
Entah sudah berapa kali mereka mengulanginya, keduanya terus ingin bersentuhan lagi dan lagi hingga akhirnya mencapai ambang batasnya.
Pukul empat dini hari mereka baru berhenti dan langsung jatuh tertidur karena kelelahan, mereka tidur dengan posisi saling berpelukan seolah takut akan terpisah lagi.
*****
Pagi ini Pak Arya sarapan sendiri di meja makan tanpa ditemani anak dan menantunya.
"Sastra sama Bunga kemana Bik?" Pak Arya bertanya pada Bik Isah di sela-sela menyesap kopinya.
"Sejak tadi mereka belum terlihat turun Tuan, apa perlu saya bangunkan?" sahut Bik Isah.
Tidak biasanya Sastra dan Bunga belum bangun padahal ini sudah pukul delapan. Semenjak anaknya itu menikah, Pak Arya sering mendapati Sastra keluar dari kamarnya tengah malam atau menjelang dini hari dan duduk di meja makan sendirian berjam-jam sekadar untuk minum segelas wine.
Pak Arya hanya memperhatikan dari jauh, ia tahu bahwa ada sesuatu yang terjadi pada mereka dan Nadine juga pernah menjelaskan tentang kondisi Bunga kepadanya. Pak Arya juga pernah muda, ia sangat mengerti bahwa Sastra sedang dalam usia yang produktif dan mempunyai gairah yang tinggi. Namun, beliau memilih tidak ikut campur terlalu dalam mengenai urusan anaknya, biarlah mereka menyelesaikannya berdua saja.
Pak Arya tersenyum penuh arti, baru kali ini mereka masih tertidur dan melewatkan sarapan pagi. Sepertinya mulai sekarang Sastra tidak akan lagi menyelinap keluar malam-malam dari kamarnya.
"Tidak usah dibangunkan, biarkan saja. Mungkin mereka kelelahan, semoga sebentar lagi akan ada tangisan bayi yang meramaikan rumah ini." Terpancar raut bahagia di wajahnya yang sudah tidak muda lagi.
"Semoga Tuan, bertahun-tahun rumah ini begitu sepi dan semenjak Den Sastra memutuskan untuk kembali barulah rumah ini terasa hidup lagi. Semoga kedepannya Tuhan selalu memberkati rumah ini dengan kebahagiaan." Bik Isah pun ikut tersenyum melihat Tuan besarnya tidak muram lagi seperti dulu.
*****
Saat ini sudah hampir tengah hari, Bunga dan Sastra masih betah bergelung dalam selimut. Gorden kamar mereka masih tertutup rapat, sehingga cahaya matahari hanya bisa mengintip dari sela-sela pinggir gorden yang sedikit terbuka.
Suasana kamar itu kusut dan acak-acakan, pakaian Bunga dan handuk Sastra berserakan di lantai, bahkan aroma sisa-sisa percintaan masih tercium dengan kental menyeruak di dalam ruangan itu.
Bulu mata Bunga mulai bergerak-gerak sebelum akhirnya membuka dengan perlahan, ia terbangun karena perutnya berbunyi dan berdemo minta di isi.
Bunga mencoba menyingkirkan lengan suaminya pelan-pelan agar tidak membangunkannya, hanya saja ternyata pergerakannya membuat Sastra terjaga dan lelaki itu mengerjapkan matanya.
"Sayang, mau kemana?" Sastra malah menarik kembali Bunga ke dalam dekapannya.
"Sas, ini sudah siang, perutku lapar."
"Jam berapa ini?" Sastra mengurai pelukannya dan mendudukkan dirinya di tempat tidur
"Tuuuh...." Bunga menunjuk ke arah jam dinding. Sastra melihat jarum jam mengarah ke angka sebelas.
Sastra langsung bangkit dan turun dari tempat tidur hendak mencari ponselnya untuk menghubungi Tommy, tetapi ia lupa jika saat ini tubuhnya sedang tidak memakai sehelai benangpun, sehingga saat turun dan berdiri membuat Bunga menutup mata dengan tangannya dan menjerit kecil.
"Aaaaaaaaaargh... Sastraaaaa! Kamu itu belum pakai celana!"
Sastra menundukkan pandangannya dan ia juga baru menyadari bahwa tubuhnya masih polos tanpa pakaian. Sesaat kemudian ia malah tergelak karena istrinya masih malu-malu saat melihat tubuh telanjangnya.
Sastra tidak berlama-lama menggoda Bunga karena seingatnya ada jadwal rapat yang sangat penting pagi ini, ia mengambil boxer dari lemari dan memakainya lalu menghubungi Tommy.
"Tom, mengenai jadwal rapat tadi pagi kenapa kamu tidak menghubungiku?"
"Rapat baru saja selesai Pak. Pak Arya sendiri yang datang ke kantor dan memimpin rapat. Beliau mengatakan kalau Anda sedang ada urusan yang sangat mendesak sehingga tidak bisa datang ke kantor, beliau juga berpesan agar jangan mengganggu anda dulu," jelas Tommy.
"Papa bilang begitu?"
"Iya benar Pak."
"Ya sudah." Sastra menutup panggilan ponselnya. Senyuman mengembang di wajah tampannya, ia sangat berterimakasih pada papanya yang ternyata sangat mengerti dirinya.