
Milan begitu bahagia keluar dari ruang NICU, wajahnya tampak berseri-seri dengan senyuman yang menghiasi bibirnya. Walupun sebenarnya ia tidak rela keluar dari ruangan bayinya, namun kebahagian masih saja terpancar di wajahnya, karena ia benar-benar bahagia bisa menyusui bayinya si malaikat kecilnya.
Bi Ros tampak setia menunggu majikannya di kursi tunggu, bersama beberapa anggota The Tiger yang sedang melakukan penjagaan di area tersebut. Bi Ros ikut tersenyum melihat Milan keluar dari ruangan bayinya dengan wajah berseri-seri.
“Bi Ros, sebaiknya kita pulang. Soalnya sebentar lagi mau petang”ucap Milan dengan perasaan bahagia.
“Baik nona”ucap Bi Ros sambil tersenyum.
Rutinitas Milan saat ini yaitu seharian berada di rumah sakit untuk menjaga bayinya. Bahkan ia bolak-balik pulang ke rumah sakit bersama suaminya demi memastikan kondisi bayinya.
Kini Milan sudah berada di kediamannya, Bi Sri dan dua pelayan wanita menyambut kedatangannya dengan penuh hormat di pintu masuk.
“Apa tuan Fino sudah pulang Bi?”tanya Milan pada Bi Sri.
“Belum Nyonya, tadi tuan Chiko baru saja mengabari saya, bahwa tuan akan lembur malam ini”ucap Bi Sri sambil menunduk.
“Oh, ya sudah bi, aku ke kamar dulu”ucap Milan sambil tersenyum. Kemudian berjalan menuju kamarnya.
Sementara Bi Sri dan Bi Ros memilih ke dapur untuk menyiapkan makan malam untuk majikannya.
“Ros, bagaimana kondisi tuan muda?”tanya Bi Sri yang sedang memperhatikan para pelayan mulai lalu lalang menyiapkan makan malam untuk majikannya.
“Kondisi tuan muda sudah membaik, nona Milan sempat memberitahu saya, bahwa dia sudah bisa menyusui tuan muda”ucap Bi Ros yang sedang membuka lemari pendingin untuk mengambil buah segar.
“Alhamdulillah, berarti kondisi tuan muda sudah membaik. Aku Kasihan sekali kepada Nyonya, karena mendapat ujian yang begitu berat dari Tuhan dengan cara seperti ini. Dimana nyonya harus melahirkan tuan muda dalam kodisi masih tujuh bulanan”ucap Bi Sri sambil memperhatikan cara kerja pelayan wanita.
“Sudahlah Sri, ujian orang beda-beda yang jelas kita hanya perlu melewatinya dengan cara bersabar dan tidak banyak mengeluh”ucap Bi Ros sambil tersenyum, kemudian memilih duduk di kursi kayu sambil menikmati buah pisang.
“Iya Ros, aku paham”ucap Bi Sri kemudian duduk di samping Bi Ros yang merupakan sahabat kecilnya di kampung halaman. Hanya saja, karena tuntutan pekerjaan, mereka pun akhirnya berpisah. Namun pada akhirnya mereka kembali dipertemukan karena sebuah pekerjaan.
Sementara Milan sedang melakukan ritual berendam di dalam bathub. Milan begitu rileks berendam di dalam bathub sambil menikmati aroma bunga mawar yang menyejukkannya dari dari bath foam yang digunakannya. Sesekali Milan tergelak tawa sambil menyentuh g***** k**** nya bekas yang disusui oleh baby boy.
“Aku begitu bahagia bisa menyusui baby boy”ucap Milan sambil tersenyum dengan perasaan bahagia.
“Aku tidak sabar mengatakan kepada tuan, bahwa aku sudah menyusui baby boy”ucap Milan sambil menutup wajahnya saking bahagianya.
“Aku harus cepat-cepat menyelesaikan ritual mandi ku, setelah ini, aku ingin segera menghubungi tuan untuk cepat pulang”ucap Milan. Kemudian memilih membilas tubuhnya di bawah guyuran air dari shower.
Kini Milan sudah mengenakan pakaian santainya yang sebatas lutut. Milan mulai mengeringkan rambut panjangnya menggunakan hair dryer. Milan sudah tidak sabar menunggu kepulangan suaminya untuk memberitahukan kabar bahagianya. Hanya beberapa menit, Milan berhasil mengeringkan rambutnya. Ia pun kembali memastikan penampilannya di dalam cermin. Setelah melihat penampilannya sudah perfek. Milan kemudian menghubungi suaminya. Namun sang empu tak kunjung mengangkat panggilan masuknya.
“Mengapa tidak di angkat sih”ucap Milan sedikit kesal.
Milan kembali tersenyum manis melihat penampilannya di dalam cermin. Ia tidak boleh memasang wajah kesal apalagi cemberut di hadapan suaminya.
“Aku tidak boleh kesal, aku harus memasang senyuman termanis ku di hadapan tuan”ucap Milan dengan mata berbinar dengan senyuman yang selalu saja terpancar di wajahnya.
Cklek
Terdengar pintu kamarnya terbuka, Milan secepat kilat langsung menatap ke arah pintu kamarnya yang terbuka. Milan terus saja memicingkan matanya menatap ke arah pintu yang tak kunjung terlihat sosok yang membuka pintu kamarnya.
Tiba-tiba saja Milan menggulung senyuman manis di bibirnya, melihat sosok yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga.
Milan dengan cepat melangkahkan kakinya untuk menghampirinya, bahkan langkahnya begitu tergesa-gesa.
“Jangan berlari, nanti kamu…uuh eeh”ucap Fino yang tidak melanjutkan ucapannya karena Milan langsung melompat memeluknya, bahkan keseimbangan tubuhnya sedikit oleng, namun Fino mampu mempertahankan posisi berdirinya dengan senyum merekah di bibirnya.
“Ada apa sayang”ucap Fino yang memeluk erat tubuh istrinya dengan penuh kasih sayang.
Milan terus saja memeluknya dengan erat. Ucapannya sama sekali tidak ia hiraukan.
“Aku bau loh, seharian aku bekerja, bahkan sekarang kau memelukku dengan eratnya. Ayo ceritakan kepadaku sayang, ada apa sebenarnya..” ucap Fino sambil tergelak tawa.
“Apa ini tentang baby boy”ucap Fino yang kembali melanjutkan ucapannya. Sungguh, ia begitu senang di sambut oleh istrinya dengan cara seperti ini. Ditambah penampilannya yang begitu menggoda dan wangi pula.
Lagi-lagi Milan hanya mampu diam, sambil memeluknya dengan eratnya. Milan sendiri tidak mampu mengungkapkan dengan kata-kata perasaannya saat ini.
“Tubuhmu semakin montok sayang”ucap Fino dengan candaannya.
Milan langsung memukul punggung kekar suaminya, kemudian memilih melepaskan pelukannya. Sementara Fino tergelak tawa melihat reaksi istrinya. Fino kembali beralih memegangi pinggangnya, sambil menatapnya dengan penuh cinta.
Milan juga beralih mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya, dengan senyuman manis yang menghiasi wajahnya yang tampak berseri-seri. Membuat Fino berkali-kali menelan salivanya dengan susah payah.
“Bagaimana kondisi baby boy?”tanya Fino yang mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya.
“Aku…Aku sudah menyusui baby boy…tuan”ucap Milan dengan perasaan yang begitu bahagia.
“Benarkah!”ucap Fino yang langsung menggulung senyuman di bibirnya.
Milan kembali mengangguk sebagai jawabannya. Fino tidak mampu berkata-kata, ia pun kembali memeluk istrinya dengan eratnya.
“Mengapa tidak mengabari ku sayang, bahwa kau sudah bisa menyusui baby boy kita. Ternyata aku sudah melewatkan momen berharga kalian”ucap Fino sambil mencium punggung istrinya, dengan penuh cinta.
“Aku juga tidak menyangka, karena waktunya begitu tiba-tiba”ucap Milan dengan mata berkaca-kaca.
“Apa kau ingin melihat, bagaimana aku menyusui baby boy?”tanya Milan dengan antusias.
“Hemm”ucap Fino sambil tersenyum tipis.
Milan kemudian mulai memperagakan tata cara ia menyusui baby boy sesuai instruksi dokter. Fino hanya mampu tersenyum melihat kebahagian istrinya yang juga terpancar kepadanya. Sungguh, ia menyesal, karena tidak melihat momen langka tersebut, Dikarenakan sebuah tuntutan pekerjaan.
Milan kembali mendekati suaminya dengan senyuman manis yang menghiasi bibirnya. Milan memilih menundukkan pandangannya, dikarenakan Fino kembali menatapnya dengan tatapan dingin, sehingga membuat jantungnya kembali berdebar hebat. Fino bahkan kembali menarik pinggang istrinya, hingga menubruk dada bidangnya.
“Kau curang, tidak mengabari ku kabar bahagia ini”ucap Fino dingin.
Milan langsung mendongak menatap wajah suaminya. Namun secepat kilat, Fino langsung menyerangnya dengan sebuah ciuman. Fino mencium bibir istrinya dengan r***s, bahkan tidak memberikan ruang kepada Milan.
Sementara Milan hanya mampu menerima sentuhan suaminya. Milan juga ikut menikmatinya, bahkan tanpa sengaja mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya. Cukup lama meraka berciuman, hingga keduanya memilih mengakhirinya.
Huhh
Huhh
Keduanya tampak ngos-ngosan, dan saling melempar senyuman dengan perasaan bahagia yang sedang menyelimutinya.
“Itu hukuman mu sayang, karena tidak mengabari ku, kabar bahagia ini”ucap Fino sambil tersenyum tipis.
“Maaf, aku cuman ingin memberimu surprise dengan kabar bahagia ini”ucap Milan sambil memegang tangan suaminya.
“Lain kali, jangan seperti ini”ucap Fino sambil merangkul istrinya.
“Iya, aku janji tuan”ucap Milan sambil mengerucutkan bibirnya.
Fino kemudian memilih menuju toilet untuk membersihkan tubuhnya. Sementara Milan sedang menyiapkan pakaian santai untuk suaminya. Karena mereka akan melakukan makan malam bersama.
Tak terasa hari demi hari, minggu bahkan bulan telah meraka lalui dengan penuh suka cita menjaga buah hatinya. Kini mereka sedang berada di rumah sakit untuk menjenguk baby boy. Semoga angin segar kembali menghampirinya, mana kala hari ini tepat dua bulan bayinya berada di ruang NICU. Tampak baby boy tumbuh dengan baik dalam inkubator. Bobot tubuhnya pun mulai bertambah, yang awalnya hanya 2.5 kg dan itu merupakan bobot tubuh untuk bayi yang lahir normal pada umumnya. Namun kali ini, bobot tubuhnya sudah bertambah, bahkan mencapai 3 kg.
Dokter Fitri kembali memeriksa kondisi baby boy. Setelah memastikan kondisi si bayi baik-baik saja, dokter Fitri mulai angkat bicara.
“Kondisi baby boy sudah membaik, asupan makanan dari ASI yang di konsumsinya sangat membantu tumbuh kembangnya. dari pemeriksaan ini, saya dapat menarik kesimpulan bahwa baby boy sudah bisa di bawa pulang”ucap Dokter Fitri sambil tersenyum.
“Alhamdulillah, akhirnya kita bisa berkumpul dengan baby boy si malaikat kecilku”ucap Milan dengan mata berkaca-kaca yang lagi-lagi terharu dengan ucapan dokter.
“Syukurlah sayang, baby boy akan pulang ke rumah dan kita akan menjadi keluarga kecil yang bahagia”ucap Fino dengan antusias.
“Selamat tuan dan nona, karena bisa berkumpul dengan baby boy. Hanya saja, nona harus kembali memperhatikan asupan makanan yang nona konsumsi bernutrisi tinggi selama masa menyusui. Agar ASI anda bisa melimpah dan tidak mempengaruhi tumbuh kembang baby boy kedepannya dan juga kesterillan ruangan bayinya, juga perlu di perhatikan. Karena bayi prematur rentang mengalami alergi salah satunya alergi kulit dengan lingkungan sekitarnya yang kurang bersih”ucap Dokter Fitri menjelaskan.
“Terima kasih dok, atas masukannya, kami pasti menjaga dan merawat baby boy dengan baik dan selalu menjaga kebersihan”ucap Milan dengan penuh syukur.
“Kalau begitu, saya permisi dulu tuan dan nona”ucap Dokter Fitri undur diri dari hadapan mereka.
Sementara di kediaman Fino….
Para pelayan kembali membersihkan kamar yang akan di tempati oleh baby boy. Jauh-jauh hari, Fino sudah menyiapkan kamar khusus untuk bayinya yang sudah di renovasi sedemikian rupa, layaknya kamar bayi laki-laki pada umunya. Perlengkapan bayi dan mainan bayi sudah lengkap di kamar tersebut. Setiap sudut ruangan kembali di sterilkan. Setelah memastikan bahwa kamar baby boy sudah bersih. Para pelayan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Bi Sri dan Bi Ros begitu senang mendengar kabar dari Chiko, bahwa tuan muda mereka akan pulang hari ini. Semua pelayan di kediaman Fino, mulai mempersiapkan penyambutan tuan mudanya dengan antusias. Mereka semua tampak bersemangat bekerja, bagaimana tidak, suara bayi akan terdengar di rumah mewah itu.
Lima buah mobil tampak iring-iringan memasuki halaman rumah. Para pelayang wanita yang melihat itu, dengan cepat membuka pintu masuk, kemudian menghampiri Bi Sri dan Bi Ros yang berada di dapur untuk menyambut kedatangan majikannya. Kini semua pelayan tampak berbaris di halaman rumah. Mereka tampak antusias untuk melihat tuan muda.
Chiko yang menjadi supir di mobil tuan Fino dengan cepat turun dari mobil, kemudian membukakan pintu mobil untuk tuannya. Fino terlebih dahulu turun dari mobil, kemudian di susul oleh Milan yang sedang menggendong bayinya yang masih saja tertidur pulas.
Selamat datang tuan muda, di kediaman mu. Semoga engkau tumbuh sehat dan menjadi kebanggaan tuan Fino. Batin Chiko sambil tersenyum tipis.
Semua pelayan membungkukkan badannya untuk memberi hormat majikannya. Fino dan Milan berjalan bersama-sama memasuki rumahnya. Sementara Chiko ikut membantu Bi Ros membawa perlengkapan tuan mudanya.
“Selamat datang di rumah mu sayang”ucap Fino sambil membuka pintu kamar baby boy.
Milan tersenyum memasuki kamar yang akan di tempati baby boy. Kemudian dengan hati-hati, Milan meletakkan baby boy di atas tempat tidur.
“Lihatlah, dia sama sekali tidak terbangun dalam dekapanmu sayang”ucap Fino sambil memperhatikan wajah bayinya yang tertidur pulas.
“Itu sudah pasti tuan, kerjaan bayi cuman minum ASI dan tidur. Wajahnya semakin hari semakin mirip denganmu”ucap Milan sambil tersenyum yang kini tengah duduk di pinggir tempat tidur sambil memperhatikan bayinya.
"Mulai sekarang, aku akan menjaga keluarga kecilku dengan baik. Tidak ada yang boleh menyakiti kalian"ucap Fino yang memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Iya tuan, kau akan menjaga kami dan menjadi papah yang baik untuk baby boy. Tuan, apakah kau sudah mengabari mama tentang baby boy?" ucap Milan yang kembali memikirkan ibu mertuanya.
"Tidak, hubungan ku dengan mama sedang renggang. Adikku Darren melarang ku untuk menemui mama, semua itu bermula, saat ia mengetahui masalah rumah tangga kita. Dimana Darren begitu marah besar, saat tahu aku mengusir mu dan berpisah dengan mu, tidak hanya itu, ia kembali meminta ku untuk mencari mu sampai kapan pun. Bahkan ia melarang ku untuk menginjakkan kaki ku di kediamannya, sebelum aku menemukan mu dan rujuk kembali dengan mu"ucap Fino dengan mata berkaca-kaca.
"Aku tidak tahu, apakah mereka sudah memaafkan ku atau tidak. Mama begitu kecewa kepadaku atas kejadian itu, tapi aku sudah meminta maaf kepada mama dan Mama sudah memaafkan ku. Kini aku tidak memiliki kekuatan untuk menemui keluarga ku"ucap Fino sambil menunduk.
"Jangan terlalu dipikirkan, pasti ada jalan keluarnya tuan"ucap Milan sambil mengelus punggung kekar suaminya.
"Terima kasih Milan"ucap Fino yang kembali memeluk istrinya dengan erat.
Bersambung.....