
Fino kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju kediamannya. Baru saja seseorang mencari masalah dengan nya. Fino merasa yakin bahwa kelompok mafia XX yang baru saja menyerangnya.
Milan terus saja melamun di dalam mobil, wajahnya pun tampak murung dan tidak bersemangat untuk melanjutkan hidupnya. Mobil yang membawa mereka sudah memasuki gerbang depan, para penjaga menyambut kedatangan mereka dengan penuh hormat.
Hari-hari yang ia lalui di kediaman Fino membuatnya sedikit melupakan kejadian yang menimpanya, namun kali ini seolah kejadian tersebut terukir kembali di pikirannya, tentang kelakuan bejat seorang lelaki b****k yang sudah mengambil kesuciannya, namun sama sekali ia tidak tahu siapa lelaki itu dan parahnya lagi, sampai saat ini, ia belum mampu menemukan dalangnya.
"Hei turun!" teriak Fino yang tampak sehat bugar, yang membuyarkan lamunan Milan.
Tanpa menjawab, Milan lalu turun dari mobil dan berjalan tergesa-gesa memasuki kediaman suaminya. Ia sama sekali tidak bersikap ramah kepada parah pelayan wanita yang sedang berbaris menyambut kedatangan nya. Milan hanya acuh dan terus berjalan hingga tiba di sebuah kamar yang pernah ia tempati.
Bi Sri bersama pelayan wanita lainnya, merasa heran dengan tingkah laku majikannya yang sama sekali tidak bersikap ramah kepada mereka.
Fino memilih berjalan menuju ruang kerjanya. Karena Ia mempunyai urusan penting yang harus segera dituntaskan. Fino lalu menghubungi Chiko untuk mengumpulkan anggota The Tiger di markas mereka. Sedangkan Milan kembali menumpahkan air matanya di dalam kamar dan memilih menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur dengan kasar.
"Aku benci dengan takdir ku seperti ini"ucap Milan yang terus saja menangisi takdir hidupnya.
Ia kembali melanjutkan tangisnya, sungguh ia menjadi rapuh dengan kenyataan bahwa dirinya sedang hamil, apalagi hamil dari lelaki lain.
Sementara Fino yang baru saja menghubungi Chiko, memilih keluar dari ruang kerjanya. Ia pun menaiki anak tangga menuju kamarnya. Saat memasuki kamarnya, ia sama sekali tidak menemukan keberadaan Milan.
"Kemana perginya gadis tua. Aku bahkan ingin mengajaknya ke markas" ucap Fino lalu membuka ponselnya untuk menghubungi Milan, namun niatnya kembali ia urungkan.
"Tampaknya ia sedang bersedih dan ingin menyendiri, sudahlah aku tidak perlu mengajaknya" ucap Fino dengan pemikirannya yang sempat memperhatikan Milan yang hanya murung dan tak bersemangat.
Fino kembali ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya. Setelah selesai berganti pakaian dengan setelan jasnya yang selalu saja membuatnya tampil sempurna, ia pun kembali menuruni anak tangga.
"Bi Sri" teriak Fino diujung tangga.
Bi Sri dengan cepat menghampiri tuannya.
"Ada apa tuan Fino" ucap Bi Sri sambil menunduk.
"Jangan biarkan gadis tua keluar rumah. Apapun itu caranya, kalau perlu suruh penjaga berjaga-jaga di depan kamarnya, apa kamu paham!" ucap Fino tegas.
"Baik tuan" ucap Bi Sri sambil menunduk.
"Aku ada urusan di luar dan kemungkinan besar aku akan pulang larut malam. Ehh jangan lupa buatkan masakan spesial untuknya, karena gadis itu jago makan" ucap Fino lalu melenggang pergi ke luar rumah.
Tampak dihalaman depan Chiko sudah memarkirkan mobil tuannya. Saat melihat kedatangan tuannya, dengan cepat ia turun dari mobil dan membukakan pintu untuk tuannya. Fino lalu duduk di kursi belakang. Sedangkan Chiko berlari kecil untuk masuk ke dalam mobil dan siap mengemudikan mobil tuannya.
"Apa kau sudah menjenguk Lexa" ucap Fino yang tampak duduk tenang di dalam mobil. Karena ia pun sempat dikabari oleh dokter yang menangani Lexa.
"Belum tuan, sepertinya saya sudah tidak bisa menemuinya" ucap Chiko yang fokus mengemudikan mobil.
"Kenapa?" tanya Fino yang sedang memainkan ponselnya.
"Nona Lexa tidak pantas untuk saya tuan" ucap Chiko jujur.
"Ha ha ha, lalu mengapa kau memberikan harapan kepadanya lewat sikap manis dan perhatian mu" ucap Fino diselingi tawanya.
"Saya hanya kasihan kepada nya tuan. Dan sekarang ia kembali terlahir sebagai Lexa Damanik. Sungguh saya dan nona Lexa hanyalah langit dan bumi" ucap Chiko merendahkan diri nya.
Bagaimana mungkin ia harus berhubungan dengan putri Alvin Damanik yang sangat terhormat dan disegani di negara B. Sedangkan dirinya hanyalah seorang sekertaris tuan Fino yang sama sekali hanya debu jalanan yang tidak memiliki apa-apa. Bahkan ia sadar diri, hanya orang hebat yang mampu bersanding dengan putri Alvin Damanik. Salah satunya adik majikannya Darren Alexander Tiger.
Aku tidak ingin bernasib sama seperti nona Milan. Walaupun jika kamu saling mencintai, pasti orang-orang akan memandang rendah diriku, yang sama sekali bukan kalangan elite. Batin Chiko sambil tersenyum sinis.
"Mengapa seperti itu, kau menyerah untuk mendapatkan nya" ucap Fino yang selalu saja menyudutkan sekretaris nya.
"Iya tuan, karena saya hanya orang miskin yang tidak pantas mendapatkan seorang tuan putri" ucap Chiko yang berhasil menyindir halus majikannya.
Raut wajah Fino menjadi berubah mendengar ucapan Chiko yang menyindirnya secara halus membuat dirinya merasa tersinggung.
Semoga tuan sadar dengan ucapan saya. Sungguh saya sangat kasihan kepada nona Milan yang terus saja mendapatkan penghinaan dari mulut kasar tuan Fino. Batin Chiko.
"Hemm, ya sudah cari saja yang lain. Chiko buat wanita ular itu menemui ku secepatnya. Berani-beraninya dia terus mengirimi ku chat rahasia yang tidak jelas" ucap Fino acuh, lalu memilih mengambil tablet dengan merek buah apel bekas gigitan hewan di samping nya dan kembali fokus memeriksa email masuk di tablet nya.
"Baik tuan, saya akan membuatnya menemui tuan secepatnya" ucap Chiko.
Mobil melaju kencang membelah jalanan pusat kota, menuju markas besar the Tiger di negara B yang jauh dari pusat kota. Tak berselang lama kemudian, mobil mereka memasuki gerbang depan yang kembali mendapatkan penjagaan super ketat, dimana para penjaga menggunakan senapan panjang masing-masing. Kawasan markas besar the Tiger memiliki halaman yang begitu luasnya yang dipenuhi rumput hijau dan ilalang.
Chiko memilih memarkirkan mobil tuannya, di parkiran khusus. Kemudian berganti mobil Jeep untuk memasuki markas besar the Tiger. Mereka kembali melewati perjalanan sekitar 100 meter hingga tiba di sebuah bangunan dua lantai yang tampak kokoh layaknya sebuah hotel.
Di sisi bangunan bagian Utara terdapat area latihan tembak untuk para anggota The Tiger. Tidak hanya itu di bagian belakang gedung terdapat menara kecil sebagai tempat ajuadrenalin melalui panjat tebing. Terdapat sebuah bangunan khusus untuk latihan fisik para anggota The Tiger seperti, boxing, mhuatai, panahan, karate dan juga terdapat ruangan gym untuk membuat tubuh anggota The Tiger menjadi kekar dan berotot.
Mobil jeep yang digunakan Fino berhenti tepat di depan pintu bangunan yang tampak kokoh. Anggota The Tiger yang berjumlah 7 orang sedang berjaga-jaga di pintu bangunan dengan penuh hormat membungkukkan badannya melihat mobil ketua mereka. Chiko dengan cepat turun dari mobil, lalu membukakan pintu mobil untuk tuannya. Fino turun dari mobil, pintu bangunan ikut terbuka lebar yang menampilkan para anggota The Tiger tampak berbaris rapi di dalam sana.
Fino berjalan dengan penuh wibawa masuk ke dalam markas besarnya. Seluruh anggota The Tiger, dengan penuh hormat membungkukkan badannya, hingga ketua mereka tiba di kursi kebesarannya, barulah mereka berdiri dengan tegak.
Para anggota The Tiger yang memiliki jabatan tinggi berbaris di bagian depan. Salah satu dari mereka mulai membuka pertemuan khusus dengan memberikan sambutan kepada ketua The Tiger.
Kemudian Fino mulai mengambil alih, ia pun menyapa seluruh anggotanya dengan visi misi dari The Tiger yang menjadi kelompok mafia paling di takuti di dunia. Fino mulai memberikan wejangan untuk para anggota The Tiger, untuk tetap bersatu dan kuat dalam menghadapi musuh-musuh mereka.
Kemudian Chiko mulai mengeluarkan pendapat setelah dapat persetujuan dari ketuanya. Chiko mulai menjelaskan mereka, tentang rencana kedepannya untuk memusnahkan musuh-musuh the Tiger yang mulai bermunculan. Berjam-jam mereka mengadakan pertemuan penting tersebut.
Setelah itu, Fino, Chiko beserta anggota The Tiger lainnya menemani ketua mereka berkeliling di markas besar the Tiger dan dapat melihat aktivitas yang dilakukan oleh para anggota The Tiger dan berakhir makan siang bersama. Hingga malam hari pun tiba, Fino masih saja betah di markasnya, bersama Chiko dan Zero yang merupakan orang kepercayaan mengawasi seluruh aktivitas di markas the Tiger, mereka kembali makan malam bersama dengan para anggota The Tiger.
Sementara Milan terus saja menangis hingga ia lelah dan sakit kepala, ia sangat sedih. Kemudian ia pun memilih tidur dengan air mata yang masih menggenang di pelupuk matanya. Sampai-sampai ia melewatkan makan siang nya. Padahal para pelayan sudah menyiapkan makan siang untuknya di dalam kamar.
Milan sama sekali tidak memakan makan siang tersebut, ia sedang tidak berselera makan, hanya minum segelas susu dan air, yang mampu melegakan tenggorokan nya. Milan kembali melanjutkan tidurnya hingga malam hari.
Para pelayan begitu khawatir dengan majikannya yang tidak ingin di temui. Milan meminta kepada mereka untuk tidak masuk ke dalam kamarnya sampai ia sendiri yang membuka pintu kamarnya.
Milan mulai terbangun saat merasa perutnya perih karena tidak terisi makanan, di tambah tubuhnya begitu lemah dengan kepala sedikit pusing karena terlalu lama menangis.
Milan kembali memegangi perutnya, dengan air mata yang selalu saja mengalir dengan sendirinya. Memang seperti itu, yang terjadi pada wanita hamil dimana hormonnya akan berubah-ubah. Ditambah masalah yang menimpanya cukup rumit.
"Walaupun kau tidak ku inginkan di dalam perutku, tapi aku berjanji, akan menjagamu dan merawat mu, hingga kau terlahir di dunia ini, hiks hiks hiks" ucap Milan disertai dengan Isak tangis nya.
"Inilah kesedihanku, tak satu pun akan mengerti kesedihan ku".
Milan dengan kasar menghapus air matanya. Ia pun lalu beranjak ke sofa untuk memakan makan siang nya yang sama sekali tidak ia sentuh. Walaupun tidak berselera, namun ia tidak ingin egois dengan sosok malaikat kecil di dalam perutnya yang butuh asupan, apalagi merupakan darah dagingnya sendiri. Sungguh bagaimana pun seorang ibu jahatnya, pasti tetap merasakan rasa perih jika menelantarkan anaknya.
Milan berhasil menghabiskan makan siang yang sekaligus dijadikan makan malam. Milan kembali menyandarkan punggungnya di sofa dengan tatapan kosong.
"Sebaiknya aku harus meminta cerai dengan tuan Fino. Jika ia menolak bercerai, maka aku akan mengatakan sejujurnya, bahwa aku sedang mengandung anak lelaki lain"ucap Milan yang terlihat rapuh.
"Walaupun lelaki aneh itu membunuhku sekalian".
Cukup lama Milan termenung, kemudian ia pun beranjak ke dalam toilet untuk membersihkan tubuhnya yang sudah lengket.
Milan berendam air hangat di dalam bathtub, ia pun merasa rileks dan tidak ingin stress memikirkan permasalahan hidupnya.
Hanya sebentar ia melakukan ritual mandi nya. Milan lalu menyambar handuk, kemudian melilitkan nya di tubuhnya. Ia pun lalu berjalan menuju lemari pakaian. Milan tercengang tidak mendapati satu pun pakaian wanita di dalam lemari. Memang seluruh pakaian yang di siapkan untuknya, sudah berada di kamar suaminya.
Hanya kimono yang tergantung di dalam lemari tersebut. Milan tidak punya pilihan lain, ia pun memakai kimono tersebut tanpa menggunakan pakaian dalam.
Krukk
krukk
Perutnya pun kembali berbunyi, ia yakin karena pengaruh janin dalam perutnya. Milan memilih berjalan keluar dari kamar nya yang hanya mengenakan kimono dengan rambut panjang nya yang tergerai indah.
Beberapa lampu penerangan tampak sudah padam. Hanya bagian ruang makan yang masih menyala. Sepertinya para pelayan wanita sudah beristirahat. Milan berjalan mengendap-endap layaknya seorang pencuri berkeliaran di ruangan yang remang-remang, hingga ia pun tiba di ruang makan.
Milan membuka lemari pendingin untuk mengambil beberapa bahan makanan untuk ia masak, ia tidak ingin merepotkan para pelayan yang sudah beristirahat di dalam kamarnya. Milan memilih memasak makanan yang simpel, ia hanya masak pasta dengan sup ayam. Sambil mengunyah buah segar, Milan asyik mengaduk memasaknya.
Hanya 30 menit masakannya sudah siap disajikan. Ia pun lalu menyajikan masakan nya yang begitu lezat di atas meja makan. Milan lalu menikmati masakan nya dengan lahap hingga tak tersisa.
Sepasang mata sedang memperhatikannya dengan intens, di balik pintu ruang makan, tanpa ingin mengganggu nya.
Milan kemudian membereskan peralatan makannya. Ia pun memilih mencuci piring, setelah selesai, ia pun mencuci tangan nya di wastafel.
Milan terlonjat kaget, sebuah tangan kekar melingkar di perutnya. Milan ingin memukuli orang tersebut, namun tidak ia lakukan. Karena orang tersebut membalikkan tubuhnya hingga menghadap kearah nya.
"Kau belum tidur" ucap seseorang yang tidak lain adalah Fino.
Jantung Milan kembali berdegup kencang menatap wajah Fino. Ia sama sekali tidak tahu harus berkata apa.
Fino kembali menarik pinggang nya hingga lebih dekat.
"Kau baru saja melakukan hal bodoh, apa kau sudah puas dengan sikap mu seperti ini hah!" Ucap Fino yang terus menatap tajam Milan, hingga sesekali menelan salivanya berulang kali, melihat penampilan Milan yang terlihat menggoda.
Milan malah memalingkan wajahnya, sungguh ia tidak sanggup bersitatap dengan Fino.
Fino mulai memajukan wajahnya, karena tidak mendapat jawaban dari Milan. Milan dengan cepat menghindar.
"Aku ingin mengatakan suatu hal kepada tuan Fino" ucap Milan sambil menunduk.
Fino menghentikan aksinya, sambil mengerutkan keningnya.
"Katakan saja"ucap Fino dengan cepat.
"Apa tuan mencintaiku " ucap Milan sambil mendongak dengan pertanyaan yang tidak pernah ia duga akan keluar dari mulutnya.
Astaga pertanyaan macam apa ini, aku sungguh begitu bodohnya, tapi biarlah. Mungkin dengan pertanyaan seperti ini, aku akan mengetahui rencana ku selanjutnya. Batin Milan.
Fino membulatkan matanya, dengan keterkejutan hebat. Ia pun lalu melepaskan tangannya di pinggang istrinya.
"Hah! jangan mimpi kamu, mana mungkin aku mencintaimu, kau sama sekali bukan tipeku. Kau hanyalah gadis tua yang berwajah menyedihkan, apalagi kamu hanyalah gadis murahan. Kau hanya perlu menjadi pemuas hasrat ku, ingat itu!. Tidak mungkin, wanita seperti mu mendapatkan cintaku" ucap Fino sambil tersenyum sinis, dengan elaknya yang begitu menyakitkan.
Deg
Jantung Milan sungguh teriris pisau belati, rasa sesak di dadanya muncul secara tiba-tiba. Sungguh ia sakit hati mendengar ucapan Fino.
Sebaiknya aku tidak perlu berkata jujur kepada lelaki aneh ini. Batin Milan.
"Syukurlah jika seperti itu tuan. Saya cuman tidak ingin anda jatuh cinta kepada saya. Karena saya sudah memiliki seorang lelaki yang sangat saya cintai, bahkan saya sedang meng..."ucap Milan dengan senyum yang dipaksakan dan langsung tersadar dengan ucapannya sendiri yang hampir saja keceplosan.
Fino mengepalkan tangannya, mendengar ucapan Milan yang sudah mencintai lelaki lain. Namun ia tetap menjaga imagenya di depan Milan.
"Sebaiknya kita ber...."
Belum sempat Milan menyelesaikan ucapannya. Fino berhasil membungkam mulut Milan dengan bibirnya bahkan menggigit bibir ranum Milan dengan kesalnya.
"Jangan pernah ucapan kata-kata laknat itu" ucap Fino marah.
Lalu meninggalkan Milan yang sedang memegangi bibir bagian bawah nya yang sudah berdarah.
Terus bagaimana caranya, agar aku bisa lepas dari mu tuan. Apakah aku harus berkata dengan entengnya, bahwa aku sedang mengandung anak lelaki lain. Sungguh aku takut dan tak sanggup. Batin Milan sambil memegangi bibirnya.
Bersambung.......
Terima kasih atas dukungannya teman-teman 🙏
Mohon maaf, saya tidak sanggup untuk update banyak. Waktu saya nulis hanyalah malam hari, itupun kalau sempat. Soalnya pagi harinya, saya harus bekerja keras.
Jadi mohon maaf yang sebesar-besarnya 🙏🙏