
"MILAN!" Teriak seseorang dari arah belakang yang tidak lain adalah Fino.
Fino terus saja memanggil nama Milan, Fino terus melangkahkan kakinya mendekat ke arah Milan. Sedangkan Milan hanya mampu diam di tempat dan tidak ingin berbalik badan ke arah Fino yang terus berjalan ke arahnya. Jantung Milan terus memompa cepat, sungguh ia tidak ingin bertemu lagi dengan Fino.
Milan terus saja berdoa kepada Tuhan, agar Fino tidak mengetahui penyamarannya. Alhasil doa Milan dijabah oleh Tuhan, dikarenakan Fino malah melangkahkan kakinya berjalan mendahului nya. Tanpa meliriknya sama sekali. Siapa sih yang ingin menatap wajah seorang wanita cacat yang menjadi penyamarannya saat ini.
"Huh!, Syukurlah"gumam Milan sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar, sambil menatap Fino yang terus saja menjauh dan kembali memanggil namanya.
Sementara Chiko bersama empat anggota The Tiger yang sedari tadi mengintai kediaman Bu Ani merasa sia-sia, karena bukan incaran mereka yang sesungguhnya, hanya wanita cacat yang keluar dari kedai tersebut bersama wanita tomboi yang tadi ia temui.
"Sial!, Kita salah sasaran, ayo pergi"ucap Chiko lalu menyuruh anggota The Tiger untuk meninggalkan tempat tersebut.
"Aku pikir nona Milan bersembunyi di kedai itu. Sepertinya nyonya Milan memiliki hubungan dengan gadis tomboi itu, mana mungkin cek tuan Fino berada di tangan gadis tomboi itu. Sepertinya aku harus kembali menyelidiki gadis tomboi itu" ucap Chiko, lalu kembali melajukan mobilnya ke suatu tempat.
Milan kembali melangkahkan kakinya untuk naik ke pesawat, karena sekitar 35 menit lagi, pesawat akan terbang ke negara A, sesuai jadwal keberangkatan nya. Lagi-lagi Milan dibuat bimbang dengan keputusannya sendiri. Milan memilih duduk di tangga, entah mengapa ia merasa tidak tenang meninggalkan negara B.
"Sepertinya aku harus ke toilet dulu" ucap Milan, kemudian melangkahkan kakinya menuju toilet.
Saat berada di depan pintu toilet, Milan kembali menghentikan langkahnya, karena terdengar suara seseorang sedang meminta tolong.
"Apa ada orang diluar, tolong buka pintunya" teriak seseorang dari dalam toilet.
Milan kemudian membuka satu persatu pintu toilet, untuk mencari orang yang meminta tolong kepada nya.
Brukk
Milan menendang pintu toilet yang terkunci, sehingga tampaklah wanita tua yang sudah berlumuran darah dibagian perutnya.
"Astaga, apa yang terjadi nyonya" ucap Milan kepada wanita tua yang sudah lansia.
"Saya di rampok, lalu dianiaya oleh perampok di bandara ini nak" ucap wanita tua itu yang terlihat kesakitan, dengan luka tusukan di bagian perutnya, bahkan pakaiannya sudah sobek dan berlumuran darah.
"Ya Tuhan, ayo nyonya, biar saya bantu" ucap Milan yang begitu kasihan melihat wanita tua itu.
Tak lupa Milan mengikatkan selendang pemberian Bu Ani kepada wanita tua itu, untuk mengurangi pendarahan yang terjadi di perut wanita tua tersebut.
Milan kemudian menggendong wanita tua itu dan membawanya keluar dari bandara, untuk mencari klinik terdekat di daerah tersebut.
Kini Milan sudah berada di dalam klinik yang tidak jauh dari lokasi bandara. Wanita tua tadi sedang ditangani oleh dokter untuk mendapatkan perawatan. Sementara Milan terus mondar-mandir di depan pintu perawatan wanita tua tadi.
Milan bahkan seketika melupakan keberangkatannya ke negara A, disebabkan karena menolong wanita tua, sehingga ia lupa dengan tujuannya sendiri.
Pintu ruangan itu terbuka dan menampilkan sosok dokter yang baru saja menangani wanita tua tadi.
"Bagaimana keadaannya dok" ucap Milan yang terlihat khawatir.
"Nyonya Agustina mulai membaik, terdapat sepuluh jahitan dari tusukan di perutnya. Untungnya kami dengan cepat menanganinya. Bila anda terlambat membawa nyonya Agustina, mungkin saya tidak mampu menanganinya di klinik ini, berhubung alat medis di klinik ini tidak lengkap seperti rumah sakit pada umumnya"ucap Dokter tersebut.
"Terima kasih dok, apa saya boleh melihat kondisi nyonya Agustina" ucap Milan yang mulai sedikit tenang.
"Iya nona silahkan" ucap dokter tersebut, lalu berjalan menuju ruangan nya.
Milan masuk ke ruang perawatan wanita tua yang ditolongnya. Terlihat wanita tua yang bernama Agustina tersenyum ke arah Milan.
"Terima kasih nak, kau sudah menolong ku"ucap nyonya Agustina.
"Sama-sama nyonya" ucap Milan sambil tersenyum yang merasa lega melihat sosok wanita tua itu mulai membaik.
"Apa anda sudah mengabari keluarga terdekat nyonya" ucap Milan.
"Saya tidak memiliki sanak keluarga"ucap nyonya Agustina dan raut wajahnya tampak murung.
"Maaf nyonya, saya tidak bermaksud lancang menanyakan keluarga nyonya" ucap Milan sambil menunduk.
"Tidak apa nak, oh iya nama mu siapa nak?" ucap nyonya Agustina dengan mata berkaca-kaca.
"Melati nyonya" ucap Milan yang memilih menggunakan nama identitas barunya.
"Nama yang indah, seperti pemiliknya" ucap nyonya Agustina sambil tersenyum.
"Nyonya tinggal di mana?" tanya Milan sambil menggenggam tangan nyonya Agustina.
"Di desa terpencil nak dan sangat jauh dari pusat kota, sangat sulit untuk dijelaskan, karena desa itu sangat sulit untuk diakses"ucap nyonya Agustina dengan tatapan sendunya.
"Oh begitu nyonya, sebaiknya nyonya istirahat dulu" ucap Milan sambil tersenyum.
"Tidak usah nak memanggil ku dengan sebutan nyonya, panggil saja Oma Ina" ucap nyonya Agustina sambil tersenyum melihat sosok wanita yang menolongnya.
"Baik Oma Ina" ucap Milan ragu-ragu.
Pintu ruangan perawatan nyonya Agustina terbuka dan menampilkan sosok wanita paruh baya.
"Maaf nyonya, sudah membuat anda terluka, seharusnya pak Adi tidak membawa anda ke bandara hanya sekedar untuk bertemu dengan teman lamanya, namun tidak terduga anda mengalami perampokan di dalam bus" ucap wanita paruh baya itu sambil mengatupkan kedua tangannya didepan dada, dengan wajah tampak khawatir.
"Sudahlah Ros, ini merupakan musibah. Untungnya wanita cantik ini yang menolong ku" ucap nyonya Agustina sambil memperkenalkan Milan kepada pelayannya.
"Apa Adi sudah menyiapkan bus untuk perjalanan pulang ke kampung halaman?" ucap nyonya Agustina, sambil menatap ke arah Ros.
"Sudah nyonya, sekarang pak Adi sedang menunggu di depan klinik" ucap Ros.
"Ya sudah, sebaiknya kita berangkat malam ini ke kampung halaman, karena perjalanan kita masih sangat jauh" ucap nyonya Agustina.
"Nak melati, ikutlah ke kampung halaman Oma ya?" ucap nyonya Agustina dengan tatapan mata sendunya, yang terlihat memohon.
Milan hanya mampu diam, ia sama sekali tidak tahu harus menjawab apa.
"Oma ingin kau menjadi cucu Oma nak, kau wanita baik dan penolong ku, Oma sungguh tidak tahu, bila kau tidak datang menolong Oma, mungkin Oma sudah tiada di tempat tadi" ucap nyonya Agustina sambil menunduk.
Milan hanya mampu diam, sungguh ia tidak menduga dengan rencana Tuhan yang tiba-tiba mempertemukan nya dengan wanita tua yang juga tidak memiliki sanak keluarga. Bahkan secepat itu, menganggapnya sebagai cucu.
"Baiklah Oma" ucap Milan sambil tersenyum, entah mengapa tanpa berpikir panjang, Milan langsung setuju untuk ikut bersama wanita tua itu.
"Terima kasih nak, akhirnya aku kembali memiliki seorang cucu" ucap nyonya Agustina dan langsung memeluk Milan dengan perasaan yang begitu bahagia.
"Hati-hati Oma, takutnya jahitan luka Oma ter.." ucap Milan yang tidak melanjutkan ucapannya.
"Tidak apa nak, pokoknya Oma sangat senang mendengar jawaban mu" potong nyonya Agustina dengan perasaan bahagia nya.
Sementara wanita paruh baya yang bernama Ros, hanya mampu tersenyum melihat keakraban majikannya dengan wanita penolongnya.
Kini Milan sudah berada di dalam bus dan tengah duduk bersama dengan nyonya Agustina, Ros dan pak Adi berada dibagian depan, dimana pak Adi yang menjalankan kemudi.
Milan terlihat termenung di dalam bus yang akan membawanya ke kampung halaman wanita tua yang baru saja ia tolong. Sedangkan nyonya Agustina sudah terlelap di samping nya dengan kursi yang sudah dimodifikasi layaknya tempat tidur yang nyaman, maklum perjalanan mereka masih panjang, butuh waktu 2 hari dua malam, agar mereka tiba di kampung halaman Oma Ina.
Selamat tinggal tuan Fino Alexander, semoga kita tidak pernah dipertemukan kembali. Batin Milan.
Milan kembali membayangkan masa lalunya bersama keluarga dan keputusannya masuk ke dalam dunia hitam.
Sekitar 15 tahun yang lalu....
Seorang gadis remaja tengah berlatih bela diri taekwondo habis-habisan. Setiap pulang ke kediaman sederhananya, wajahnya selalu saja dipenuhi luka lebam akibat latihan bela diri yang ditekuninya.
Sepulang sekolah, ia pasti disibukkan dengan latihan fisik, mulai dari teknik bela diri taekwondo, boxing, mhuatai yang semua itu ia tekuni hingga larut malam, gadis itu ialah Milan.
Milan tumbuh menjadi gadis dingin dan keras kepala. Semua itu terjadi karena kurangnya kasih sayang dari kedua orang tuanya, karena kesibukan dunia kerja, membuat kedua orang tuanya enggan memberikan kasih sayang penuh untuk putrinya.
Ibunya yang bernama Mariana bekerja sebagai pelayan di kediaman Alexander, sementara ayahnya yang bernama Marko bekerja sebagai penjaga dikediaman Alexander dan sekaligus bagian dari anggota The Tiger.
Milan selalu saja pulang larut malam, sehabis melakukan latihan fisik. Ia pun membuka pintu rumahnya dan selalu saja sepi tanpa kehadiran orang tuanya. Hanya waktu libur, atau pun hari-hari tertentu ia mampu melihat kedua orang tuanya.
Milan menyeret kakinya menuju kamarnya. Ia pun terlebih dahulu masuk ke dalam toilet untuk membersihkan tubuhnya. Setelah itu, ia memilih mengistirahatkan tubuhnya di atas tempat tidur yang sudah usang. Hari demi hari terus ia lalu seperti itu, hingga tiba saatnya penerimaan raport semester yang akan dihadiri oleh ayahnya.
Plakkk
"Ayah malu melihat nilai mu, ayah sudah katakan, bahwa kamu harus tekun belajar, agar kamu bisa bekerja di perusahaan tuan Alexander" bentak Marko kepada putrinya.
Milan hanya mampu memegangi pipinya yang terasa ngilu, ya begitulah jika nilai hasil raport nya jelek, maka itulah hukuman yang diberikan oleh ayahnya. Namun Milan tetap menyayangi ayahnya. Karena ia menganggap bentuk kasih sayang ayahnya seperti itu.
Karena jarangnya bertemu dan berkomunikasi, sehingga Milan selalu membuat tingkah laku yang membuat ayahnya menjadi geram dengan perilakunya.
"Habis ini kamu harus belajar giat, ayah tidak ingin melihat nilai jelek mu. Jangan lupa makan malam, ibumu tidak pulang malam ini hingga minggu depan, jadi kamu harus tetap mandiri mengurus semua keperluan mu. Ayah pergi dulu" ucap Marko, kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu
"Baik ayah, Milan akan belajar giat lagi" ucap Milan sambil tersenyum.
Marko menghentikan langkahnya, mendengar ucapan putrinya. Setelah itu, ia pun meninggalkan putrinya seorang diri di kediaman sederhananya.
"Milan berjanji akan membahagiakan ayah dan ibu" ucap Milan sambil tersenyum menatap kepergian ayahnya.
Hingga Milan berusia 19 tahun, ia pun sudah berubah menjadi gadis yang super dingin dan sama sekali tidak memiliki sahabat ataupun teman sebayanya. Milan pun memilih masuk ke dunia hitam untuk membuktikan kepada ayahnya, bahwa ia pun mengikuti jejak ayahnya yang seorang mafia.
Disinilah awal mula pertemuan Milan dengan Fino Alexander.
Milan memasuki dunia hitam itu dengan kerja keras yang dilakukannya selama ini. Ia pun kini berada di markas besar The Tiger yang berada di negara A. Milan kembali mendapatkan ujian berat dari para senior kelompok mafia The Tiger.
"Hei kau anak baru, mengapa penampilan mu seperti ini" ucap seorang lelaki berbadan kekar sambil menarik kunciran rambut Milan.
Milan yang tidak terima dengan perlakuan seniornya dengan cepat melakukan perlawanan, ia pun menghajar wajah lelaki itu hingga babak belur, jiwa mafianya meronta-ronta untuk melawan lelaki kurang ajar yang memegangi rambutnya. Tidak hanya itu, berkali-kali Milan melayangkan tendangannya ke perut lelaki itu hingga tidak berdaya.
"Hentikan!" ucap Jones yang melihat perkelahian tersebut.
"Kau ikut denganku" ucap Jones kepada Milan dengan tatapan tajam.
Milan pun mengikuti langkah kaki jones menuju sebuah arena adu kekuatan. Dimana letaknya berada di bawah tanah, untuk menjangkau tempat tersebut, mereka harus masuk ke dalam lift yang akan membawanya di arena tersebut.
Terlihat para anggota The Tiger berlalu lalang di setiap lorong, sambil menatap tajam Milan. Sebuah pintu yang tampak kokoh dengan dua penjaga kembali menatap Milan dengan tidak suka.
Ada apa gerangan, mengapa para seniornya terlihat membencinya. Ya disini hanya Milan satu-satunya seorang wanita yang bergabung di kelompok mafia The Tiger.
Kedua penjaga itu saling pandang, lalu membuka pintu ruangan yang sangat diyakini arena adu kekuatan. Banyaknya para anggota The Tiger sudah memenuhi ruangan tersebut untuk menyaksikan pertarungan hebat yang akan menjadi sejarah bagi anggota The Tiger.
Para anggota The Tiger menatap Milan sambil tersenyum sinis. Banyak dari mereka merendahkan Milan yang hanya seorang wanita.
"Persiapan diri mu, sebentar lagi kamu akan melakukan pertarungan untuk memperebutkan suatu posisi yang di idamkan oleh para anggota The Tiger" ucap Jones kepada Milan.
"Baik senior" ucap Milan. Milan memilih melihat disekelilingnya.
Terlihat di arena pertarungan sudah terjadi pertarungan sengit untuk memperebutkan posisi yang cukup tinggi dalam anggota The Tiger yakni menjadi pengawal ketua The Tiger, semua anggota The Tiger mengidam-idamkan posisi tersebut.
Milan kembali mengarahkan pandangannya ke lantai atas, dimana tersedia kursi khusus untuk para petinggi The Tiger termasuk di dalamnya ketua dan wakil ketua The Tiger. Pandangan mata Milan terus menyapu di lantai atas.
Hingga tak sengaja pandangan mata Milan bertemu dengan sepasang mata dengan tatapan yang tak kalah tajam, cukup lama mereka saling pandang, bahkan membuat Milan tidak kuat memandang tatapan tajam lelaki itu. Milan hanya mampu menunduk untuk mengalihkan pandangannya dari lelaki tersebut.
"Siapa sih lelaki tadi, membuat ku takut saja" gumam Milan lalu berjalan menuju ruangan yang disediakan untuknya bersiap-siap.
Sementara lelaki yang baru saja menatap Milan kembali mengarahkan pandangannya ke arah Milan berdiri.
"Siapa gadis yang berdiri di bawah sana" ucap seorang lelaki dengan suara beratnya.
"Dia gadis yang baru-baru ini bergabung dengan The Tiger tuan Fino. Kalau tidak salah gadis itu anak Marko dengan Mariana, salah satu pelayan di kediaman tuan" ucap Antoni dengan hormat yang merupakan sahabat ayahnya.
Fino tersenyum sinis mendengar ucapan Antoni. Entah apa yang akan ia rencanakan kepada Milan.
Bersambung......
Mohon maaf yang sebesar-besarnya, kalau aku jarang update. 🙏🙏🙏
Mohon maaf bila alurnya tidak sesuai dengan harapan teman-teman semua 🙏🙏🙏.