Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 98


Sore ini adalah jadwal Bunga konseling, Sastra sudah datang dan duduk di dalam toko sejak pukul lima belas.


Saat sedang menunggu datanglah Bu Marni yang baru tiba sepulang dari desa. Bu Marni begitu terkejut karena orang mereka hindari selama ini sekarang berada di hadapannya.


Sastra berdiri dan langsung menghampiri. "Tante, bagaimana kabarnya?"


"Ba-baik. Tapi sedang apa Nak Sastra di sini?" Bu Marni langsung teringat pada Bunga, dia takut anaknya akan kembali terpuruk seperti dulu jika melihat Sastra. Tak lama Bunga keluar dari dalam sudah siap untuk berangkat.


"Ibu." Bunga langsung memeluk ibunya.


"Lia, kamu baik-baik saja?" Bu Marni melihat ke arah Sastra dan Bunga secara bergantian, ekspresinya terlihat cemas, Bunga mengerti bahwa ibunya sedang khawatir padanya.


"Aku baik-baik saja." Bunga tersenyum dan menenangkan ibunya.


"Kenapa dia bisa_"


"Nanti aku ceritakan ya Bu. Sekarang aku harus segera berangkat, ada jadwal bertemu dengan dokter Nadine," ucap Bunga pada ibunya.


"Hati-hati Lia."


"Iya Bu." Bunga keluar dari toko hendak mencari taksi.


Sastra berpamitan pada Bu Marni dan segera menyusul keluar untuk menawarkan diri. "Biar ku antar."


"Gak perlu! Lagian kamu ngapain dari tadi nongkrong di toko, memangnya nggak ada kerjaan? terus nasib perusahaan kamu itu gimana? karyawannya kerja, bosnya malah santai-santai di sini!" seloroh Bunga ketus.


"Hari ini jadwal kamu ketemu Nadine bukan? Jadi aku sengaja nongkrong di toko, biar bisa nganterin kamu."


Sastra tetap berbicara dengan lembut sembari tersenyum meskipun gadis yang diajak bicara memberi sinyal tak bersahabat padanya.


"Darimana kamu tahu kalau sore ini aku akan pergi? sejak kapan kamu berubah profesi dari CEO jadi sopir pribadi?" Bunga memutar bola matanya malas.


"Sejak hari ini. Dan apakah kamu lupa siapa pemilik rumah sakit? Nadine itu adalah bawahanku, jadi aku bisa dengan mudah mendapatkan informasi tentangmu," ujar Sastra berbalut nada angkuhnya dengan sengaja.


"Kata orang tua, gak baik nolak rejeki. Aku janji gak akan nyentuh kamu tanpa seizinmu lagi, bila perlu kamu duduk di belakang saja jika tidak percaya padaku." Sastra memasang wajah memelas.


Bunga jadi tidak tega untuk menolak, akhirnya dia membuka pintu mobil dan masuk duduk di samping bangku kemudi. Sastra dengan bersemangat menyusul duduk di belakang setir dan segera melajukan mobilnya.


*****


"Sore ini kamu terlihat berseri-seri, apa ada hal baik yang terjadi?" tanya Nadine ingin tahu.


"Ah... it-itu aku hanya senang ternyata aku tidak terkena serangan panik lagi saat berdekatan dengan laki-laki."


"Benarkah? jadi sekarang kamu merasa baik-baik saja saat berdekatan dengan lawan jenis, siapapun itu di manapun dan kapanpun?" cecar Nadine bersemangat.


"Tidak juga Dokter, hanya saat dengan Sastra saja aku merasa begitu," jawab Bunga pelan. Wajahnya sedikit merona karena malu mengakui kebenarannya.


Nadine tersenyum penuh arti. "Kamu sudah bisa menelaah perasaanmu?"


"Aku masih bingung Dok."


"Tapi kamu merasa aman nyaman berdekatan dengannya bukan? hanya saja sekaligus masih merasa marah dan kecewa di saat yang bersamaan, apa benar begitu?" Nadine menegaskan.


"Aku benci mengakuinya tapi begitulah yang kurasakan." Bunga menjawab sembari menunduk.


"Sepertinya aku sudah tidak perlu meresepkan obat lagi, karena obat yang sebenarnya kamu perlukan sudah datang untuk menyembuhkanmu."


"Maksud Dokter?" Bunga mengangkat wajahnya dan menatap Nadine menuntut penjelasan.


"Bukankah aku pernah bilang, obat terbaik dari trauma itu adalah dengan menghadapinya, bukan menghindarinya. Coba pikirkan lagi baik-baik dan jangan mengambil keputusan di saat suasana hati memanas."


"Baik, aku mengerti."