
Milan begitu santai duduk di sofa yang berada di ruang keluarga, terdapat jendela transparan yang memperlihatkan view taman belakang. Fino yang berada di sampingnya selalu saja mengelus perutnya dengan manja.
“Mas”.
“Hemm”.
“Apa kau menginginkan anak perempuan atau laki-laki di kehamilan ku kali ini?”tanya Milan dengan lirikan manja.
“Entahlah, mau perempuan atau laki-laki, aku akan selalu bersyukur bisa memiliki anak dari mu”ucap Fino sambil mendekap erat tubuh istrinya.
“Kau adalah ibu dari anak-anakku sayang, dan akan selalu menjadi wanita yang sangat aku cintai, hingga maut memisahkan kita”ucap Fio sambil mencium gemes pipi mulus Milan.
Milan tersenyum bahagia, dan balik mencium pipi suaminya. Pelayang yang melewati mereka hanya mampu tersenyum, kemudian dengan cepat menunduk. Takutnya mendapat teguran dari kepala pelayan.
“Bagaimana misi kita untuk menjodohkan Chiko dengan Novi? Aku ingin mereka segera menikah”ucap Milan sambil mengelus lengan kekar suaminya dengan jari-jari kecilnya.
“Biarkan mereka yang melakukan pendekatan, aku paling malas mengurusi hubungan seseorang”ucap Fino pada akhirnya, Fino tidak ingin ambil pusing dengan urusan orang lain, hanya saja ia terpaksa mengiyakan ucapan istrinya saat di dalam mobil.
“Iih mas, kau tadi mengiyakan ucapanku, mengapa sekarang malah lepas tangan”ucap Milan sambil cemberut.
“Jangan memasang wajah seperti itu, kau menjadi menggemaskan bahkan aku ingin mencium mu sekarang juga”ucap Fino sambil menangkup wajah istrinya. Kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya, namun aksinya kembali di gagalkan oleh putranya.
“Mama, lihat apa yang Malfin bawa?”teriak Malfin sambil menyembunyikan sesuatu yang sedang bersama baby sister nya.
Milan dengan cepat mendorong dada bidang suaminya dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah putranya.
“Apa ya? Mama jadi penasaran”ucap Milan sambil tersenyum.
“Taraaa, ini bunga mawar untuk mama yang habis Malfin petik bersama bibi siter”ucap Malfin sambil memperlihatkan beberapa tangkai bunga mawar di tangannya. Kemudian menyerahkan kepada mamanya.
“Terima kasih sayang”ucap Milan sambil membelai wajah putranya. “Coba perlihatkan telapak tangan Malfin kepada mama?”ucap Milan yang sedikit khawatir, karena tangkai bunga mawar berduri.
Malfin kemudian memperlihatkan telapak tangannya. Milan tersenyum kemudian mencium kedua tangan mungil putranya.
“Mama kira kamu terluka sayang”ucap Milan sambil tersenyum. Kemudian Malfin memilih duduk di pangkuan papahnya.
Sementara di tempat lain…..
Novi begitu gugup berada di kediaman Chiko. Saat ini, ia tengah duduk bersama keluarga Chiko. Novi berkali-kali menarik nafas dalam-dalam kemudian dihembuskannya, ia baru saja mendapatkan berbagai macam pertanyaan dari kedua orang tua Chiko yang mengorek tentangnya, pertanyaannya pun begitu bercabang dari kakek nenek hingga turun ke cucu-cucunya, pertanyaan tersebut membuat Novi risih, namun mampu ia jawab dengan tenang dan percaya diri.
Kedua Orang tua Chiko tampak senang dengan wajah berseri-seri, karena puas dengan jawaban Novi, mereka pun merasa yakin bahwa Novi akan menjadi menantu idamannya. Sedangkan Chiko tersenyum sinis melirik Novi yang begitu pandai bersandiwara di hadapan orang tuanya.
Novi menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Gila, aku seperti berada di ruang sidang yang akan mendapatkan hukuman berat. Kedua orang tua coki-coki seperti wartawan saja. Apa seperti ini rasanya, jika seorang wanita diajak ke rumah orang tua calonnya? Sangat menyeramkan.Batin Novi.
Chiko yang duduk di sampingnya terlihat begitu santai tanpa adanya beban. Untungnya adik Chiko tidak bersama mereka karena masih sibuk mengurusi pasiennya di rumah sakit, jika Chaca hadir, pasti akan menambah masalah baru.Sedangkan ayahnya hanya mampu ikut alur dengan keputusan putranya.
“Silahkan di minum nak Novi? kalian sangat serasi, ternyata Chiko selalu merahasiakan asmara kalian rupanya”ucap Bu Wira sambil tersenyum menatap Novi.
“Iya bibi”ucap Novi dengan senyum dipaksakan yang masih saja gugup, bahkan tangannya mulai berkeringat dingin.
“Kapan kalian berencana menikah?”tanya pak Bagus yang mulai angkat bicara.
Chiko yang sedang menyeruput kopi hitam langsung di semburkan keluar, bahkan sampai terbatuk-batuk mendengar ucapan ayahnya. Chiko kembali tenang dengan wajah datarnya dan mulai angkat bicara.
“Kemungkinan 2 bulan ke depan, aku begitu sibuk beberapa minggu kedepannya”ucap Chiko santai yang sama sekali tidak ada beban. Sepertinya ia akan menerima Novi sebagai calon istrinya.
Novi langsung melirik tajam ke arah Chiko dengan jawabannya barusan.
“Kelamaan, pokoknya ibu ingin kalian menikah secepatnya, kalau perlu dua minggu ke depan kalian harus menikah”ucap Bu Wira sambil bersikadap yang sudah tidak ingin dibantah.
Novi dan Chiko membulatkan matanya mendengar ucapan Bu Wira.
“Bu, aku sangat sibuk bekerja, waktu untuk mempersiapkan pernikahan memakan waktu yang lama. 2 minggu begitu cepat bagi kami, ini tidak main-main bu”ucap Chiko yang menolak usulan ibunya.
“Biar ibu yang mengurus semuanya, kalian hanya perlu terima beres. Ibu sudah tidak sabar menjadikan Novi sebagai menantu ibu”ucap Bu Wira sambil tersenyum.
“Ayah setuju, hal yang baik harus disegerakan”ucap Pak Bagus yang menatap tajam putranya. Kemudian beralih menatap istrinya yang mulai memancarkan senyuman bahagia.
“Bu itu…eem baiklah, aku siap menikahi Novi”ucap Chiko pasrah.
Kedua orang tuanya langsung berpelukan sambil tersenyum bahagia. Sedangkan Novi mengepalkan tangannya mendengar ucapan Chiko yang seenak jidatnya.
Kini Chiko dan Novi sudah berada di depan rumah Novi. Namun mereka belum juga uring-uringan untuk turun dari mobil. Keduanya pun hanya saling diam dan begitu syok dengan keputusan kedua orang tua Chiko.
“Bagaimana ini, apa rencana kita selanjutnya. Jujur saja aku tidak ingin menikah dengan mu, kau sama sekali bukan lelaki idealku”ucap Novi yang mulai angkat bicara.
“Kamu pikir, kau adalah wanita idealku, kau hanya si tomboy yang sama sekali bukan tipeku. Kau hanya perlu mengikuti keputusan ibuku, aku sudah pusing memikirkannya”ucap Chiko mencibir. Sambil memijit keningnya.
“Hei tuan Chiko, kau yang sudah membawaku masuk ke dalam urusan keluargamu, mengapa sekarang kau menyetujui ucapan ibumu. Padahal dalam perjanjian kita, tidak ada yang namanya pernikahan. Kalau seperti ini ceritanya, aku tidak akan setuju dengan perjanjianmu yang akan melunasi hutang ku 100 juta yang tempo hari. Apes banget, asal kau tahu, aku belum siap menikah, aku masih ingin bekerja dan membahagiakan ibuku dan kita tidak saling mencintai”ucap Novi yang kesal setengah mati.
“Tolong jelaskan semuanya kepada orang tuamu, dan satu lagi jangan pernah temui aku”ucap Novi yang membuka pintu mobil.
Seketika Novi menghentikan niatnya yang ingin turun dari mobil.
“Menikahlah denganku, urusan cinta atau tidak urusan belakangan, kita bisa belajar mulai sekarang untuk saling mencintai, seiiring berjalannya waktu, kita pasti akan saling mencintai”ucap Chiko yang begitu tulus, entah setang apa yang sedang merasukinya, ia pun mengajak Novi menikah bahkan tanpa sengaja menggenggam tangan Novi.
Novi begitu syok mendengar ucapan lelaki yang selalu saja membuatnya kesal setengah mati. Tapi entah mengapa perasaanya menjadi aneh dan tersentuh di ajak menikah oleh Chiko. Novi pun menjadi bungkam ia pun tidak tahu harus menjawab apa. Menerima atau menolaknya sekarang, ia pun sedang di rundung kebimbangan.
“Aku bersungguh-sungguh mengajakmu menikah gadis tomboy. Apakah kau bersedia atau tidak?”ucap Chiko yang kembali memperjelas ucapannya sambil menatap manik mata Novi yang begitu syok.
“Jika kau belum bisa menjawabnya, aku akan memberimu waktu selama 24 jam”ucap Chiko sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar. Kemudian melepaskan genggaman tangannya.
Aku lakukan semua ini demi kedua orang tuaku. Batin Chiko.
“A…aaku….a..ku”ucap Novi sambil menunduk dengan perasaan campur aduk. Sungguh ia tidak tahu harus menjawab apa. Tidak mungkin ia langsung menolak mentah-mentah niat baik Chiko, tapi ia juga tidak ingin menikahi lelaki yang begitu di bencinya. Untungnya nasib baik memihak kepadanya.
“Kalian sudah datang, ibu dari tadi menunggu kalian”ucap Bu Ani yang sedang menghampirinya.
Novi dengan cepat turun dari mobil diikuti oleh Chiko.
“Apa kau anakku Novi?”tanya Bu Ani yang sama sekali tidak mengenali putrinya yang sedang mengenakan gaun merah.
“Iya Bu, ini Novi anak ibu, belum apa-apa juga sudah tidak mengenaliku”ucap Novi sambil cemberut.
“Sudahlah, mata ibu sedikit rabun. Ayo, sebaiknya kalian masuk”ucap Bu Ani yang langsung menarik tangan Chiko bersama putrinya.
“Ibu, ini sudah larut malam dan tuan Chiko akan segera pulang”ucap Novi sambil melirik tajam Chiko yang tersenyum sinis meliriknya.
“Tak masalah, kebetulan aku ingin mengatakan sesuatu kepada ibumu”ucap Chiko dengan suara berbisik.
Novi malah menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal. Sungguh ia tidak ingin Chiko berterus terang kepada ibunya yang ingin menikahinya.
Kini mereka tengah duduk di sofa dan terlihat begitu tegang. Novi terus saja menatap tajam Chiko untuk tidak berbicara macam-macam. Sedangkan Bu Ani memiliki banyak pertanyaan mengenai penampilan putrinya yang begitu berbeda. Chiko mulai menarik nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskan nya dengan kasar.
“Maksud kedatangan saya kesini ingin meminta restu kepada ibu untuk menjadikan Novi sebagai istri saya. Saya berjanji akan membahagiakannya dan menjadikannya sebagai wanita satu-satunya dalam hidupku. Dan dalam waktu dekat kami akan segera menikah”ucap Chiko tanpa beban yang mulai yakin dengan keputusannya.
Entah mengapa Chiko menjadi kekeh untuk menikahi Novi, gadis tomboy yang sama sekali tidak begitu dekat dengannya. Hanya karena terjebak dengan perjanjian kedua orang tuannya yang memintanya untuk membawa wanita yang akan menjadi calon istrinya, dan begitu nekatnya Chiko menyeret Novi masuk kedalam kehidupannya, sampai-sampai ia mengajaknya menikah.
Hanya karena melihat raut wajah kebahagian kedua orang tuanya yang begitu menyukai Novi sebagai istrinya, membuat Chiko harus menjadikan Novi sebagai istri seutuhnya dan menerimanya apa adanya.
Novi menunduk sambil memegang tengkuknya yang kaku, sudah ia duga pasti Chiko akan melakukan hal ini. Apalagi dari raut wajah Chiko yang begitu tulus mengatakannya di dalam mobil dan dihadapan ibunya.
“Alhamdulillah, ibu sangat setuju. Akhirnya putri satu-satu ibu akan segera menikah dengan lelaki baik seperti nak Chiko. Sungguh ibu selalu berdoa pagi siang malam hanya ingin melihat putri ku menikah, dan akhirnya tuhan menjabah doa ibu. Terima kasih nak Chiko karena sudah memilih Novi sebagai istrimu sekaligus pendamping hidupmu”ucap Bu Ani dengan mata berkaca-kaca, bahkan air matanya mulai menetes dengan perasaan haru yang menyelimutinya.
Novi yang mendengar ucapan ibunya merasa terharu, matanya pun ikut berkaca-kaca, kemudian memeluk ibunya dengan erat. Sosok wanita yang sudah melahirkannya bahkan sekaligus menjadi sosok ayah dalam hidupnya yang sudah membuatnya menjadi wanita kuat dan mandiri menerima pinangan Chiko.
Chiko pun merasa lega dengan ucapannya barusan, ia sudah yakin seratus persen dengan keputusannya. Sosok wanita yang pernah mengisi relung hatinya selama bertahun-tahun mulai hilang seiiring berjalannya waktu. Dan saat ini ia akan membuka lembaran baru bersama wanita yang sama sekali tidak ia cintai. Namun mampu meyakinkan kedua orang tuannya untuk menjadikannya sebagai bagian dari keluarga mereka.
Novi lalu melepaskan pelukannya karena melihat ibunya sudah tenang begitupun dengan dirinya. Novi kembali menatap Chiko yang juga sedang menatapnya.
“Apakah kau bersedia menikah denganku Novita?”tanya Chiko dengan tatapan dingin.
Novi hanya diam, kemudian melirik kepada ibunya yang sedang manggut-manggut yang memintanya untuk menjawab bersedia. Dengan terpaksa Novi ikut mengangguk sebagai jawabannya.
Chiko pun tersenyum tipis, kemudian mengeluarkan sebuah kotak cincin dari balik jasnya. Kemudian meraih tangan Novi. Lalu mengeluarkan cincin berlian dari kotak nya, kemudian menyematkan cincin berlian ke jari manis Novi.
Entah perasaan apa yang Novi rasakan sekarang. Ia hanya mampu menatap cincin berlian yang sudah melingkar di jari manisnya dan itu berarti ia sudah menjadi milik Chiko si coki-coki menyebalkan.
Bu Ani begitu bersyukur, sungguh ia begitu bahagia menyaksikan putrinya sedang diikat oleh Chiko calon menantu idamannya.
Chiko kemudian berpamitan kepada Bu Ani, Novi kembali di minta oleh ibunya untuk mengantar Chiko ke depan. Novi hanya mampu pasrah tangannya di tarik oleh Chiko, dari pura-pura jadi calon istri dan kembali berujung menjadi calon istri sesungguhnya.
“Ingat ya, aku melakukan semua ini demi ibuku”ucap Novi bermode galak.
“Hemm, aku tahu. Kau harus siap menjadi istri ku”ucap Chiko dingin sambil memencet hidung mancung Novi.
Novi menjadi berdengus kesal menatap Chiko.
“Aku pergi dulu”ucap Chiko yang memilih masuk ke dalam mobilnya.
“Pergilah, aku sudah kesal melihatmu”ucap Novi ketus.
Chiko tersenyum sinis, kemudian menancap gas meninggalkan kediaman calon istrinya.
Beberapa hari telah berlalu, kabar tentang pernikahan Chiko dan Novi sudah diketahui oleh Milan dan Fino. Walaupun mereka masih saja tetap merahasiakannya di depan atasannya.
Chiko masih saja bersikap dingin kepada Novi saat berada di perusahaan dan sama sekali tidak ada apa-apa di antara mereka. Novi pun mendapatkan cuti selama seminggu menjelang acara pernikahannya.
Bersambung......
Terima kasih atas dukungannya teman-teman 🤗.