
Milan menghabiskan 3 bungkus cemilan instan dengan begitu lahapnya, namun ia tetap saja kelaparan. Berkali-kali perutnya kembali berbunyi heboh, hingga membuat Fino semakin risih mendengarnya.
"Tidak bisakah cacing di perutmu itu bersabar sebentar"ucap Fino dingin yang hanya fokus mengemudikan mobilnya.
Krukk
Krukk
Lagi-lagi Milan dibuat malu dengan bunyi perutnya yang terus saja berbunyi nyaring, mungkin cacing di perutnya sudah berdemo ria minta jatah makanan. Milan hanya mampu menggigit bibir bawahnya, sambil mengelus perutnya yang selalu saja membuatnya malu dengan lelaki yang dibencinya.
"Saya masih lapar tuan Fino" ucap Milan sambil menunduk.
"Hah! Sudah 3 bungkus cemilan berporsi jumbo kau habiskan, masih saja lapar. Apa perutmu itu perut karet atau jangan-jangan cacing di perutmu sudah sebesar anaconda"ucap Fino sinis, sambil melirik Milan di sampingnya.
Hufff... lelaki aneh ini benar-benar memiliki kepribadian ganda, kadang bersikap baik kepada ku, kadang bersikap dingin, kasar dan menyebalkan. Batin Milan sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Ciiiiiiiiitttt.
Fino menghentikan mobilnya secara mendadak, membuat Milan terjungkal ke depan. Milan dengan kesal memperbaiki posisi duduknya.
"Itu kedai makanan, sebaiknya kamu turun untuk membeli makanan. Karena sedari tadi perutmu terus saja berbunyi, membuat telinga ku risih"ucap Fino kesal yang sedang memasang wajah datar.
Milan langsung celingak-celinguk mencari keberadaan kedai makanan yang di maksud oleh Fino. Fino kembali menunjukkan dengan ekor matanya.
"Baik tuan Fino" ucap Milan yang berhasil melihat kedai makanan sederhana di pinggir jalan.
Fino malah memainkan ponselnya, dan ia pun tidak khawatir dengan kedai makanan sederhana yang ia pilih, toh kedai makanan tersebut sudah melegenda di daerah tersebut yang banyak diminati oleh pengunjung.
Milan lalu turun dari mobil dan berjalan menghampiri kedai makanan tersebut. Milan terlebih dahulu melihat buku menu yang tertempel di dinding tembok kedai makanan tersebut.
"Ayam geprek pedas tiga porsi, cumi goreng pedas, lalapan, salad buah, ramen pedas masing-masing satu porsi saja dan untuk minumnya jus wortel dan jus jeruk"ucap Milan sambil tersenyum melihat menu makanan tersebut dan sesekali menelan ludahnya, karena sudah tidak sabaran untuk menikmati makanan pesanannya.
"Ini mbak pesanannya" ucap Pelayan kedai makanan tersebut yang menyerahkan kantong kresek yang berisi makanan dengan minumnya.
Milan lalu mengeluarkan beberapa lembar uang tunai, kemudian menyerahkannya kepada pelayan kedai. Lalu iapun mengambil kantong kresek tersebut dan berjalan menuju mobil Fino.
Milan membuka pintu mobil kemudian meletakkan kantong kresek yang dibawahnya di atas dasboard, lalu barulah ia masuk ke dalam mobil dan duduk dengan tenang. Fino menaikkan salah satu alisnya melihat kantong kresek tersebut.
"Ayo jalan" ucap Milan, lalu mengeluarkan kotak makanan yang berisi ayam geprek.
"Sebaiknya kau tidak perlu makan di dalam mobil, bisa-bisa mobilku berbau makanan. Sebentar lagi kita akan sampai" ucap Fino tegas.
Milan hanya mampu memegangi kotak makanan dengan mata melotot. Mengapa lelaki aneh di samping nya selalu saja mengaturnya. Padahal perjalanan mereka masih jauh.
Milan dengan kesal meletakkan kembali kotak makanan kedalam kantong kresek. Ia pun memilih mengeluarkan satu cap jus wortel, lalu meminumnya dengan cepat. Sungguh rasanya ia jadi tidak berselera makan mendengar ucapan Fino.
Padahal ia sudah tidak sabaran untuk menikmati makanan tersebut, andai saja ia makan makanan di kedai tadi. Milan memilih memalingkan wajahnya ke arah kaca mobil sambil minum jus wortel untuk menyegarkan tubuhnya yang sedang kesal, hingga minuman itu tandas, lalu Milan pun memilih memejamkan matanya berharap rasa laparnya akan berkurang.
Sementara Fino hanya fokus mengemudikan mobilnya dan sesekali melirik ke arah Milan yang hanya diam yang sedang memejamkan matanya.
Saat di persimpangan jalan, Fino memilih berbelok ke arah kanan yang sama sekali bukan jalur ke kediamannya. Fino malah melajukan mobilnya hingga tiba di sebuah gedung bertingkat, yang sangat diyakini itu adalah sebuah apartemen. Fino memasuki bassment apartemen untuk memarkirkan mobilnya. Ia pun lalu mematikan mesin mobilnya dan kembali melirik ke arah Milan, terdengar dengkuran halus keluar dari mulut Milan.
"Dia tertidur, dasar gadis tua pemalas"ucap Fino dingin.
Kemudian Fino keluar dari mobilnya, dan berjalan ke samping membukakan pintu mobil untuk Milan.
Fino lalu mengangkat tubuh Milan dan menggendongnya menuju unit apartemennya. Milan hanya tertidur pulas di gendongan suaminya.
Saat tiba di sebuah pintu apartemennya. Fino mengeluarkan kartu akses untuk membuka pintu apartemennya, dengan cepat pintu apartemen terbuka dengan sendirinya, iapun masuk ke dalam apartemennya dan berjalan menuju sebuah kamar. Fino meletakkan tubuh Milan dengan hati-hati di atas tempat tidur. Setelahnya, ia pun kembali menuju parkiran untuk mengambil kantong kresek yang berisi makanan.
Kini Fino sudah berada di dalam apartemennya, ia pun menata makanan yang sempat Milan beli di atas meja makan. Setelah itu, ia pun berjalan menuju kamarnya untuk membangunkan istrinya.
Terlihat Milan sedang tertidur dengan pulas nya bahkan terdengar dengkuran halus dari mulut Milan. Sungguh Fino merasa tidak tega untuk membangunkannya. Tapi ia juga tidak ingin Milan terus tertidur dengan perut kelaparan.
"Hei bangun gadis tua" ucap Fino sambil memencet hidung Milan, membuat sang empunya menjadi kesulitan bernapas hingga membuka matanya.
Fino langsung melepaskan tangannya sambil menatap Milan dengan tatapan tajam. Sedangkan Milan kembali memejamkan matanya.
"Jika kau tidak bangun secepatnya, maka semua makanan yang kau beli akan aku habiskan hingga tak tersisa"ucap Fino dengan ancamannya disertai seringai licik diwajahnya. Lalu berjalan dengan gaya cool nya menuju pintu kamarnya.
Milan langsung membuka matanya dan duduk di tempat tidur, ditambah perutnya kembali perih karena kelaparan. Ia pun tidak ingin melewatkan kesempatan emasnya hanya karena acara ngambeknya, dengan cepat Milan turun dari tempat dan berlari kecil hingga mendahului Fino keluar dari kamarnya.
Fino hanya mampu tersenyum tipis melihat tingkah Milan yang menurutnya lucu, hanya karena sebuah ancaman kecilnya.
Milan berlari kecil mengelilingi apartemen tersebut, ia pun merasa asing dengan tempat tersebut, namun matanya tetap fokus mencari makanannya. Matanya pun berbinar melihat makanan yang sudah mengunggah seleranya sedari tadi, tampak tersaji dengan rapi di atas meja makan.
Kemudian Milan duduk di kursi dan mulai mengambil sendok dan garpu untuk menikmati makanan tersebut. Fino kembali menghentikannya.
"Bersihkan wajah mu dulu, kau terlihat jorok habis bangun tidur" ejek Fino, sambil memegangi tangan kanan Milan.
Lagi-lagi Milan dibuat kesal oleh tingkah suaminya. Sambil memasang wajah masam, Milan lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju wastafel untuk membersihkan wajah nya.
Dasar menyebalkan, semoga kamu tersedak makanan. Batin Milan yang tengah membersihkan wajah nya.
uhukk
"Air" teriak Fino yang baru saja tersedak makanan.
Sungguh ucapan Milan yang sedang teraniaya terkabulkan langsung.
Milan kembali menghampiri Fino yang terus terbatuk-batuk dengan wajah memerah yang tersedak makanan. Milan menyodorkan segelas air. Fino langsung mengambil segelas air lalu meminumnya hingga tandas.
"Dari mana kau mendapatkan air secepat kilat, air mineralnya berada di ruang dapur" ucap Fino yang sudah merasa lega.
Milan memilih duduk berhadapan dengan Fino, lalu memasang wajah misterius.
"Dari kran air" ucap Milan santai sambil tersenyum sinis.
Fino membulatkan matanya, untuk pertama kalinya ia meminum air dalam kran yang bisa saja membuatnya sakit perut.
Milan menikmati makanan nya dengan lahap, sementara Fino hanya diam yang sudah diselimuti rasa khawatir akan sakit perut. Tiba-tiba saja tenggorokannya terasa aneh, seperti ingin mual. Fino mulai merasa aneh dengan gelenyar di tenggorokannya, lagi-lagi ia dibuat mual.
Sementara Milan sesekali curi-curi pandang menatap Fino yang terlihat berpikir keras. Tak berselang lama kemudian, Fino langsung bangkit dari duduknya dan berlari secepat kilat menuju toilet untuk memuntahkan isi perutnya.
Hoeakkk
Hoeekkkk
Fino terus memuntahkan isi perutnya, bahkan air kran yang Milan maksud ikut mengalir dengan sendirinya. Fino terus muntah-muntah di dunia toilet. Keringat dingin mulai bercucuran di keningnya.
Sementara Milan tampak lahap menyantap makanannya, mulai dari 2 porsi ayam geprek sudah habis, cumi goreng pedas masih ia nikmati, lanjut menghabiskan lalapan dan terakhir salad buah yang mampu menyegarkan tubuhnya.
Fino kembali menghampiri Milan dengan wajah pucat dan keringat dingin mulai bercucuran di wajah nya. Milan yang sedang asik menghabiskan makanannya langsung mendongak menatap Fino yang sudah duduk berhadapan dengan nya.
Milan membulatkan matanya dan langsung meraih jus wortel untuk menghentikan makannya.
"Apa yang terjadi pada mu tuan" ucap Milan yang sedikit khawatir yang langsung mendekati suaminya.
Jangan-jangan karena air kran itu. Batin Milan yang sedikit menyesal dengan tingkah nya.
"Sepertinya aku tidak enak badan" ucap Fino yang sedang menyandarkan punggungnya di kursi.
Milan lalu berjalan cepat menuju dapur untuk mencari sesuatu. Ia pun menjadi panik melihat wajah Fino seperti itu. Tak berselang lama kemudian Milan membawa secangkir kopi hangat. Ia lalu meletakkan di meja, kemudian meminta Fino untuk meminumnya.
Fino kemudian meminum kopi hangat buatan Milan yang cukup enak ia rasakan. Tubuhnya pun mulai terasa lebih baik menikmati minuman hangat tersebut.
Milan masih saja menatap nya dengan perasaan khawatir.
"Apa tuan butuh sesuatu atau tuan Fino ingin tambah kopinya, sebentar aku akan..." ucap Milan yang terus saja mengoceh, ia pun berbalik badan akan kembali berjalan ke dapur.
Namun Fino kembali mencekal tangannya, sehingga Milan kembali berbalik badan menatap manik mata suaminya. Fino menarik tangan Milan dengan keras hingga tubuh Milan jatuh di pangkuannya.
Lagi-lagi Milan dibuat stok jantung, karena terjatuh di pangkuan suaminya. Fino langsung melingkarkan tangannya di perut Milan. Hingga membuat Milan mati kutu.
Sungguh lelaki aneh ini berkepribadian ganda. Lihatlah sekarang ia malah bersikap manis kepada ku. Batin Milan gugup.
Ia pun merasa nyaman mendekap tubuh Milan sambil mencium aroma tubuh Milan yang membuatnya sedikit rileks.
"Saya berat loh tuan, bisa-bisa anda kesemutan"ucap Milan gugup. Sementara Fino hanya diam dan malah mendekap tubuh Milan dari belakang dengan eratnya.
"Tuan kan sedang tidak enak badan, sebaiknya kita pulang saja ke kediaman tuan Fino" ucap Milan yang lagi-lagi mencari cara agar Fino melepaskan nya.
Tidak mungkin ia memberontak terhadap Fino yang sedang sakit.
"Bagaimana kalau kita pulang saja, lagian ini sudah sore dan pastinya malam hari baru tiba di kediaman tuan. Lalu kita langsung menghubungi dokter pribadi tuan Fino untuk memeriksakan kondisi tuan di rumah" ucap Milan menjelaskan yang selalu saja cari alasan.
"Kita akan menginap di sini" ucap Fino dingin.
"Kau kan istriku, sebaiknya kau saja yang merawat ku dengan baik" ucap Fino dingin dengan senyuman tipis menghiasi bibir pucat nya.
"Hemm, baiklah" ucap Milan pasrah.
Fino lalu melepaskan pelukannya, Milan dengan cepat bangkit disusul Fino juga ikut bangkit. Fino lalu menarik tangan Milan dan membawanya ke ruang tamu.
Mereka memilih bersantai di sofa, Fino berbaring di pangkuan Milan layaknya seorang bayi kecil yang sedang ditidurkan oleh ibunya. Milan terus saja menatap di setiap sudut ruangan yang tampak berbeda pada ruang tamu umumnya. Hanya ada satu sofa berukuran besar, sama sekali tidak ada perabot mebel, pernak pernik hiasan rumah. Dan anehnya tampak setiap dinding tembok di penuhi sebuah lukisan mural yang tidak begitu indah.
Apa ini apartemen orang tua lelaki aneh ini. Batin Milan yang menduga-duga.
"Ini apartemen siapa tuan?"ucap Milan dengan penuh tanda tanya.
"Jangan banyak tanya, aku ingin tidur" ucap Fino acuh sambil memejamkan matanya yang begitu nyaman di pangkuan Milan.
Tidur di pangkuan ku, aduhhhh!, merepotkan juga lelaki aneh ini. Harusnya tidur di kamar, ini malah tidur di pangkuan ku. Tapi sudahlah, kasihan juga dia sedang tidak enak badan. Batin Milan sambil berdengus kesal.
Bersambung......