
Milan begitu bahagia mendengar kabar pernikahan antara Chiko dengan Novi. Ternyata niat menjodohkan mereka kesampaian juga. Milan pun memberikan hadiah kepada Novi berupa paket lengkap untuk melakukan perawatan spa di sebuah klinik kecantikan terbaik di Negara B sebelum menjelang pernikahan.
Novi menerima hadiah pemberian Milan dan mengikuti perawatan tersebut untuk memperindah seluruh tubuhnya. Setiap habis melakukan perawatan tubuh, Novi akan menemui kakak angkatnya, sekaligus untuk bertemu Malfin anak kecil yang lucu dan menggemaskan.
“Wah calon pengantin wanitanya semakin cantik saja, pasti Chiko akan tergila-gila kepadamu”ucap Milan yang memuji Novi.
Novi hanya mampu tersipu malu dengan pujian Milan. Perawatan mahal sedang ia jalani membuat permukaan kulitnya menjadi kencang dan glowing pastinya.
“Aku semakin gugup mbak menjelang acara pernikahanku. Aku merasa takut dan was-was, aku masih tidak percaya Coki-coki memilihku sebagai calon istrinya”ucap Novi sambil menunduk.
Bahkan dia selalu saja bersikap dingin dan menyebalkan kepada ku. Batin Novi.
“Percayalah, semuanya pasti akan baik-baik saja, mbak yakin Chiko lelaki yang baik untuk mu. Terkadang apa yang kita lihat baik belum sepenuhnya baik, namun terkadang yang kita lihat buruk malah sebaliknya akan menjadi baik dalam kehidupan kita”ucap Milan sambil tersenyum. “Jadi benci bisa saling mencintai loh, coki-coki akan menjadi lelaki yang akan kamu cintai selamanya”ucap Milan sambil mengelus puncak kepala Novi.
“Kakak Novi”teriak Malfin dan langsung duduk di pangkuan Novi.
“Semakin menggemaskan saja, apa Malfin menjaga mama dan dede bayi dengan baik?”ucap Novi sambil mencubit kecil pipi gembul Malfin.
“Iya kak, aku selalu menjaga mama dan dede bayi dan akan membahagiakannya. Kakak mau menikah ya dengan paman Chiko, kalau perlu undang Malfin ya”ucap Malfin sambil memegang tangan Novi.
Milan dan Novi hanya mampu tersenyum mendengar ucapan Malfin yang begitu lucu.
“Iya sayang, kamu orang pertama yang kakak undang”ucap Novi sambil tersenyum.
Milan pun begitu bersemangat mempersiapkan kado khusus Novi dan Chiko. Bahkan setiap hari ia merengek kepada Fino untuk beli ini beli itu, membuat Fino hanya mampu terus mengiyakan kemauan istrinya.
"Mas, jangan lupa berikan hadiah untuk Chiko untuk berbulan madu di pulau Kana. Pulau Kana sangat cocok untuk mereka berbulan madu, kalau perlu kita ikut bersama dengan nya ya"ucap Milan sambil memasangkan dasi suaminya.
Fino mengerutkan keningnya mendengar ucapan Milan.
"Apa kau tidak trauma ke pulau Kana?"tanya Fino yang sedang memegangi pinggang istrinya.
"Tidak mas, aku bahkan ingin kembali berkunjung ke sana"ucap Milan sambil tersenyum.
"Aku akan memberikan hadiah berbulan madu untuk mereka. Tapi.. aku tidak mengizinkan mu untuk ikut bersama mereka. Setelah acara pernikahan Chiko selesai, aku akan melakukan perjalanan bisnis bersama Chiko selama sebulan"ucap Fino dingin.
"Mas ayolah, demi dede bayi. Bahkan kau akan meninggalkan kami selama sebulan"ucap Milan sambil merengek layaknya anak kecil.
"Pokoknya tidak boleh, sekalian saja kau meminta mereka untuk bulan madu di rumah kita, jika kau ingin mengikuti mereka. Aku hanya mengkhawatirkan mu sayang bersama dede bayi. Aku tidak ingin kalian kenapa-kenapa"ucap Fino sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Baiklah mas, tapi ide mas Fino sangat cemerlang"ucap Milan sambil tersenyum misterius yang selesai memasangkan dasi untuk suaminya.
"Maksudnya?"ucap Fino penuh curiga.
"Chiko dan Novi bulan madu di rumah kita saja ya, pasti seru"ucap Milan sambil tersenyum manis.
Fino hanya mampu tepok jidat mendengar ucapan istrinya. Mau bagaimana lagi, pasti itu faktor pengaruh kehamilannya.
"Mas bagaimana, setuju tidak"ucap Milan sambil mengalungkan tangannya di leher suaminya.
"Hemm, baiklah"ucap Fino pasrah.
muachhh muachhh
Milan langsung membanjiri ciuman seluruh wajah suaminya. Belum juga Chiko menikah, namun sepasang suami istri itu sudah berdebat mengenai bulan madu mereka.
Hari yang di tunggu-tunggu oleh sebagian orang akhirnya terwujud juga. Tepatnya hari ini, pernikahan Chiko dan Novi akan di laksanakan di kediaman Novi. Pernikahan mereka begitu tertutup, dikarenakan kemauan mereka sendiri dan hanya akan di hadiri oleh kerabat terdekatnya dan beberapa sahabat dari Chiko maupun Novi.
Chiko terlihat tampan dengan texudo putih yang melekat di tubuhnya yang berada di antara keluarga besarnya yang baru saja tiba di kediaman Novi. Bu Ani beserta kerabatnya menyambut hangat kedatangan keluarga besar Chiko dan mempersilahkannya duduk di kursi yang telah disediakan untuk para tamu.
Sementara Novi begitu cantik dengan balutan gaun pengantin berwarna putih yang begitu pas di tubuhnya. Riasan wajahnya begitu elegan. Sungguh tangan-tangan handal dari para perias profesional yang terjun langsung merias wajahnya. Rambutnya disanggul seindah mungkin, hingga leher jenjangnya terpampang indah. Sungguh dihari bahagianya, Novi benar-benar memancarkan aura kecantikannya.
Tak sia-sia Milan memberikan paket perawatan untuknya. Karena mampu mengubah tubuhnya menjadi indah dan cukup menarik untuk di pandang.
Novi masih duduk di kursi meja riasnya, sambil menatap penampilannya di dalam cermin. Ia pun begitu takjub dan tidak percaya bahwa di dalam cermin adalah dirinya.
"Aku sama sekali tidak mengenali diri ku" ucap Novi sambil tersenyum tipis.
"Masya Allah, kau sangat cantik nak. Sungguh ibu sangat bahagia melihat mu mengenakan gaun pengantin. Ayahmu pasti sangat senang dengan pernikahan mu"ucap Bu Ani dengan mata berkaca-kaca.
"Iya Bu ayah pasti senang di alam sana. Jangan seperti ini, aku bisa saja mewek dan merusak riasan wajah ku"ucap Novi manja sambil menangkup wajah ibunya.
"Ayo kita turun ke bawah, keluarga besar nak Chiko sudah ada di bawah dan sedang menunggu mu, apa kau sudah siap nak" ucap Bu Ani yang menghampiri putrinya.
"Aku siap Bu" ucap Novi sambil tersenyum manis menatap ibunya.
Aku seolah semua ini hanya sebuah ilusi Bu, aku bahkan tidak pernah terpikirkan untuk menikah dengan coki-coki, apakah ini nasib sial atau sebuah keberuntungan menikahi lelaki dingin itu. Tapi aku berharap, pernikahan ini memberiku keberuntungan. Batin Novi.
Fino bersama keluarga kecilnya sudah berada di tengah-tengah acara. Mereka begitu kompak dengan mengenakan pakaian Couple berwarna Navi.
Malfin begitu menggemaskan mengenakan setelan jas yang senada dengan papahnya, bahkan terlihat layaknya orang dewasa. Milan selalu saja tampil anggun dengan balutan muslimah nya yang sedang duduk di kursi sambil menggenggam tangan Malfin berbaur dengan kerabat dekat Bu Ani.
"Mas, lihat Chiko, raut wajahnya begitu berubah. Ia sepertinya sedang gugup berat duduk di depan pak penghulu"ucap Milan sambil tersenyum menatap lurus ke depan.
"Kau ada-ada saja, semua yang menempati kursi tersebut pasti akan mengalami perasaan gugup. Aku pun pernah mengalaminya saat menikah dengan mu"ucap Fino sambil tersenyum tipis.
"Tapi raut wajah mu tidak pernah berubah waktu itu, yang jelas kau selalu saja tampan di mataku" ucap Milan sambil memeluk lengan suaminya.
"Dasar narsis, tapi memang kenyataan" ucap Milan sambil tersenyum manis.
"Mama, aku ingin duduk di dekat paman Chiko"ucap Malfin yang melihat kursi kosong di samping Chiko.
"Tidak boleh nak, itu kursi untuk kak Novi. Sekarang paman Chiko akan menikah dengan kak Novi dan harus duduk berdampingan di kursi itu" ucap Milan menjelaskan.
"Ooh, jadi begitu ma, hampir saja Malfin duduk di tempat kak Novi"ucap Malfin sambil tersenyum.
Terlihat Novi mulai menuruni anak tangga di dampingi oleh ibunya. Kedua sahabatnya dan para kerabatnya mulai bersorak riuh melihat pengantin wanita yang begitu cantik. Novi terus memasang senyuman termanis nya di hadapan mereka.
"Malfin, lihat kak Novi sangat cantik bukan. Mama sangat senang melihatnya, akhirnya dia bisa menikah dengan paman Chiko"ucap Milan yang juga terlihat heboh.
"Iya ma, lumayan cantik, soalnya tidak ada yang mengalahkan kecantikan mama"ucap Malfin yang begitu pandai memuji mamanya.
"Kamu pandai juga memuji Mama mu nak"ucap Fino sambil mengelus puncak kepala putranya.
Chiko pun ikut melirik calon istrinya. Tatapan Chiko sulit diartikan, kemudian dengan cepat mengalihkan pandangannya, saat Novi duduk di samping nya. Kemudian pak penghulu mulai menikahkan mereka.
Sah
Teriakkan kata sah menggema di ruang tamu yang menjadi saksi bisu pernikahan Chiko dengan Novi. Semua kerabat dan tamu undangan begitu senang menyaksikan pernikahan kedua insan yang berawal dari sandiwara malah berakhir di pelaminan.
Novi kemudian mencium punggung tangan Chiko yang sudah sah menjadi suaminya. Setelah itu, giliran Chiko yang mencium kening Novi, gadis tomboy yang mampu mengambil hati kedua orang tuanya.
Selanjutnya pasangan yang baru saja menikah kembali melakukan sungkeman kepada kedua orang tua mereka dan banyak wejangan telah mereka dapatkan dari orang tercintanya.
Novi dan Chiko kemudian duduk bersama di kursi pelaminan. Keduanya terlihat begitu canggung, namun masih bisa curi-curi pandang. Seluruh tamu undangan mulai menyalaminya dan memberikan selamat atas pernikahan mereka.
"Aku tidak menyangka kamu menikah dengan tuan sekretaris, selamat ya, semoga kalian cepat diberikan momongan "ucap Nita sambil berbisik yang merupakan karyawan perusahaan Alexander Group dan sekaligus sahabat Novi sedari kecil.
"Selamat sayangku, ternyata Abang cantikku sold out juga"ucap Gadis terkekeh.
"Terima kasih, kalian juga cepat nyusul"ucap Novi sambil tersenyum.
Kini giliran Chaca yang memberikan selamat kepada kakaknya.
"Cantik banget sih kakak ipar ku, pantas saja kakakku klepek-klepek, selamat ya, semoga kalian selalu bahagia"ucap Chaca kemudian cipika cipiki kepada kakak iparnya.
Novi hanya mampu merona mendengar ucapan Chaca, sedangkan Chiko hanya mampu melirik nya. Kemudian Chaca berpindah kepada kakaknya.
"Akhirnya kakakku bisa nikah juga. Jangan lupa buatkan ibu cucu secepatnya"ucap Chaca sambil tersenyum, lalu memeluk kakaknya.
"Hemm, cepatlah menyusul dan jangan merepotkan ayah dan ibu"ucap Chiko.
"Siap kakakku"ucap Chaca kemudian melepaskan pelukannya.
Kini giliran Fino bersama keluarga kecilnya yang akan memberikan selamat kepada pasangan baru menikah.
"Senengnya melihat kalian berdua menikah, benar-benar pasangan serasi. Selamat ya atas pernikahan mu, mbak turut bahagia, semoga kalian menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah, amin" ucap Milan, kemudian memeluk Novi.
"Terima kasih mbak, sudah sempat hadir di pernikahan ku"ucap Novi sambil tersenyum.
Kemudian Fino pun menyalami pengantin baru itu. Tak lupa Fino merangkul Chiko sambil membisikkan sesuatu.
"Aku memberimu hadiah satu unit mobil dan paket bulan madu atas pernikahan mu. Kalian bisa menghabiskan waktu bersama. Ingat baik-baik kau harus mengiyakan seluruh ucapan istri ku nantinya. Dan terakhir, cepat luncurkan chiko junior yang akan menjadi teman bermain anak-anakku"ucap Fino sambil berbisik kemudian melepaskan rangkulannya.
"Terima kasih tuan, pasti saya akan berusaha mewujudkannya"ucap Chiko yang selalu saja bersikap sopan dihadapan atasannya.
"Hemm".
Fino kemudian merangkul istrinya dan mulai melangkah
"Aku hampir lupa mas" ucap Milan yang berbalik badan.
"Apa itu?".
"Kalian jangan lupa datang ke rumah kami untuk berbulan madu, kami akan tunggu kehadiran kalian"ucap Milan sambil tersenyum.
Novi dan Chiko terkejut bukan main, raut wajah keduanya langsung berubah. Wajah Novi kembali merona, sementara Chiko memilih untuk tenang dan mulai angkat bicara.
"Pasti nona, suatu kehormatan bagi kami berbulan madu di kediaman nona"ucap Chiko dengan hati-hati.
Karena Fino sedang menatapnya dengan tatapan tajam dan baru saja memperingatkan nya.
"Ayo sayang, Malfin menunggu kita"ucap Fino kemudian merangkul pinggang istrinya.
"Iya mas"ucap Milan tanpa bersalah.
Sedangkan Chiko dan Novi hanya mampu menghembuskan nafasnya dengan kasar dan mulai terkapar di sofa. Setelah para tamu undangan pada pulang ke rumah mereka masing-masing.
Bersambung.......
Jangan lupa dukungannya ya teman-teman 🙏 Selamat membaca 😊