
Milan mengepalkan tangannya di bawah selimut dengan mata memerah. Sungguh ia tidak ingin terlihat lemah dihadapan lelaki yang selalu saja menghinanya bahkan tidak segan menindas nya.
“Ha ha ha…hanya itu kemampuanmu menikmati tubuh murahan ku, menyedihkan!”ucap Milan dengan tawa misteriusnya. “Tapi yaa, dengan memandikanku uang seperti ini, membuatku semakin bersemangat untuk kembali mencari lelaki kaya yang akan membayar ku mahal, dan lumayan juga uang ini untuk perawatan tubuhku, agar menjadi gadis ting-ting lagi. Apalagi statusku kembali berubah”ucap Milan dengan senyum sinis nya, padahal dalam hatinya ia sangat terpukul.
Sementara Fino hanya menatapnya dengan tatapan tajam, sambil bersikadap.Layaknya ia ingin kembali menerkam Milan dengan ucapannya yang membuatnya emosional.
“Tapi sayangnya, semua uang ini tak sebanding dengan kerja kerasku melayani mu”ucap Milan sambil menghambur-hamburkan uang diatas selimutnya, yang berpura-pura terlihat biasa-biasa saja.
“Angkat kaki dari rumahku, aku sudah tidak sudi melihat wajahmu, dan jangan lupa bawa semua uang itu”ucap Fino marah yang begitu terpancing dengan ucapan Milan.
Akhirnya, inilah yang aku tunggu untuk lepas dari lelaki yang sangat aku benci. Maafkan aku nyonya Ratu, sungguh aku tidak sanggup bertahan dengan rumah tanggaku, aku hanyalah penghianat di dalam rumah tangga ini. Aku pun tidak ingin memberikan aib kepada keluarga Alexander dengan kehamilanku saat ini. Pada dasarnya aku hanya bisa membuat kalian kecewa kepadaku. Batin Milan sambil menundukkan pandangannya.
“Baiklah, aku pun sudah tidak betah berada di dalam rumah seorang monster dingin. Untuk uangnya, tidak bisakah anda alihkan menjadi kartu black card. Soalnya uang tunai ini hanya menyusahkanku untuk dibawa kemana-mana, cukup black card saja bukan. Lagian anda terkenal kaya raya, kartu seperti itu hanya kecil bagimu”ucap Milan yang sengaja bertingkah layaknya wanita bayaran, toh harga dirinya di depan Fino sudah dinjak-injak bagaikan sampah.
Fino menggepalkan tangannya dengan wajah yang kembali memanas dengan ucapan Milan.
“Kau!...tidak hanya murahan, tapi juga matrealistis”teriak Fino. Ia Pun kembali mengambil dompetnya diatas nakas. Kemudian mengeluarkan satu kartu black card, lalu dilemparkan ke arah Milan.
Milan pun dengan sigap menangkap kartu tersebut, sungguh ia benar-benar menjadi wanita murahan di mata Fino Alexander.
Apa kamu pikir aku begitu senang menerima kartu ini. Asal kau tahu tuan Fino, aku melakukan semua ini dengan terpaksa, aku bahkan ingin menghancurkan kartu ini dihadapan mu. Batin Milan dengan mata yang berkaca-kaca yang sudah ingin tumpah dari kelopak matanya.
Namun Milan berusaha keras untuk tidak menangis dihadapan Fino, karena itu bisa membuatnya terlihat lemah.
“Aku hanya memberi mu waktu sepuluh menit untuk bersiap-siap meninggalkan rumahku”ucap Fino dingin, kemudian memilih berjalan menuju balkon kamarnya.
Milan kembali menundukkan pandangannya, harusnya ia bahagia mendengar ucapan Fino barusan, akan tetapi entah mengapa hatinya benar-benar sesak mendengar tutur kata Fino yang sungguh tega mengusirnya di larut malam seperti ini.
Kemudian Milan turun dengan hati-hati dari tempat tidur, sambil membalut tubuhnya dengan selimut tebal, tubuhnya yang remuk tidak ia hiraukan. Ia pun berjalan dengan tertatih-tatih menuju ruang ganti untuk mencari pakaian untuknya. Setelah itu, ia pun keluar dari ruang ganti yang sudah mengenakan pakaian hangat dengan celana panjang sambil membawa paper bag.
Terlihat Fino sedang duduk termenung di sofa, sambil membolak-balikkan ponselnya. Milan lalu menghampirinya dengan emosi yang sedikit redah, sekaligus untuk berpamitan kepada Fino yang sempat menjadi suaminya beberapa bulan ini.
“Terima kasih tuan Fino, untuk kehidupan yang cukup berwarna yang kau berikan kepadaku beberapa bulan ini, kadang tuan membuatku susah, sedih, senang bahkan tersakiti”ucap Milan yang terlihat sedikit tenang.
Fino hanya diam, dengan kemarahan dan emosinya yang sudah menurun, ia pun terlihat acuh tanpa ingin menatap wajah Milan.
Aku berjanji akan membalas penghinaan tuan Fino bersama malaikat kecilku. Batin Milan sambil menyentuh perutnya.
”Semoga kita tidak dipertemukan kembali. Kedepannya Saya hanya ingin fokus menata hidupku, bersama malaikat kecilku dan akan pergi sejauh mungkin dari kehidupan tuan Fino”ucap Milan sambil menundukkan pandangannya.
Aku benar-benar tidak bisa bertahan di samping mu tuan arrogan, inilah jalan satu-satunya agar kita tidak saling menyakiti. Batin Milan.
Fino mengerutkan keningnya dan merasa terkejut dengan ucapan Milan yang sempat mengatakan Malaikat Kecilku, baginya ia merasa aneh dengan ucapan Milan.
Fino lalu mengarahkan pandangannya ke arah Milan yang sudah berjalan menuju tempat tidur. Fino kembali menimbang-nimbang ucapan Milan, namun foto Milan bersama David selalu saja menghantui pikirannya, dengan cepat ia membuang pikiran aneh tersebut.
Milan mengambil amplop coklat yang sangat ia yakini surat perceraian mereka yang berada di atas tempat tidur bersama kartu black card, lalu ia pun masukkan ke dalam paper bag nya. Tak lupa ia pun mengambil ponsel beserta dompetnya di atas nakas.
Milan kemudian berjalan menuju pintu kamar yang sudah terbuka lebar. Ia pun sama sekali tidak membawa barang-barang mahal yang berada di kamar tersebut.
Milan kembali berbalik badan menatap lelaki dibencinya untuk terakhir kalinya. Sedangkan Fino ikut menatap ke arahnya, hingga pandangan mereka kembali bertemu sepersekian detik dengan perasaan hancur.
Sungguh amarah yang menyelimuti manusia mendatangkan sebuah kehancuran hingga tak tersisa, inilah pelajaran terberat manusia yakni mengendalikan amarahnya yang sedang diporak-porandakan oleh sosok makhluk terkutuk.
Kemudian Milan berjalan keluar hingga tak terlihat di balik pintu kamarnya. Fino lalu meninju meja yang terbuat dari kaca dihadapannya hingga hancur seketika.
Prangg
Jari-jarinya pun terluka, hingga mengeluarkan darah segar, dengan kaca yang bertebaran dibawah kakinya.
Fino kembali bangkit dan langsung meninju dinding tembok berkali-kali hingga kedua tangannya terluka.
“Kenapa?”
“Aku selalu saja di hadapkan dengan keadaan seperti ini”teriak Fino dengan mata memerah.
Sungguh ia begitu terluka dan marah dengan tindakan Milan. Akan tetapi, ia menjadi tidak rela dengan kepergian Milan dari kehidupannya, entah mengapa hatinya begitu sakit dan ia pun menyesali ucapannya sendiri yang menyuruh Milan angkat kaki dari rumahnya.
Fino memilih duduk kembali di sofa, sambil menjambak rambutnya dengan penuh frustasi. Sementara Milan sudah berada di pos penjagaan untuk mengambil kopernya yang masih tersimpan dengan baik di tempat tersebut.
“Terima kasih pak”ucap Milan kepada lelaki paruh baya yang sedang melakukan penjagaan yang menarik koper besar.
“Sama-sama Nyonya, oh iya, anda mau kemana di jam seperti ini”ucap lelaki paruh baya yang cukup akrab dengan Milan dan tidak sengaja melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari waktu setempat di pos penjagaannya.
“Saya ingin ke bandara pak, bisakah bapak mengantar saya ke bandara”ucap Milan ramah, tidak mungkin ia harus berjalan kaki hingga sampai ke bandara.
Lelaki paruh baya itu sempat bengong, bagaimana mungkin di jam seperti ini, istri majikannya memintanya ke bandara. Apakah sepasang suami istri itu sedang marahan, pikirnya.
Milan terus menunggu jawaban dari pak penjaga, namun tak kunjung angkat bicara. Sehingga dengan terpaksa teman di sampingnya mengagetkan lelaki paruh baya yang bernama pak Somad itu.
“Bagaimana, apa kau ingin mengantar nyonya”ucap temannya.
“Eeh iya nyonya, tapi saya hanya bisa mengantar nyonya menggunakan motor”ucap pak Somad.
“Tidak mengapa pak, yang jelas saya bisa sampai ke bandara”ucap Milan.
Pak Somad dengan cepat mengeluarkan motor bututnya. Tak lupa mempersilahkan istri majikannya naik ke motornya, setelah semuanya aman dan beres, pak Somad lalu melajukan motornya menuju bandara. Milan terlihat rempong di bonceng oleh pak Somad sambil memegangi kopernya. Tiba-tiba saja di tengah perjalanan menuju bandara internasional Negara B, hujan turun dengan derasnya mengguyur daerah tersebut. Padahal sebentar lagi mereka akan sampai di bandara.
Pak Somad melajukan motornya dengan pelan untuk mencari tempat berteduh, tapi Milan meminta pak Somad untuk tetap jalan, agar cepat sampai di bandara. Milan tidak peduli dengan derasnya air hujan yang mengguyur tubuhnya, yang jelas ia harus cepat sampai di bandara untuk sesegera mungkin meninggalkan Negara B.
Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka sampai di bandara internasional negara B. Pak Somad lalu memarkirkan motornya di area parkir, sedangkan Milan turun dari motor sambil memegangi paper bag dan kopernya.
"Terima kasih pak, sudah mengantar saya ke bandara. Ini ada sedikit hadiah untuk bapak, tolong di terima ya"ucap Milan, lalu menyerahkan beberapa lembar uang tunai untuk pak Somad.
"Tidak usah nyonya, saya ikhlas mengantar nyonya"tolak Pak Somad dengan halus.
"Tolong terima pak, saya juga ikhlas memberikan bapak dan ini juga merupakan salah satu rejeki bapak"ucap Milan dengan ramah.
Sehingga mau tidak mau, pak Somad menerima pemberian istri majikannya. Kemudian ia pun undur diri dari hadapan istri majikannya.
Milan tinggal seorang diri di area bandara, walaupun masih banyak orang asing yang berlalu-lalang di area tersebut, tapi tetap saja ia merasa sendiri. Dengan tubuh yang basah kuyup, Milan memilih duduk di kursi tunggu dan kembali menumpahkan kesedihannya yang sedari tadi ia tahan. Setelah puas, Milan kembali termenung sambil mengingat kebersamaannya dengan Fino beberapa bulan ini.Ada perasaan aneh jika ia mengingat lelaki tersebut yang sudah menyentuh hatinya.
"Aku membenci mu tuan Fino, aku tidak bisa bertahan dengan mu. Aku hanya tidak ingin kau kecewa dengan kehamilan ku, aku benar-benar tidak sanggup jujur kepadamu. Aku bahkan sudah mengetahui sifat asli mu yang dengan cepat berubah bahkan menyakiti ku hanya karena aku bersama dengan David. Walaupun kau selalu saja menghinaku, tapi aku tetap berusaha untuk melawan mu. Lihatlah sekarang, bahkan entah mengapa aku kembali memikirkan mu, padahal kau sudah menghancurkan seluruh perasaan ku kepadamu. Semoga dengan perceraian ini, kita bisa saling melupakan"ucap Milan yang mulai menggigil kedinginan.
Milan kemudian bangkit dari duduknya, lalu berjalan keluar bandara untuk mencari kedai makanan terdekat. Tak peduli dengan derasnya air hujan yang semakin mengguyur tubuhnya, Milan terus saja melangkahkan kakinya dengan kepala yang mulai pusing, ditambah tubuhnya yang sudah lemas, membuat ia harus cepat menemukan kedai makanan.
Milan sedikit tercengang melihat kedai makanan yang sudah tertutup. Namun ia pun kembali berjalan menghampiri kedai makanan tersebut dengan sisa tenaganya. Saat beberapa langkah lagi ia akan sampai, tiba-tiba saja penglihatannya kabur hingga ia terjatuh di depan kedai tersebut, bahkan tidak sadarkan diri.
Bersambung…..
Assalamualaikum teman-teman.
Mohon maaf aku baru update episode terbaru Mafia Couple Love. Soalnya belakang ini, aku sakit dan tidak mampu untuk nulis, jadi mohon maaf yang sebesar-besarnya 🙏🙏🙏
Terima kasih 🙏🙏🙏