
Sepasang kaki mungil tampak lincah menginjakkan kakinya di atas lantai marmer. Kaki mungil itu, sesekali berlari cukup kencang melewati dua sosok wanita berseragam biru.
"Jangan lari tuan muda"ucap salah satu wanita berseragam biru.
Tampak kaki mungil itu berhenti sejenak, lalu berbalik badan memperlihatkan wajah tampannya kepada dua wanita berseragam biru.
"Aduhh tampannya tuan muda"ucap kedua wanita berseragam biru sambil tersenyum.
"Aku ingin ke kamar bibi"ucap anak kecil yang berwajah tampan.
"Baik tuan muda, biar bibi yang antar"ucap salah satu wanita berseragam biru.
"Tapi bohong"ucap anak kecil itu dan kembali berlari kencang melewati sudut ruangan.
Kedua wanita berseragam biru begitu panik mengejar tuan mudanya. Mereka takut tuan mudanya terjatuh atau tersandung dengan perabot rumah.
Tampak anak kecil itu menghentikan langkahnya, saat melihat sosok wanita cantik dengan balutan baju syar'i sedang berdiri di hadapannya. Anak kecil itu, hanya mampu nyengir kuda, kemudian langsung menghambur memeluk kaki wanita tersebut.
"Mama"ucap anak kecil itu dengan manja.
"Malfin sayang, jangan nakal ya pada bibi sister"ucap wanita cantik nan muslimah yang tidak lain adalah Milan.
"Iya ma"ucap anak kecil itu yang tidak lain adalah Malfin.
Kedua wanita berseragam biru hanya mampu tersenyum melihat tingkah laku ibu dan anak yang begitu imut di mata mereka.
Milan sedikit membungkukkan badannya, kemudian langsung menggendong putranya.
Tampak Malfin berpegangan erat di leher mamanya, sungguh ia begitu menyayangi mamanya. Umur Malfin sudah 2 tahun enam bulan. Malfin tumbuh dengan baik dengan penuh kasih sayang dari kedua orang tuanya. Malfin bahkan sudah pasih berbicara dan mampu bercakap-cakap dengan lawan bicaranya termasuk kedua orang tuanya dan orang disekitarnya. Tidak hanya itu, Malfin sudah pandai menghitung, membaca, dan sedikit menguasai gerakan bela diri taekwondo.
"Mama, kapan papah pulang"ucap Malfin di gendongan mamanya.
"Sebentar lagi sayang"ucap Milan yang terus berjalan menaiki anak tangga menuju kamar putranya.
Malfin kembali memainkan hijab mamanya jika berada di dalam gendongannya.
Milan hanya mampu tersenyum dengan tingkah lucu putranya. Tampak pelayan wanita yang melihat kedatangannya dengan cepat membukakan pintu kamar tuan mudanya.
Milan kembali tersenyum sebagai sapaan kepada pelayannya dan berjalan memasuki kamar putranya.
"Malfin mandi dulu ya? biar mama yang bantuin"ucap Milan yang sudah menurunkan putranya di dekat tempat tidur.
"Baik ma, padahal Malfin sudah pandai loh mandi sendiri, pakai baju sendiri dan..."ucap Malfin yang tidak melanjutkan ucapannya.
"Iya mama tau, bahwa anak tampan mama sudah pintar, tapi...Malfin harus tetap dalam pengawasan mama"ucap Milan yang mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh putranya.
Milan dengan telaten membuka satu persatu pakaian Malfin, bahkan Malfin ikut membantu mamanya. Setelah selesai, Milan kembali membawa putranya masuk ke dalam toilet untuk memandikannya. Milan selalu melakukan hal itu, ia tidak ingin baby sister yang mengurus keperluan putranya, namun untuk urusan menjaga, Milan selalu menyerahkan tanggung jawab kepada dua wanita berseragam biru yang merupakan baby sister putranya.
Kini Malfin sudah segar dan begitu rapi dengan pakaian santainya. Milan kembali menyisir rambut putranya dan selalu saja merapikannya dengan baik, sehingga wajah Malfin selalu saja memancarkan aura ketampanannya sejak dini.
Sejak setahun silam Milan mulai hijrah, ia pun mulai belajar tentang agama. Hal yang pertama Milan lakukan adalah membeli buku-buku tentang agama islam yang dianutnya, dengan cara mempelajarinya secara seksama. Setelah semuanya bisa dipahami dan mampu dilaksanakan.
Milan mulai belajar untuk sholat, dan melakukan seluruh tata cara yang dipelajari dari buku yang dipelajarinya. Milan mulai melakukan tata cara berwudhu hingga gerakan sholat dan bacaan sholat didalamnya. Selama hidup, Milan sama sekali tidak tahu menahu tentang agamanya dan bisa dikatakan ia buta dengan agamanya. Tanpa ajaran dan didikan dari kedua orang tuanya dengan kesibukan masing-masing dengan dunianya membuat sosok Milan tidak tentu arah dengan keyakinan yang dianutnya.
Tidak hanya itu, Milan juga belajar mengaji, mampu melafalkan sholawat nabi dari para penduduk desa sabang yang sempat ia dengar begitu syahdu, hingga sampai sekarang ia begitu panda melantunkan sholawat nabi saat menidurkan putranya. Kisah para Nabi dan Rasul tak luput sebagai bacaan favoritnya dan selalu ia bacakan untuk putranya Malfin.
“Malfin, sepertinya papah mu sudah pulang”ucap Milan sambil tersenyum yang sempat mendengar suara deru mesin mobil suaminya.
“Ayo ma, kita temui papah”ucap Malfin yang begitu antusias.
“Baiklah nak”ucap Milan sambil tersenyum melihat tingkah putranya yang semakin hari semakin menggemaskan.
Malfin langsung menggenggam tangan mamanya dan menariknya untuk segera menemui papahnya. Milan hanya mampu mengikuti langkah kaki putranya yang begitu aktif dan lincah.
“Pelan-pelan nak”ucap Milan yang mengikuti langkah kaki putranya menuruni anak tangga.
Malfin kembali menghentikan langkahnya, Milan yang melihatnya dengan cepat menggendongnya, sungguh Milan begitu menjaga baik putranya, ia tidak ingin putranya terluka sedikit pun, seorang ibu pasti selalu bersikap seperti Milan dan bertingkah overprotektif kepada anak-anaknya.
Saat di depan pintu masuk, Malfin meminta kepada mamanya untuk menurunkan dirinya. Milan pun dengan hati-hati menurunkan putranya dari gendongannya. Mata Malfin langsung berbinar melihat kedatangan papahnya yang sedang berjalan ke arahnya.
“Papah”teriak Malfin dan langsung berlari menghampiri papahnya.
Sementara Fino langsung merentangkan kedua tangannya sambil menghampiri putranya, sungguh ia begitu bahagia melihat sambutan kedua sosok kesayangannya setiap ia pulang kerja. Para pelayan yang ikut menyambut kedatangannya hanya mampu tersenyum melihat kebahagian majikannya yang semakin hari semakin harmonis dengan kehadiran Malfin ditengah-tengah mereka.
Malfin begitu bahagia berada di gendongan papahnya, sedangkan Milan hanya mampu tersenyum sambil memegang tangan mungil putranya. Fino kembali beralih mencium kening istrinya.
“Kau semakin cantik saja sayang”ucap Fino sambil berbisik di telinga istrinya.
Milan hanya mampu tersenyum, Malfin pun ikut melakukan gerakan yang dilakukan papahnya yaitu mencium kening mamahnya.
Fino selalu saja geleng-geleng kepala melihat tingkah lucu putranya, karena setiap hal yang ia lakukan pasti putranya akan memfotokopinya dengan cepat.
“Apa yang Malfin lakukan hari ini?”ucap Fino sambil menggendong putranya.
“Malfin belajar dan bermain bersama dua siter. Malfin membantu mama berkebun, menyiram tanaman, memberi pupuk organik pada tanaman, berenang bersama mama, makan siang bersama mama dan masih banyak lagi pah”ucap Malfin sambil memeluk erat leher ayahnya.
“Oh ya, anak papah semakin pintar. Sudah aktif, lincah dan menggemaskan”ucap Fino sambil mengelus rambut putranya.
Milan hanya mampu mengekor dibelakangnya.
“Nak sini sama mama, papah ingin ke kamar untuk membersihkan tubuhnya. Nanti papah mengajak Malfin bermain”ucap Milan yang merentangkan kedua tangannya.
“Baiklah, aku sama mama dulu pah, tapi turunin Malfin dulu. Mama tak usah menggendong Malfin ya, soalnya Malfin sudah besar dan mama pasti letih seharian menjaga Malfin”ucap Malfin penuh perhatian kepada mamanya.
Fino langsung mengikuti intruksi anaknya. Sementara Milan tergelak tawa mendengar lagak perhatian putranya.
“Pintarnya anak mama”ucap Milan sambil merangkul putranya. Sedangkan Fino dengan cepat berjalan menuju kamarnya.
“Malfin mau main lagi sama bibi suster”ucap Malfin yang melihat dua babysister sedang merapikan mainannya.
“Ya sudah, jangan repotin bibi suster nya, mama mau temui papah dulu”ucap Milan sambil menatap dua babysister putranya.
“Sini tuan muda, main bersama siti”ucap salah satu babysister yang bernama siti yang mulai mengangkat mainan tuan mudanya.
“Iya ma”ucap Malfin dan langsung menghampiri kedua babysisternya.
Milan kemudian memilih untuk menemui suaminya. Milan membuka pintu kamarnya dengan hati-hati, Milan mulai melirik ke sana-kemari mencari keberadaan suaminya.
“Sepertinya mas Fino sedang mandi”ucap Milan yang melihat pintu toilet tertutup dengan rapat.
“Aku siapkan saja pakaian mas Fino”ucap Milan, lalu melangkahkan kakinya ke ruang ganti. Milan mulai memilih pakaian santai untuk suaminya. Setelah selesai memilih pakaiannya, Milan lalu meletakkannya di sofa ruang ganti, kemudian ia pun memilih keluar dari ruang ganti.
Milan kembali meletakkan pakaian kotor suaminya di keranjang khusus untuk pakaian kotor. Milan kemudian melihat rangkaian bunga hias yang begitu cantik tertancap di vas bunga keramik di dalam kamarnya. Milan kembali menyentuh rangkaian bunga hasil maha karyanya sambil tersenyum tipis.
Sebuah tangan kekar melingkar sempurna diperutnya dan sesekali mengelus perutnya dengan manja. Milan hanya mampu tersenyum dengan tingkah laku suaminya. Tampak Fino sudah segar dan tetap saja terlihat berkharisma dengan pakaian santainya.
Sejak kejadian dua tahun silam, para musuh Fino sudah tidak berani berdatangan untuk mengusiknya. Pulau kana kembali indah seperti sedia kala, bangunan Villa yang sempat di lahap si jago merah kembali kokoh dan mewah ditengah-tengah pulau kana. Untuk para anggota the tiger yang tewas di tempat akibat kejadian tersebut, mendapatkan tempat peristirahatan di pulau kana dengan lahan luas yang cukup jauh dari villa, sebagai tempat area pemakaman. Walaupun masih banyak musuh bebuyutannya di luar sana sedang mengincarnya. Tapi sosok Fino semakin ditakuti dan begitu di segani di dalam dunia hitam. Para musuhnya kembali berpikir dua kali sebelum menyerangnya.
Dan kini Fino begitu bahagia dengan kehidupannya, walaupun terkadang mendapatkan teror atau masalah kecil dari para musuhnya, ia hanya percayakan kepada Chiko untuk membereskannya, selagi masalah tersebut tidak berbuntut panjang. Bahagia, sejahtera telah Fino rasakan saat ini, putranya sudah tumbuh besar dan istrinya begitu muslimah. Hanya saja dirinya belum mampu mengikuti kata Hijrah yang dilakukan istrinya. Fino masih memiliki tugas besar untuk menjaga seluruh keluarganya dari musuh bebuyutan turun temurun dari keluarganya sendiri.
“Mas Fino”ucap Milan sambil menyentuh tangan kekar suaminya.
Fino hanya diam, sambil mengeratkan pelukannya, tak lupa Fino mencium mesra kedua pipi istrinya sambil mengelus perut istrinya.
“Aku sangat bahagia bersamamu, sayang”ucap Fino dan kembali mencium mesra pipi kanan Milan dan sesekali mengendus aroma tubuh istrinya yang memabukkannya.
“Aku juga bahagia bersama mu mas”ucap Milan dengan senyuman merekah menghiasi bibirnya.
“Malfin sudah aktif dan begitu pandai meniru perilaku ku, bagaimana nantinya jika Malfin juga mengikuti jejakku sayang dan menentang keputusanku. Aku benar-benar resah memikirkannya”ucap Fino, kemudian mencium punggung istrinya.
“Buah jatuh tidak akan pernah jauh dari pohonnya, jika Malfin mengikuti jejak mu, aku sama sekali tidak akan menentangnya mas, Malfin adalah sosok anak yang pandai dan mampu menempatkan dirinya dengan baik di sekitarnya. Malfin pasti akan menjadi anak yang membanggakan bagi orang tuanya. Jika Malfin salah jalan, aku sebagai mamanya hanya mampu mengingatkannya mas. Jangan terlalu menekan Malfin sejak dini, biarkan dia memilih jalan hidupnya seperti apa kedepannya, rencana tuhan terhadap jalan hidup anak kita sudah diatur dengan baik, jadi jangan resah mas”ucap Milan sambil mengelus lengan kekar suaminya.
“Aku hanya mengkhawatirkan masa depan anakku Malfin, tapi aku sedikit lega dengan penjelasanmu sayang”ucap Fino sambil tersenyum.
“Ya sudah mas, sebaiknya kita temui Malfin. Semakin hari Malfin semakin aktif dan pintar mendeskripsikan lingkungan sekitarnya”ucap Milan lalu berbalik badan.
“Ayo sayang, aku sangat senang melihat tumbuh kembang anak kita. Malfin begitu aktif bermain, pandai belajar dan cepat tanggap”ucap Fino sambil tersenyum.
Fino lalu menggenggam tangan istrinya dan mulai berjalan bersama-sama untuk menemui putranya.
Kini Fino dan Milan tengah bermain bersama putranya, Malfin selalu saja bertingkah lucu dihadapan orang tuanya. Milan tersenyum merekah melihat keusilan suami dan anaknya yang selalu saja mengerjainya.
Tidak lama lagi nak, papah akan mempertemukan kalian dengan keluarga besar ayah. Batin Fino.
Bersambung......