
Pertemuannya dengan Caroline membuat Bunga sama sekali tidak bisa fokus pada pekerjaannya. Hati dan pikirannya kembali terguncang, akhirnya ia memutuskan untuk pulang lebih cepat dari biasanya.
Sesampainya di rumah, Bunga langsung masuk ke kamarnya kemudian mengambil obat penenangnya di dalam laci. Saat hendak meminumnya ia teringat bahwa sekarang dirinya sedang hamil, obat ini bisa saja beresiko dan berefek buruk pada kandungannya, tetapi jika tidak meminumnya dirinya akan terus-menerus dilanda kecemasan yang semakin memuncak.
Pembicaraannya dengan Caroline masih terngiang-ngiang dan memenuhi seluruh isi kepalanya, membuatnya bimbang untuk mengambil keputusan yang terbaik dalam situasi yang tak pernah diduganya.
Ditaruhnya kembali botol kecil itu kedalam laci, Bunga tidak jadi meminum obatnya, ia memilih untuk merebahkan diri dan memejamkan mata berharap bisa membuat pikirannya kembali jernih. Jiwa raganya benar-benar lelah, setelah beberapa saat pikirannya berkecamuk tak lama berselang Bunga jatuh tertidur.
*****
Saat terbangun hari sudah senja, matahari sudah beranjak pamit dari langit yang bersiap menyambut gelapnya sang malam. Bunga beranjak ke kamar mandi untuk membasuh diri. Guyuran air hangat dari shower jatuh membasahi tubuhnya, Bunga menghela napasnya berat, dielusnya perut ratanya dan hatinya makin terasa dicengkeram seakan ada yang menarik paksa.
Telapak tangannya mengusap uap hangat yang berkabut di cermin, ia menatap pantulan dirinya berharap mendapatkan jawaban. Kristal bening mulai membasahi pipinya, Bunga sama sekali tidak siap jika harus meninggalkan Sastra lagi.
*****
Sastra baru sampai di rumah menjelang waktu makan malam tiba. Saat memijakkan kakinya di teras rumah, ia tidak melihat istrinya yang biasa menyambutnya di depan pintu.
Sastra melangkah ke ruang makan, biasanya di jam-jam begini Bunga sedang membantu menyiapkan makan malam, tetapi dilihatnya hanya ada Bik Isah dan para pelayan yang sedang menata makan malam di atas meja.
"Eh Den Sastra sudah pulang rupanya," sapa Bik Isah.
"Bik, mana Papa dan Bunga?"
"Tuan Besar baru saja sampai, mungkin sedang mandi, sedangkan nyonya muda sudah pulang sejak tadi siang, tetapi dia tidak terlihat turun sedari tadi."
Bunga yang melihat suaminya sudah berada di hadapannya langsung menghamburkan dirinya ke pelukan Sastra.
"Aku rindu kamu, rindu sekali." Bunga membenamkan wajahnya di dada bidang favoritnya.
"Bukankah kita tidak bertemu hanya beberapa jam saja, apakah ini karena bawaan bayi? Sastra membalas pelukan istrinya dan mengecup puncak kepala Bunga.
Bunga mengurai pelukan dan mendongakkan wajahnya. "Sas, aku ingin bertanya. Jika orang-orang tahu bahwa aku pernah mengalami gangguan mental, bukankah itu akan mencoreng nama baik keluargamu?" ia menatap intens ke dalam manik netra suaminya.
"Ada apa? kenapa tiba-tiba bertanya tentang hal ini hmm?" diselipkannya untaian rambut Bunga ke belakang telinga.
"Kumohon jawablah, aku ingin mendengarnya darimu," pintanya memelas.
"Sayang dengarkan aku," Sastra meremas bahu Bunga dengan lembut.
"Yang menyebabkanmu hingga mengalami hal buruk itu adalah aku, jika ada orang yang berani menyebarkan berita itu akan kupastikan mereka mendapatkan ganjaran yang setimpal. Sebelum kita menikah aku sudah mengantisipasi tentang hal ini, mengingat banyak sainganku di dunia bisnis yang mencari kelemahan untuk menjatuhkan citra perusahaan. Ingatlah bahwa kamu itu bukan hanya, karena bagiku kamu adalah segalanya. Cukup percayakan semuanya padaku maka kita akan baik-baik saja. Sebenarnya apa yang mengganggu pikiranmu?"
"Aku hanya takut, jika hal tentangku akan menjadi penyebab terjadinya hal buruk pada keluarga ini dan juga perusahaan."
Sastra merasa heran, baru kali ini Bunga membahas topik seperti ini. Dilihatnya raut wajah istrinya yang gelisah tidak seperti biasanya.
"Sayang, jujurlah padaku. Apakah ada seseorang yang berkata seperti itu padamu?" Sastra menelisik ke dalam mata Bunga dan terpampanglah kecemasan yang penuh sesak bergerombol di dalam sana.