
Malam harinya….
Milan, Fino dan Baby Malfin tengah menikmati makan malam di dalam kamarnya. Milan mulai lihai menyuapi baby Malfin yang tengah berada di pangkuan papahnya.
“aaa, yeey pintar banget anak mama”ucap Milan yang memuji Baby Malfin yang begitu lahap menikmati buburnya hingga habis dan sama sekali tak tersisa. Milan tak lupa membersihkan sisa-sisa makanan yang masih belepotan di bibir baby Malfin menggunakan tissue. Setelah selesai, Milan kembali mencium dengan gemes pipi gembul putranya.
Kini giliran Fino yang ikut membuka mulutnya untuk segera di suapi oleh istrinya.
“Sekarang giliranku sayang”ucap Fino.
“Baiklah, sekarang bayi besar ku”ucap Milan sambil tersenyum.
Milan kembali menyuapi suaminya yang merupakan bayi besarnya. Milan bergantian menyuapi dirinya dengan suaminya. Sepiring berdua begitu nikmat untuk pasangan suami istri yang begitu bahagia.
“Alhamdulillah, kenyang juga”ucap Milan penuh syukur sambil tersenyum menatap Fino yang juga tengah menatapnya.
Fino tidak mengalihkan pandangannya dari wajah sang istri, perasaannya kembali aneh jika bertatapan dengan manik mata Milan dengan jarak dekat. Tatapan Fino sudah terkunci dengan tatapan istrinya. Fino kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya, sungguh perasaannya menjadi aneh dan tidak karuan. Jarak wajah Fino dengan Milan semakin dekat, deru nafas Fino sudah menerpa wajah Milan, Milan hanya mampu memejamkan wajahnya karena melihat tingkah laku suaminya yang sudah menjurus untuk menciumnya. Fino langsung memiringkan wajahnya untuk segera mencium istrinya. Namun baby Malfin yang masih berada di pangkuannya malah menghentikan aksinya, baby Malfin malah memukul pahanya dengan cepat bahkan berulang kali.
“AAhh”jerit baby Malfin yang menggema di dalam kamar itu,sepertinya Baby Malfin tidak ingin mama dan papahnya romantis di hadapannya.
Fino hanya mampu berdengus kesal, hanpir setiap waktu jika ingin bermesraan dengan Milan baby Malfin selalu saja menggagalkan rencananya. Sementara Milan hanya mampu tertawa cengegesan melihat tingkah menggemaskan putranya dan wajah cemberut suaminya.
“Wajah mu tampak lucu mas, makanya jangan berbuat aneh di depan baby Malfin”ucap Milan diselingi tawanya.
“Lain kali jangan seperti ini nak, kasihan papahmu tidak bisa romantis-romantisan dengan mama mu”ucap Fino sambil memegang tangan baby Malfin yang sempat memukulnya.
Sedangkan Baby Malfin mulai tertawa menggemaskan mendengar ucapan papahnya. Sepertinya baby Malfin begitu mengetahui gerak-gerik kedua orang tuanya.
“Anak mama semakin pintar, mama sudah tidak sabar mendengarmu mengucapkan kata mama dan papah dan bisa berjalan dengan bebas”ucap Milan sambil membelai wajah tampan putranya.
“Aku keluar dulu mas untuk membawa piring kotor ini”ucap Milan yang bangkit dari duduknya.
“Oke sayang, nanti kita lanjutin lagi”ucap Fino sambil tersenyum nakal.
“Dasar mesum”ucap Milan dengan rona wajah memerah.
Milan membuka pintu kamarnya, tampak sasa dan tika si pelayan wanita tengah menunggunya. Sasa langsung mengambil alih nampan yang berisi piring kotor dari tangan majikannya.
“Kami permisi dulu nyonya”ucap pelayan wanita itu kompak.
Milan hanya mampu mengiyakan sambil tersenyum tipis. Kemudian Milan kembali menutup pintu kamarnya dan tak lupa menguncinya. Milan kembali menghampiri suaminya yang tengah bermain dengan baby Malfin di atas tempat tidur.
“Mas, apa kau tidak merasakan perasaan aneh malam ini”ucap Milan yang begitu gerah di dalam kamarnya.
“Tidak, kamu saja yang selalu berpikiran aneh dan terlalu jauh atau mungkin hujan akan turun malam ini”ucap Fino acuh sambil bermain dengan baby Malfin.
Terlihat baby Malfin mulai menguap dengan mata yang mulai sayup, bahkan mainan yang dipegangnya terlepas begitu saja. Fino yang melihat tingkah putranya kemudian mengangkat baby Malfin dan meletakkannya di ayunan bayi elektrik yang selalu ia bawa jika bepergian jauh, guna untuk kenyamanan Baby Malfin agar bisa tertidur dengan cepat.
Milan hanya mampu menatap ke arah jendela yang menampilkan langit malam yang begitu sunyi tanpa adanya bintang yang mewarnai langit malam. Milan merasa nyaman, saat tangan kekar suaminya melingkar di perutnya yang kini sedang memeluknya dari belakang. Milan hanya mampu tersenyum sambil mengelus punggung tangan suaminya dengan manja.
“Aku sangat mencintaimu sayang”ucap Fino sambil mencium punggung istrinya.
“Aku tau mas, aku juga sangat mencintaimu”ucap Milan sambil tersenyum.
Fino kemudian membalikkan tubuh istrinya dengan penuh kasih sayang. Tatapan mereka kembali bertemu dengan perasaan berbunga-bunga. Fino kemudain mendekatkan wajahnyan ke wajah istrinya, Fino kembali melanjutkan aksi romantisnya yang sempat tertunda. Ia pun mulai mencium bibir istrinya dengan penuh cinta. Keduanya mulai larut dengan ciuman yang begitu di rindukannya, kesibukan mereka masing-masing membuat keduanya melupakan momen romantisnya.
Ciuman Fino mulai menuntut, ia pun dengan cepat melepaskan ciumannya kemudian mengangkat tubuh istrinya dan menggendongnya ke tempat tidur. Fino lalu membaringkan tubuh istrinya dengan penuh hati-hati di atas tempat tidur.
Fino kembali menatap manik mata istrinya dengan tatapan sendunya yang sudah diselimuti oleh hasrat yang menggebu-gebu.
“Milan, aku mengiginkanmu”ucap Fino sambil membelai wajah istrinya. Kemudian tangannya mulai turun menyentuh kancing piyama tidur istrinya.
Tubuh Milan langsung membeku melihat tindakan suaminya. Namun dengan cepat ia pun mengalihkan pandangannya.
“Apa kamu setuju sayang?”ucap Fino yang menunggu jawaban istrinya.
Milan kembali berpikir, ia tidak mungkin menolak melayani suaminya, namun perasaan gugup kembali menyelimuti pikirannya. Apa boleh buat, Milan begitu malu untuk mengiyakan ucapan suaminya. Sehingga Milan memilih memejamkan matanya sambil menganggukan kepalanya. Fino tersenyum puas, rupanya ia mendapatkan angin segar dari anggukan istrinya.
Fino kemudian mencium kening istrinya sebelum melakukan hubungan suami istri. Fino lalu mengulurkan tangannya membuka satu persatu piyama tidur istrinya. Beberapa kancing piyama tidur Milan mulai terlepas. Dua kancing terakhir masih melekat sempurna, Fino begitu antusias untuk membuka kancing piyama tidur istrinya dan sudah tidak sabar untuk menindih tubuh istrinya.
Namun aksinya lagi-lagi di gagalkan oleh Baby Malfin, Baby Malfin kembali menangis histeris hingga menggema di kamarnya, Milan dengan cepat mendorong tubuhnya, lalu dengan cepat turun dari tempat tidur. Milan langsung menghampiri Baby Malfin, kemudian dengan cepat menggendong baby Malfin sambil menenangkannya lewat sholawat nabi yang mulai ia lantungkan.
Sementara Fino hanya mampu tercengang di atas tempat tidur.
“Sepertinya kamu belum rela nak, papahmu membuatkan mu seorang adik”gumam Fino sambil berdengus kesal.
Momen liburan ku gagal lagi, sepertinya aku tidak bisa menikmati bulan madu kali ini. Batin Fino merana.
Milan ikut merasakan resah, entah perasaan apa yang sedang menyelimutinya. Ia menjadi tidak tenang.
"Sayang aku keluar dulu"ucap Fino, karena baru saja mendapatkan sebuah pesan dari Chiko.
Fino kemudian mengambil jaketnya, lalu memakainya. Ia pun memilih berjalan keluar untuk menemui Chiko yang ingin bertemu dengannya.
Kini Fino tengah berada di teras Villanya dan sedang duduk bersama dengan Chiko dan lima anggota The Tiger.
"Bersikap santai lah, jangan terlihat mencolok. Aku ingin membasmi semut kecil yang ingin menggigit ku"ucap Fino dingin dengan tatapan tajam.
"Baik tuan, kami akan melakukannya sesuai dengan rencana tuan"ucap Chiko sambil mengangguk.
"Hemm, aku pergi dulu ke kamar istri ku"ucap Fino yang mulai bangkit dari duduknya. Fino mulai melangkahkan kakinya, namun langkahnya kembali terhenti saat mendengar sebuah letusan dahsyat dari arah samping villa nya.
"Cepat bergerak"teriak Fino kepada anggota The Tiger.
Chiko dan kelima anggota The Tiger bergerak cepat, ia pun berlari ke sumber ledakan.
Sepertinya ia sedang di serang secara diam-diam oleh para musuhnya. Fino memilih berlari menuju kamar istrinya.
Sementara Milan sudah di hadang lima anggota XX di dalam kamarnya. Mereka semua masuk melalui jendela kamarnya yang berhasil mereka pecahkan. Kelima anggota XX mengarahkan pistolnya ke arah Milan dan bayinya.
Sementara ketiga bodyguard yang berjaga di depan pintu kamarnya sudah tidak berdaya di lantai.
Milan tampak melindungi baby Malfin sambil menggunakan gendongan bayi yang dipakaikan di punggung nya dengan sisi di kedua pundaknya, layaknya sedang menggunakan tas ransel. Milan pun bergerak mundur untuk mengambil pistolnya di bawah bantalnya. Dengan gerakan cepat Milan berhasil mengambil pistolnya dan langsung mengarahkan kepada mereka.
"Punya nyali juga wanita ini"ucap salah satu anggota XX.
Dor
Dor
Anggota XX mulai menembak ke arah Milan. Milan dengan lihai menghindari peluru yang terus mengarah kepadanya.
Milan berjalan mundur dan berlari masuk ke dalam toilet. Milan memilih untuk keluar dari kamar tersebut melalui toilet kamarnya.
Brukk
Anggota XX tidak tinggal diam,ia pun mendobrak pintu toilet tersebut.
"Kau tidak bisa lari kemana-mana, kau akan lenyap di dalam kamar ini, ha ha ha"ucap anggota XX.
"Pindah kalian, biar pistol ini yang akan membunuh mereka berdua"timpal anggota XX.
Dor
dor
dor
Mereka terus menembaki pintu toilet hingga pintu toilet tersebut terbuka.
Mereka kembali berlari melihat situasi dalam toilet yang sudah kosong.
"Kemana perginya...."
Dor
Dor
Milan berhasil menembak dua anggota XX tepat di kepalanya hingga tewas.
Milan masih merayap di dinding toilet menggunakan salah satu kakinya yang bertumpu di pinggir bathub.
Salah satu dari anggota XX mulai menyalakan pemantiknya dan melemparnya ke tempat tidur. Tampak kobaran api mulai melahap tempat tidur kamar tersebut.
Anggota XX kembali bergerak dengan hati-hati menuju toilet, ia pun begitu waspada terhadap orang di dalam sana.
Sementara Fino sedang melawan anggota XX yang sudah menyelinap masuk ke villanya. Fino menghajar dan menembak anggota XX tanpa ampun. Para anggota The Tiger mulai menyebar untuk melawan anggota XX.
Fino kembali bergerak cepat menuju kamar istrinya. Beberapa bangunan villa nya mulai terbakar. Fino begitu murka, tatapan membunuhnya begitu menakutkan, amarahnya menyelimuti dirinya, Fino terus menembaki para anggota XX dengan kedua pistol yang di pegang nya tanpa ampun.
Lima buah helikopter sudah mendekat ke arah bangunan villa, tiga helikopter merupakan pasukan anggota The Tiger. Sementara dua helikopter sedang bertugas untuk memadamkan api di bangunan villa tersebut.
Milan masih berada di dalam toilet, asap hitam mulai mengepul di dalam kamarnya. Ketiga anggota XX kembali menembak ke setiap penjuru toilet. Namun Milan berusaha keluar lewat jendela kaca dalam toilet tersebut, dengan cara memanjat jendela yang lumayan tinggi di dalam toilet dengan sekuat tenaganya.
"Aku tidak akan membiarkan mereka menyakiti baby Malfin"ucap Milan marah yang sudah berada di balkon kamarnya.
"Itu dia wanitanya"ucap segerombolan lelaki yang begitu amburadul.
Milan kembali berlari menuruni tangga darurat di villa tersebut. Tampak seorang wanita tengah menghadangnya di bawah tangga.
"Mau kemana nyonya Milan"ucap wanita tersebut.
"Apa yang kau lakukan di sini Sasa, cepat pergi"teriak Milan.
"Ha ha ha pergi, aku bahkan ingin menangkap mu nyonya"ucap Sasa dengan tawa misterius nya.
"Kau!"ucap Milan sambil mengepalkan tangannya.
"Ha ha ha, aku ingin membalaskan dendam ku atas kematian kakak dan ayahku. Aku sendiri yang menjadi mata-mata di kediaman mu, dan mendatangkan para musuh suamimu. Aku harus melenyapkan mu dengan bayimu . Sudah lama aku mengincar bayi mu. Namun penjagaan di kediaman mu begitu ketatnya nyonya, tapi kali ini aku sendiri yang harus melenyapkan mu bersama bayi mengemaskan mu. "ucap Sasa dengan tawa misterius nya.
Dor
Sasa menembak ke arah Milan, dengan cepat Milan menghindari peluru sasa. Milan langsung melompat ke tubuh Sasa. Dan menghajarnya habis-habisan. Pistol yang di pegang oleh Sasa sudah terjatuh entah kemana. Sementara baby Malfin mulai terbangun dan langsung menangis histeris.
Milan langsung mengeluarkan belati kecilnya dan menusukkan nya tepat di jantung Sasa. Milan sama sekali tidak menaruh kasihan terhadap orang yang ingin menyakitinya dengan bayinya.
Sasa tewas mengenaskan dengan berlumuran darah. Milan melakukan cara tersebut, agar suara tembakan dari pistolnya tidak menggangu pendengaran baby Malfin.
Milan kembali mencari tempat aman untuk melindungi baby Malfin.
"Tuhan tolong lindungi hamba mu dari serangan musuh suamiku"gumam Milan sambil terus berlari keluar Villa.
Milan kembali di hadang dari belakang.
"Apa kau ingin bayi mengemaskan ini mati di depan mata mu?"ucap seorang lelaki misterius dari arah belakang.
Milan langsung berbalik badan dan sudah di todongkan sebuah pistol oleh para anak buah lelaki misterius tersebut.
"Mau apa kalian"ucap Milan dengan tatapan membunuhnya.
Lelaki misterius membuka penutup kepalanya.
Milan membulatkan matanya melihat lelaki di hadapannya.
"Tuan Aldo"ucap Milan penuh emosi.
"Ha ha ha, salah. Aku bukan Aldo yang kau maksud, aku adalah Aldi kembaran Aldo"ucap lelaki tersebut dengan tatapan tak kalah membunuhnya.
"Ikuti kami, atau nyawa bayimu tidak akan selamat"ucap lelaki tersebut.
Milan hanya mampu pasrah digiring oleh mereka, demi melindungi baby Malfin.
Para anggota The Tiger berhasil menghentikan lelaki yang menggiring Milan.
"Lepaskan nona kami"ucap salah satu anggota The Tiger.
"Lepaskan, itu tidak mungkin"ucap lelaki yang bernama Aldi.
Bersambung..