Mafia Couple Love

Mafia Couple Love
Menyesal


Seorang pengendara motor berhenti tepat di samping wanita yang tengah pingsan di depan kedai makanan. Pengendara motor tersebut lalu memarkirkan motornya, kemudian berjongkok membangunkan wanita yang tegah pingsan tersebut dengan guyuran air hujan yang semakin deras.


"Mbak bangun"ucap pengendara motor tersebut yang tidak lain adalah seorang wanita yang juga basah kuyup.


"Mbak bangun, tolong"teriak wanita tersebut sambil menepuk-nepuk pundak wanita yang tengah pingsan tersebut yang tidak lain adalah Milan.


"Mbak bangun, kumohon bangun mbak, ya tuhan, jangan sampai orang ini meninggal di depan kedai ibu, tolong!" teriak wanita tersebut yang begitu panik.


Wanita tersebut memilih meminta pertolongan, ia pun lalu menggedor-gedor pintu kedai makanan tersebut.


"Bu...buka pintunya..Bu" teriak wanita tersebut sambil terus menggedor-gedor pintu kedai makanan. Cukup lama ia berteriak, kemudian kembali menghampiri Milan yang tengah pingsan. Wanita tersebut dengan sekuat tenaga memapah tubuh Milan untuk duduk di bangku kayu depan pintu kedai masuk tersebut.


Pintu kedai makanan tersebut terbuka dan menampilkan sosok wanita paruh baya yang tengah memegang sapu ijuk.


"NOVITA!, Jam berapa ini" ucap wanita paruh baya itu, dengan suara meninggi mengalahkan suara petir yang menggelegar saat ini disertai dengan hujan serta kilatan petir.


"Bu jangan marah dulu, lihatlah wanita ini tengah pingsan. Cepat bantuin Novi Bu, bawa wanita ini ke rumah sakit"ucap wanita tersebut yang bernama Novi.


Seketika wanita paruh baya itu terkejut, sampai-sampai menjatuhkan sapu ditangannya.


"Ayo bawa masuk ke dalam saja, ini sudah larut malam, tidak ada taksi yang melintas di daerah ini" ucap wanita paruh baya itu yang langsung menghampiri putrinya.


Setelah sempat berdebat kecil untuk ke rumah sakit, akhirnya Ibu dan anak itu memilih membawa Milan masuk ke dalam kedainya yang sekaligus merupakan tempat bernaung nya.


"Bawa ke kamar kamu saja" ucap wanita paruh baya tersebut yang ikut panik yang sedang membantu putrinya mengangkat tubuh Milan. Mereka lalu meletakkan tubuh Milan diatas tempat tidur.


"Dia masih hidup Bu" ucap Novi yang sempat memeriksa nadi Milan.


"Cepat gantikan pakaiannya, ibu akan menghubungi dokter untuk segera memeriksa kondisinya" ucap wanita paruh baya tersebut sambil melepaskan sepatu Milan.


"Baik bu" ucap Novi, kemudian membuka terlebih dahulu helm yang masih bertengger di kepalanya, sehingga tampaklah rambutnya yang menyerupai rambut seorang lelaki. Rupanya Novi merupakan gadis tomboi. Novi lalu melakukan hal yang diperintahkan oleh ibunya.


Novi terlihat ragu untuk membuka pakaian wanita yang ditolongnya. Saat menurunkan resleting jaket Milan, ia pun kembali ragu, namun ia mencoba tenang, hingga membuka satu persatu pakaian Milan. Kemudian kembali menggantikan pakaian Milan dengan pakaian santainya. Otak polosnya, masih bertanya-tanya saat melihat beberapa tanda merah di leher jenjang wanita yang ditolongnya.


Kini Milan sudah berada di atas tempat tidur dengan pakaian yang sudah berganti menjadi pakaian santai, ditambah selimut yang menutupi tubuhnya, agar tetap hangat.


Sementara Ibu Novi kembali mengambil koper beserta paper bag wanita yang ditolongnya yang masih tergeletak di depan kedainya


Tak berselang lama kemudian, seorang lelaki berjas putih yang sangat diyakini berprofesi sebagai dokter bersama seorang perawat masuk ke dalam kedai tersebut sambil membawa tas kerja masing-masing, yang sudah disambut kedatangannya oleh ibu Novi.


"Siapa yang sakit Bu Ani, anda terlihat khawatir" ucap lelaki berjas putih tersebut.


"Cepat dok" ucap Bu Ani yang langsung berjalan menuju kamar putrinya.


Dokter tersebut mengikuti langkah Bu Ani hingga tiba di sebuah kamar sederhana. Novi yang begitu panik, langsung menyuruh dokter tersebut memeriksa wanita asing yang ditolongnya.


Dokter tersebut langsung mengeluarkan benda saktinya berupa stetoskop untuk memeriksa pasiennya. Setelah selesai memeriksa pasiennya, dokter tersebut kembali memerintah perawat untuk menginfus pasiennya. Perawat itu kemudian mengeluarkan alat-alat infus. Untungnya ia tidak lupa membawa alat-alat infus untuk pasiennya, jika menerima panggilan darurat dari pasien diluar . Perawat lalu menyuntikkan jarum infus ditangan Milan untuk menginfusnya. Sedangkan dokter yang menangani Milan mulai angkat bicara mengenai kondisi pasiennya.


"Kondisi tubuh nona ini sangat lemah, dikarenakan tekanan darahnya cukup rendah sehingga mampu membuat tubuhnya menjadi drop, ditambah dia sedang hamil, dan..." ucap dokter tersebut dengan diagnosis nya, yang merasa tidak enak hati melanjutkan ucapannya.


"Dan apa dok" potong Novi.


"Sepertinya dia baru saja berhubungan badan diluar batas, dimana hal tersebut, bisa saja beresiko keguguran di trimester pertama kehamilan, untungnya janin dalam perutnya cukup kuat jadi nona ini masih bisa bertahan dengan janinnya. Saya hanya menganjurkan untuk memberinya makanan bernutrisi tinggi dan jangan lupa memberikan susu untuk ibu hamil sebagai pelengkap asupan gizi untuk ibu dan janinnya, mungkin beberapa jam lagi dia akan sadar, jadi kalian tidak usah khawatir" ucap dokter tersebut yang menjelaskan panjang lebar, tentang diagnosis pasiennya.


"Usia kandungan Mbak ini berapa dok"ucap Novi dengan penuh tanda tanya. Memang dia tidak tahu betul tentang masalah kehamilan.


"Usia kandungannya sudah 8 Minggu dan masih dalam trimester pertama" ucap dokter tersebut sambil tersenyum.


Bukankah dokter Ferdy hanyalah dokter umum, bagaimana bisa dia juga tahu tentang masalah kehamilan. Mungkin memang seperti itu untuk profesi seorang dokter harus mengetahui segala kondisi pasien nya. Batin Novi.


"Sudah, jangan terlalu berpikiran jauh soal kehamilan, nanti juga kamu akan merasakan setelah menikah. Kalau begitu saya permisi dulu"ucap dokter tersebut sambil tersenyum.


"Terima kasih dok" ucap Bu Ani.


Sementara Novi masih belum ngeh dengan ucapan dokter tersebut.


"Ini sudah kewajiban saya sebagai seorang dokter, tetap jaga kesehatan ya Bu Ani" ucap dokter tersebut yang merupakan sahabat Bu Ani.


"Iya dok"ucap Bu Ani.


"Kasihan sekali Mbak ini" ucap Novi sambil memijit kaki Milan.


Sementara di tempat lain.....


Seorang wanita cantik dengan luka diwajahnya yang tidak lain adalah Gabriela, masih mengalami perawatan di rumah sakit. Dokter dan perawat masih berusaha menangani luka di bagian wajahnya dengan tusukan yang cukup dalam. Dokter lelaki itu, terus berusaha menangani Gabriela hingga menjahit luka di wajah Gabriela dan berakhir membalut dengan kain perban.


"Kapan nona Gabriela akan menjalani operasi dok"tanya assisten Gabriela.


Sedangkan Gabriela masih terpengaruh obat bius.


"Sekitar sebulan, setelah luka diwajahnya benar-benar kering" ucap dokter lelaki yang baru saja menangani Gabriela. Kemudian keluar dari ruangan tersebut.


Ponsel Gabriela tiba-tiba berbunyi. Assisten yang berada di sampingnya langsung mengangkat panggilan masuk tersebut.


"Apa kau sudah menghabisi Fino Alexander" ucap lelaki misterius di ujung telepon.


"Ampun ketua, nona Gabriela sedang terluka parah dan saat ini sedang melakukan perawatan di rumah sakit"ucap assisten tersebut yang merupakan lelaki jadi-jadian, yang berwujud setengah wanita.


"Bodoh, katakan padanya aku sendiri yang akan turun tangan untuk menghabisi nyawa Fino Alexander" ucap lelaki misterius tersebut yang marah besar di ujung telepon, lalu mematikan sambungan telepon nya secara sepihak.


Aku harus ke negara B untuk membalaskan dendam ku kepada Fino Alexander. Batin lelaki misterius tersebut.


Sementara di kediaman Fino.....


Fino masih saja duduk di sofa sambil melamun dengan kedua tangannya yang sudah terluka. Lamunannya dibuyarkan mendengar dering ponselnya yang berbunyi heboh. Fino lalu berjalan mencari ponselnya yang entah kemana ia letakkan. Namun suara ponselnya mampu mengarahkan dirinya hingga ke meja rias.


Kemudian Fino mengambil ponselnya tepat di atas meja rias. Ia pun langsung menggeser ikon berwarna hijau untuk mengangkat panggilan masuk tersebut.


"Ada apa chiko" ucap Fino dingin.


"Tuan, soal foto nona Milan dengan tuan David sebagian besar hasil editan oleh orang yang tidak bertanggung jawab dan saat ini saya sudah menangkap pelakunya. Ku harap tuan tidak melakukan kesalahan kepada nona Milan" ucap Chiko dengan hati-hati.


"Aku sudah mengetahuinya, tak perlu kau memperingatkan ku hah!" teriak Fino kesal lalu mematikan sambungan telepon secara sepihak, kemudian dengan kesal ia pun kembali membantingnya ponselnya.


Ya memang dia bukan sosok lelaki yang mudah dibodohi oleh foto editan tersebut. Namun api cemburu yang terlalu tinggi membuat dirinya ikut terbakar. Ditambah amarah yang semakin menjadi-jadi membuat dia mampu melakukan tindakan apapun.


"Akkhhhh"


"Mengapa aku baru menyesali perbuatan ku"teriak Fino, lalu kembali mengangkat kursi meja rias kemudian membantingnya.


Fino kembali duduk di tempat tidur, pikirannya kembali tertuju kepada Milan. Sungguh ia merasa kehilangan sosok wanita yang selalu saja ia hina habis-habisan, padahal baru beberapa jam saja ia ditinggal, namun membuat dirinya merasa tidak berdaya.


Fino kemudian bangkit dari duduknya, lalu berjalan menuju toilet untuk membersihkan sisa darah segar ditangannya.


Terlihat Fino sudah mengenakan pakaian santainya, ia pun dengan buru-buru berjalan keluar kamarnya hingga tiba di ujung tangga. Fino kembali berjalan menuju ruang kerjanya untuk mengambil salah satu ponsel yang biasa ia gunakan untuk bekerja, sedangkan ponsel yang sering ia gunakan sehari-hari sudah hancur berkeping-keping.


Tak lupa Fino menghubungi Chiko untuk mengerahkan seluruh anggota The Tiger untuk mencari keberadaan Milan istrinya. Kini Fino sudah berada di dalam mobilnya, ia pun kembali menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia benar-benar baru menyesali perbuatannya dan berharap bisa dipertemukan kembali dengan Milan.


Fino lalu menancap gas meninggalkan kediamannya menuju bandara. Derasnya air hujan tak mempengaruhi kecepatan mobilnya melintasi jalan raya, demi suatu tujuan yaitu membawa Milan kembali ke kediamannya.


"Aku tidak ingin, kau pergi jauh dariku gadis tua" gumam Fino sambil mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Bagaimana mungkin aku melakukan hal bodoh seperti ini"ucap Fino yang terus saja mengoceh tak jelas tentang dirinya. Bahkan sesekali memukul stir mobilnya dengan kesal.


Hingga pada akhirnya ia tiba di bandara internasional negara B. Fino lalu memarkirkan mobilnya di area parkir. Kemudian ia pun dengan cepat turun dari mobil dan langsung berlari memasuki bandara.


"Milan"teriak Fino menggema di area bandara.


Untuk pertama kalinya ia memanggil nama istrinya dengan jelas. Biasanya hanya menggunakan embel-embel gadis tua dan banyak macamnya.


Bersambung.......


Terima kasih untuk seluruh teman-teman yang selalu setia memberikan dukungannya terhadap Mafia Couple Love 🙏🙏🙏


Mohon maaf, bila alurnya tak sesuai dengan harapan teman-teman semua 🙏🙏