Mafia Couple Love

Mafia Couple Love
Kebahagiaan Milan


Para anggota The Tiger hanya mampu menyaksikan kobaran api yang sudah melalap tubuh Gabriela di dalam drum. Sedangkan dua lelaki yang sedang melakukan pengintaian dengan jarak jauh yang menggunakan teropong untuk melihat situasi, hanya mampu mengepalkan tangannya.


“Mereka sudah menghabisinya”ucap salah satu lelaki pengintai, sambil mengepalkan tangannya marah.


“Sebaiknya kita pergi saja dan tutup mulut melihat kejadian ini”timpal teman satunya.


“Hemm, ayo”ucap lelaki tersebut dan bergerak cepat.


Kedua lelaki yang mengintai, memilih meninggalkan tempat tersebut, takutnya ia pun menjadi korban selanjutnya. Rupanya mereka adalah salah satu anggota XX yang ingin menyelamatkan Gabriela, namun sayangnya, sudah terlambat. Ia pun memilih kabur, siapa sih yang memiliki keberanian masuk ke dalam markas The Tiger, itu sama halnya masuk ke kandang harimau. Bisa-bisa nyawa mereka juga melayang sia-sia.


Chiko kembali melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Ia pun ingin menemui tuannya perihal kejadian yang baru saja menimpa tuan mudanya.


“Akhirnya masalah ini selesai juga, sudah lama aku mengincar wanita yang mirip dengan nona Milan. Bahkan beberapa minggu aku mengirimkan mata-mata untuk menyelidiki wanita itu”ucap Chiko sambil fokus melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


“Aku tidak menyangka, bahwa wanita itu adalah Gabriela. Sungguh Gabriela adalah wanita licik yang berparas cantik. Dia bahkan dalang penembakan nona Milan, bahkan saat ini, ia kembali melakukan aksi licik untuk melenyapkan tuan muda. Wanita itu benar-benar wanita ular”ucap Chiko geram sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.


Chiko terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi berharap, bisa sampai dengan tepat di rumah sakit.


Sementara di rumah sakit….


“Bagaimana bisa, kau begitu mengkhawatirkan baby boy sayang?”tanya Fino yang kembali menatap bayinya di dalam inkubator.


“Insting seorang ibu tidak pernah salah, saat aku sedang bersiap-siap untuk turun ke bawah, wajah baby boy selalu saja terlintas dipikiranku bahkan begitu mengkhatirkannya, ternyata bayiku hampir saja di lukai oleh orang jahat”ucap Milan dengan mata berkaca-kaca.


“Aku pun memiliki firasat yang sama denganmu sayang. Aku pun langsung kepikiran baby boy saat menuruni anak tangga. Dan tiba-tiba saja Chiko menghubungiku dan melaporkan seluruh perihal kejadian yang menimpa baby boy kita”ucap Fino sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.


“Aku berharap kepada tuhan, semoga baby boy tetap sehat di dalam sana dan bisa berkumpul lagi bersama kita”ucap Milan sambil tersenyum menatap bayinya.


Sudah hampir dua jam Milan berada di ruangan NICU bersama sang suami. Sepasang suami istri itu, hanya mampu memandangi sosok penerusnya. Milan tidak pernah berpaling dari wajah baby boy, bahkan ia memohon kepada dokter untuk menginap di ruangan itu. Namun apa boleh buat, dokter tetap melarangnya, sehubungan karena peraturan rumah sakit yang tidak memperbolehkan orang tua si bayi menginap di ruangan tersebut.


“Tuan, aku sudah tidak sabar membawa baby boy pulang ke rumah”ucap Milan dengan wajah murungnya.


“Sabar sayang, tunggu saatnya”ucap Fino sambil mengelus punggung istrinya dengan penuh kasih sayang.


“Kapan tuan, bahkan baby boy hampir saja dilenyapkan oleh wanita tidak di kenal”ucap Milan marah. “Aku bahkan begitu takut baby boy kenapa-kenapa, sebaiknya cepat pikirkan masalah ini”ucap Milan geram.


“Tenang sayang, secepatnya aku akan mengatasi masalah ini dan membuat baby boy bersama dengan kita”ucap Fino tenang yang tidak ingin berdebat lebih jauh dengan istrinya.


Waktu jam besuk mereka selesai. Para perawat kembali mengantarkan mereka keluar dari ruangan tersebut.


Chiko tampak duduk di kursi tunggu sambil menunggu tuannya, keluar dari ruang NICU. Sudah hampir 15 menit Chiko menunggu tuannya di kursi tunggu sambil memainkan ponselnya. Tak berselang lama kemudian Fino bersama Milan keluar dari ruang NICU. Chiko yang mendengar pintu ruangan tersebut terbuka, dengan cepat bangkit dari duduknya dan kembali memasukkan ponselnya di saku jasnya.


“Kau sudah datang”ucap Fino yang menatap tajam Chiko.


“Iya tuan”ucap Chiko sambil menunduk dengan penuh hormat.


Bugh


Fino langsung menghajar wajah Chiko tanpa ampun dengan penuh emosi. Sementara Chiko hanya mampu menerima pukulan telak tuannya dengan lapang dada. Memang ia melakukan kesalahan, karena hampir saja membahayakan nyawa tuan mudanya. Sedangkan Milan begitu terkejut dengan kelakuan suaminya.


“Aku kecewa dengan cara kerjamu”ucap Fino geram, kemudian menarik tangan istrinya berjalan bersama-sama menuju lift yang akan membawanya ke lantai bawah.


“Maafkan saya tuan”ucap Chiko dengan penuh hormat.


Fino terus saja melangkahkan kakinya menjauh dari Chiko, ia sama sekali tidak mempedulikan ucapan Chiko.


“Mengapa tuan memukul Chiko”ucap Milan yang menghentikan langkah suaminya.


“Kerjanya tidak becus”ucap Fino dingin.


“Tapi tidak seperti ini juga caranya, dia sudah bekerja dengan baik selama bersamamu. Mungkin kali ini, ia membuat kesalahan kepadamu. Tapi pikirkan kembali hari-hari yang ia lalui selama bekerja denganmu”ucap Milan sambil menatap ke arah Chiko yang masih saja menunduk.


“Sebaiknya kita pulang”ucap Fino tegas. Emosinya belum sepenuhnya reda dengan kejadian tadi.


Milan hanya mampu mengikuti langkah kaki suaminya, ia pun merasa kasihan kepada Chiko. Karena ia pun terbiasa mendapatkan pukulan dan caci maki dari atasannya, siapa lagi kalau bukan Darren Alexander, jika kerjaannya tidak becus.


“Maafkan aku tuan, karena sudah membuatmu kecewa. Terima kasih, karena anda kembali memperhatikanku”ucap Chiko sambil tersenyum.


Chiko merasa lega dengan pukulan yang dilayangkan tuannya, di wajahnya. Itu merupakan suatu pelajaran berharga untuknya dan sekaligus bukti perhatian tuannya yang kembali mengingatkannya untuk bekerja lebih baik lagi. Chiko kemudian memilih duduk di kursi tunggu, ia pun kembali membayangkan kejadian tadi.


Chiko mulai berjalan bersama-sama dengan adiknya Chaca keluar dari rumah sakit. Mata Chiko langsung manangkap sosok lelaki yang begitu mencurigakan di bagian sudut lorong rumah sakit. Sudah beberapa hari belakangan, Chiko selalu saja bertemu dengan kedua lelaki yang seumuran dengannya yang kini sedang menatapnya tajam. Namun Chiko terlihat santai, ia pun tidak ingin terlihat waspada di hadapan lelaki tadi. Chiko terus saja berjalan bersama adiknya hingga tiba di halaman depan rumah sakit.


Chiko kemudian membantu adiknya menaikkan kopernya ke bagasi mobil taksi online.


“Hati-hati di jalan, kalau kau sudah sampai cepat kabari kakak”ucap Chiko, lalu menutup pintu mobil taksi tersebut.


“Iya kak”ucap Chaca yang menurunkan kaca mobil taksi online tersebut.


Chiko hanya mampu menatap kepergian adiknya, setelah itu, ia pun memilih masuk ke dalam mobilnya, kemudian langsung menancap gas menuju kediaman tuannya. Namun baru beberapa menit perjalanannya, Chiko kembali putar arah, bunyi alarm di ponselnya menandakan bahwa baby boy sedang dalam bahaya.


“Semoga tuan muda baik-baik saja”ucap Chiko panik, sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Untungnya Chiko diam-diam memasangkan sebuah spy microphone di sudut pintu masuk ruang NICU dan bisa terhubung langsung dengan alarm ponselnya. Sehingga bila terjadi sesuatu di dalam sana, ia mampu mendengar dengan jelas suara ataupun pembicaraan dalam ruangan tersebut, termasuk tanda gawat darurat.


Lamunan Chiko terbuyarkan saat mendengar ponselnya kembali berbunyi. Chiko dengan cepat mengeluarkan ponselnya. Ternyata sebuah pesan masuk dari tuan Fino. Chiko tersenyum membaca pesan masuk tersebut.


“Ternyata alat nya berguna juga”ucap Chiko yang kembali menatap pintu ruang NICU.


Setelah itu, Chiko pun memilih meninggalkan rumah sakit.


Fino dan Milan kembali mengikuti jamuan makan malam bersama keluarga bu Ani dan para pekerja di kediamannya, Chiko pun turut hadir di acara tersebut. Milan tidak begitu menikmati acara tersebut, pikirannya masih saja tertuju kepada bayinya. Sehabis berbincang dengan bu Ani dan keluarganya, Milan memilih kembali ke kamarnya untuk menenangkan drinya. Sementara Fino tidak jadi mengumumkan nama bayinya kepada semua orang. Ia pun ikut menyusul istrinya. Acara jamuan makan malam itu, tetap berjalan dengan lancar.


Beberapa minggu kemudian…..


Hari demi hari telah dijalanani sepasang suami istri itu dengan sabar dan penuh lapang dada demi buah hatinya. Sejak kejadian seminggu yang lalu, Milan dan Fino begitu waspada menjaga bayinya. Fino bahkan memasang beberapa cctv di ruang NICU yang dihubungkan langsung lewat ponselnya. Sehingga hampir 24 jam ia dapat memastikan kondisi bayinya lewat rekaman cctv melalui ponselnya.


Fino kembali bekerja di kantornya, karena urusan kantornya semakin menumpuk untuk segera di selesaikan. Beberapa hari ini, setiap hari ia berangkat pagi-pagi bersama istrinya. Fino terlebih dahulu mengantar istrinya ke rumah sakit, setelah itu, barulah ia putar arah ke kantornya.


Milan begitu senang menjalani hari-harinya bersama bayinya. Ia mampu melihat baby boy dimandikan dan digantikan popoknya oleh pihak medis, sehingga Milan benar-benar mampu menyaksikan tumbuh kembang baby boy. Dokter dan perawat begitu senang dengan tumbuh kembang baby boy dan kehadiran Milan yang selalu saja mendampinginya sebagai ibunya.


Seperti saat ini, Milan kembali menggendong bayinya yang tetap saja dengan pegawasan dari pihak medis. Milan kembali meneteskan air matanya melihat baby boy tampak tenang dalam dekapannya. Cukup lama Milan menggendong bayinya, perasaanya tidak mampu ia gambarkan seperti apa, yang jelas ia sangat bahagia saat ini.


Dokter wanita yang bernama Fitri yang menangani baby boy, kembali menghampiri Milan, bahkan begitu senang melihat Milan dan bayinya. Dokter Fitri kembali meminta Milan untuk meletakkan bayinya dalam inkubator.


Milan kemudian melakukan instruksi dari dokter Fitri, ia pun dengan hati-hati meletakkan bayinya dalam inkubatornya. Namun baru beberapa menit baby boy menempati tempat tidurnya, baby boy malah menangis histeris.


“Anda sudah bisa menyusui baby boy secara langsung”ucap dokter Fitri sambil tersenyum. “Karena kondisi baby boy sudah membaik”ucap Dokter Fitri dengan ramah.


“Benarkah dok”ucap Milan dengan mata berbinar. Sungguh ia tidak mampu mendeskripsikan perasaannya saat ini.


Dokter Fitri hanya mampu mengangguk sebagai jawabannya. Ia pun kemudian mengarahkan Milan pada sebuah ruangan khusus untuk menyusui bayi.


Dokter Fitri kembali memperagakan tata cara menyusui yang baik untuk bayi prematur kepada Milan. Selanjutnya Milan kembali di minta oleh dokter untuk terlebih dahulu membersihkan p***** nya sebelum memberikan ASI secara langsung kepada bayinya.


Kini Milan sudah berada di atas tempat tidur yang sudah siap memberikan ASI kepada bayinya.


“Silahkan anda menyusui baby boy”ucap Dokter Fitri sambil tersenyum dengan ramah yang selalu dalam pengawasannya.


Milan kemudian menyusui baby boy sesuai yang diinstruksikan oleh dokter, dengan melakukan metode skin to skin atau metode kanguru, yang memiliki banyak manfaat bagi bayi prematur. Sedangkan Baby boy tampak lahap menikmati ASI ibunya. Biasanya baby boy hanya mampu menikmati ASI lewat selang makanan yang melekat di tubuhnya,namun kali ini ia sudah bisa menikmati ASI eksklusif dari ibunya.


Milan kembali meneteskan air matanya, sungguh perasaan haru dan bahagia kembali menyelimutinya. Milan begitu bahagia, bahkan kebahagiaannya tidak mampu ia gambarkan dengan seisi dunia. Sungguh ia benar-benar bahagia menjadi seorang ibu dan untuk pertama kalinya ia menyusui baby boy si malaikat kecilnya.


Terima kasih Tuhan, Aku sepenuhnya menjadi seorang ibu, akhirnya aku bisa menyusui bayiku. Batin Milan sambil tersenyum bahagia.


Bersambung….


Terima kasih atas dukungannya teman-teman🙏🙏🙏