Mafia Couple Love

Mafia Couple Love
Amarah Fino


Mata Milan membulat sempurna, melihat sosok lelaki yang menariknya secara paksa. Jantung nya langsung berdegup kencang, tenggorokannya terasa tercekik, melihat sosok lelaki dibencinya.


"Tu-tuan" ucap Milan gugup.


Sementara lelaki itu hanya menatapnya dengan tatapan membunuhnya yang tidak lain adalah Fino Alexander.


"Hei lepaskan kekasih ku, kau menggangu saja"ucap David kesal, yang kembali menarik lengan Milan.


"Ya, tolong lepaskan tuan" ucap Milan yang sedang menjalankan sandiwara nya.


Fino begitu marah, dengan tatapan membunuhnya, ia pun kembali murka dan langsung menghajar David secara membabi buta, pukulan keras terus saja bersarang di wajah tampan David, hingga membuat David tersungkur di lantai, dengan wajah babak belur hidung dan sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.


Sementara Milan terus berteriak untuk menghentikan aksi Fino. Sedangkan para tamu undangan hanya mampu menyaksikan pertarungan keduanya, mereka tidak ingin ikut campur, apalagi harus berurusan dengan Fino Alexander yang sangat ditakuti di dunia bisnis.


"Berhenti tuan Fino, anda bisa saja membunuhnya"teriak Milan sambil merangkul lengan Fino.


Fino sama sekali tidak mendengar ucapan Milan, karena ia sedang terbakar api cemburu. Ia pun menarik tangannya dengan kasar dan kembali membungkuk menghajar David.


"Ayo lawan aku hah!" ucap Fino kepada David yang kembali menarik kerah kemeja David.


Bugh


Fino kembali menghajar wajah David. Sedangkan David pun tak tinggal diam, ia pun selalu saja melawan Fino, namun pukulannya selalu saja tak kena sasaran. Maklum dirinya tidak terlalu menguasai teknik bela diri taekwondo.


Fino kembali menarik kerah kemeja David.


"Beraninya kau berurusan dengan wanita ku"ucap Fino marah dengan tatapan tajam.


David hanya tersenyum mengejek.


"Oh wanita mu, bukankah kau sudah menikahi wanita pilihan ibumu. Mengapa sekarang kau malah mengakui kekasih ku sebagai wanita mu hah!" ucap David sambil tersenyum sinis dengan wajah babak belur nya yang terasa ngilu.


Fino kembali memukul perut David hingga terjengkang ke belakang. Dengan kemarahan menggebu-gebu yang diselimuti api cemburu, Fino kembali menendang perut David hingga tersungkur di lantai.


Milan hanya mampu menjadi penonton dengan pertarungan mereka berdua. Milan tidak tahu harus berbuat apa. Sementara sang tuan rumah pesta mulai berjalan untuk menghampiri mereka. Para wartawan mulai memotret gambar mereka, yang mampu dijadikan ladang penghasilan.


Fino berjongkok di depan David sambil memegang kepala belakang David.


"Wanita yang kau anggap kekasihmu itu adalah istri ku" ucap Fino geram, dengan tatapan tajam sambil mencengkram erat kepala belakang David.


Nyali David semakin menciut, ia hanya mampu meringis kesakitan sekaligus merasa tidak percaya dengan ucapan Fino.


"Tidak mungkin, Milan adalah kekasih ku sampai kapan pun. Kau hanya membual" ucap David dengan seringai licik diwajahnya, yang tidak terima dengan ucapan Fino.


"Terserah padamu. Ingat baik-baik, jika saja kau bukan kerabat ibuku, sudah ku pastikan menghabisi mu disini" ucap Fino dengan tatapan membunuhnya.


Kemudian Fino bangkit, dan kembali memperbaiki penampilannya dengan setelan jasnya yang tampak sedikit berantakan.


"Apa yang kalian perhatikan hah, jika sampai kejadian ini tersebar luas. Sudah ku pastikan akan menghancurkan seluruh bisnis kalian hingga tak tersisa" ucap Fino dingin dengan ancaman mematikannya, disertai tatapan yang begitu tajam.


Sehingga siapa saja yang menatapnya sudah pasti ketakutan dan tidak dapat berkutik, termasuk para wartawan dan para tamu undangan yang kurang kerjaan, diam-diam memotret dan merekam pertarungan Fino dan David. Mereka semua tampak ketakutan dan tidak berani melanjutkan aksinya. Sudah dipastikan mereka takut dengan ancaman Fino.


Sementara si tuan rumah pesta tidak berani untuk menghampiri Fino secara langsung, yang sedang diselimuti amarah. Ia takut menjadi sasaran kemarahan Fino.


"Lanjutkan kembali pesta kalian" ucap Fino dingin. Seketika itu, seluruh tamu undangan yang sempat jadi penonton mulai bubar dan kembali melanjutkan pesta mereka, termasuk si tuan rumah pesta yang merasa lega. Karena pestanya kembali berlanjut.


Fino kemudian berjalan menghampiri Milan yang hanya bingung menatapnya. Saat berada di hadapan Milan, ia pun langsung membuka jasnya, kemudian menyematkan dipunggung Milan.


Sungguh ia tidak rela, punggung Milan menjadi tontonan gratis oleh para tamu undangan.


Milan hanya mampu bengong, ia pun tidak tahu harus mengatakan apa kepada Fino yang sedang diselimuti amarah.


Fino lalu menarik tangan Milan secara kasar dan membawanya keluar dari area pesta. Milan kembali menatap ke arah David yang sudah babak belur, sungguh ia merasa bersalah kepada David. Sedangkan David hanya mampu menyaksikan kepergian mereka dengan perasaan hancur dan sakit hati.


Tiba-tiba saja ponsel David berbunyi heboh. Ia pun mengeluarkan ponselnya dari saku jasnya. Tertera nama Kesayangan di ponselnya, ia pun langsung menerima panggilan masuk tersebut.


"Ada apa tuan putri" ucap David dengan penuh kasih sayang.


"Ayah cuman ingin memastikan, apakah kak David sudah membesuk Lexa, itu loh putri dari rekan bisnis ayah" ucap Rissa di sebrang sana.


"Hemm. Eeh kakak cuman ingin tahu siapa nama istri Fino Alexander, sepupu arrogan mu itu " ucap David yang ingin tahu tentang istri Fino sesungguhnya, sambil memegangi pelipisnya yang babak belur.


"Aduh kakak, mengapa harus membuka luka lama ku sih. Namanya Milan si gadis kampungan dan murahan, pokoknya aku tidak menyukainya karena merebut kak Fino dari ku" ucap Rissa dengan kesal.


David langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak. Ia pun mengepalkan tangannya dengan kesal.


"Sial!, begitu bodohnya aku, sampai harus mendekati wanita yang sudah bersuami. Bodoh-bodoh, mengapa aku harus tergila-gila kepada Milan yang jelas-jelas sudah bersuami, aaarggh" ucap David kesal sambil meninju lantai.


Milan terseok-seok mengikuti langkah kaki Fino, ia pun terus saja memberontak untuk lepas. Namun Fino terus memegangi tangannya dengan erat. Bahkan tas jinjing yang ia pegang, terus saja memukul punggung kekar Fino.


Fino dengan marah mengangkat tubuh Milan dan menggendongnya layaknya karung beras.


Sementara Chiko yang berada di lobi hotel, masih saja mendiamkan ponselnya yang terus saja berbunyi heboh. Sekitar 30 panggilan masuk dari Lexa yang sama sekali tidak ia angkat.


"Maaf nona Lexa, sepertinya kita tidak bisa berhubungan lagi" ucap Chiko lalu memasukkan ponselnya kedalam saku jasnya.


Ia pun tampak terkejut melihat tuannya berjalan ke arahnya sambil menggendong istrinya yang sedang memberontak.


"Siapkan mobil Chiko" teriak Fino dengan kemarahan yang menggebu-gebu.


Chiko dengan cepat berjalan menuju parkiran.


"Turunkan aku" teriak Milan sambil memukul-mukul punggung Fino, karena merasa sedikit pusing.


Fino yang diselimuti amarah, lalu menurunkan tubuh Milan.


Plakkk


Milan berhasil melayangkan tamparan di wajah tampan Fino.


"Apa kamu sudah puas dengan tindakan mu tuan Fino. Memang kau seorang jagoan, tapi tidak seharusnya lelaki terhormat seperti mu berbuat semena-mena terhadap orang lain. Sungguh aku sangat membenci mu" ucap Milan marah, lalu melepaskan jas milik Fino.


"Aku tidak butuh ini" ucap Milan, kemudian melemparkannya ke arah Fino. Sungguh ia melakukan semua itu, agar Fino membencinya dan dengan cepat menceraikannya.


Milan kemudian berjalan kembali menuju pesta yang sedang berlangsung. Fino dengan cepat menghentikannya.


"Berhenti gadis tua" teriak Fino dengan tatapan tajam. Sungguh ia begitu marah besar, Milan sudah kelewatan saat ini.


Milan kembali menghentikan langkahnya.


"Sebaiknya anda pulang saja. Lagian kita tidak datang bersama. Maaf saya harus menemui kekasih ku tercinta" ucap Milan yang sengaja bersandiwara di depan Fino.


"Kau....!"


Fino dengan marah langsung menarik pinggang Milan, ia pun kembali mengangkat tubuh Milan dan membawanya menuju mobilnya yang sudah terparkir di halaman hotel.


Chiko langsung membukakan pintu mobil untuk tuannya. Fino kemudian meletakkan tubuh Milan dengan kasar di kursi belakang, kemudian ia pun ikut masuk. Milan lagi-lagi memberontak untuk turun.


Sedangkan Chiko dengan cepat melajukan mobil meninggalkan tempat tersebut.


Plakk


Fino menampar pipi kanan Milan yang terus saja memberontak.


"Kau benar-benar gadis murahan" ucap Fino marah, yang kembali terlintas wajah Milan sedang bermesraan dengan lelaki lain.


Milan memegangi wajahnya yang terasa ngilu.


"Ya...aku memang wanita murahan, apa anda puas hah!"ucap Milan dengan suara meninggi.


Sementara Chiko dengan cepat memencet tombol untuk membuat tirai pembatas dengan tuannya. Tak lupa, ia pun memakai headset, agar tidak mendengar pertengkaran mereka. Chiko tampak fokus mengemudikan mobil tuannya.


Sementara di belakang sana sudah terjadi pertengkaran hebat sepasang suami istri itu.


"Lihatlah, sekarang saya sudah memiliki kekasih. Bukankah sedari dulu, anda menginginkan semua itu bukan" ejek Milan yang terus saja melawan Fino dengan segudang kata-kata.


Fino hanya diam, ia pun menatap Milan dengan tatapan membunuhnya.


"Jadi bersiaplah untuk perceraian kita secepatnya" ucap Milan dengan suara meninggi, sungguh ia harus melawan Fino, agar cepat terbebas dari nya.


Walau bagaimanapun, Milan sebenarnya menyimpan sedikit perasaan kepada lelaki dibencinya, siapa sih yang tidak akan jatuh hati kepada Fino Alexander yang begitu dikagumi kaum wanita. Namun apa boleh buat, inilah jalan satu-satunya, agar aibnya tetap tertutup rapat. Setelah puas saling berdebat, mereka pun menjadi diam.


Tak terasa mobil yang membawa mereka tiba di kediaman Fino. Chiko dengan cepat turun dari mobil dan kembali membukakan pintu mobil untuk tuannya, dengan penuh hati-hati.


Fino keluar dari mobil dan kembali menggendong tubuh Milan. Sungguh ia harus memberi pelajaran kepada Milan yang terus saja melawannya dengan adu mulut. Dari siang hari, ia benar-benar kecewa kepada Milan yang sudah terang-terangan bermain api dibelakang nya.


"Turunkan aku, untuk apa kau terus menggendong ku seperti ini" ucap Milan yang sudah tidak berbicara sopan kepada Fino.


Fino hanya diam dan terus saja melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Milan terus saja memberontak sambil menggigit punggung Fino.


Saat memasuki kamarnya, Fino langsung melempar tubuh Milan di atas tempat tidur. Tak lupa Fino mengunci pintu kamarnya menggunakan remote control, agar Milan tidak bisa kabur.


Milan terlihat waspada di atas tempat tidur. Apalagi melihat tatapan Fino yang terus saja mengarah kepadanya. Fino membuka satu persatu kancing kemejanya di hadapan Milan. Membuat Milan menjadi gugup, namun Milan kembali tenang.


Hufff, aku sangat takut melihat tatapan lelaki aneh itu. Batin Milan.


Ia pun ingin turun dari tempat tidur, akan tetapi Fino keburu naik ke atas tempat tidur menghadangnya. Milan membulatkan matanya, melihat Fino bertelanjang dada, sehingga terlihat dengan jelas tubuh atletis suaminya. Milan dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah lain, tiba-tiba saja jantung nya berdebar tak karuan.


Milan memilih menggeser tubuhnya untuk cepat turun dari tempat tidur, namun Fino kembali menarik pinggang nya, hingga ia pun terlentang. Fino dengan cepat menindih tubuhnya, Pandangan mata mereka kembali bertemu dengan tatapan kebencian.


"Ka-kau mau apa.."ucap Milan gugup.


"Menikmati tubuh murahan mu"ucap Fino marah. Dan langsung mencium bibir ranum Milan dengan kasar. Fino terus m***** bibir Milan. Milan terus memberontak untuk lepas, namun Fino sudah diselimuti amarah.


Fino kemudian merobek gaun Milan dan melemparnya ke sembarang arah. Ia pun kembali melancarkan aksinya dengan memberikan tanda merah di sekujur tubuh Milan, bahkan tidak segan menggigit punggung Milan.


Sungguh Milan hanya mampu pasrah, ia pun sudah lelah memberontak, karena Fino semakin leluasa menghantamnya dengan aset berharganya. Ia pun berteriak untuk menghentikan Fino, dikarenakan perutnya sudah kram, ia benar-benar takut bila berakhir keguguran.


Namun Fino sama sekali tidak peduli, ia sudah dibutakan oleh amarah dan pengaruh syetan yang mengontrol pikirannya. Milan begitu sedih dan sakit hati kepada Fino, karena Fino menggagahinya secara hewani dan selalu mengatai Milan dengan sebutan gadis murahan disela-sela kegiatannya.


Milan terkulai lemas di atas tempat tidur, sambil memegangi selimutnya. Sedangkan Fino sudah berada di dalam toilet untuk membersihkan tubuhnya, yang baru saja memberikan pelajaran kepada Milan.


Milan sudah terduduk di tempat tidur dengan perasaan sakit hati. Tak berselang lama kemudian, Fino keluar dari toilet menggunakan jubah mandi, ia pun berjalan menuju sofa untuk mengambil sesuatu. Setelah itu, kembali menghampiri Milan.


"Bukankah ini yang kau inginkan" ucap Fino sambil melempar amplop coklat kearah Milan.


"Itu surat perceraian yang kau inginkan. Aku pun sudah bosan menikmati tubuh murahan mu" ucap Fino ketus, yang merasa harga dirinya sebagai lelaki diinjak-injak oleh Milan yang selalu saja meminta cerai. Apalagi bermain api dengan lelaki lain.


Kini giliran nya yang menceraikan wanita pembangkang itu.


Milan hanya terdiam, dengan dada yang teramat sesak.


Fino kembali berjalan menuju lemari untuk mengambil sesuatu. Fino kemudian menghampiri Milan sambil mengangkat sebuah koper. Lalu mengeluarkan isi koper tersebut di atas tempat tidur, tepatnya di atas selimut Milan, yang rupanya berisi uang tunai. Milan dimandikan uang tunai oleh Fino Alexander yang begitu arrogan.


Milan hanya mampu mengepalkan tangannya di bawah selimut dengan perasaan sesak. Ia benar-benar membenci lelaki dihadapannya, yang selalu saja berbuat semena-mena terhadap nya.


Aku bersumpah akan membalas penghinaan mu Fino Alexander. Batin Milan dengan mata berkaca-kaca.


Bersambung.......