
Seminggu kemudian….
Hari demi hari telah dilalui oleh sepasang suami istri di rumah sakit terbaik Negara B. Suka duka telah ia lalui di ruangan VIP rumah sakit. Sepasang suami istri itu, merasa tinggal di sebuah kos-kosan sederhana selama seminggu, namun faktanya ia menempati sebuah ruangan VIP rumah sakit tersebut.
Chiko, Novi dan Bi Ros selalu membantu Fino untuk menjaga Milan, baik itu menyiapkan segala sesuatu yang di butuhkan oleh Milan, seperti halnya menyiapkan makanan, pakaian dan perlengkapan yang juga di butuhkan oleh Fino dalam ruangan tersebut.
Kondisi Milan pun mulai membaik, perawatan yang dijalani di rumah sakit terbaik Negara B membuatnya bisa kembali pulih dan sudah di perbolehkan untuk pulang ke rumah. Fino begitu senang mendengar kabar baik tersebut. Tak terkecuali Chiko, Novi dan Bi Ros yang hanya berada di luar ruangan, layaknya penjaga keamanan.
“Sebelum pulang ke rumah, sebaiknya kita kembali mengunjungi baby boy”ucap Milan yang sudah rapi yang tidak lagi mengenakan pakaian pasien rumah sakit.
“Pasti sayang, tapi tunggu dulu, aku harus menghubungi Chiko untuk membawa seluruh perlengkapan kita”ucap Fino yang sedang duduk di sofa.
“Baiklah, aku juga masih ingin mengobrol dengan Bi Ros”ucap Milan yang melirik ke arah suaminya yang sedang menghubungi Chiko.
Bi Ros begitu senang melihat nona nya kembali sembuh, ia pun sudah menghubungi pak Adi dan lainnya di desa Sabang, bahwa nona nya sudah sembuh dan sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah.
“Bi Ros, terima kasih karena sudah merawat ku bersama suamiku”ucap Milan sambil tersenyum yang masih duduk di tempat tidurnya.
“Sama-sama nona Me..Milan”ucap Bi Ros yang belum terbiasa menyebut nama Milan.
“Bi, aku akan di ajak pulang ke rumah suamiku. Apakah bibi masih ingin ikut bersamaku?”ucap Milan memastikan.
“Iya nona, saya akan mengikuti nona kemana pun nona pergi, saya sudah berjanji kepada Oma Ina bahwa saya akan melayani nona sampai kapan pun, saya sangat menyayangi nona dan saya sangat senang bisa menjaga dan merawat nona hingga akhir hayat saya, jadi tolong biarkan saya untuk tetap bersama nona Milan”ucap Bi Ros dengan mata berkaca-kaca.
“Bibi, aku juga sangat menyayangi mu”ucap Milan, lalu memeluk Bi Ros.
Keduanya saling berpelukan antara majikan dengan pelayannya. “Chiko bersama dua pelayan wanita akan mengambil perlengkapan ku di ruangan ini, jadi bibi bisa ikut pulang bersamanya, karena saya masih ingin mengunjungi bayiku, apa bibi tidak keberatan”ucap Milan penuh tanda tanya yang sudah melepaskan pelukannya.
“Tidak nona, saya akan ikut dengan tuan Chiko”ucap Bi Ros sambil menunduk.
Cklek
Pintu ruangannya kembali terbuka dan menampilkan sosok sekretaris Fino yang tidak lain adalah Chiko.
Fino langsung memalingkan wajahnya ke arah Chiko yang baru saja masuk ke ruangan. Chiko tak lupa tersenyum ramah ke arah Milan dan Bi Ros yang menatap kehadirannya. Setelah itu, Chiko lalu menghampiri tuannya. Fino lalu bangkit dari duduknya dan memilih berjalan ke arah sudut ruangan untuk menatap keluar jendela, menyaksikan suasana bangunan pencakar langit di depan matanya.
Chiko sudah berdiri tepat di belakang tuannya. Ia pun tidak ingin memulai lebih dahulu pembicaraan mereka.
“Apa kau sudah menyiapkan segalanya”ucap Fino yang terus saja menatap keluar jendela.
“Semuanya sudah beres tuan”ucap Chiko dengan hati-hati.
“Bagus, aku ingin semuanya berjalan lancar. Chiko, kerahkan kembali beberapa anggota The Tiger untuk memperketat penjagaan di rumah sakit ini, terutama di ruangan baby boy ku, karena kami hanya di izinkan mengunjugi baby boy ku 3 kali seminggu. Kau tahu, aku tidak ingin terjadi apa-apa, apalagi mendengar masalah tentang baby boy ku”ucap Fino dingin.
“Siap tuan, maaf sebelumnya, bagaimana kondisi tuan muda? Saya ingin sekali melihatnya”ucap Chiko sambil menunduk.
Fino lalu berbalik badan dan langsung menatap Chiko dengan tatapan dinginnya.
“Kondisinya mulai mengalami peningkatan, walaupun alat medis masih melekat di tubuhnya, tapi detak jantungnya mulai memompa dengan normal. Dokter selalu memberikan yang terbaik kepada seluruh bayi yang terlahir prematur dan aku percaya baby boy ku mendapatkan perawatan terbaik di rumah sakit ini. Aku yakin, Baby boy ku secepatnya keluar dari inkubator”ucap Fino sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.
“Apakah tuan sudah menyiapkan nama untuk tuan muda?”tanya Chiko dengan hati-hati.
“Oh iya, aku hampir lupa memikirkannya bersama Milan. Padahal Milan pernah membahasnya beberapa hari yang lalu. Tapi aku malah mengacuhkannya, karena tidak terlalu kepikiran dengan nama-nama bayi yang cocok untuk bayi kami. Aku bahkan hanya tertarik memanggilnya baby boy, karena dia berjenis kelamin laki-laki. Astaga, aku sama sekali tidak memikirkan semua itu, padahal sebentar lagi anak kami pasti akan tumbuh besar dan kembali berkumpul dengan orang tuanya. Secepatnya aku akan mendiskusikannya dengan Milan”ucap Fino sambil tepok jidat.
Chiko hanya menunduk sambil tersenyum tipis mendengar tutur kata tuannya.
“Ya sudah, jalankan tugasmu dengan baik. Aku ingin menjenguk bayiku bersama istriku. Setelah itu, kami akan pulang ke rumah”ucap Fino, kemudian menatap ke arah istrinya yang juga sibuk mengobrol bersama Bi Ros.
Sementara Milan dan Bi Ros yang sedang mengobrol sesekali melihat ke arah mereka yang begitu seriusnya mengobrol bersama. Fino tersenyum ke arah istrinya yang juga sedang menatapnya.
Kini Fino dan Milan kembali mengunjungi baby boy, mereka pun mendapatkan banyak informasi dari pihak medis yang berjaga di ruangan NICU. Milan begitu antusias mendengarkan informasi dari pihak medis tentang tata cara yang harus ia lakukan kedepannya, jika bayinya sudah tidak lagi menggunakan alat-alat medis. Karena bayi sudah mampu beradaptasi dengan lingkungannya lewat tumbuh kembangnya di dalam inkubator. Sehingga besar kemungkinan bayi nya sudah bisa di gendong dan diberi ASI secara langsung lewat ibunya.
Setiap kali melihat bayinya, Milan dan Fino begitu senang dan selalu saja merasakan perasaan lega. Karena ia mampu melihat kondisi bayinya masih bisa bernafas di dalam inkubator.
“Sayang, waktu besuknya sudah habis. Sebaiknya kita kembali ke rumah”ucap Fino yang selalu saja setia merangkul istrinya.
“Padahal, aku ingin sekali berlama-lama di ruangan ini, untuk selalu menatap malaikat kecilku”ucap Milan sambil tersenyum kecut, dan selalu saja tidak tega meninggalkan bayinya di dalam ruangan itu.
“Kita bisa kembali mengunjunginya besok atau lusa, kita pasti bisa melewati semua ini bersama”Ucap Fino sambil tersenyum yang selalu saja memberikan angin segar kepada istrinya.
“Hemm”ucap Milan dengan tatapan sendunya yang selalu saja begitu berat melangkahkan kakinya berjalan keluar dari ruangan tersebut.
Fino dengan hati-hati menuntun istrinya keluar dari ruangan tersebut. Fino dan Milan saling bergandengan tangan melewati setiap lorong rumah sakit hingga tiba di halaman rumah sakit. Milan mulai menghirup udara segar di luar rumah sakit, Fino hanya mampu tersenyum melihat tingkah istrinya.
Tak berselang lama kemudian, sebuah mobil mewah beserta supir pribadi berhenti tepat di sampingnya. Sang supir lalu turun dari mobil, kemudian dengan sigap membukakan pintu mobil untuk majikannya. Fino terlebih dahulu menuntun istrinya masuk ke dalam mobil, kemudian disusul dirinya. Setelah semuanya sudah lengkap, mobil kembali melaju kencang meninggalkan tempat tersebut.
Setelah mobil fino sudah tidak terlihat, seseorang yang sedari tadi mengintainya di dalam mobil, mulai turun dari mobilnya, ia pun berjalan tergesa-gesa masuk ke dalam rumah sakit. Si pengintai tersebut memilih menuju ke toilet. Saat berada di dalam toilet si pengintai langsung melepaskan seluruh atribut yang ia gunakan, mulai dari masker, kaca mata hitam dan topi ia lepaskan dengan kesal.
”Sial!, wanita hamil itu belum juga tewas. Aku secepatnya harus mengambil tindakan untuk menghabisinya”ucap Si pengintai yang merupakan seorang wanita yang tidak salah lagi adalah Gabriela. Gabriela terus mengepalkan tangannya dengan kesal, karena sasarannya belum juga ia lenyapkan.
Gabriela kembali memakai topi penyamarannya, kemudian memilih keluar dari toilet untuk mengunjungi bayi Milan. Namun baru beberapa langkah, ia pun mendapati para anggota The Tiger tersebar di setiap lorong rumah sakit tersebut.
“Sial, selalu saja ada mereka, sebaiknya aku pikirkan kembali rencana ku”ucap Gabriela lalu berbalik badan dan kembali memakai maskernya. Ia pun memilih keluar dari rumah sakit tersebut. Dari pada menanggung resiko tinggi, jika sampai wajahnya di kenali oleh anggota The Tiger yang bagaikan pinang dibelah dua dengan Milan, apalagi beberapa menit yang lalu Milan sudah meninggalkan rumah sakit tersebut.
Di sepanjang jalan, Milan hanya duduk diam sambil menggenggam tangan suaminya. Sedangkan Fino sesekali mengelus rambutnya dengan gemes dan curi-curi kesempatan mencium punggung tangannya. Milan masih saja memikirkan bayinya, maklum seorang ibu pasti tidak akan tenang bila jauh dari anaknya. Saking diamnya disertai lamunannya, Milan sampai-sampai tidak tahu arah jalan yang ia lewati.
“Berhenti di depan”ucap Fino dingin, kepada supir pribadi nya.
Mobil pun berhenti tepat yang diarahkan oleh Fino.
“Kita sudah sampai”ucap Milan linglung.
“Belum sayang, aku ingin membawamu dulu ke sebuah tempat”ucap Fino sambil tersenyum.
Fino memilih turun dari mobel terlebih dahulu, kemudian, ia pun membantu istrinya untuk turun dari mobil.
“Loh, inikan kantor KUA, untuk apa kita kesini”ucap Milan dengan penuh curiga.
“Kita akan menikah”ucap Fino dingin.
“Bukankah kita…”ucap Milan yang tidak mampu melanjutkan ucapannya, karena Fino sudah meletakkan jari telunjuknya di bibirnya.
“Sebaiknya kita masuk dulu, kau tidak boleh banyak tanya sayang”ucap Fino, lalu menggandeng tangan istrinya masuk ke dalam kantor KUA.
Milan hanya mampu mengikuti langkah kaki Fino memasuki kantor KUA, hingga petugas KUA mengarahkannya ke sebuah ruangan untuk mereka. Fino dan Milan memasuki ruangan tersebut, lagi-lagi Milan kembali shock melihat seseorang yang dikenalnya juga berada di dalam ruangan tersebut tengah duduk bersama. Semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut bersorak riuh melihat kedatangannya.
“Novi, Dafa Dafi, Bu Ani, Bi Sri, Bi Ros, Sasa dan Tika dan satu lagi Chiko”ucap Milan dengan mata berkaca-kaca.
“Ada apa ini tuan”ucap Milan lalu menatap manik mata suaminya.
“Kita akan menikah kembali, aku sengaja mendatangkan mereka semua untuk meramaikan acara kita”ucap Fino sambil membelai wajah istrinya.
Fino lalu dengan hati-hati menuntun istrinya menuju kursi yang di sediakan untuknya. Milan tersipu malu, saat duduk di kursi tempat ijab kabul, sedangkan pak penghulu dan para saksi sudah menempati kursi mereka masing-masing yang pastinya sudah siap untuk menikahkannya.
Fino lalu duduk di kursi berhadapan dengan pak penghulu, kemudian Bi Sri memberikan peci hitam untuk tuannya. Fino lalu memakai peci hitam tersebut, aura ketampanannya kembali bersinar. Milan yang berada di sampingnya pun begitu menawan dan sangat serasi menjadi tulang rusuknya. Bi Sri kembali meletakkan selendang putih di kepala sepasang suami istri itu, yang kembali akan melangsungkan ijab Kabul.
Pak penghulu mulai menikahkan mereka. Dengan sekali tarikan nafas, Fino berhasil mengucapkan ijab Kabul yang ketiga kalinya.
Semua orang menyuarakan kata sah. Lagi-lagi Milan meneteskan air matanya yang dipenuhi perasaan haru. Pak penghulu kembali memanjatkan doa untuk pasangan suami istri itu, agar tetap menjadi keluarga sakinah mawadah warohmah.
Prosesi selanjutnya, Fino kembali menyematkan cincin di jari manis istrinya. Milan kemudian mencium punggung tangan suaminya untuk mencari ridho nya, sedangkan Fino mencium kening istrinya.
Semua orang yang berada dalam ruangan itu, memberikan selamat kepada pasangan suami istri itu. Acaranya pun kembali berlanjut dengan makan bersama di ruangan itu.
Milan dan Fino begitu bahagia, karena kembali di satukan lewat sebuah janji suci sehidup semati lewat hubungan pernikahan yang mereka jalani.
Setelah acaranya selesai, Fino dan Milan barulah kembali ke kediamannya. Walaupun wajah Milan terlihat lelah, tapi tetap saja memancarkan kebahagiaan. Semua orang pasti bahagia di hari pernikahan mereka.
Fino menggandeng tangan Milan memasuki kediamannya. Tampak pelayan wanita sudah berbaris menyambut kedatangan nya. Fino hanya acuh, ia pun terus bergandengan tangan dengan istrinya menaiki anak tangga hingga tiba di kamarnya.
Milan kembali memperhatikan suasana kamar suaminya yang sama sekali tidak berubah. Fino dengan hati-hati memeluknya dari belakang.
"Bagaimana, apa kamu senang menikah dengan ku"tanya Fino.
"Aku cukup senang tuan"ucap Milan cepat.
"Milan, sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku katakan kepada mu"ucap Fino yang begitu berat untuk mengungkapkan rahasianya.
"Apa itu"ucap Milan lalu berbalik badan menghadap suaminya.
"Aku ingin kamu berjanji terlebih dahulu kepada ku, bahwa kau tidak akan pernah marah kepada ku atau membenci ku "ucap Fino sambil menatap manik mata istrinya.
Milan sempat berpikir, kemudian tersenyum menatap Fino.
"Katakanlah, aku tidak akan marah atau membenci mu"ucap Milan sambil tersenyum.
Fino kembali menatap manik mata istrinya, lalu menarik nafas dalam-dalam kemudian ia hembuskan.
"Baby boy adalah anakku, akulah yang sudah menghamili mu"ucap Fino dengan cepat dengan debaran jantung yang memompa lebih cepat.
Milan membulatkan matanya, raut wajahnya langsung berubah seketika.
Plakk
Bersambung......
Terima kasih atas dukungannya teman-teman 🙏🙏🙏