Mafia Couple Love

Mafia Couple Love
Debaran


Fino tampak tertidur pulas di pangkuan Milan. Awalnya ia hanya berpura-pura manja, dengan memeluk Milan kadang menciumi pipi Milan hingga tanpa sengaja langsung membaringkan tubuhnya di pangkuan Milan. Entah mengapa ia merasa nyaman berada di dekat Milan, hingga ia pun tertidur di pangkuan Milan.


Sementara Milan berdengus kesal, ia pun tidak bisa kemana-mana. Bahkan untuk buang air kecil saja, rasanya begitu susah. Ia mencoba menggeser kepala Fino, namun lagi-lagi ia diselimuti ketakutan, jangan sampai ia membangunkan macan tutul yang sedang tertidur.


Tidak ada cara lain yang bisa ia lakukan selain membangunkan Fino, karena ia sudah terjepit untuk ke toilet. Milan langsung mengangkat kepala Fino dan memindahkannya pada bantalan sofa. Membuat Fino terbangun dari tidurnya. Milan tidak peduli, ia pun dengan cepat berjalan menuju toilet yang berada di dalam kamar.


Milan merasa lega, ia pun keluar dari toilet. Matanya pun tak sengaja melihat di sekelilingnya yang begitu asing baginya. Tampak sebuah foto berukuran besar terpajang di dinding, yang menampilkan anak kecil yang menggemaskan berada di gendongan seorang lelaki paruh baya yang sedang memegang senapan panjang, yang sangat ia yakini bahwa mereka ayah dan anak.


"Foto mereka begitu keren, anak kecil itu menggemaskan dengan bola matanya yang begitu sipit, tapi tatapannya cukup tajam" ucap Milan, sambil tersenyum memandang foto anak kecil.


"Ingin rasanya aku mencubit pipi gembul nya"ucap Milan yang terlihat gemes, sambil menaikkan salah satu tangannya dengan gerakan seperti capit kepiting.


"Siapa yang ingin kau cubit" ucap suara bariton dari seseorang di ambang pintu kamar, siapa lagi kalau bukan Fino.


"Foto anak kecil itu" ucap Milan sambil menunjuk foto anak kecil bersama ayahnya terpajang di dinding.


"Oh" ucap Fino acuh, kemudian berjalan membuka lemari pakaian, lalu mengambil handuk.


"Tuan Fino mau apa di toilet"ucap Milan yang langsung menghampirinya.


"Aku mau mandi"ucap Fino enteng.


Milan langsung mengecek kening suaminya.


"Sedikit hangat" gumam Milan. "Sebaiknya tuan tidak perlu mandi, karena kondisi tubuh tuan sedang tidak enak badan" ucap Milan meyakinkan suaminya.


"Tidak perlu mengatur ku" ucap Fino acuh, lalu berjalan menuju toilet.


Milan kembali merentangkan tangannya menghentikan langkah kaki Fino.


"Pokoknya tidak boleh, kau sedang sakit" ucap Milan dengan suara meninggi.


"Apa peduli mu dengan ku" ucap Fino dengan tatapan tajam.


"Dengar tuan Fino, apartemen ini terasa asing bagiku dan tidak seperti di kediaman tuan Fino. Mungkin saja anda tidak memiliki pakaian ganti di sini! apalagi dengan kondisi tubuh tuan yang sedang tidak enak badan.


"Sok pintar kamu, apartemen ini seperti rumah keduaku"ucap Fino yang kembali melangkah mendekati Milan, sedangkan Milan mulai berjalan mundur.


Fino kembali berjalan terus mendekati Milan dengan tatapan tajam. "Sebagian barang di tempat ini persis dengan di rumah ku dan setiap hari Bi Mina membersihkan apartemen ini dan lemari pakaian di belakang mu, di penuhi pakaian ku" ucap Fino yang semakin mendekati Milan, hingga tubuh Milan mentok di lemari pakaian.


"Masa!, kalau dilihat-lihat apartemen ini tidak terawat" ucap Milan sinis yang mencoba mengulik tentang apartemen tersebut.


"Jangan menghina apartemen ku hah!. Aku tidak suka, bahkan aku tidak ingin merubah segala bentuk di dalam apartemen ini, apapun itu. Jadi jangan coba-coba menghina apartemen ku, paham!" ucap Fino tajam sambil mencengkram dagu Milan.


"Ya sudah lepaskan tanganmu, daguku terasa sakit" ucap Milan dengan cepat.


Fino langsung melepaskan tangannya. Dan dengan serangan tiba-tiba, ia langsung membungkam mulut Milan dengan bibirnya. Milan hanya mampu membulatkan matanya dengan debaran jantung yang tidak bisa dikondisikan, Fino terus menciumnya dengan ganasnya hingga beberapa menit. Setelah puas, Fino lalu melepaskan ciumannya dan mulai menjauh, lalu kembali berjalan ke toilet.


Sementara Milan hanya mampu memegangi dadanya. Fino juga merasakan hal yang sama dengan Milan dengan jantung yang masih berdebar-debar. Fino tiba-tiba saja menghentikan langkahnya di depan pintu toilet.


"Belikan aku obat pereda panas. Di samping apartemen ini terdapat apotek obat, cepat pergi sana" ucap Fino lalu berlalu masuk ke dalam toilet.


Fino pun mengamati wajahnya di dalam cermin sambil memegangi jantungnya yang masih berdebar-debar.


"Debaran ini, apakah aku kembali jatuh cinta" ucap Fino dengan pikirannya.


"Hufff, selalu saja menyuruh dengan sesukanya. Padahal aku masih syok tahu, oh jantungku, kenapa kau selalu saja berdebar-debar, jika aku berdekatan dengan tuan Fino. Apa aku sudah jatuh cinta kepada nya? ohh tidak-tidak, semoga semua itu tidak pernah terjadi " ucap Milan sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar dengan wajah cemberutnya.


"Sebaiknya aku harus membelikan obat untuk lelaki aneh itu, aku tidak ingin terus-terusan di jajah dengan sikap manjanya"ucap Milan lalu mengambil dompetnya yang berada di atas nakas. Ia sama sekali tidak tahu, siapa yang menyimpan dompet nya di tempat itu.


Milan mulai memasuki lift yang akan membawanya ke lantai dasar. Pintu lift terbuka, Milan dengan cepat berjalan menuju apotek yang di maksud oleh Fino.


Terlihat ramai di sekitaran apotek di samping apartemen tersebut. Tidak hanya apotek biasa, namun disampingnya terdapat klinik kecil untuk melakukan pemeriksaan.


Setelah mendapatkan obat yang dibutuhkan, Milan kemudian berjalan menuju kasir, tampak banyak orang kembali mengantri. Tak sengaja pandangan Milan tertuju pada pasangan muda yang tampak malu-malu dihadapannya sedang melakukan antrian.


"Kau saja yang beli, aku malu. Kalau dugaan ku benar, kau harus tanggung jawab"ucap gadis muda dihadapannya dengan suara pelan.


"Iya aku akan bertanggung jawab" bisik lelaki yang seumuran dengannya.


Milan mampu dengar pembicaraan mereka. Kini pasangan muda itu mulai menanyakan sesuatu yang akan mereka beli di bagian kasir.


"Cepat katakan" ucap gadis muda tadi, sambil mendorong lelaki di sampingnya.


Milan yang berada di belakang mereka hanya mampu menaikkan salah satu alisnya, melihat gelagat pasangan muda itu.


"Testpack" ucap lelaki muda itu dengan gugup dihadapan para penjual bagian kasir.


Lalu salah satu dari mereka mulai mengambil barang yang dimaksud pasangan muda itu. Setelah itu, pasangan muda itu membayarnya, lalu keluar dari apotek tersebut.


Milan pun membulatkan matanya, ia pun kembali teringat dengan ucapan ibu mertuanya yang memintanya untuk memeriksa ke dokter spesialis kandungan. Milan pun menjadi termenung dengan pikiran yang mulai menyerangnya secara tiba-tiba.


Haruskah ia juga membeli barang yang disebutkan oleh pasangan muda tadi, agar ia tahu betul dengan kondisi tubuhnya? itulah yang dipikirkan Milan. Ditambah Ibu mertuanya terlihat mencurigainya sedang hamil.


Para penjual, mulai memanggilnya yang hanya bengong di hadapan mereka.


"Mbak".


Milan kembali tersadar, dengan cepat ia membayar obat tersebut dan juga barang yang disebutkan oleh pasangan muda tadi. Milan kemudian berjalan keluar apotek.


Perasaan was-was mulai menyelimuti nya, yang sedang berjalan menuju unit apartemen suaminya. Milan terlihat murung saat memasuki apartemen suaminya.


Fino yang menyadari keberadaannya dengan cepat menatap ke arah nya.


"Ini obatnya tuan Fino" ucap Milan yang hanya meletakkannya di sofa, lalu ia pun berjalan menuju ruang makan. Milan menyelipkan barang yang ia beli di saku bajunya.


Kini mereka tengah makan malam bersama yang sempat di pesan secara online oleh Fino. Setelah selesai makan, Fino tak lupa meminum obat pereda panas yang dibeli oleh Milan, kemudian ia pun memilih ke kamarnya. Sedangkan Milan membersihkan sisa-sisa dari makanan mereka di atas meja makan.


Kemudian barulah Milan masuk ke dalam kamar. Fino baru saja keluar dari kamar mandi, karena tiba-tiba saja ia kembali mual, dan tak lupa ia bersih-bersih di dalam sana. Fino memilih membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, sungguh ia merasa tidak enak badan.


Milan membuka lemari pakaian, kemudian mengambil salah satu pakaian kemeja Fino yang tergantung di dalam lemari. Ia pun berjalan masuk ke dalam toilet untuk mengganti pakaiannya.


"Aku harus bangun lebih awal" ucap Milan sambil menatap dirinya di dalam cermin.


Milan lalu naik ke tempat tidur, ia pun melirik Fino di samping nya yang sudah memejamkan matanya.


Dia sudah tidur, aku tidak menyangka lelaki aneh ini bisa-bisanya tidak enak badan. Batin Milan.


Tak lupa Milan berdoa, kemudian membaringkan tubuhnya di samping suaminya. Sebuah tangan kekar kembali melingkar di pinggangnya. Jantungnya pun kembali berdebar kencang layaknya mau copot. Milan pun hanya mampu membeku dipeluk dari belakang oleh suaminya, sambil mendengarkan dua irama jantung yang sedang beradu.


Perasaannya kembali tidak tenang, jika sesuatu yang sangat tidak diinginkan terjadi kepadanya. Sungguh Milan begitu takut jika harus menerima semua kenyataan yang sama sekali tidak ia inginkan.


Keesokan harinya


Milan terbangun lebih awal, ia pun langsung menuju toilet untuk membersihkan wajahnya dan tak lupa untuk mencoba barang yang sempat ia beli.


Milan mulai membuka testpack, lalu mulai mencoba sesuai petunjuk dari testpack tersebut. Ia pun memasukkan testpack tersebut, ke dalam wadah yang berisi urine nya.


Milan hanya mampu menggigit bibir bawahnya menunggu beberapa menit yang akan mengubah segalanya. Kemudian ia pun kembali mengambil testpack tersebut dan mengibaskan nya ke udara untuk melihat hasilnya.


Tak lupa Milan berdoa, sambil memejamkan matanya sambil terus mengibaskan testpack. Dengan perasaan takut dan bercampur aduk, Milan lalu membuka matanya untuk melihat hasilnya. Mata Milan membulat sempurna, hingga tak terasa air matanya mengalir dengan sendirinya.


Bersambung.......


Mohon maaf bila alurnya tidak sesuai 🙏