Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 69


Tubuhnya luruh ke lantai, napasnya tercekat. Sastra mengutuk dirinya karena telah melukai perasaan Bunga terlalu dalam, membuat gadis itu tidak ingin hidup lagi dan karena dirinya juga sang jabang bayi telah pergi.


Sastra masih ingat betul binar bahagia yang terpancar dari mata indah kekasihnya saat memberi tahunya bahwa dirinya sedang hamil.


Tetapi dia sendiri yang telah menghancurkan binar itu, membuat mata indah Bunga berurai air mata, cahayanya meredup dan menyendu berganti menyiratkan kesakitan yang teramat sangat akibat luka yang telah ia torehkan.


Sastra menyesal bahkan lebih tepatnya sangat menyesal. Andai waktu dapat diputar kembali, ia akan menyambut kabar itu dengan sukacita, mengelus dan mencium perut kekasihnya, memeluknya, mengiyakan ajakannya untuk mengikat hubungan keduanya dalam tali pernikahan sehingga senyum manis Bunga akan selalu terukir di wajah cantiknya.


Entah apa yang harus disampaikannya nanti saat gadis yang dicintainya itu sadar, bagaimana cara mengatakannya bahwa bayi itu sudah tidak ada lagi? Dan semua hal buruk itu terjadi disebabkan olehnya.


*****


"Dokter lakukan yang terbaik, saya yang bertanggung jawab penuh atas diri pasien."


"Baik Pak, kami akan melaksanakan prosedur kuretase dengan segera, sebagai wali pasien silahkan bapak tanda tangan disini." Dokter menyerahkan berkas untuk ditanda tangani.


Sastra membubuhkan tanda tangannya dan menyerahkan kembali berkas itu, lalu dokter masuk kembali ke dalam ruangan.


Tak lama kemudian pintu UGD terbuka, terdengar suara derak roda tempat tidur rumah sakit yang beradu dengan lantai. Para dokter berjalan didepan dan para perawat mendorong bed Bunga, lalu mereka bertiga mengikuti di belakang. Setelah melewati beberapa lorong sampailah di depan ruangan yang bertuliskan ruang operasi.


Nana yang melihatnya langsung merasa tubuhnya lemas dan hampir pingsan membaca tulisan itu. Dia sangat ketakutan, apa yang sebenarnya terjadi pada Bunga sampai harus di bawa ke ruang operasi?


"Maaf, anda semua hanya bisa mengantar sampai disini, silahkan menunggu di ruang tunggu yang telah disediakan," Seorang perawat berbicara pada mereka bertiga.


"Suster, sebenarnya apa yang terjadi dengan teman saya? kenapa sampai harus dibawa ke ruangan operasi?" tanyanya penasaran.


"Teman anda keguguran, jadi kami akan melakukan prosedur kuretase, mari mbak." Perawat itu dengan cepat masuk ke dalam ruang operasi.


Nana masih linglung dengan perkataan perawat tadi, keguguran? Kuretase? Jadi Bunga sedang hamil? Pantas saja Bunga muntah-muntah dengan hebat tidak seperti biasanya gumam Nana dalam hatinya.


Pikiranya berkecamuk, lalu tiba-tiba Nana langsung berjalan menghampiri Sastra dengan tangan terkepal dan mata yang penuh amarah.


"Pak Sastra sebenarnya apa yang terjadi dengan Bunga? apakah anda mencampakkannya dalam keadaan hamil? Jawab saya!"


Nana membentak Sastra penuh kemarahan, laki-laki itu hanya diam dan menunduk tak mampu menjawab pertanyaan Nana karena memang benar begitu adanya.


Rasya langsung menahan tubuh Nana yang akan mengamuk. "Na ini tempat umum, kamu jangan begini." Rasya mencoba menenangkan pacarnya yang meronta ingin dilepaskan.


"Kenapa Anda diam. Apa memang benar begitu? dasar manusia jahat, Bunga mencoba bunuh diri pasti karena anda telah menyakitinya iya kan? apa yang telah anda lakukan padanya?" Emosi Nana makin meluap-luap.


"Na, biarkan mereka menyelesaikan urusannya, kita tidak boleh ikut campur terlalu dalam," ucap Rasya.


"Kenapa kamu membelanya hah? apakah karena dia bosmu lalu kamu membenarkan tindakannya!" Nana mencengkeram jaket Rasya.


"Bukan begitu Na, tapi ini menyangkut urusan yang sangat pribadi, kita tidak boleh menghakimi tanpa mengetahui cerita sebenarnya. Yang harus kita lakukan sekarang adalah berdo'a, semoga Tuhan memberikan keselamatan kepada Bunga." Rasya menarik tangan Nana dan memilih menjauh dari ruangan itu untuk menghindari keributan.