Mafia Couple Love

Mafia Couple Love
Saling merindukan


Fino mulai bersiap-siap di dalam kamar hotel yang sudah ia tempati menginap beberapa hari ini. Fino terlihat wibawa mengenakan setelan jas hitam. Tak lupa ia menyelipkan pistolnya di balik saku dalam jasnya. Kali ini ia akan mengadakan pertemuan dengan nyonya Tailor. Wanita paruh baya yang begitu licik dan ambisius ingin menentangnya.


Fino kembali melihat penampilannya di dalam cermin sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar. Wajah Milan dan putranya kembali terlintas dipikirannya, padahal baru setengah jam ia habis melakukan panggilan video call, namun nyatanya ia masih tetap merindukan mereka. Fino kemudian berjalan membuka pintu kamarnya, karena ia mendengar suara Chiko yang memintanya untuk keluar.


“Kita berangkat sekarang tuan”ucap Chiko yang juga rapi dengan setelan jasnya.


“Hemm” ucap Fino dingin sambil menutup pintu kamarnya, kemudian berjalan mendahului Chiko.


Disepanjang perjalanan menuju hotel SS, Fino hanya mampu duduk diam di kursi belakang. Hingga mobil yang membawa mereka tiba di hotel SS. Chiko turun terlebih dahulu membukakan pintu mobil untuk tuannya. Fino turun dari mobil sambil menatap bangunan hotel bintang lima yang pernah ia kunjungi beberapa tahun lalu.


"Tak ada perubahan"ucap Fino sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar. Kemudian melangkahkan kakinya memasuki lobi hotel tersebut, diikuti Chiko dibelakangnya. Terlihat dua bodyguard langsung menghampiri Fino.


"Apakah Anda yang memiliki janji bertemu dengan nyonya Tailor"ucap bodyguard tersebut yang begitu garang.


"Ya"ucap Chiko.


"Ikuti kami, nyonya sedang menunggu anda"ucap Bodyguard tersebut.


Fino dan Chiko mulai mengikuti langkah kaki kedua bodyguard nyonya Tailor. Hingga mereka tiba di sebuah ruangan VIP restoran hotel SS yang begitu mewah dengan view pemandangan kincir angin raksasa yang tampak kokoh di depan mata.


Tampak nyonya Tailor sudah duduk bersama dengan seorang wanita yang merupakan sekretaris nya. Sambil menatap pemandangan kincir angin raksasa.


"Silahkan duduk tuan Fino"ucap Nyonya Tailor dengan sedikit senyuman yang melihat kedatangan Fino.


Fino kemudian duduk di kursi yang disediakan untuknya.


Chiko mulai meletakkan berkas penting tentang kerja sama perusahaan Alexander Group dengan perusahaan GC. Kemudian berdiri tegak di belakang atasannya.


"Aku ingin kerja sama kita tidak mengalami kendala nyonya Tailor. Perlu ku tekankan, kerja sama kita saling menguntungkan, jadi jangan coba-coba berbuat curang"ucap Fino sambil tersenyum sinis.


"Sudah pasti tuan, aku akan berusaha keras untuk proyek pembangunan kali ini"ucap nyonya Tailor sambil tersenyum kemenangan.


"Sebaiknya nyonya Tailor mulai mempresentasikan mengenai laporan proyek pembangunan Hotel dan mall yang akan segera berlangsung"ucap Chiko yang mulai angkat bicara.


Sekretaris nyonya Tailor mulai mempersentasikan laporannya, nyonya Tailor sedikit membantu sekretaris nya dengan menambahkan send penjelasan lebih detail tentang pembangunan hotel.


Kesimpulannya, kedua perusahaan raksasa tersebut saling setuju, mereka pun kembali berjabat tangan untuk melaksanakan proyek tersebut.


"Silahkan di nikmati makanannya tuan Fino dan tuan Chiko"ucap nyonya Tailor yang tersenyum kemenangan.


Sebentar lagi, kalian berdua akan mati di tangan ku. Batin Nyonya Tailor dengan seringai licik diwajahnya.


Tampak seorang lelaki misterius berada di sebuah gedung tinggi sedang mengarahkan senapan panjang nya membidik mangsanya. Ia pun mampu melihat dua sosok lelaki dari teropong senapannya.


Lalu senapannya kembali diarahkan pada lelaki berjas hitam yang duduk bersama dengan nyonya Tailor. Lelaki tersebut tidak lain adalah Fino Alexander yang menjadi targetnya.


"Selamat tinggal lelaki bodoh"ucap lelaki misterius lalu menarik pelatuk nya.


Dor.


Peluru senapannya tidak sesuai target, karena malah bersarang di lengan lelaki di sampingnya. Rupanya Chiko yang terkena tembakan demi melindungi tuannya.


Dor


Fino langsung menembak si penembak hingga tewas dengan peluru yang bersarang di kepalanya. Si penembak langsung terjatuh dari bangunan 30 lantai.


"Bodoh, bagaimana bisa kau bisa ceroboh"ucap Fino dengan tatapan tajam.


"Maaf tuan, saya hanya repleks bergerak untuk melindungi tuan"ucap Chiko sambil memegangi lengannya yang sudah mengeluarkan darah segar.


Nyonya Tailor pura-pura bersimpati kepada mereka.


"Sebaiknya segera di bawah ke rumah sakit, takutnya lukanya tambah parah"ucap Nyonya Tailor.


"Jika ini ada hubungannya dengan nyonya Tailor, maka saya tidak segan-segan untuk menghancurkan perusahaan anda dalam sekejap"ucap Fino dengan ancamannya dengan tatapan membunuhnya, karena sekretaris nya terluka.


Nyonya Tailor hanya mampu bergidik ngeri, dengan wajahnya yang langsung pucat pasih.


Fino lalu membawa Chiko untuk segera mendapatkan perawatan.


"Bagaimana dengan mata-mata mu"ucap Fino dingin.


"Mereka sudah menangkap para anak buah nyonya Tailor dengan tuan Adam, mereka melakukan konspirasi untuk menghancurkan perusahaan tuan"ucap Chiko menjelaskan yang menahan rasa sakitnya.


"Bagus, langsung saja lenyapkan mereka semua. Setelah itu, aku sendiri yang akan bertindak untuk menghancurkan perusahaan GC dan perusahaan QT"ucap Fino yang terus berjalan melewati lorong hotel.


"Berikan kunci mobilnya, sebaiknya kita ke rumah sakit untuk mengobati luka mu"ucap Fino yang begitu perhatian.


"Tak usah tuan, saya bisa mengatasinya. Tapi tolong tuan, saya hanya ingin ke apotek untuk membeli kain kasa dan antiseptik"ucap Chiko hati-hati.


"Hemm, ya sudah masuklah" ucap Fino kemudian masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi.


Sedangkan Chiko dengan hati-hati mulai duduk di samping kemudi.


Sementara di tempat lain......


Milan tidak bisa lagi tertidur pulas, ia selalu saja memikirkan suaminya di negara orang. Terlihat Milan mengenakan kemeja kerja suaminya, sekedar untuk membuatnya rileks dan nyaman dengan aroma tubuh suaminya.


Sudah larut malam, Milan belum juga tertidur, ia pun melirik putranya yang sudah terlelap dengan giling nya. Milan pun memilih untuk mengambil air wudhu untuk melakukan sholat sunah malam.


Selepas sholat, Milan mulai mendoakan keselamatan keluarga nya. Milan meneteskan air matanya sambil mendoakan keluarganya. Setelah itu, Milan memilih merapikan peralatan sholat nya, takutnya Malfin terbangun. Milan berjalan menuju tempat tidur dan kembali berbaring di samping putranya.


"Cepat pulang mas. Aku sudah merindukan mu"ucap Milan sambil terisak dan perlahan menutup mulutnya, takutnya membangunkan putranya.


Selama kepergian suaminya ia jadi susah untuk tidur nyenyak. Bobot tubuhnya pun kembali bertambah sesuai dengan kondisi kandungan nya.


"Malfin dan dede bayi juga rindu kepadamu mas, tolong cepat pulang"ucap Milan sambil menghapus air matanya.


Sementara di kediaman Novi....


Novi menuangkan botol air ke gelasnya. Saat sudah penuh, Novi mencoba untuk minumannya, namun tiba-tiba saja gelas dipegangnya langsung terjatuh di lantai hingga pecah. Bahkan puing-puing pecahan gelasnya mulai bertebaran di mana-mana


"Astaghfirullah, apa yang terjadi nak"ucap Bu Ani yang menghampiri putrinya.


"Aku juga tidak tahu ibu, tiba-tiba saja langsung jatuh dari pegangan ku"ucap Novi panik. "Bahkan pikiran ku langsung terlintas kepada Chiko Bu"ucap Novi terkejut bukan main.


"Sudah, menjauh dari situ. Biar ibu yang bereskan. Tenang nak, suami mu pasti baik-baik saja di negeri orang"ucap Bu Ani yang menenangkan putrinya.


Aku jadi memikirkan Chiko, bahkan beberapa hari ini ia tidak pernah menghubungi ku, aku mencoba menghubungi nya, namun tak kunjung diangkat. Batin Novi.


Novi kemudian berjalan menuju kamarnya, ia pun duduk di tempat tidur sambil menatap pakaian Chiko yang pernah ia kenakan sedang tergantung di dinding kamar nya.


"Mengapa aku merindukan coki-coki, padahal kita hanya bersama selama tiga hari yang lalu"ucap Novi kemudian mengambil pakaian Chiko lalu kembali memakainya.


"Apa aku sudah memiliki perasaan kepadanya. Tidak...tidak buang jauh-jauh itu. Bahkan Bu Mega menggosipkan coki-coki sedang bertemu kekasihnya di negara C. Katanya mereka pacaran LDR selama bertahun-tahun, aku jadi kesal mendengar nya. Walaupun semua karyawan tidak tahu bahwa si coki-coki sudah menikah dengan ku, aku jadi kesal dengan ocehan mereka"ucap Novi sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar. Kemudian memilih membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya.


Hari terus berlalu, Fino kembali berpindah ke negara lain untuk mengurus bisnisnya. Fino melakukan perjalanan bisnis sebanyak empat negara yang akan ia kunjungi.


Fino tidak main-main dengan ucapannya, rupanya rencana licik nyonya Tailor bersama rekan bisnisnya terbongkar juga. Hanya sekejap Fino menghancurkan dua perusahaan raksasa tersebut.


Fino tidak ingin mengotori tangannya hanya untuk menghabisi mereka. Cukup mereka menjadi stress dan sengsara sudah cukup bagi Fino untuk orang yang berani bermain licik di belakang nya.


Sementara Chiko kembali sehat sedia kala. Luka tembakan di bagian lengan kirinya sudah mengering dan sudah giat lagi dalam bekerja.


"Aku ingin cepat selesaikan perjalanan bisnis ini, aku sudah merindukan istri dan anakku"ucap Fino yang tengah duduk tenang di dalam mobil.


"Baik tuan, saya akan segera usahakan, agar tuan bisa kembali secepatnya" ucap Chiko yang sedang berkemudi.


"Pokoknya minggu ini aku harus kembali"ucap Fino kekeh yang tidak ingin dibantah.


"Baik tuan, saya sudah meminta rekan bisnis tuan untuk segera berkumpul di negara C, sekalian saja. Karena salah satu dari mereka sedang melakukan liburan di negara ini"ucap Chiko menjelaskan.


"Bagus Chiko, kerja mu cukup bagus. Aku akan menaikkan gaji mu dua kali lipat, berhubung kau sudah memiliki tanggungan. Sepertinya kau juga merindukan istri mu kan"ucap Fino yang mencoba bercanda.


"Terima kasih tuan, saya juga merindukan istri saya"ucap Chiko yang tersipu malu.


"Hemm, sepertinya kita saling merindukan"ucap Fino sambil tersenyum yang kembali menatap foto istri dan anaknya di ponselnya.


Waktu terus berlalu, akhirnya Fino mampu menyelesaikan pekerjaan nya dengan cepat. Kurang dari 5 hari maka akan terhitung satu bulan. Namun ia pun mampu menyelesaikan pekerjaan nya dengan cepat hingga tidak mencukupi satu bulan, sehingga Fino bisa pulang ke negaranya.


"Kita pulang malam ini juga"ucap Fino yang baru saja melakukan pertemuan dengan para rekan bisnisnya di sebuah hotel bintang lima.


"Baik tuan"ucap Chiko sambil tersenyum tipis.


Akhirnya, aku bisa kembali ke negara ku. Aku pun sudah merindukan si tomboy. Batin Chiko sambil tersenyum tipis.


Chiko segera melajukan mobilnya menuju hotel mereka menginap untuk mengambil barang-barang mereka.


Kini Fino sudah berada di dalam pesawat jet pribadi nya dan tengah bersandar di kursi yang ia diduduki sambil bergumam merindukan istri dan anaknya.


Chiko yang duduk di belakangnya tampak tersenyum tipis mendengar gumaman atasannya yang terdengar lucu.


Kini pesawat jet pribadi Fino mendarat sempurna di bandara internasional negara B. Mereka lalu turun dari pesawat dan berjalan bersama-sama keluar dari bandara.


Dua unit mobil mewah terparkir untuk menyambut kepulangan nya. Chiko kemudian memasukkan beberapa barang atasannya di bagasi. Sedangkan beberapa barang lainnya sedang di urus oleh anak buahnya.


Mobil pun melaju kencang menuju kediaman atasannya. Sepanjang perjalanan Fino tak henti-hentinya tersenyum, ia sungguh bahagia bisa kembali dengan cepat dan sudah tidak sabar untuk bertemu kesayangannya.


Hanya 30 menit Mobil yang membawa mereka tiba di kediaman Fino.


Chiko dengan cepat turun dari mobil untuk membukakan pintu mobil untuk tuannya. Fino kemudian dengan cepat turun dari mobil.


Hanya bi Sri dan satu pelayan wanita yang menyambut kedatangan nya. Berhubung waktu sekarang dini hari dan jam tidur untuk penghuni di kediaman nya.


"Selamat datang tuan"ucap Bi Sri ramah.


"Iya Bi, Apakah Milan tahu soal kepulangan ku?" ucap Fino.


"Tidak tuan"ucap Bi Sri.


"Chiko pulang lah, kau tak perlu mengantarku masuk"ucap Fino.


Kemudian berjalan memasuki kediamannya.


"Baik tuan"ucap Chiko dan berlari kecil masuk ke dalam mobil, lalu menancap gas meninggalkan kediaman atasannya.


BI Sri bersama pelayan mulai membawa masuk barang-barang majikannya.


Fino dengan cepat berjalan menuju kamarnya. Sungguh ia sudah tidak sabar untuk melihat istri dan anaknya yang sangat ia rindukan. Mata Fino langsung berkaca-kaca melihat istri dan anaknya sedang mengenakan pakaian nya.


Hatinya benar-benar tersentuh melihat sosok yang dirindukannya. Fino tersenyum bahagia, menatap mereka, lalu memilih masuk ke dalam toilet untuk membersihkan tubuhnya. Fino sudah segar dengan piyama tidurnya, ia pun dengan hati-hati naik ke tempat tidur dan memilih duduk di samping istrinya. Fino mencium gemes pipi putranya, kemudian beralih mencium kening istrinya.


"Mimpi yang indah sayang"ucap Fino sambil membelai wajah istrinya.


Sementara Chiko memilih kembali ke apartemennya, tidak mungkin ia ke rumah mertuanya di jam seperti ini.


Chiko perlahan membuka pintu apartemennya. Matanya pun perlahan menangkap sosok wanita yang begitu di rindukannya sedang berjalan ke arah dapur. Rupanya hanya lampu dapur yang sedang menyala dengan terangnya. Ruang tamu yang sedang ia tempati berdiri tampak gelap gulita.


Chiko kemudian berjalan masuk ke dalam kamarnya, lalu berlalu masuk ke dalam toilet untuk membersihkan tubuhnya.


Novi yang habis mengambil air dari dapur memilih kembali meletakkan gelasnya di meja, kemudian memilih naik ke tempat tidur. Novi sama sekali tidak sadar dengan kepulangan suaminya. Bahkan koper yang tergeletak di samping tempat tidur sama sekali tidak ia lihat apalagi perhatikan.


Chiko keluar dari toilet sudah mengenakan piyama tidurnya, kemudian dengan perlahan mulai naik ke tempat tidur. Novi yang belum sepenuhnya tidur terlonjat kaget mendengar gerakan tempat tidur.


"Hah kau"ucap Novi yang langsung membulat matanya.


Cup


Chiko langsung mencium bibirnya.


"Kau seperti pencuri"ucap Novi kesal, karena selama di negara orang, Chiko tidak pernah menghubungi nya.


"Aku memang pencuri, dan sebentar lagi seluruh tubuh mu akan aku curi" ucap Chiko sambil tersenyum mesum melihat piyama tidur yang di kenakan Novi cukup seksi hingga belahan dadanya sedikit menonjol.


"Kau"ucap Novi kesal melihat arah pandangan suaminya, dan dengan cepat ia segera menutupinya menggunakan kedua tangannya.


Chiko kemudian mendekatkan wajahnya semakin dekat hingga deru nafasnya menerpa wajah istrinya dengan tatapan mesumnya.


"Kau mau apa hah"ucap Novi ketakutan.


Bersambung......