
Fino membawa keluarga kecilnya kembali ke kediamannya, setelah acara pernikahan Chiko dan Novi usai. Pernikahan Chiko dan Novi berjalan lancar dan penuh khidmat. Semua kerabat dan tamu undangan menikmati sajian makanan dan aneka minuman dengan rasa gembira.
Di sepanjang jalan, Milan terus saja tersenyum sambil bercanda gurau dengan putranya.
"Mama, aku ingin dede bayinya kembar seperti adik bibi Novi" ucap Malfin sambil memeluk lengan mamanya.
"Kok sekarang panggil nya bibi Novi, bukannya Malfin sering panggil dengan sebutan kak Novi? untuk dede bayinya kembar atau tidak, kita hanya mampu serahkan kepada Tuhan nak"ucap Milan sambil tersenyum.
"Karena bibi Novi menikah dengan paman Chiko, makanya Malfin sekarang memanggilnya bibi. Baik ma, Malfin akan selalu bersyukur dengan pemberian Tuhan"ucap Malfin sambil cengengesan.
"Pintar anak mama"ucap Milan sambil mencium gemes pipi gembul putranya.
Fino hanya tersenyum tipis sambil mengelus puncak kepala putranya.
Mobil melaju kencang hingga tiba di kediamannya.
Para pelayan selalu saja menyambut kedatangannya dengan penuh hormat. Fino kembali menuntun anak dan istrinya turun dari mobil. Lalu mereka berjalan bersama-sama memasuki kediamannya.
Bi Ros dan Bi Sri berdiri di ruang tamu sambil tersenyum melihat kedatangan majikannya, mereka lalu menghampiri.
"Tuan Fino, kuda balapnya baru saja tiba dan sekarang sudah menempati kandangnya" ucap Bi Sri yang melapor.
"Baiklah bi, nanti saya mengeceknya"ucap Fino.
"Wah kuda balapnya sudah tiba, papah Malfin ingin berkuda"ucap Malfin sambil merengek.
"Nak, kudanya masih letih habis perjalanan jauh. Nanti saja papah ajak Malfin berkuda bersama"ucap Fino sambil tersenyum.
"Baik pah, tapi janji ya"ucap Malfin sambil memegangi tangan papahnya.
"Iya nak, ayah janji"ucap Fino sambil tersenyum.
Milan hanya mampu tersenyum melihat kedua kesayangannya. Kemudian mereka menaiki anak tangga menuju kamarnya. Milan membawa Malfin ke kamarnya terlebih dahulu untuk memandikannya.
Setelah selesai, tak lupa Milan memakaikan pakaian ganti untuk Malfin. Dan membawanya keluar bermain bersama baby sister nya. Kemudian barulah Milan menyusul suaminya di kamarnya.
"Mas, aku tak ingin ditinggal. Aku takut tak bisa tidur tanpa di peluk oleh mas"ucap Milan sambil meneteskan air matanya yang berdiri di samping tempat tidur.
Fino yang sudah segar dengan pakaian santainya sedang duduk di tempat tidur, langsung memicingkan matanya menatap istri tercintanya.
"Kemarilah"ucap Fino yang mengulurkan tangannya.
Milan kemudian meraih tangannya, lalu duduk di pinggir tempat tidur. Fino langsung mendekapnya dengan erat.
"Sayang, jangan bersedih. Pelukan hangat bisa dilakukan oleh Malfin, anggap saja Malfin adalah aku selama aku tinggal"ucap Fino sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Hiks hiks hiks, tapi kamu tidak boleh macam-macam di negara orang. Banyak wanita cantik di luar sana pasti akan mengincar mu. Dan lihatlah sekarang tubuh ku sama sekali tidak menarik di matamu"ucap Milan yang kembali terisak.
"Sayang, jangan berpikiran seperti ini. Seluruh tubuh mu begitu indah di mataku, kau adalah wanita satu-satunya dalam hidup ku dan tak akan pernah tergantikan dengan lainnya. Jangan pernah menangisi seperti ini"ucap Fino sambil menangkup wajahnya untuk menenangkan nya dan menghapus air mata istrinya
"Aku hanya takut, kau tidak lagi menyukai ku"ucap Milan sambil menatap suaminya.
.
"Hahaha, kau sangat lucu. Mengapa kau bertingkah pencemburu seperti ini. Ingat ya, sampai kapan pun, aku selalu menyukai mu sayang, bahkan pikiran ku selalu saja terbayang-bayang dengan wajah cantik istri ku"ucap Fino diselingi tawanya sambil mencubit gemas hidung mancung istrinya.
"Iih sakit tau, kau pintar sekali menggombal"ucap Milan dengan wajah merona.
"Bersihkan tubuhmu, lalu beristirahat lah bersama ku. Apa aku perlu memandikan mu sayang"ucap Fino sambil menggoda istrinya, karena Milan kembali melamun.
"Tak perlu, aku bisa sendiri, kau biasa berbuat aneh-aneh kepada ku"ucap Milan cepat yang melepaskan tangan suaminya dan mulai menjauh.
"Ada-ada saja tingkah bumil, dia tak ingin aku tinggal. Maafkan aku sayang, ini adalah tugasku dan harus melakukannya dengan apapun"ucap Fino yang terus menatap istrinya yang terus berjalan ke toilet.
Sementara di kediaman Novi....
Novi sudah berada di dalam kamarnya bersama sang suami. Keduanya terlihat canggung dalam satu kamar yang masih saja mengenakan pakaian pengantin. Novi duduk di pinggir tempat tidur sambil melirik sang suami yang sedang berdiri memperhatikan kamarnya.
"Kamar mu mirip kamar lelaki"ucap Chiko lalu berbalik badan menatap istrinya.
Sangat minimalis dan sedikit pengap. Batin Chiko.
"Seluruh foto-fotomu seperti lelaki brandal, apa kau senakal itu?"ucap Chiko tajam sambil melepaskan jasnya.
"Apa maksud mu, ya memang kamar ku seperti kamar lelaki dan akan tetap seperti ini. Apa urusannya dengan mu, aku berwujud nakal atau tidak, sama sekali bukan urusan mu karena itu sudah menjadi masa lalu ku tuan Chiko"ucap Novi ketus sambil memalingkan wajahnya.
"Hemm, tapi sekarang kau sudah menjadi istri ku, dan kau harus patuhi semua perintah ku. Termasuk melayani semua kebutuhan ku. Siapkan aku handuk, aku ingin mandi"ucap Chiko sambil membuka satu persatu kancing kemejanya.
"Nih jangan lama-lama, karena aku ingin mandi setelah kamu"ucap Novi sambil menyerahkan handuk biru untuk suaminya.
Chiko kemudian mengambil handuk pemberian istrinya, lalu berjalan menuju toilet untuk membersihkan tubuhnya yang lengket. Chiko kembali tercengang melihat toilet Novi yang begitu kecil dan sama sekali tidak ada yang namanya kemewahan , tak ada bathtub ataupun shower yang sering ia gunakan di dalam toilet tersebut.
Novi mulai membuka semua aksesoris rambutnya, kemudian membersihkan riasan di wajahnya lewat tutorial dari video yang dikirimkan oleh perias profesional.
Novi tampak lihai membersihkan wajahnya menggunakan pembersih wajah khusus. Hingga riasan wajahnya langsung hilang sekejap.
Chiko keluar dari toilet hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggang nya.
"Sekarang giliran ku"ucap Novi yang mendengar langkah kaki suaminya. Novi membulatkan matanya melihat Chiko yang hanya mengenakan handuk. Wajahnya langsung merona kemudian dengan cepat menunduk karena merasa malu melihat suaminya hanya bertelanjang dada.
Aduh, bagaimana ini, aku bahkan tidak tahu membuka pakaian ini. Apakah aku perlu meminta bantuannya. Batin Novi yang tengah menunduk.
Chiko kembali mengambil pakaiannya yang sempat ia taruh di atas tempat tidur. Kemudian kembali masuk ke dalam toilet untuk memakainya.
"Aku coba lagi deh"ucap Novi yang kembali mencoba meraih resleting pakaiannya, namun selalu saja gagal.
Chiko yang sudah segar dengan pakaian santainya, mulai menghampiri Novi yang kesulitan membuka resleting pakaiannya, kemudian dengan cepat membantu Novi menurunkan resleting pakaiannya.
"Terima kasih"ucap Novi dengan wajah memerah, karena punggungnya pasti dilihat oleh suaminya.
"Hemm"ucap Chiko kemudian memilih duduk di pinggir tempat tidur, lalu memainkan ponselnya.
Novi kemudian mengambil handuk, lalu berlari kecil masuk ke dalam toilet untuk membersihkan tubuhnya.
Novi dan Chiko sedang makan malam bersama dengan keluarganya. Tampak Bu Ani begitu bahagia dan selalu saja memancarkan senyum kebahagiaan dihadapan anak-anak nya. Begitu pun dengan si kembar yang ikut bahagia atas pernikahan kakak nya.
"Ayo di tambah nak, kalian harus makan yang banyak"ucap Bu Ani yang kembali mengambilkan lauk pauk untuk putri dan menantunya.
"Terima kasih Bu"ucap Chiko sambil tersenyum tipis.
Coki-coki bisa tersenyum juga di hadapan ibu, kalau dihadapan ku dia seperti macan kutub. Batin Novi.
Setelah selesai makan bersama, Chiko kembali mengobrol bersama ibu mertuanya. Sedangkan Novi memilih ke kamarnya.
"Bagaimana ini, kami pasti akan tidur bersama. Aku pasti tidak bisa tidur malam ini"gumam Novi yang sedang duduk di tempat tidur.
Ceklek
Chiko membuka pintu kamarnya dan pandangan nya langsung tertuju kepada istrinya.
"Aku pikir kau sudah tidur"ucap Chiko kemudian berjalan menuju toilet untuk sikat gigi, cuci kaki dan aktivitas lainnya.
"Kau tidur di bawah saja, soalnya tempat tidur ku hanya muat untuk satu orang"ucap Novi ketus yang sudah bersandar di tempat tidur.
"Enak saja, aku akan tetap tidur di tempat tidur"ucap Chiko sambil memegangi foto Novi yang terlihat brandal bersama teman-teman nya. Dan memilih mendekati istrinya.
Chiko sambil menyilangkan tangannya di depan dada yang sedang menatap tajam istrinya.
"Dilihat dari semua fotomu yang seperti berandalan, aku jadi penasaran, apakah kau masih virgin atau tidak?"ucap Chiko dengan pertanyaan menohok, sambil tersenyum sinis.
"Pertanyaan macam apa itu, kau meragukan ku hah....apa aku perlu....,huff aku ingin tidur"ucap Novi kesal dan memilih memperbaiki posisi tidurnya. Ingin rasanya ia memaki-maki Chiko namun ia takut suaranya akan terdengar oleh ibunya.
"Tak salah jika aku bertanya seperti itu"ucap Chiko kemudian membaringkan tubuhnya tepat di samping istrinya. Novi mengepalkan tangannya, namun emosional sedang ia tahan.
Pasangan pengantin baru itu terlihat mepet di atas tempat tidur tanpa adanya ruang gerak jika ia ingin mengubah posisi tidurnya.
"Eeh"ucap Novi kaget, karena Chiko menyimpan lengannya tepat di atas kepalanya dengan mata yang sudah terpejam. Novi kembali meliriknya lewat ekor matanya. Kemudian ia pun ikut memejamkan matanya. Tidak ada waktu untuk berdebat, karena keduanya begitu lelah. Untuk malam pertama tak pernah terpikirkan oleh keduanya.
Hari kedua pasangan pengantin baru itu memilih menginap di kediaman orang tua Chiko. Dan kelakuan keduanya masih saja sama dan belum juga akur. Jika di depan orang tua mereka, maka akan melakukan sandiwara terlihat romantis dan menjadi pasangan yang bahagia.
Hari ketiga mereka betul-betul mendapatkan cobaan berat, karena harus menginap sekaligus berbulan madu di kediaman majikannya yakni kediaman tuan Fino.
Milan begitu bahagia atas kehadiran pasangan pengantin baru itu. Fino hanya mampu diam dengan segala tindakan istrinya. Terlihat Novi dan Chiko tampak malu-malu kucing duduk bersama di ruang keluarga, mereka baru saja selesai makan malam bersama dengan banyaknya pertanyaan aneh-aneh yang ditanyakan oleh bumil. Bahkan Malfin selalu saja menempel kepada Novi dan duduk di pangkuannya.
"Pah ma, aku ingin tidur bersama paman dan bibi"ucap Malfin sambil merengek.
Novi dan Chiko langsung membulatkan matanya kemudian dengan cepat menundukkan pandangannya.
Bersambung.......
Mohon maaf aku baru update🙏