
Pukul sembilan pagi Sastra sudah sampai di Kota Banjarmasin, Tommy beserta Andrew juga ikut serta untuk mendampingi. Mereka langsung menuju ke lokasi pembangunan dan Nadine sudah menunggunya di sana.
Dalam waktu lima belas menit mereka sudah sampai di lokasi, prosesi peletakan batu pertama untuk pembangunan Rumah Sakit Wira Medika yang kedua berlangsung lancar, kemudian dilanjutkan dengan perjamuan makan siang di sebuah restoran dekat lokasi proyek.
"Sas, bagaimana perjalananmu?" tanya Nadine disela-sela minum teh selepas makan siang.
"Membosankan seperti biasanya, karena aku hanya didampingi dua pria kaku itu bukan dengan wanita cantik!" ujarnya terkekeh.
"Maksudmu Tommy dan Andrew? hahaha... sungguh malang nasibmu." Nadine terkikik geli.
"Terimakasih atas semua bantuanmu Nad, aku tidak salah telah menunjukmu sebagai penanggung jawab dalam proyek pembangunan ini hingga semuanya bisa terealisasi tepat waktu. Aku sudah mengajukan namamu untuk pemilihan kepala Rumah Sakit Wira Medika mendatang, Papa juga sangat setuju karena kamu kompeten dan bisa dipercaya."
"Ah kamu terlalu memuji, aku hanya melakukan yang terbaik yang kubisa karena di kota ini masih banyak fasilitas kesehatan yang peralatannya belum terlalu memadai. Hanya Rumah sakit Wira Medika yang saat ini bisa diandalkan, jadi aku sangat bersemangat saat Prawira Grup akan kembali membangun rumah sakit yang kali ini akan dilengkapi fasilitas berskala internasional."
"Akupun sama antusiasnya, semoga semua rencana kita berjalan lancar tanpa kendala. Papa titip salam untukmu, kapan kamu akan berkunjung ke rumah?"
"Kesibukanku disini susah untuk ditinggalkan, mengingat pasienku bukan pasien sakit biasa, aku harus secara teratur memberikan konseling agar hasilnya maksimal. Tolong sampaikan salam dan juga maafku untuk Paman Arya, aku akan berkunjung jika ada waktu yang memungkinkan," sahut Nadine.
Nadine merupakan saudara sepupu Sastra dari Ibunya. Marissa Narendra adalah kakak dari ibunya Nadine, Nadine dan Rama sudah lama menetap di Banjarmasin, rasa kemanusiaan mereka yang tinggi membuat mereka memutuskan mengabdikan diri di sana.
Di sela-sela perbincangan mereka datanglah pramusaji menyajikan muffin, croissant dan juga puff pastry, aroma butternya menguar di udara dan menggugah selera.
Wangi khas kue itu menggoda penciuman Sastra, lalu ia mengambil satu buah muffin rasa coklat yang tersaji. Saat mencicipinya dia begitu familiar dengan rasa kue yang sedang dikunyahnya, rasa yang sama dengan kue yang sering dibuat oleh Bunga dulu.
"Nad, siapa yang membuat kue ini? Apa ini buatan koki restoran ini?" Sastra bertanya penuh selidik.
"Ah kue ini bukan buatan koki disini, aku sengaja memesannya dari luar dan pihak restoran juga menyetujuinya karena restoran ini sering aku booking untuk acara jamuan. Ini buatan salah satu pasienku, dia sangat pandai membuat kue dan baru saja membuka toko," jelas Nadine.
"Pasienku namanya Lia," jawab Nadine yang kemudian kembali menyesap tehnya.
"Lia?"
"Iya namanya Lia, kenapa kamu begitu tertarik, Apa rasa kuenya tidak enak? Padahal ini kue terenak yang pernah kumakan lho," ucap Nadine sembari tangannya mengambil satu buah croissant
"Enak, sangat enak. Hanya saja rasa kuenya mengingatkanku pada seseorang, mungkin karena aku terlalu merindukannya." Sastra tiba-tiba menyendu.
Nadine memperhatikan perubahan air muka Sastra. "Apakah kamu butuh teman untuk bercerita? Sepertinya kamu tidak baik-baik saja?"
"Aku memang tidak baik-baik saja Dokter?" Sastra mengulas senyum tapi sorot matanya memancarkan kesepian.
"Aku bisa menjadi pendengar yang baik, tapi kamu tetap harus membayar sesuai tarif, aku tidak memberikan konsultasi gratis untuk orang kaya sepertimu." Nadine terkekeh dan Sastra pun ikut tertawa.
"Seseorang yang sangat berarti bagiku tiba-tiba pergi meninggalkanku. Aku sudah mencarinya satu tahun belakangan ini, hanya saja dia menghilang seperti di telan bumi. Mungkin Tuhan sedang menghukumku karena aku telah melukainya begitu dalam." Sastra mengembuskan napasnya dengan berat.
"Apakah dia juga penyebab kamu jadi gila kerja seperti sekarang ini? Akupun sempat heran karena sifat playboy Sastra Prawira tiba-tiba menghilang dari peredaran, ternyata dia sudah diluluh lantahkan oleh seseorang." Nadine meledek Sastra.
"Hahaha... kamu benar aku telah luluh lantah tak bersisa."
"Semoga kamu bisa segera menemukannya, mungkin aku bisa ikut membantu untuk mencarinya?" tawar Nadine.
"Terimakasih tawarannya Nad, tapi aku sudah menyewa orang-orang yang handal di bidang itu."
"Baiklah, oh iya jangan lupa kirimkan uang ke rekeningku untuk membayar biaya konsultasimu hari ini!" seru Nadine yang disambut tawa kecil oleh lelaki tampan berlesung pipi itu.