Mafia Couple Love

Mafia Couple Love
Extra part 1


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Berhubung banyak teman-teman yang komen untuk dibuatkan extra part nya, makanya author buatkan extra part nya, semoga kalian suka 🤗


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Kehadiran anak keduanya memberikan banyak perubahan terhadap keluarga kecil Fino. Semua anggota keluarganya saling menyayangi dan mengasihi. Salah satunya, Malfin putra kecilnya, sangat pandai menjaga adik kecilnya, ia bahkan mengurangi kebiasaan bermainnya demi menjaga adik kecilnya. Milan hanya mampu bersyukur memiliki dua malaikat kecilnya yang begitu pandai. Baby Morgan tidak rewel lagi semenjak Malfin selalu berada di sampingnya, sungguh ikatan saudara keduanya sangat terjalin dengan baik. Bobot tubuh baby Morgan semakin bertambah, yang tadinya hanya 3,2 kg kini sudah mencapai 3,8 kg.


“Ma, Adik bayi sangat lucu, Malfin sangat senang punya adik bayi, nanti kalau kami besar Malfin dan adik bayi yang akan menjaga dan membahagiakan mama, benarkan adik bayi”ucap Malfin sambil mengelus pipi gembul adiknya.


“Malfin pengen punya adik lagi ma, sepertinya kalau cuman satu adik bayi tidak cukup untuk diajak bermain”ucap Malfin yang kembali menatap mamanya.


Milan hanya mampu tersenyum sambil geleng-geleng kepala.


“Nak, kita harus syukuri apa yang tuhan kasih kepada kita, kita tidak boleh mengeluh dan selalu serakah. Jika Tuhan kembali menghendaki mama untuk memberikan mu adik, ya Alhamdulillah, Malfin hanya perlu berdoa, biar doanya diijabah oleh Tuhan”ucap Milan sambil mengelus puncak kepala putranya.


“Baik ma, Malfin akan berdoa setiap hari, supaya Malfin di berikan adik yang banyak”ucap Malfin sambil tersenyum.


Milan kembali tergelak tawa mendengar ucapan putranya. Sedangkan baby Morgan hanya mampu mengerjap kan matanya melihat mama dan kakaknya.


“Ponsel mama berbunyi”ucap Malfin yang melihat ponsel mamanya di atas nakas.


“Tolong ambilkan ponsel mama nak”ucap Milan tersenyum.


“Baik ma”ucap Malfin dan langsung bergegas mengambil ponsel mamanya, Malfin tersenyum melihat layar ponsel mamanya yang tertera nama papahnya.


“Ini ma, papah yang nelpon”ucap Malfin dengan mata berbinar.


Milan langsung mengangkat panggilan telepon dari suaminya.


“Halo mas”.


“Halo sayang, tunggu sebentar, aku ubah ke panggilan video call dulu”ucap Fino di ujung telepon.


“Hemm”


Malfin langsung duduk di samping ibunya, kemudian ia pun yang beralih memegang ponsel mamanya, karena Baby Morgan sedang menyusui.


“Halo papah”ucap Malfin yamg menatap papahnya lewat sambungan video call.


“Halo jagoan papah, mama dan morgan mana nak?”tanya Fino sambil tersenyum.


“Itu dia pah, adik bayi sedang menyusui”ucap Malfin yang mengarahkan ponselnya ke arah mama dan adiknya yang sedang menyusui.


“Baby Morgan, hei lihat papah sayang” ucap Fino tersenyum melihat kesayangannya.


Baby Morgan seolah tahu namanya sedang di sebut, ia pun langsung celingak-celinguk mencari suara yang sedang memanggilnya.


“Mas, jangan ganggu baby Morgan, kasihan, dia sedang menyusui”ucap Milan sambil mengelus punggung putranya.


“Maaf maaf, soalnya aku sangat gemes kepada baby Morgan. Sepertinya papah harus cepat-cepat pulang hari ini, soalnya papah sudah rindu kalian”ucap Fino tersenyum melihat kesayangannya.


“Iya pah, cepat pulang dan bermain bersama kami lagi”ucap Malfin tersenyum menatap papahnya.


“Oke sip, daaah…”


“Daaah papah”ucap Malfin lalu meletakkan ponsel mamanya di atas nakas.


“Ma, dongengin adik bayi dong, Malfin juga ingin mendengarnya”ucap Malfin yang bersandar di sofa.


“Baiklah nak, mama akan dongengin kalian”ucap Milan sambil tersenyum.


Milan pun mulai mendongengkan anak-anaknya tentang kisah perjalanan pangeran kegelapan.


Sementara di tempat lain…..


Novi tampak uring-uringan di dalam kamarnya, perutnya yang semakin buncit membuatnya susah untuk bergerak. Untungnya Kedua adik kembarnya selalu ada untuk menjaganya, maklum suaminya sedang sibuk bekerja di jam seperti ini.


Novi terlihat kesusahan untuk berjalan dengan kaki yang terlihat sedikit bengkak, karena menghitung dua belas hari lagi, waktu persalinannya akan di lakukan. Bobot tubuhnya semakin melebar dengan kehamilannya.


“Dafi Dafa, tolong ambilkan kakak buah di meja makan”teriak Novi dari dalam kamarnya.


“Baik kak”ucap Dafi yang dengan cepat bergegas ke dapur untuk mengambilkan buah untuk kakaknya.


“Ini Kak”ucap kompak adik kembarnya.


“Dafi tolong kupas buahnya, Dafa pijitin kaki kakak”ucap Novi yang tengah bersandar di tempat tidur.


“Baik kak”ucap mereka kompak.


“Ibu lama banget ya, aku sudah lapar”ucap Novi sambil mengelus perut buncitnya yang menatap ke arah pintu kamarnya. Padahal baru saja dia menghabiskan sekeranjang aneka buah-buahan.


Tak berselang lama kemudian, Bu Ani memasuki apartemennya sambil membawa boks makanan dan banyaknya bungkusan makan, sambil berjalan menuju dapur untuk menata makanan tersebut. Makanan tampak tersaji di atas meja, Bu Ani kemudian bergegas menemui putrinya.


“Novi, ibu sudah menyajikan makanan untuk mu nak”ucap Bu Ani yang teriak di ambang pintu kamar.


“Alhamdulillah bu, aku sudah lapar”rengek Novi.


“Kakak masih lapar, padahal kakak menghabiskan seluruh bua-buahan ini”ucap Dafi yang terlonjat kaget.


“Iya, karena kakak sedang hamil jadi mudah lapar”ucap Novi yang mencoba menggerakkan tubuhnya turun dari tempat tidur.


“Sudah sudah, kasihan kakak mu sedang hamil besar”ucap Bu Ani yang melerai mereka.


Bu Ani dengan sigap membantu putrinya dan menuntun nya ke meja makan. Terlihat Novi begitu kesulitan duduk di kursi.


“Huff, Aku sangat lapar Bu. Wow makanannya terlihat sangat lezat”ucap Novi dengan mata berbinar.


Bu Ani hanya mampu tersenyum melihat tingkah putrinya. Mereka pun mulai makan bersama. Novi menyendok makanan nya dengan begitu lahapnya, sampai-sampai ia terus tambah dan tambah lagi hingga makanan di hadapannya ludes di makan olehnya. Dafa dan Dafi hanya mampu melongo melihat tingkah kakaknya yang begitu rakus.


“Makan yang banyak nak, biar anak-anak mu tumbuh sehat”ucap Bu Ani dan kembali menyodorkan makanan di hadapannya.


“Terima kasih bu”ucap Novi sambil tersenyum.


Terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya, Novi langsung memalingkan wajahnya melihat ke sumber suara.


“Mas cok”ucap Novi dengan mulutnya yang tampak belepotan sisa-sisa makanan.


Chiko hanya mampu tersenyum, kemudian berlalu membersihkan tangannya di wastafel, lalu mendekati istrinya. Chiko langsung mengambil tissue, kemudian membersihkan mulut istrinya yang tampak belepotan.


“Ibu siapkan dulu makanan yang di bawah nak Chiko”ucap Bu Ani.


“Baik Bu”ucap Novi sambil tersenyum.


Sedangkan Dafa dan Dafi sudah meninggalkan meja makan, mereka kembali ke ruang tamu untuk nonton tv.


Sejak Novi Hamil, Chiko selalu menyempatkan waktunya untuk makan siang bersama istrinya. Untungnya saat ia sedang bekerja, keluarga Novi selalu hadir untuk menjaganya, jadi dia tidak terlalu khawatir kepada istrinya.


“Bagaimana kondisi mu sayang”ucap Chiko sambil mengelus rambut istrinya.


“Aku susah untuk bergerak Cok, gampang lelah dan aku cuman ingin tidur terus”ucap Novi sambil menatap suaminya.


Chiko kembali tersenyum, lalu mengelus perut buncit istrinya.


“Novi, anak-anak kita tampak menendang-nendang di dalam perutmu”ucap Chiko tersenyum dan kembali mengelus perut istrinya.


Sedangkan Novi hanya mampu tergelak tawa dengan kelakuan anak-anaknya yang begitu bahagia mendengar suara papahnya.


“Anak-anak kita sangat senang dengan kehadiranmu mas, sepertinya mereka sangat bahagia mendengar suaramu”ucap Novi.


“Papah sudah tidak sabar melihat kalian lahir di dunia ini nak”ucap Chiko, kemudian mencium perut buncit istrinya.


Novi kembali tergelak tawa, sedangkan Bu Ani hanya mampu tersenyum menyaksikan mereka yang begitu harmonis.


“Kalian makan saja ya, ibu ke depan dulu”ucap Bu Ani yang tidak ingin mengganggu putrinya.


“Iya Bu”ucap Novi.


“Sayang, ini pesanan mu, martabak spesial, sepertinya anak-anak kita masih lapar di dalam perutmu”ucap Chiko yang kembali menyodorkan dua porsi martabak jumbo untuk istrinya.


“Makasih sayang, kamu memang pengertian”ucap Novi dan kembali memakan martabak super jumbo itu.


Sementara Chiko hanya mampu tersenyum sambil menikmati makan siangnya. Setelah selesai makan, mereka kembali duduk santai di dalam kamarnya.


“Mas tidak kembali ke kantor?”ucap Novi yang tengah bersandar di dada bidang suaminya.


“Tidak, Aku menyelesaikan pekerjaan ku dengan cepat, walaupun pekerjaan ku masih banyak, namun aku bisa menyelesaikannya di malam hari, tuan Fino pun memakluminya”ucap Chiko yang mengelus perut buncit istrinya.


“Aku semakin was-was dan takut menjelang persalinan ku mas, aku hanya mampu berharap kepada tuhan biar semuanya bisa berjalan dengan lancar”ucap Novi.


“Iya sayang, kita serahkan saja kepada Tuhan”.


“Aku sangat senang hidup bersama mu mas cok”ucap Novi sambil mengelus manja lengan suaminya.


“Aku pun sangat senang hidup bersama mu Novita dan aku sangat-sangat mencintaimu”ucap Chiko sambil mencium manja kedua pipi istrinya.


Sepasang suami istri itu mulai tertawa bersama sambil bercanda gurau menikmati waktu bersantai nya. Novi begitu bahagia memiliki suami seperti Chiko yang begitu sabar mendampinginya. Begitu halnya Chiko yang sangat mencintai dan menyayangi istrinya yang sebentar lagi akan menjadi ibu dari anak-anaknya.