Mafia Couple Love

Mafia Couple Love
Hamil lagi


Milan dan nyonya Ratu masih saja berpelukan, keduanya sama-sama terisak yang sedang melepas rindu. Pelukan hangat dari seorang ibu mampu Milan rasakan saat ini, begitu halnya dengan nyonya Ratu yang sudah mengganggap Milan sebagai putrinya sendiri. Fino hanya mampu tersenyum melihat mama dan istrinya. Sementara Malfin langsung terbangun mendengar suara tangisan keduanya.


"Papah, mama kenapa?"ucap Malfin sambil mengucek matanya yang baru saja bangun tidur di gendongan papahnya.


"Nak, mama mu sedang melepas rindu dengan mama papah, Oma kamu nak"ucap Fino sambil tersenyum tipis dengan mata berkaca-kaca.


"Oma, bukankah Oma itu nenek, berarti Oma.... nenekku"ucap Malfin yang langsung terlonjat kaget.


"Betul sayang"ucap nyonya Ratu yang sudah melepaskan pelukannya.


Nyonya Ratu beralih menatap anak kecil yang tampak menggemaskan. Ditambah wajahnya sebelas dua belas dengan wajah putranya Fino.


"Anak mu mirip dengan mu sayang"ucap nyonya Ratu sambil menghapus air matanya.


"Iya ma, dia begitu mirip dengan ku. Malfin ayo nak kenalan sama Oma kamu"ucap Fino sambil memegang tangan putranya.


"Turunkan Malfin dulu pah, masa Malfin terus berada di gendongan papah"ucap Malfin sambil menatap sosok wanita tua di hadapannya.


"Sini sama Oma sayang"ucap nyonya Ratu yang langsung mengulurkan tangannya untuk menggendong cucunya.


"Lihatlah Oma sangat rindu kepadamu nak, ayo peluk Oma"ucap Fino yang tidak menurunkan putranya dari gendongan nya.


Malfin menjadi diam, ia pun kemudian melirik mamanya untuk mencari persetujuan. Milan melakukan gerakan setuju melalui ekor matanya.


Malfin langsung mengulurkan tangannya untuk memeluk Oma nya.


Nyonya Ratu begitu semangat memeluk sambil menggendong cucunya yang baru pertama kali ia lihat. Nyonya Ratu terus memeluk Malfin dengan erat dan sesekali mencium pipi gembul Malfin.


Malfin tak mau kalah, ia pun memeluk erat leher Omanya dan menyandarkan kepalanya di pundak Omanya sambil tersenyum bahagia, sedangkan sepasang anak kembar sedang memperhatikannya dengan tatapan kesal. Sepasang anak kembar lalu menghampiri Omanya.


"Namaku Malfin Leo Alexander Oma, hobi ku berenang dan berkebun. Aku sangat menyayangi papah dan mama. Dan sekarang aku juga menyayangi Oma"ucap Malfin yang memperkenalkan dirinya. Kemudian Malfin mencium kedua pipi Omanya.


"Masya Allah, cucu Oma begitu pintarnya, Oma tambah sayang sama Malfin"ucap nyonya Ratu gemes dan kembali mencium pipi gembul Malfin yang sangat menggemaskan.


"Jangan ambil Oma kami, cepat turun dari gendongan Oma"ucap anak laki-laki dengan tatapan dinginnya yang cemburu dengan keakraban Oma nya dengan anak kecil.


"Iya turun dari gendongan Oma"ucap anak perempuan sambil menarik kaki Malfin.


Fino dan Milan tersenyum melihat tingkah laku ponakannya yang sedang cemburu melihat kedekatan Oma nya dengan Malfin.


"Sayang, ini Malfin sepupu kalian, kalian tidak boleh kesal, karena Malfin saudara kalian. Kita semua keluarga dan tidak boleh saling benci sayang. Malfin baru bertemu dengan Oma, jadi Oma menggendongnya"ucap nyonya Ratu menjelaskan kepada cucu kembarnya.


Sepasang anak kembar itu hanya mampu diam, namun saudari perempuannya mulai angkatan bicara.


"Kakak, kita tidak boleh kesal dengan anak kecil itu. Kasih sayang Oma selalu diberikan kepada kita"ucap saudari perempuannya.


Anak laki-laki itu, lalu kembali berfikir dan mendongak menatap Oma nya.


"Hemm, baiklah adik"ucap anak laki-laki itu.


Milan yang melihat tingkah menggemaskan ponakan kembarnya kemudian menghampirinya. Milan kemudian mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh ponakannya.


"Hai sayang, nama kalian siapa?" ucap Milan sambil tersenyum manis.


Sepasang anak kembar itu hanya bengong melihat Milan yang merupakan orang asing baginya.


Terdengar langkah kaki seseorang dari arah belakang yang begitu menggema, membuat sepasang anak kembar itu langsung berbalik badan melihat langkah kaki tersebut.


"Ayah, bunda"ucap anak kembar itu kompak dan berlari menghampiri sepasang suami istri yang begitu romantis dengan bergandengan tangan layaknya sepasang kekasih.


"Pelan-pelan nak"ucap seorang wanita dengan suara merdunya.


“Jangan berlari”ucap seorang lelaki dengan suara baritonnya.


Fino dan Milan langsung mengalihkan pandangannya melihat ke arah sepasang suami istri yang begitu romantis.


“Mbak Milan, kak Fino, syukurlah kalian kembali. Kami semua sangat merindukanmu”ucap wanita bercadar yang tidak lain adalah Ziva.


“Nak Ziva, lihatlah cucu oma sudah besar”ucap Nyonya Ratu antusias yang begitu bahagia menggendong Malfin.


“Masya Allah ponakan aunty sudah besar dan menggemaskan pula”ucap Ziva sambil tersenyum dibalik cadarnya.


Ziva ingin menghampiri mereka, namun lelaki di sampingnya yang tidak lain adalah Darren malah mendekapnya dan tidak ingin ia pergi kemana-mana. Begitu pun dengan anak kembarnya yang memeluk kedua kakinya seolah sedang mencari perlindungan.


“Ada apa ini sayang, Adelio, Adelia, bunda mau menghampiri paman dan bibi kalian”ucap Ziva sambil mengelus punggung anak kembarnya.


“ Dan kamu juga mas, mengapa bertingkah seperti ini”ucap Ziva sambil berbisik di telinga suaminya.


Darren hanya mampu diam seribu bahasa dengan tatapan dinginnya yang mengarah kepada Fino.


“Darren, aku sudah menepati janji ku untuk membawa istri dan anakku ke rumah ini. Jadi tolong maafkan kesalahan ku yang pernah aku lakukan hingga membuatmu kecewa kepadaku”ucap Fino tulus dengan mata berkaca-kaca.


Milan langsung mendekat ke arah suaminya sambil mengelus lengannya dengan penuh cinta.


Darren hanya diam seribu bahasa, Ziva yang melihat tingkah laku suaminya dengan cepat mencairkan suasana. Ziva kemudian melepaskan rangkulan suaminya dengan hati-hati, lalu Ziva membungkukkan badannya untuk membisikkan sesuatu kepada anak kembarnya. Tampak sepasang anak kembar itu tersenyum miring. Kemudian kembali berlari menghampiri Fino dan Milan.


“Adelio, Adelia”ucap Darren yang terkejut melihat tingkah laku anak kembarnya.


“Biarkan anak-anak kita bersama paman dan bibinya mas”ucap Ziva sambil tersenyum di balik cadarnya.


Adelia hanya mampu tersenyum manis menatap wajah Milan, sedangkan Fino ikut menggendong Adelio yang berwajah tampan dan begitu manis. Bagaimana tidak, keduanya bagai pinang di belah dua dari perpaduan wajah Ziva dan Darren.


Adelio dan Adelia langsung tersenyum bahagia, tak lupa ia mencium kedua pipi paman dan bibinya. Ziva hanya mampu tergelak tawa dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Sedangkan Malfin terlihat tidak suka jika mama dan papahnya dekat dengan Adelio dan Adelia.


Ziva lalu menghampiri ibu mertuanya, lalu menghambur memeluk ibu mertuanya bersama Malfin.


Sementara Darren hanya mampu menghembuskan nafasnya dengan kasar dan tak berselang lama kemudian senyuman tipis menghiasi wajah tampannya. Sepertinya Darren memilih menurunkan egonya melihat keakraban anak kembarnya bersama Malfin.


Adelio, Adelia dan Malfin mulai melakukan perkenalan mereka pun saling berjabat tangan berkat kerja keras Ziva yang ingin mereka akrab. Setelah itu, mereka pun saling berpelukan. Milan, Ziva dan Nyonya Ratu hanya mampu tergelak tawa melihat tingkah lucu dan menggemaskan mereka.


Darren kemudian melangkahkan kakinya untuk menghampiri Fino yang sedang berdiri dibelakang anak-anaknya. Tak lupa Darren memberikan kode lewat ekor matanya untuk meminta Fino mengikutinya.


Kini Fino dan Darren sedang berdiri di sudut ruangan yang tidak jauh dari keluarganya. Darren mulai angkat bicara yang sedang berdiri menatap lukisan keluarga kecilnya.


“Jangan pernah mengulangi kesalahanmu kepada keluargamu. Aku tidak ingin kau menyia-nyiakan orang kepercayaan ku. Sampai sekarang aku masih tidak percaya, jika kau menikahi orang kepercayaan ku, jagalah dia seperti kau menjagaku dulu dan buatlah dia bahagia, karena kebahagian yang kalian ciptakan akan berpengaruh pada kebahagiaan keluarga kecilmu. Dan satu hal lagi, jangan pernah masalah keluargamu terdengar di telinga mama. Asal kau tahu, mama begitu stress memikirkan hubungan kalian, bahkan kondisi tubuh mama menjadi drop hingga dilarikan ke rumah sakit. Inilah alasanku dulu, mengapa aku tidak memaafkan mu dan melarang mu untuk menemui kami”ucap Darren dingin sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.


“Aku benar-benar menyesal dengan kejadian masa laluku, hingga membuat mama jatuh sakit”ucap Fino dengan mata berkaca-kaca.


“Bagaimana mungkin kau memiliki seorang putra secepat itu. Bahkan kabar keluarga kalian tidak pernah luput dari para mata mataku, hingga kabar bahagia ini tidak mampu mereka jangkau”ucap Darren dingin sambil menatap tajam Fino.


“Ceritanya panjang, hanya saja Milan sedang hamil saat meninggalkanku. Bahkan aku begitu frustasi mencarinya kemana-mana. Dan tidak terduga kami kembali dipertemukan oleh tuhan dengan cara yang berbeda. Awal pertemuan ku dengan Milan menjadi musibah naas terhadapnya, dimana Milan menjadi korban penembakan dari anak buah musuhku. Padahal saat itu Milan tengah mengandung putraku, bahkan dua bulan lagi akan lahiran. Namun kejadian tak terduga itu membuat nyawa istri dan anakku sedang dipertaruhkan. Dokter berusaha keras menyelamatkan mereka berdua, dengan bantuan doa dari ku dan orang-orang yang menyayangi istriku. Dan Alhasil operasinya berjalan dengan lancar, namun cobaan kembali menghampiri kami. Karena Baby Malfin harus menempati tabung inkubator selama dua bulan lamanya di karenakan terlahir sebagai bayi prematur, Aku dan Milan hanya mampu bersabar menjalani semua ini, hingga kami bisa berkumpul dengan baby Malfin” ucap Fino sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.


Sungguh ia tidak ingin menceritakan kejadian yang menimpa istrinya beberapa tahun silam.


“Dan untuk mata-matamu, Chiko selalu membereskannya dengan baik”.


“Aku ikut prihatin dengan musibah yang menimpa istri dan anakmu”ucap Darren dingin sambil melirik ke arah Fino yang sedang menunduk. Darren kembali mencairkan suasana disekitarnya.


“Putra mu sangat menggemaskan dan wajahnya begitu mirip denganmu. Ternyata kau begitu pandai membuat mahakarya ciptaan Tuhan menjadi mirip denganmu”ucap Darren sambil tersenyum tipis dan tak lupa meninju lengan Fino.


Fino pun langsung tersenyum dengan tingkah laku adiknya, yang sangat jelas cara tersebut adalah untuk memaafkannya jika memukul lengannya seperti itu.


“Kau sudah memaafkan ku?”tanya Fino dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.


“Hemm”.


Tanpa basa-basi Fino langsung memeluk adiknya. Darren hanya mampu tersenyum dan ikut membalas pelukan kakaknya yang juga sangat ia rindukan.


“Bahkan sifat Malfin begitu mirip denganku. Bagaimana dengan anak kembar mu”ucap Fino sambil menepuk punggung kekar adiknya.


“Ha ha hah. Si kembar begitu mirip dengan mamanya, aku bahkan melihat Adelio dan Adelia seperti Zivanna sewaktu kecil yang begitu imut dan menggemaskan.


“Ha ha ha, benarkah, sejak kapan kau bertemu Ziva sewaktu kecil?”ucap Fino yang melepaskan pelukannya.


“Aku memang tidak pernah bertemu dengan istriku semasa kecilnya, hanya saja aku mendeskripsikan wujud rupanya mirip dengan si kembar”ucap Darren tegas.


“Ok, aku percaya, memang anak kembar mu begitu imut dan menggemaskan. Apalagi cantik dan tampan turunan dari kedua orang tuanya”ucap Fino sambil geleng-geleng kepala.


“Lihatlah Malfin mulai akrab dengan Adelio dan Adelia”ucap Darren sambil menunjuk ke arah anak-anaknya.


“Semoga kelak mereka bisa saling menjaga, mengasihi dan melindungi”ucap Fino sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.


“Hemm, aku juga ingin seperti itu”ucap Darren dingin.


Kemudian mereka memilih bergabung dengan anak dan istrinya yang tengah bersantai di ruang tamu. Milan dan Ziva begitu akrab sambil mengobrol tentang tumbuh kembang anak-anak mereka.


“Mama ayo minum, sepertinya mama haus, Malfin tidak ingin mama dehidrasi bersama adik Malfin”ucap Malfin sambil menyerahkan segelas jus buah kepada mamanya.


“Terima kasih sayang”ucap Milan sambil tersenyum, lalu mengambil segelas jus buah dari tangan putranya.


Nyonya Ratu dan Ziva kembali tersenyum mendengar kabar baik dari Milan dan kembali kagum dengan tingkah perhatian Malfin kepada ibunya.


“Mbak Milan hamil?”tanya Ziva dengan mata berbinar.


Milan hanya mampu mengangguk sebagai jawabannya, sungguh ia merona dengan pertanyaan tersebut.


“Alhamdulillah”ucap Ziva dan Nyonya Ratu yang begitu kompak dan kembali tertawa bersama-sama.


“Sudah berapa bulan mbak?”ucap Ziva sambil mengelus punggung tangan Milan.


“Sudah masuk tiga bulan”ucap Milan dengan rona wajah memerah. Fino dan Darren memilih duduk di samping istrinya yang masih kosong.


“Mama sangat senang mendengar kabar bahagia ini, semoga kehamilan mu tetap berjalan lancar tanpa adanya kendala. Mama tidak sabar lagi menimang cucu kedua dari kalian”ucap nyonya Ratu sambil tersenyum bahagia.


Aku hamil lagi ma, semoga di kehamilan keduaku membuat kebahagian dalam keluarga kecilku. Malfin begitu senang akan mempunyai seorang adik. Batin Milan sambil tersenyum.


Fino kembali merangkul pinggang istrinya dan tak lupa mengelus perut Milan dengan penuh cinta. Darren tak mau kalah ia pun ikut merangkul pinggang istrinya dan selalu saja membisikkan kata cinta di telinga Ziva.


Nyonya Ratu kembali menemani cucunya bermain bersama. Sungguh ia begitu bahagia diusianya yang sudah tua, dikarunia banyak cucu yang akan mewarnai kehidupan masa tuanya.


Bersambung........