
Keluarga kecil Fino begitu harmonis dan saling menyayangi satu sama lain. Kehamilan Milan membuat Fino dan Malfin anaknya ikut berperan penting untuk menjaga Milan sebagai orang yang begitu disayanginya. Fino terlihat bahagia saling bergandengan tangan bersama istri dan anaknya memasuki lift yang akan membawanya ke lantai 2 menuju kamar pribadinya. Malfin yang berada di tengah-tengah sedang menggenggam tangan papah dan mamanya yang menjadi pelengkap di keluarga Fino.
“Mama, kapan adik bayi bisa bermain dengan Malfin?”ucap Malfin sambil mendongak menatap mamanya.
“Masih lama nak, kita masih perlu menunggu beberapa bulan”ucap Milan sambil membelai rambut putranya.
“Yah, lama juga ya, tapi Malfin akan bersabar menunggu kehadiran adik bayi”ucap Malfin sambil tersenyum.
“Iya sayang”ucap Fino sambil melirik istrinya. “Apa Malfin senang berada di rumah paman Darren?”ucap Fino sambil memegang pundak putranya.
“Malfin senang sekali pah, Adelio dan Adelia menjadi saudara Malfin sekaligus teman baru Malfin. Ternyata di rumah ini kita punya banyak keluarga, ada oma, bibi Ziva dan paman Darren, pokoknya Malfin betah berada di rumah ini”ucap Malfin sambil tersenyum bahagia.
“Syukurlah nak, mama juga senang berada di rumah ini dan berkumpul bersama dengan keluarga papahmu”ucap Milan sambil tersenyum menatap Fino.
Pintu lift terbuka, Malfin dengan cepat keluar dari lift, sedangkan Fino dan Milan hanya mampu geleng-geleng kepala melihat tingkah putranya. Malfin menghentikan langkahnya saat melihat sebuah lukisan berukuran besar yang terpajang di dinding. Malfin terus saja menatap lukisan tersebut hingga senyuman menghiasi bibirnya.
“Papah dan Mama sangat keren, mengapa Malfin tidak ada di lukisan ini?”ucap Malfin yang begitu polosnya melihat lukisan papah dan mamanya dalam nuansa pernikahan.
“Kamu masih dalam tahap proses dalam perut mama mu”ucap Fino diselingi dengan gelak tawa mendengar pertanyaan putranya.
“Huh begitu ya”ucap Malfin sambil memegangi dagunya.
“Nak kamu mandi dulu, terus kita beristirahat bersama”ucap Milan sambil memegangi kedua pundak putranya.
“Iya ma”ucap Malfin sambil membelai wajah mamanya.
Malfin anak yang selalu patuh kepada orang tuanya, ia sama sekali tidak pernah membantah ucapan papah dan mamanya. Didikan Milan dan Fino sungguh membuat Malfin menjadi anak yang baik, santun kepada yang lebih tua, mandiri dan suka berbagi dengan orang di sekitarnya. Namun Malfin terkadang mengeluarkan sifat dinginnya pada orang disekitarnya, salah satunya para pelayan di kediamannya.
Kini Fino dan putranya tampak segar dan tengah berbaring di tempat tidur. Sedangkan Milan baru saja menjalankan ibadahnya di area ruang ganti yang cukup luas. Milan pun terlihat segar dan rapi dengan pakaian santainya.
Terlihat Milan tidak mengenakan hijabnya, rambutnya pun tergerai indah melambai-lambai saat ia tengah berjalan. Bahkan perutnya sedikit menonjol dengan pakaian yang ia kenakan. Fino hanya mampu tersenyum menatapnya, sementara tangan Fino tengah sibuk mengelus punggung Malfin agar bisa tertidur dengan pulas.
“Kemarilah sayang”ucap Fino sambil mengedipkan matanya untuk menggoda istrinya.
“Apaan sih mas, ini masih siang”ucap Milan sambil tersenyum tipis, kemudian ikut merebahkan tubuhnya di samping putranya.
“Memangnya kenapa, lagian sentar malam aku pasti mendapatkan jatah darimu”ucap Fino sambil tersenyum mesum, lalu mengelus pundak istrinya.
“Jangan aneh-aneh mas, aku ingin tidur”ucap Milan sambil memeluk Malfin dan ikut memejamkan matanya.
“Iya sayang, aku hanya menggoda mu, tidurlah”ucap Fino kemudian mencium kening istrinya dan beralih mencium kening putranya.
Milan hanya mampu tersenyum, sungguh hatinya selalu saja berbunga-bunga dengan sikap manis suaminya. Ditambah tubuhnya begitu lelah melakukan perjalanan jauh dari Negara B ke Negara A. Sedangkan Fino ikut memejamkan matanya, ia pun butuh istirahat seperti istri dan anaknya.
Sementara di lantai 3 Ziva tengah berada di kamarnya sambil menidurkan anak kembarnya. Ziva tak luput menceritakan kisah-kisah sahabat rasulullah sebagai pengantar tidur untuk anak kembarnya. Tampak Adelio dan Adelia sebagai pendengar yang baik dengan matanya yang mulai sayup, itu merupakan pertanda bahwa mereka sudah ingin tidur. Sehingga Ziva dengan terpaksa mengakhiri ceritanya, dan kembali menyambungnya jika anak kembarnya memintanya untuk menceritakan ulang.
“Tidur yang nyenyak nak”ucap Ziva lalu mencium kening anak kembarnya.
Ziva kembali tersenyum menatap wajah anak kembarnya yang menggemaskan dan begitu damai saat sedang tertidur. Ziva kemudian turun dari tempat tidur, lalu ia pun kembali melangkahkan kakinya menuju ruang kerja suaminya.
Ziva dengan hati-hati membuka pintu ruang kerja suaminya. Tampak Darren sedang duduk di kursi kebesarannya yang sedang fokus menatap layar monitor komputernya. Namun Darren langsung mengalihkan pandangannya saat mendengar langkah kaki seseorang.
“Ada apa sayang”ucap Darren yang melihat kedatangan istrinya.
“Aku hanya ingin melihatmu bekerja”ucap Ziva lalu berjalan mendekat ke arah suaminya.
Darren tanpa basa-basi langsung menarik tangan istrinya, membuat Ziva terjatuh di pangkuannya. Darren langsung memeluknya dengan erat.
“Zivanna”.
“Iya mas”.
“Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu Zivanna”ucap Darren sambil mencium pipi istrinya dan tak lupa tangannya mulai liar menyentuh kesayangannya.
“Iya mas, aku tahu”ucap Ziva sambil tersenyum.
“Aku sangat senang mas, akhirnya kak Fino bersama keluarga kecilnya bisa berkumpul di rumah ini. Astaga Mama pasti sedang sibuk untuk menyiapkan makan malam nanti malam, sepertinya aku harus membantunya mas”ucap Ziva, karena merasa tangan suaminya mulai liar kemana-mana.
Cup
Ziva dengan cepat mencium bibir suaminya agar menghentikan aksinya. Kemudian ia pun dengan hati-hati turun dari pangkuan suaminya dan kembali berlari kecil keluar dari ruang kerja suaminya. Sedangkan Darren hanya mampu tersenyum sambil mengusap ujung bibirnya menggunakan jari-jarinya.
“Menggemaskan sekali, aku bahkan ingin kembali memakan mu Zivanna”ucap Darren sambil tergelak tawa melihat istrinya yang sudah tidak terlihat lagi di balik pintu.
Darren kembali melanjutkan pekerjaannya. Walaupun hari ini hari weekend, tapi dia tetap saja gila bekerja dan akan seperti itu seterusnya. Terkadang ia pun meluangkan waktunya untuk jalan bersama dengan keluarga kecilnya, terutama si kembar Adelia yang hobi banget jalan-jalan ke mall dan tempat wisata lainnya.
Malam harinya….
Kini keluarga besar Alexander tengah berkumpul bersama di meja makan. Tampak Milan mulai mengambilkan makanan untuk suaminya, setelah itu barulah ia kembali mengambilkan makanan untuk dirinya dan juga putranya. Begitu halnya yang di lakukan oleh Ziva kepada suami dan anak-anaknya. Sedangkan nyonya Ratu hanya mampu tersenyum bahagia melihat menantu dan cucunya sedang duduk bersamanya di kursi meja makan.
Tampak si kembar mulai menikmati makanannya dengan lahap. Sedangkan Malfin selalu saja menampilkan perhatiannya kepada mamanya, dengan cara menambahkan lauk untuk mamanya agar adik bayinya cepat besar. Semuanya tergelak tawa mendengar ucapan Malfin yang begitu lucu menurutnya. Mereka semua mulai menikmati makanannya dengan lahap, sungguh masakan nyonya Ratu begitu enak dan dan sangat lezat.
"Makan yang banyak nak, semoga kalian cepat besar"ucap nyonya Ratu sambil tersenyum dan kembali mengambil lauk pauk dan menaruhnya di piring cucunya.
Semuanya kembali tersenyum melihat tingkah menggemaskan Adelia.
Setelah selesai makan bersama, mereka kembali berkumpul bersama di ruang keluarga. Tampak Malfin sudah duduk di pangkuan papahnya. Sementara Si kembar sedang duduk di samping mamanya sambil memainkan papan puzzle untuk menyusun angka di dalamnya. Para orang tuanya sedang mengobrol bersama dan sesekali bercanda gurau melihat tingkah lucu anak-anaknya.
"Sayang mengapa tanganmu terluka?"ucap Fino panik yang melihat tangan putranya tampak memar.
"Aku tadi terjatuh di kamar papah, lukanya tidak sakit kok"ucap Malfin sambil tersenyum.
Milan langsung memeriksa tangan putranya yang tampak memar.
"Biar mama yang...."ucap Milan yang tidak melanjutkan ucapannya.
"Mana yang luka kak Malfin, biar Bu dokter Adelia yang memeriksanya"ucap Adelia yang sudah memegangi kotak obatnya dengan alat stetoskop mainannya yang sudah bertengger di lehernya.
Fino dan Milan yang sedikit panik langsung tersenyum merekah mendengar tutur kata ponakannya.
"Dokter Adelia tolong obati Malfin"ucap Ziva diselingi dengan senyumnya.
Sedangkan nyonya Ratu hanya mampu menutup mulutnya untuk menahan tawanya. Sungguh tingkah cucunya begitu lucu dan menggemaskan. Darren sendiri tampak biasa-biasa saja, ia pun sering melihat tingkah lucu putrinya. Dan Adelio hanya bersandar di tubuh ibunya sambil menatap Adelia dan Malfin.
Terlihat Adelia mulai telaten mengobati luka Malfin. Tangannya begitu cekatan mengolesi salep luka di tangan Malfin.
"Selesai, jangan nakal ya Kak Malfin. Mama Milan tolong di jaga Malfin dengan baik"ucap Adelia dengan wajah menggemaskan nya.
"Masya Allah tabarakallah nak, Adelia sudah seperti dokter sungguhan. Apa cita-cita Adelia ingin menjadi dokter?" ucap Milan sambil menangkup wajah Adelia.
"Iya mama Milan, Adelia ingin menjadi seorang dokter, biar Adelia bisa mengobati keluarga Adelia"ucap Adelia sambil tersenyum.
"Terima kasih Adelia, tapi kamu tidak boleh memanggil mama ku seperti itu"ucap Malfin dingin.
"Bukankah kita saudara, jadi mama Milan juga mamaku" ucap Adelia sambil melirik Malfin.
"Benar kata Adelia nak, Adelia dan Adelio bisa memanggil mama juga kepada mama"ucap Milan yang memperjelas ucapan Adelia.
"Baiklah kamu bisa memanggil mama ku seperti itu. Karena kita saudara"ucap Malfin.
"Hemm, kita saudara"timpal Adelio.
Orang tua hanya mampu tersenyum dan mereka kembali melanjutkan obrolannya sambil bercanda gurau melihat tingkah menggemaskan anak-anaknya.
Sementara di tempat lain tepatnya di Negara B….
Chiko sedang berada di kediaman kedua orang tuannya, dan baru saja selesai makan malam bersama dengan keluarganya. Kini Chiko tengah duduk bersama di ruang keluarga. Tampak Chaca sedang memijit kaki ibunya yang berada di pangkuannya. Sedangkan ayahnya tengah duduk diam sambil menatap tajam Chiko yang tidak jauh darinya.
“Ayah mengundang mu kesini ingin membicarakan hal penting kepadamu. Umurmu sudah memasuki kepala tiga, bahkan kau masih saja betah menjomblo. Kapan kau akan menikah ? lihatlah ayah sudah tua dan menua seperti ini, tidakkah kau memikirkan kondisi ayahmu”ucap lelaki tua yang tengah duduk di kursi kebesarannya.
“Ayah, aku sangat sibuk bekerja dan belum memikirkan semua itu”ucap Chiko sambil menatap manik mata ayahnya.
“Kakak cepatlah menikah, aku juga mau menikah. Tapi papah belum memberiku restu sebelum kaka menikah”ucap Chaca sambil cemberut.
Lagi-lagi Chiko hanya diam dan melirik adiknya dengan tatapan dinginnya.
“Kalau kakak belum punya kekasih nanti aku kenalin sama rekan dokterku, mereka semua masih jomblo dan cantik nan modis, dijamin kakak pasti akan menyukai salah satu dari mereka”ucap Chaca antusias.
“Cha, biarkan kakakmu mencari sendiri pendampingnya. Chiko, ibu ingin kau segera membawa calon istrimu ke rumah ini. Ibu hanya memberimu waktu 2 minggu, kalau kamu belum juga menemukan calon istri, maka mama yang akan turun tangan mencarikan mu calon istri”ucap ibunya tegas dan tidak ingin di bantah.
“Baiklah. Aku akan secepatnya membawa calon istriku ke rumah ini”ucap Chiko pasrah.
“Benarkah”ucap ibunya antusias yang langsung menurunkan kakinya dari pangkuan putrinya.
“Bagus nak, ibu sudah pingin menimang cucu. Lagian tuan Fino sudah punya anak, tidak bisakah kau cepat cari calon istri dan ibu sangat senang mendengarnya”.
“Iya bu”ucap Chiko sambil menatap manik mata ibunya.
“Yes, akhirnya putraku akan segera menikah”ucap ibunya dan langsung mencium kening suaminya.
“Wira, kamu selalu saja bertingkah seperti ini”ucap suaminya.
“Soalnya aku sangat bahagia mas, mendengar ucapan Chiko”ucap Bu wira dengan bahagia dan kembali duduk di pangkuan suaminya. Pak bagus hanya mampu pasrah menahan bobot tubuh istrinya yang cukup bongsor.
“Aku juga sangat senang, berarti ayah akan merestui kami dong, dan aku akan menikah setelah kakak menikah, Yeay bahagianya kau, tidak sia-sia aku berpacaran dengan kak Tom beberapa bulan ini”ucap Chaca sambil bersorak ria.
“Dasar ibu dan anak, sama-sama aneh”ucap Pak Bagus sambil tersenyum melihat tingkah lucu istri dan putrinya.
Sedangkan Chiko hanya mampu menghembuskan nafasnya dengan kasar. Bagaimana caranya ia harus menemukan wanita yang siap menjadi istrinya, pacaran saja begitu membuatnya pusing. Apalagi ini istri loh yang akan mendampinginya seumur hidup bahkan sehidup semati.
Seminggu telah berlalu di kediaman Alexander, Milan, Ziva dan nyonya Ratu sedang memasak bersama di dapur. Sedangkan anak-anak mereka sedang di urus oleh papahnya. Mereka tampak kompak memasak bersama, sesekali tergelak tawa dan saling mencoba masakan mereka masing-masing.
Bersambung…..