Mafia Couple Love

Mafia Couple Love
Tiba di kota


Makan malam yang terasa hening sudah Milan jalani sepeninggal oma Ina. Beberapa bulan lalu, ia pun selalu makan malam bersama oma Ina, namun kali ini, ia pun harus rela makan malam seorang diri. Bi Ros dan kedua pelayan yang sering ia ajak untuk makan malam bersama selalu saja menolaknya dengan halus, bahkan selalu mencari alasan untuk tidak makan malam bersamanya.


Milan menjadi tidak enak hati kepada mereka. Ia hanyalah orang baru yang harus mereka layani dengan baik, tapi Ros dan kedua pelayan wanita menganggap semua itu adalah hal yang wajar bagi seorang pelayan yang tidak boleh melewati batas dengan cara duduk bersama sang majikannya. Mereka pun menghormati dan menyayanginya Milan selama berada di kediaman Oma Ina.


Sehabis menghabiskan makan malamnya. Tak lupa Bi Ros kembali menyodorkan susu ibu hamil untuk Milan.


“Terima kasih Bi”ucap Milan sambil tersenyum, kemudian kembali meneguk segelas susu ibu hamil hingga tandas.


Bi Ros kembali mengangguk, namun tiba-tiba ia pun tersenyum tipis mendengar sendawa Milan.


“Aku ke kamar dulu bi”ucap Milan sambil bangkit dari tempat duduknya.


“Biar saya antar ke kamar nona, sekalian membantu nona mempacking barang-barang yang akan nona bawa ke kota”ucap Bi Ros, kemudian mendekat ke arah Milan.


“Baiklah Bi”ucap Milan lalu berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua, diikuti bi Ros yang mengekor di belakangnya.


Saat tiba di kamarnya Milan memilih masuk kedalam toilet untuk sikat gigi dan membersihkan wajahnya menggunakan skincare pembersih wajah. Milan kembali memperhatikan wajahnya yang semakin gembul di dalam cermin, setelah itu, ia pun tersenyum memandangi wajahnya yang dapat berubah drastis hanya beberapa bulan ini.


Milan mulai mempacking barang-barang yang akan ia bawa ke kota. Karena tidak menutup kemungkinan, ia akan tinggal beberapa bulan di kota demi mengurus persalinannya. Bi Ros turut membantunya mempacking barang-barangnya.


“Nona Melati, saya sudah menyuruh pak Adi untuk menyiapkan helikopter untuk digunakan ke kota. Kata pak Adi helikopternya akan datang sore hari. Dikarenakan anak pak Ramli yang menggunakan helikopter Almarhumah Oma Ina untuk melakukan perjalanan berobat ke kota”ucap Bi Ros.


“Tidak apa bi, lagian anak pak Ramli sedang dapat musibah. Kasian juga kalau dia tidak menggunakan helikopter Almarhumah Oma Ina ke kota. Takutnya dalam perjalanan ke kota akan menghambat perjalanan mereka sampai ke rumah sakit”ucap Milan sambil menyusun hasil packingannya ke dalam koper.


“Sungguh nona melati wanita baik dan selalu mendahulukan kepentingan orang lain”ucap Bi Ros sambil tersenyum ke arah Milan.


Bi Ros selalu mendampingi Milan dimana pun berada, sehingga ia mampu melihat sifat keseharian Milan yang selalu ia layani dan jaga layaknya majikannya yang terdahulu yaitu oma Ina.


Milan hanya mampu tersenyum ke arah Bi Ros, ia pun sudah menganggap Bi Ros layaknya bibinya sendiri. Dikarenakan wanita paruh baya itu selalu melayaninya dengan baik.


“Sebaiknya nona Milan beristirahat saja, ini sudah larut malam. Biar saya saja yang menyelesaikan semua ini”ucap Bi Ros, karena sesekali melihat Milan menguap berkali-kali.


“Tidak mengapa bi, tanggung jika tidak diselesaikan. Lagian cuman sedikit lagi, baru akan selesai”ucap Milan lalu kembali memasukkan hasil packingannya ke dalam koper miliknya.


Mereka pun bekerja sama untuk menyelesaikan hasil packingan pakaian Milan dan barang-barang yang akan di bawa pergi ke kota.


“Akhirnya selesai juga. Sebaiknya Bi Ros istirahat juga. Bukankan besok kita harus berangkat ke kota”Ucap Milan yang kini duduk di pinggir tempat tidur.


“Iya Nona, selamat malam”ucap Bi Ros lalu undur diri dari hadapan majikannya.


Milan kembali berjalan dengan hati-hati menuju toilet untuk buang air kecil. Selepas itu, ia pun kembali naik ke tempat tidur. Milan mulai menatap jendela tempat tidurnya. Ia pun merasa resah dan tidak bisa tidur. Bayangan Fino kembali menghantuinya, pikirannya mulai berkeliaran kemana-mana. Bahkan belum juga ke kota, namun Milan mulai gelisah memikirkan jika ia sampai bertemu kembali dengan Fino. Apalagi saat ini, perutnya yang buncit tidak mampu ia sembunyikan lagi kehamilannya dari siapa pun, termasuk Fino mantan suaminya.


“Aku harus bisa melewati semua ini, tak peduli jika aku harus bertemu kembali dengan tuan Fino. Biarlah dia mengetahui kehamilanku saat ini, toh dia pun pastinya tidak peduli denganku”ucap Milan lalu kembali menyentuh perutnya.


Milan memilih memejamkan matanya, berharap hari esok akan lebih baik dengan hari-hari yang sudah ia lalui di desa Sabang.


Sementara di kediaman Fino….


Fino sedang berada di balkon kamarnya sambil memandangi wajah wanita yang sangat ia rindukan.


“Milan, kumohon kembalilah di sisiku, aku benar-benar merindukanmu. Aku sangat kehilangan dirimu. Aku ingin hidup bersamamu dan membangun kembali rumah tangga kita menjadi rumah tangga yang paling bahagia”ucap Fino dengan mata berkaca-kaca.


Baru kali ini Fino merasa hampa ditinggalkan oleh seorang wanita. Ia menjadi gundah gulana, sungguh sosok Milan tidak akan pernah digantikan oleh siapapun dalam hatinya. Walaupun Milan selalu bersikap dingin kepadanya, entah mengapa hari-hari yang ia lalui bersama Milan cukup berkesan baginya.


“Aku harap kau tetap sehat bersama buah hati kita”ucap Fino, sambil mengusap foto Milan dengan perut buncitnya.


“Maafkan aku yang sudah menyakitimu dan membuatmu pergi dari sisiku. Aku berjanji akan membahagiakan mu. Kita harus memulai kembali hubungan kita”ucap Fino yang terus saja menatap foto Milan.


Keesokan harinya….


Milan mulai bersiap-siap di kamarnya. Ia pun menggunakan pakaian syar'i yang berukuran jumbo, belum lama ini ia beli di pasar lokal. Maklum bobot tubuhnya naik secara drastis, sehingga ia harus menggunakan pakaian yang berukuran jumbo. Tak lupa Milan mengambil masker dan juga selendang sutra pemberian Bu Ani. Milan lalu meletakkan selendang sutra itu di bagian kepalanya. Milan kembali melirik topeng pemberian si kembar di atas nakas.


Lagi-lagi Milan kembali tersenyum jika membayangkan dirinya menggunakan topeng tersebut.


"Aku tidak mau lagi menggunakan topeng pemberian Dafa dan Dafi. Aku tidak ingin menyembunyikan wajah ku menggunakan topeng itu. Lihatlah sayang, Mama mu terlihat berbeda dengan pipi gembul ini"ucap Milan sambil tersenyum di balik cermin.


"Malaikat kecil ku, kita harus ke kota hari ini. Jadi jangan rewel ya di dalam perut mama" ucap Milan sambil mengelus perutnya yang mencoba berbicara dengan calon bayinya.


Bi Ros masuk ke dalam kamarnya, lalu mendekat ke arahnya.


"Nona Melati sudah siap?"tanya Bi Ros yang juga terlihat rapi dengan penampilannya.


"Sudah bi"ucap Milan yang mengalihkan pandangannya ke arah Bi Ros.


Mereka lalu berjalan beriringan keluar dari kamar, kemudian menuruni anak tangga untuk menemui pak Adi di halaman depan.


"Silahkan masuk nona"ucap pak Adi yang membukakan pintu mobil untuk Milan.


"Terima kasih pak"ucap Milan kemudian masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang bersama bi Ros.


"Saya hanya mengantar nona ke lapangan desa. Helikopternya sudah mendarat di sana. Pak Sofyan sebagai pilotnya yang akan mengantar nona ke kota. Maaf nona, saya tidak menemani nona ke kota"ucap Pak Adi sambil menunduk.


"Tidak apa-apa pak, jangan dipermasalahkan, pekerjaan pak Adi begitu banyak setelah saya pergi. Karena bapak yang harus menggantikan saya mengurus semua perkebunan. Saya yang harusnya berterima kasih kepada pak Adi"ucap Milan dengan tenang.


"Semoga nona tetap sehat bersama calon bayinya, dan persalinan nyonya tetap dilancarkan oleh Tuhan"ucap pak Adi.


"Amin"ucap Milan sambil tersenyum. Diikuti juga oleh BI Ros.


Pak Adi kemudian masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi. Mobil melaju meninggalkan halaman rumah.


Kini mobil yang membawanya tiba di lapangan desa. Pak Adi kemudian turun dari mobil, lalu berjalan untuk membuka bagasi mobil. Tiga buah koper diturunkan dari bagasi mobil tersebut. Milan dan Bi Ros mulai turun dari mobil.


Tampak helikopter sudah mendarat di lapangan terbuka dan sudah siap untuk berangkat ke kota. Pak Adi kemudian membawa koper tersebut masuk ke dalam helikopter. Setelah itu, pak Adi kemudian membantu Milan naik ke helikopter.


"Ros, aku percayakan kepada mu untuk menjaga nona Melati"ucap pak Adi dengan suara meninggi, karena suara mesin helikopter yang mulai memecah telinga.


"Iya mas Adi, aku pergi dulu"ucap Bi Ros yang juga meninggikan suaranya. Kemudian masuk ke dalam helikopter dan duduk di samping Milan.


Helikopter yang akan membawanya ke kota mulai terbang meninggalkan tempat tersebut. Milan hanya mampu duduk tenang di samping Bi Ros menggunakan earphone hingga helikopter yang membawanya tiba di pusat kota negara B.


Sekitar satu jam, helikopter yang membawanya mendarat di kediaman almarhumah Oma Ina yang terletak di pusat kota. Luasnya pekarangan rumah membuat helikopter tersebut bebas untuk mendarat.


Ketiga Penjaga di kediaman tersebut mulai menghampiri mereka. Bi Ros terlebih dahulu turun dari helikopter. Kemudian barulah ia membantu Milan turun dari helikopter. Sedangkan penjaga mulai menurunkan koper bawaan Milan dengan Bi Ros lalu membawanya masuk ke dalam rumah.


"Tolong ambilkan air untuk nona Milan"teriak Bi Ros yang melihat dua pelayan wanita yang berada di ambang pintu masuk.


Milan memilih duduk di teras sambil melihat suasana baru disekelilingnya. Tak berselang lama kemudian, dua Pelayan wanita mulai menghampirinya sambil membawa nampan berisi cemilan, minuman dingin dan segelas air putih.


Milan memilih minum segelas air putih untuk menghilangkan dahaganya.


"Bi Ros, aku ingin ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan ku dan sekalian aku ingin melakukan USG"ucap Milan dengan antusias. Ia sama sekali tidak lelah melakukan perjalanan jauh.


"Bukankah kita baru saja sampai nona"ucap Bi Ros dengan hati-hati.


"Tak masalah bi, aku ingin sekali melakukan USG terhadap janinku, Bi Ros ku mohon temani aku ya"ucap Milan yang terlihat memohon.


"Baiklah nona, tapi setidaknya setengah jam dulu. Saya harus mengabari pak Adi dan lainnya di desa"ucap Bi Ros yang mulai mengeluarkan ponselnya.


"Ya sudah bi, aku siap menunggu"ucap Milan yang terlihat bahagia sambil mengelus perutnya.


Ia sama sekali tidak memikirkan sosok lelaki yang dibencinya yang bisa saja bertemu dengannya kapan pun itu.


Ada apa dengan ku, mengapa perasaan ku tidak nyaman. Batin Bi Ros.


Mobil yang membawanya berhenti tepat di halaman rumah sakit. Milan kemudian turun dari mobil disusul oleh Bi Ros. Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam rumah sakit. Milan terlebih dahulu bertanya kepada staff administrasi rumah sakit untuk menanyakan ruangan dokter spesialis kandungan.


Milan kemudian diarahkan oleh perawat menuju ruangan dokter spesialis kandungan. Milan dan Bi Ros memilih duduk di kursi tunggu. Ia pun menunggu antriannya. Terlihat ibu hamil bersama suaminya tengah duduk berjejeran di kursi tunggu yang juga ikut melakukan antrian. Raut wajah Milan tiba-tiba menjadi murung melihat pemandangan di depan matanya.


"Antrian selanjutnya atas nama Bu Melati"ucap perawat yang sedang berjaga di depan pintu ruangan tersebut.


Milan lalu bangkit bersama bi Ros. Mereka lalu masuk ke dalam ruangan dokter spesialis kandungan. Terlihat dokter wanita langsung tersenyum melihatnya, Milan juga ikut tersenyum melihat dokter tersebut.


Milan kemudian menjalani pemeriksaan kandungan. Setelah itu, ia pun melakukan USG. Terlihat bayi dalam perutnya mulai bergerak-gerak di dalam layar monitor. Tak terasa mata Milan berkaca-kaca melihat pemandangan indah itu di dalam perutnya. Bi Ros beserta dokter wanita tersenyum melihat janin Milan yang terlihat aktif. Setelah selesai melakukan pemeriksaan, Milan di berikan hasil pemeriksaan USG nya.


Mata Milan berbinar-binar keluar dari ruangan dokter. Di sepanjang lorong rumah sakit, tak henti-hentinya Milan tersenyum bahagia. Tak lupa Milan menggenggam erat tangan Bi Ros berjalan keluar rumah sakit. Milan hanya mampu menggenggam tangan Bi Ros, harusnya suaminya yang patut ia genggam tangannya, apalagi melihat pemandangan ibu hamil bersama suaminya yang begitu romantis menurutnya.


"Bi aku ingin ke kedai es krim sana"ucap Milan sambil menunjuk kedai es krim yang berada di sebrang jalan.


"Ya sudah nona, saya tunggu di sini saja, takutnya pak supir tidak melihat keberadaan kita. Hati-hati nona"ucap Bi Ros.


" Aku pergi dulu bi"ucap Milan yang begitu bahagia sambil memegang hasil pemeriksaan USG di tangan kirinya.


Milan menyebrang ke sebrang jalan untuk membeli es krim. Namun sekelompok orang yang baru saja turun dari minibus terlihat memberontak, mereka pun mulai menghancurkan setiap toko di tempat tersebut. Milan terlihat biasa-biasa saja melihat kejadian tersebut. Ia pun memilih berjalan cepat menuju kedai es krim yang tidak jauh dari puncak kekacauan.


"Pak es krim rasa stroberi lima cap"ucap Milan sambil kembali melihat keributan yang terjadi tidak jauh darinya. Milan memilih duduk di dalam kedai. Ia tidak ingin keluar jika kekacauan itu masih berlanjut.


Dor


Dor


Bunyi tembakan kembali terjadi di luar sana.


"Nona sebaiknya, bersembunyi dulu di sini. Di luar sana sering terjadi kekacauan seperti ini di sore hari. Pemilik toko sebelah memiliki banyak hutang kepada seorang mafia. Jadi sebulan sekali akan mendapatkan penagih dari para Mafia, kata teman saya yang mendengar kabar tersebut"ucap pemilik kedai es krim yang sedang menyiapkan pesanan pembelinya.


"Oh begitu pak"ucap Milan sambil terus menatap ke arah kekacauan yang terjadi.


Sementara Bi Ros mulai panik mendengar suara tembakan yang tidak jauh dari tempat ia menunggu Milan. Bi Ros pun ikut menyusul majikannya ke kedai es krim yang di maksud oleh Milan.


Tak jauh dari halaman rumah sakit. Seseorang wanita yang berwajah mirip dengan Milan baru saja keluar dari rumah sakit. Wanita itu saling bercanda gurau dengan lelaki di sampingnya.


"Bagaimana ya reaksi Fino Alexander saat melihat wajah ku yang mirip dengan istrinya, ha ha ha"ucap wanita itu sambil tertawa terbahak-bahak.


"Gabriela, kau memang wanita yang sangat cerdik. Bagaimana mungkin kamu mengubah wajah mu mirip dengan istri musuh mu"ucap lelaki di sampingnya.


"Aku bisa saja melakukan apapun, terhadap musuhku termasuk mengubah wajah ku. Ini sudah enam bulan lebih, aku menjalani perawatan habis pasca operasi wajah yang menyerupai istri Fino Alexander"ucap Gabriela sambil tersenyum sinis.


Ya dia adalah Gabriela yang memilih mengubah wajahnya demi membalaskan dendam nya kepada Fino Alexander.


"Anak buah mu kembali melakukan kekacauan di toko swalayan di sebrang jalan"ucap Gabriela sambil menunjuk toko yang di serang oleh para anak buahnya.


"Biarkan saja, pemilik toko itu memiliki hutang dengan jumlah banyak kepada ku"ucap lelaki di sampingnya.


"Erick, ku harap kau bisa menyelesaikan masalah ini. Aku tidak ingin terjadi seperti itu lagi. Kalau perlu bunuh saja seluruh anggota keluarga pemilik toko itu, gampang kan"ucap Gabriela sambil tersenyum sinis.


Sebuah mobil mewah berhenti tepat di samping nya. Gabriela beserta lelaki bernama Erick masuk ke dalam mobil. Mobil pun melaju menuju tempat kekacauan yang berjarak sekitar 100 meter dari lokasi rumah sakit.


Gabriela terus melihat ke arah jalanan yang di lewatinya. Matanya tak sengaja menangkap sosok wanita yang berwajah mirip dengannya.


"Berhenti!"ucap Gabriela secara tiba-tiba.


"Ada apa Bela"ucap Erick yang berada di samping nya.


"Lihatlah wanita di dalam kedai es krim itu"ucap Gabriela sambil menunjuk wanita di dalam sana.


"Terus!".


"Bodoh!, Kita harus menghabisinya"ucap Gabriela.


"Apa kau yakin ingin menghabisinya, lihatlah dia sedang hamil besar"ucap Erick yang begitu memperhatikan Milan yang mulai bangkit dari tempat duduknya.


"Hemm, justru yang begini begitu gampang di lenyapkan"ucap Gabriela sambil tersenyum getir.


Gabriela lalu menghubungi anak buahnya yang sedang melakukan kekacauan berjarak tidak jauh dari tempatnya berada, hanya dua toko dari kedai es krim tersebut.


Gabriela kembali tersenyum sinis, sambil menatap Milan yang sedang menyerahkan beberapa lembar uang kepada pemilik kedai es krim. Terlihat Milan mulai berjalan keluar dari kedai. Karena ia sudah tidak mendengar suara keributan.


Sementara anak buah Gabriela sudah berada di lantai dua toko yang berada di sebrang jalan yang berhadapan dengan kedai es krim yang baru saja Milan masuki. Terlihat lelaki bertubuh kekar sedang membidik senapan panjangnya ke arah Milan.


Langkah Milan terlihat hati-hati berjalan keluar dari kedai es krim. Milan berhenti sejenak, melihat kembali ke arah kekacauan tadi.


"Sepertinya sudah aman"ucap Milan lalu memilih kembali berjalan untuk menyebrang di sebrang jalan dimana Bi Ros sedang berjalan ke arahnya.


Sebuah mobil sport hitam mulai melaju kencang ke arahnya. Terlihat pengemudi mobil itu mengurangi kecepatannya saat melihat sosok wanita hamil sedang menyeberang jalan. Mata lelaki itu membulat sempurna saat melihat sosok wanita itu lebih dekat dari pandangannya, sungguh ia begitu shock melihat wanita yang sangat ia rindukan.


"Milan"ucap lelaki itu yang tidak lain adalah Fino Alexander.


Fino kemudian memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, ia pun dengan cepat turun dari mobil untuk segera menemui Milan.


Terlihat Milan mulai menyebrang dengan hati-hati sambil melihat ke kiri dan ke kanan.


"Selamat tinggal wanita hamil"ucap lelaki kekar yang sedang membidik Milan, lalu menarik pelatuk senapannya.


Dor.


Tembakannya berhasil mengenai perut Milan, Kedua tangan Milan menjatuhkan barang bawaannya. Milan dengan cepat memegangi perutnya yang mulai mengeluarkan darah segar.


"Milan!"teriak Fino sambil terus berlari ke arah Milan.


Sementara Bi Ros yang berada di sebrang jalan ikut shock melihat kejadian tersebut. Sedangkan si penembak mulai menghentikan aksinya saat melihat kedatangan Fino.


Milan begitu shock melihat darah segar yang mulai bercucuran di perutnya, rasa sakit langsung menjalar di seluruh tubuhnya. Keseimbangan tubuhnya mulai oleng, ia pun mengalami kontraksi mendadak, Milan sekuat tenaga kembali melangkahkan kakinya.


"Ya Tuhan, tolong lindungi malaikat kecil ku"ucap Milan dengan mata memerah. Namun tubuhnya sudah tidak mampu ia topang dengan baik. Milan hanya mampu pasrah saat tubuhnya mulai oleng dan ingin terjatuh di aspal.


Untungnya dengan cepat Fino menangkap tubuhnya. Pandangan mata keduanya kembali bertemu.


"Milan bertahanlah"ucap Fino sambil menopang tubuh Milan.


Milan hanya mampu melihatnya dengan mata sendunya.


"Tuan"ucap Milan sambil menyentuh wajah Fino dengan tangannya yang sudah berlumuran darah. Setelah itu, ia pun memejamkan matanya.


"Tidak, Milan bertahanlah, aku sangat mencintaimu"ucap Fino dengan mata memerah.


Fino dengan cepat mengangkat tubuh Milan dan membawanya masuk ke dalam rumah sakit. Fino terus berjalan dengan cepat masuk ke dalam rumah. Fino berteriak minta tolong kepada perawat, perawat dengan cepat menyiapkan brankar untuk Milan. Fino mulai mendorong brankar yang di tempati oleh Milan bersama perawat menuju ruang UGD. Sementara Bi Ros terlihat gemetaran mengikuti langkah kaki perawat yang membawa Milan menuju ruang UGD.


Bersambung.....


Terima kasih atas dukungannya teman-teman 🙏🙏🙏


Mohon maaf bila alurnya tidak sesuai dengan harapan teman-teman semua 🙏🙏🙏.