Mafia Couple Love

Mafia Couple Love
Mengunjungi orang terkasih ku


Pagi harinya


Fino terbangun lebih awal, ia pun mulai mengerjapkan matanya sambil melihat sosok wanita di di dekapannya yang masih tertidur pulas. Fino dengan lembut membelai wajah Milan sambil memindahkan anak rambut Milan yang menutupi wajahnya. lalu turun menyentuh leher Milan yang tampak lebam. Kemudian dengan hati-hati ia pun menggeser tubuhnya, agar tidak membangunkan nya.


Fino lalu bangkit dari tempat tidur, kemudian ia pun berjalan menuju toilet untuk membersihkan tubuhnya. Sementara Milan mulai mengerjapkan matanya sambil mengumpulkan kesadarannya, ia langsung melirik ke samping mencari lelaki yang dibencinya, layaknya mencari ponsel di pagi hari.


“Apa dia sudah bangun”gumam Milan yang masih meringkuk di atas tempat tidur sambil memeluk guling.


Cklek


Pintu toilet terbuka menampilkan sosok Fino yang terlihat segar dengan rambut basahnya. Milan langsung melirik kearah Fino dengan ekor matanya hingga Fino berlalu masuk ke ruang ganti.


“Lelaki aneh itu semakin berkharisma saja, masih pagi-pagi ia sudah segar bugar. Pastinya pagi ini dia akan ke kantor”ucap Milan yang masih betah di atas tempat tidur.


Fino keluar dari ruang ganti mengenakan kemeja hitam berlengan panjang yang dipadukan dengan celana berbahan kain yang terlihat senada dengan kemejanya serba hitam-hitam. Namun anehnya tidak mengenakan setelan jasnya. Fino memilih berjalan mendekat kearah tempat tidur.


“Bangunlah, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, jadi cepatlah bersiap. Dan ingat aku tidak suka menunggu lama”ucap Fino tegas lalu memilih menghadap ke cermin untuk melihat penampilannya. Fino mengambil sisir rambut lalu merapikan rambutnya, setelah merasa puas dengan tatanan rambutnya, ia pun memilih duduk di sofa sambil memainkan ponselnya menunggu Milan bersiap-siap


Milan langsung bangkit dari tempat tidur, dan bergerak cepat berjalan menuju toilet untuk membersihkan tubuhnya. Ia pun membersihkan tubuhnya dengan cepat tanpa melakukan ritual berendam di dalam bathub. Setelah selesai membersihkan tubuhnya yang sempat saja meringis kesakitan karena lukanya, dengan cepat ia pun kembali melangkah ke ruang ganti.


“Kemana ya lelaki aneh itu akan mengajakku”ucap Milan yang tengah berdiri di depan lemari pakaian.


“Sudahlah, aku tidak perlu ambil pusing, kemana pun dia akan mengajakku, itu sama sekali tidak masalah bukan”ucap Milan lalu mengambil pakaian santai yang sangat sopan dan tertutup dengan warna senada dengan suaminya.


Milan kemudian keluar dari ruang ganti dan memilih berjalan menuju meja rias untuk mengeringkan rambutnya, tampak Fino melirik Milan sekilas yang tengah mengeringkan rambutnya, kemudian fino bangkit lalu menghampiri Milan. Sedangkan Milan mulai mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.


“Apa masih lama”tanya Fino yang sedang berdiri di belakangnya.


“Sebentar lagi tuan”ucap Milan yang masih saja sibuk mengeringkan rambutnya.


Fino hanya mampu menghembuskan nafasnya dengan kasar, kemudian memilih duduk di pinggir tempat tidur sambil memperhatikan Milan yang telaten mengeringkan rambutnya.


Milan pun tersenyum, karena berhasil mengeringkan rambutnya dengan cepat. Ia pun tak lupa menyisir rambutnya lalu mengucirnya tinggi, agar tidak membuatnya gerah. Tak lupa Milan memoles wajahnya dengan pelembap wajah dan sedikit memoles bibirnya dengan pewarna bibir. Sungguh penampilannya terlihat manis dan anggun, entah mengapa ia melakukan semua itu, biasanya ia sama sekali tidak peduli dengan penampilannya, bahkan memoles wajahnya saja sangat jarang bahkan menyisir rambutnya pun jarang ia lakukan, apakah ia ingin tampil berbeda di hadapan suaminya, yang jelas hanya Milan yang mampu mendeskripsikan pikiran dan isi hatinya. Tak lupa Milan menyemprotkan parfum ke seluruh tubuhnya agar tetap wangi.


Fino sama sekali tidak mengalihkan pandangannya kearah lain, ia hanya fokus menatap Milan yang tengah bersiap.


“Apa sudah selesai”ucap Fino dingin yang sedang menatap Milan dengan intens.


“Iya tuan Fino”ucap Milan sambil tersenyum manis.


“Hemm, kemarilah kau bahkan belum mengoleskan lukamu dengan salep luka ini”ucap Fino sambil mengangkat salep luka ditangannya.


Milan langsung mendekat layaknya anak kecil manis yang patuh, dan duduk di samping Fino. Fino kembali mengoleskan salep luka di leher, tangan dan kaki Milan dengan telaten.


“Sudah selesai, jangan lupa oleskan salep luka ini dua kali sehari, agar lukamu cepat kering”ucap Fino sambil menatap manik mata istrinya.


“Terima kasih tuan Fino, kau selalu saja mengobati lukaku”ucap Milan malu-malu sambil menunduk yang tidak sanggup bersitatap dengan Fino dengan jarak yang cukup dekat.


“Mengapa kau berbicara sambil menunduk, angkat wajahmu gadis tua”ucap Fino dingin yang terus saja menatap wajah Milan.


Milan pun langsung mengangkat wajahnya hingga pandangan mata mereka kembali bertemu dan saling tatap sepersekian detik. Hingga tanpa sengaja tangan Fino langsung memegang kunciran rambut Milan dan tanpa aba-aba ia langsung.


Cup


Fino mencium kening Milan dengan penuh kasih sayang, debaran jantung keduanya kembali bereaksi cepat. Milan hanya mampu membulatkan matanya, ia sama sekali terpesona dengan perlakuan suaminya.


Fino lalu menghentikan aksinya dan kembali menatap manik mata istrinya dengan tatapan sendunya. Fino dibuat kalang kabut melihat penampilan Milan kali ini yang tampil berbeda, ia pun beralih menatap bibir ranum Milan yang tampak menggoda dengan sedikit pewarna bibir yang kembali tertantang untuk ia nikmati. Tanpa basa-basi, Fino kembali mendekatkan wajahnya, sedangkan Milan memilih memejamkan matanya, saat deru nafas suaminya semakin menerpa wajahnya. Fino terus saja memajukan wajahnya semakin dekat dan semakin dekat hingga hidung mancung mereka sudah bersentuhan, Fino lalu memiringkan sedikit kepalanya untuk menggapai bibir ranum istrinya.


Namun belum juga sampai, suara dering ponsel tiba-tiba saja mengagetkan mereka berdua. Fino langsung menjauhkan wajahnya dengan tampan gelagapan dan langsung mengambil ponsel di samping nya. Dan memilih menjauh untuk mengangkat panggilan masuk tersebut. Sedangkan Milan langsung membuka matanya sambil mengatur debaran jantungnya yang selalu saja berdebar jika bersama dengan Fino, dengan rona wajah memerah.


Sial!, siapa yang berani menggangguku. Batin Fino kesal yang sudah memegangi ponselnya.


Tertera nama Chiko di layar ponselnya, Fino dengan kesal mengangkat panggilan masuk Chiko.


“Hemm, ada apa”ucap Fino dingin dengan perasaan kesal.


“Apa tuan akan ke kantor pagi ini”ucap Chiko dengan hati-hati.


“Tidak, aku akan pergi ke suatu tempat”ucap Fino sambil melirik Milan yang masih saja menarik nafas dalam-dalam dengan rona wajah memerah.


“Maaf sudah menggangu waktu tuan, semoga kunjungan anda berjalan lancar"ucap Chiko


Fino langsung mematikan ponselnya secara sepihak, ia dibuat kesal karena dapat gangguan dari panggilan masuk Chiko yang sama sekali tidak penting. Ia pun tidak mungkin mengulangi kejadian tadi, memulainya saja begitu sulit baginya, karena harus memulainya dengan cara apa untuk mendekati Milan.


Fino kembali menghampiri Milan dengan wajah datarnya. Milan langsung bangkit dari duduknya dengan perasaan campur aduk.


"Ikut denganku" ucap Fino sambil menarik tangan Milan lalu menggenggamnya dengan erat berjalan keluar dari kamarnya.


Milan hanya mampu mengikuti langkah kaki Fino yang sedang menggenggam tangannya menuruni anak tangga. Fino memilih membawa Milan untuk sarapan terlebih dahulu sebelum ke suatu tempat yang akan mereka kunjungi.


Kini mereka tengah duduk bersama di kursi meja makan. Milan kembali mencoba bersikap manis kepada Fino dengan mengambilkan potongan sandwich di piring suaminya. Kemudian barulah ia meletakkan sandwich di piring nya. Ia pun harus merubah sikapnya dan membiasakan diri untuk melayani keperluan suaminya.


Fino dengan santai mulai menikmati sarapannya. Sementara Milan masih menimbang-nimbang ucapan nya barusan.


Apaan sih aku, bisa-bisanya menyebutkan kata suamiku di depan tuan Fino. Untungnya lelaki aneh ini tidak marah. Batin Milan sambil mengunyah makanan nya.


Sehabis sarapan bersama, Fino kembali menggandeng tangan Milan dan membawanya menuju pintu utama. Milan lagi-lagi dibuat bingung dengan tingkah laku Fino. Tampak mobil sport merah sudah terparkir rapi di teras rumahnya dengan dua penjaga yang berdiri di samping mobil tersebut. Rupanya merekalah yang menyiapkan semua itu.


Fino lalu menuntun Milan masuk ke dalam mobil nya. Setelah itu, ia pun baru masuk ke dalam mobilnya untuk mengemudikan mobilnya menuju tempat yang akan ia tuju.


Mobil melaju meninggalkan pelataran rumah. Suasana keduanya tampak canggung di dalam mobil. Milan hanya duduk manis di dalam mobil tanpa banyak bicara, sementara Fino hanya fokus mengemudikan mobilnya.


"Kita mau kemana tuan?"ucap Milan yang sedari tadi ingin bertanya kemana mereka akan pergi.


"Kita akan mengunjungi orang terkasih ku"ucap Fino dingin yang fokus mengemudikan mobilnya.


Orang terkasih, jangan-jangan pacarnya atau calon maduku, hah! tidak-tidak... jangan berpikiran negatif seperti itu, berpikirlah yang positif Milan agar hal yang baik selalu menghampiri mu. Batin Milan sambil menatap ke arah jalanan.


Mobil Fino terus melaju kencang membelah jalanan pusat kota, lama-kelamaan mobil mereka mulai memasuki daerah yang tampak rindang dengan pepohonan yang mulai berjejer rapi di pinggir jalan hingga mereka memasuki kawasan gerbang permukiman anggota The Tiger.


"Inikan daerah rumah para anggota The Tiger"gumam Milan yang mengamati setiap rumah minimalis yang sama persis dengan yang lainnya, begitu juga warna cat setiap rumahnya. Milan pernah memasuki daerah tersebut bersama majikannya.


Mobil Fino kembali melaju hingga memasuki kawasan perkuburan khusus anggota The Tiger. Fino memilih memarkirkan mobilnya dibawah pohon rindang. Ia pun lalu turun dari mobil kemudian berjalan ke samping membukakan pintu mobil untuk Milan.


Dengan penuh tanda tanya, Milan turun dari mobil sambil mengamati area di sekelilingnya. Fino memegang 2 buket mawar merah dan kembali menggandeng Milan melewati area perkuburan hingga menghentikan langkahnya di sebuah kuburan yang tampak terawat yang disampingnya di kelilingi tanaman bunga mawar.


Dua buah kuburan bertuliskan batu nisan dengan nama perempuan dan laki-laki. Fino lalu melepaskan tangannya, dan duduk berjongkok di samping kuburan tersebut, sambil meletakkan buket bunga yang dibawanya.


Milan ikut duduk berjongkok di samping suaminya dengan penuh tanda tanya. Ia pun mengamati kedua batu nisan tersebut yang satu bertuliskan Mawar binti Abraham dan yang satunya tertulis Leonardo bin Muis Muhammad.


Terlihat Fino mulai memanjatkan doa untuk kedua orang tuanya. Setelah selesai, ia pun mengelus batu nisan kedua orang tuanya.


Ayah ibu, aku membawa seorang wanita yang sudah menjadi istri ku. Semoga kalian suka dengannya, karena takdir lah yang mempertemukan kami berdua. Batin Fino dengan mata berkaca-kaca.


Milan juga ikut memanjatkan doa untuk mereka sambil memejamkan matanya.


"Dialah orang terkasih ku yaitu kedua orang tuaku"ucap Fino dengan mata berkaca-kaca dengan pandangan lurus ke depan.


Milan yang baru saja memanjatkan doa melirik ke arah suaminya.


Jadi inilah orang terkasihnya.


Ayah mertua dan ibu mertua semoga kalian tetap berada di tempat terbaik di alam sana. Batin Milan lalu mengelus punggung kekar suaminya.


Cukup lama mereka berada di tempat itu. Milan tampak terharu sambil terus mengelus punggung kekar suaminya. Hingga terik matahari mulai menggosongkan permukaan kulit mereka.


"Ayo kita pergi" ucap Fino dingin yang mulai bangkit.


Milan pun ikut bangkit, dan kini gilirannya yang menggandeng tangan suaminya. Fino melirik ke arah tangannya yang sedang digandeng oleh Milan. Mereka berjalan beriringan sambil bergandengan tangan hingga tiba di mobilnya. Mereka lalu masuk ke dalam mobilnya. Fino sempat terdiam di dalam mobilnya dengan rasa sesak yang kembali menyelimutinya.


Milan kembali menatap ke arah suaminya yang sedang menatap lurus ke depan dengan tatapan kosongnya. Milan lalu menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Fino, kemudian ia pun langsung memeluk suaminya. Fino pun ikut membalas pelukan Milan dengan erat.


"Aku tahu perasaan mu seperti apa tuan, yang jelas, aku pun biasa mengalami hal ini" ucap Milan di pelukan Fino.


Ya memang dia juga merupakan seorang yatim piatu, sehingga ia pun sangat tahu betul dengan perasaannya sendiri jika mengunjungi kedua makam orang tuanya.


Fino hanya diam yang sedang memeluk erat istrinya. Ia pun tidak mampu berkata-kata dengan perasaannya kali ini. Yang jelas ia sudah memperkenalkan istrinya di hadapan kedua makam orang tuanya.


Cukup lama mereka saling berpelukan, hingga berbunyi suara yang sangat memalukan.


Krukk


krukk


Fino langsung melepaskan pelukannya dan menatap wajah Milan yang sudah malu-malu kucing, mendengar suara nyaring entah dari mana asalnya, yang jelas bukan dia.


"Aku lapar" ucap Milan pelan sambil menundukkan pandangannya.


Fino hanya tersenyum tipis, ia pun lalu membuka dasboard mobilnya, tampak cemilan instan dan air mineral bersembunyi di dalam sana.


"Semoga cemilan ini bisa mengganjal perut mu" ucap Fino dengan sedikit senyuman.


Dengan rona wajah memerah karena malu, Milan lalu mengambil cemilan instan tersebut. Sementara Fino menyalakan mesin mobilnya dan menancap gas meninggalkan tempat tersebut.


Bersambung......


Terima kasih atas dukungan teman-teman 🙏


Jangan lupa kritikan dan saran teman-teman semua, agar cerita ini semakin lebih baik kedepannya 🙏