Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 22


Hari ini adalah hari keberangkatan Bunga. Ia sengaja memilih pergi satu hari lebih awal agar esok harinya bisa bekerja dengan performa maksimal. Bunga ingin saat hari pertamanya bekerja memberikan kesan yang baik di lingkungan kerja barunya. Sebelum berangkat Bunga berpamitan kepada bapak dan ibunya serta kedua adiknya.


"Pak, Bu. Do'akan aku ya."


"Iya Nak, kami selalu mendo'akan yang terbaik untukmu, selalu berhati-hati disana," ucap Pak Wahyu berusaha tersenyum walaupun cemas.


"Deri, Devi. Sekolah dengan tekun ya, agar kelak bisa membanggakan dan membahagiakan orang tua. Kakak titip bapak dan ibu," pesan Bunga pada kedua adiknya.


"Siap bos," ucap si kembar serempak sembari sedikit terisak.


Tak lama berselang mobil Sastra sudah sampai di depan rumah, hari ini Sastra akan mengantar Bunga ke tempat tujuan. Pada awalnya Bunga bersikeras pergi memakai bus antar kota, tetapi Sastra tidak memperbolehkan dengan alasan takut gadisnya itu kesasar. Sastra meletakkan koper Bunga di bagasi, kemudian ikut berpamitan kepada orang tua Bunga.


"Om, Tante. Kami berdua pamit."


"Hati-hati mengemudinya, dan tolong jaga putri kami yang berharga ini Nak Sastra," ucap kedua orang tua Bunga berbarengan.


"Pasti om, tante, kalau begitu kami berangkat sekarang."


Sastra dan Bunga masuk ke dalam mobil. Bunga membuka kaca jendela dan melambaikan tangannya pada keluarganya. Setelah mobil melaju dan rumahnya menjauh dari pandangannya, Bunga tertunduk dengan wajah sendu. Sastra yang melihatnya menggenggam tangan bunga dan menautkan jari-jemarinya.


"Kenapa sedih begitu?" tanya Sastra masih dengan tetap fokus mengemudi.


"Aku tidak sedih, hanya mungkin belum terbiasa jika harus tinggal berjauhan dengan keluargaku. Aku pasti akan sangat merindukan mereka," ujarnya sambil menghela napas panjang.


"Setiap akhir pekan kamu libur bekerja. Jika ingin kamu bisa tetap pulang ke rumah keluargamu setiap minggunya dan pangeran tampan ini akan selalu siap siaga mengantar tuan putri kemanapun ingin pergi," ucap Sastra riang sambil mengedipkan sebelah matanya


"Ahaha dasar pangeran genit." Bunga kembali tertawa ceria berkat Sastra yang mencairkan suasana.


"Biarlah genit juga sama pacar sendiri." Sastra tersenyum dan mengecup tangan Bunga. Di tengah-tengah perjalanan dia membelokkan mobilnya ke pusat perbelanjaan.


"Ayo turun, kita mampir kesini sebentar," ajaknya.


Sastra membuka pintu mobilnya untuk Bunga. Gadis itu sedikit keheranan, sebenanya mau apa Sastra mengajaknya kesini.


"Sas, mau ngapain kita kesini?" Bungsu mengerutkan keningnya tak mengerti.


Ternyata Sastra membawanya ke sebuah butik ekslusif di pusat perbelanjaan itu. Bunga duduk di kursi yang telah di sediakan dan Sastra terlihat sedang berbicara pada pelayan toko.


"Tolong pilihkan semua koleksi terkini pakaian kerja untuk gadis itu lengkap dengan sepatu dan tasnya, tambahkan juga pakaian santai dan casual. Pilihkan kualitas yang terbaik dan satu lagi tolong pilihkan gaun tidur juga underwear terbaik yang ada di sini. Tapi untuk yang satu ini jangan beritahukan padanya secara langsung, tolong perkirakan saja ukurannya dan langsung di bungkus," pinta Sastra pada pelayan butik.


"Baik tuan." Lalu pelayan itu menghampiri Bunga "Mari Nona silakan ikuti saya. Aku saya pilihkan ukuran yang sesuai dengan anda," ucapnya sopan.


Bunga melihat ke arah Sastra penuh tanda tanya.


"Sayang ikutlah denganya."


"Untuk apa?" tanyanya kembali.


"Kamu perlu beberapa potong pakaian resmi untuk bekerja, kamu sekarang bekerja di perusahaanku bukan di swalayan lagi. Penampilan sangat diperlukan untuk menunjang pekerjaan, jadi sekarang ikutlah dengannya." Sastra mengusap lembut puncak kepala Bunga.


Benar juga, aku memang tidak mempersiapkan tentang hal itu, haish kenapa aku bisa melupakan hal penting begini sih? Tapi uangku tidak banyak tersisa bagaimana ini....


"Sas, sepertinya baju disini harganya sangat mahal. Kita ke tempat lain saja yang harganya lebih murah ya." Bunga berbisik ke telinga Sastra.


"Tidak mau!" sahutnya keras kepala.


"Tapi uangku tidak sebanyak itu untuk bisa berbelanja di sini." Bunga kembali berbisik.


"Aku yang akan membayarnya dan memotongnya dari gajimu nanti, jadi sekarang jangan membantah lagi." Padahal Sastra tidak akan memotong gajinya, hanya saja jika Sastra bilang dia yang akan membayar semua untuknya gadis itu pasti tidak akan menurutinya.


"Sas tapi_"


"Tidak ada tapi-tapian." Sastra mengibas-ngibaskan telunjuknya tanda tak ingin di bantah lagi.


Bunga akhirnya bangkit karena tidak ingin beradu mulut dengan Sastra ditempat umum. Dia juga tahu jika beradu argumen dengannya sekarang sudah pasti tidak ada gunanya. Bunga berjalan dengan lesu mengikuti pelayan toko, saat si pelayan memilihkan dan menunjukkan berbagai macam model Bunga hanya mengangguk-angguk saja. Bunga sama sekali tidak fokus karena saat ini pikirannya entah sedang berjalan-jalan kemana.


Aku baru akan mulai bekerja, tapi gajiku sudah akan di potong untuk membeli semua ini, tidaaaaaaak uangkuuuuu....