Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 120


Sekitar pukul sepuluh malam semua acara telah selesai. Pak Arya dan Nara sekeluarga menginap di hotel, sedangkan kedua mempelai langsung pulang ke apartemen yang ditempati Sastra di Banjarmasin.


"Selamat datang." Sastra membukakan pintu apartemen. Bunga melangkahkan kakinya masuk dan disusul olehnya.


Sastra membawa Bunga ke kamar tidur yang sudah didekorasi dengan bunga-bungaan yang indah semerbak mewangi dan juga lilin-lilin aromaterapi kesukaan Bunga.


"Sayang aku mandi dulu." Sastra mengusap kepala Bunga dan berlalu masuk ke kamar mandi.


Bunga duduk ditepian ranjang, kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tangannya mengusap-usap seprei berwarna putih itu dan mengambil sejumput kelopak mawar yang bertebaran di atas ranjang dan menghidu aromanya.


Bunga tersenyum, kemudian satu persatu ia membuka tatanan rambutnya, Bunga merasakan pipinya memanas saat memikirkan bahwa ini malam pertamanya. Baru memikirkannya saja sudah membuatnya merona.


Ini memang bukan benar-benar malam pertamanya karena dulu mereka sudah sering melakukannya. Namun, kini berbeda, karena ini adalah malam pertamanya sebagai pasangan suami istri."


Sementara di dalam kamar mandi Sastra sedang membasuh dirinya di bawah guyuran shower. Pikirannya melayang pada perkataan Nadine sesaat sebelum acara selesai.


Flashback on


"Sas, ada hal penting yang ingin kuberitahu padamu, ini tentang Bunga."


"Bunga kenapa?"


"Aku tahu ini adalah hari bahagiamu dan aku tidak ingin merusaknya, tetapi aku harus tetap menyampaikannya." Nadine menghela napasnya berat.


"Sebenarnya ada apa dengan Bunga Nad? cepat katakan saja!"


"Begini Sas, aku belum bisa memastikan apakah tindakan yang dilakukan Rama pada Bunga menyisakan trauma atau tidak, karena selama ini kita menjaga supaya tidak ada pembahasan tentang kejadian itu di depannya. Hanya saja jika efek trauma itu ada, aku harap kamu bisa lebih bersabar dan tidak memaksakan untuk berhubungan intim dulu dengannya, karena jika dipaksakan itu akan membuat kondisinya lebih memburuk dari trauma sebelumnya." Nadine terlihat cemas sembari mengigiti jemarinya.


"Kamu jangan khawatir Nad, aku akan menjaganya. Terima kasih sudah memberitahuku tentang hal ini." Sastra mengulas senyuman manisnya.


Flashback end


Sastra keluar dari kamar mandi hanya memakai bathrobe, lalu ia melihat Bunga sedang kesusahan membuka resleting gaunnya yang terletak di belakang.


"Perlu Bantuan?" Suara Sastra membuat Bunga terperanjat.


"Itu anu... ini... aku tidak bisa membuka resletingnya," ucapnya tersipu-sipu.


Sastra mendekatinya, Bunga berdiri dan Sastra membantu membukakan gaunnya. Saat resletingnya terbuka sempurna terpampanglah punggung mulus Bunga yang halus membuatnya berdesir dengan hebatnya.


"Ehm... ehm, sudah." Sastra berusaha tetap tenang dan menahan gairahnya yang perlahan mulai menanjak naik.


"Ak-aku mau mandi dulu," ujarnya sedikit tergagap. Bunga yang tengah gugup tak sengaja malah menginjak gaunnya sendiri saat hendak melangkah ke kamar mandi, sehingga menyebabkan gaun itu melorot hingga pinggang dan memperlihatkan tubuh bagian atasnya yang hanya memakai bra.


Sastra melotot dan Bunga memekik kaget. Ia berusaha menaikkan gaunnya lagi, namun karena Sastra juga kaget dia malah tersandung gaun panjang itu dan terjatuh tepat menimpa istrinya sehingga posisinya menindih Bunga di pinggiran ranjang.


Mata mereka bersirobok, aroma wangi sabun dan shampo yang dipakai Sastra menggoda penciuman Bunga, tidak dipungkiri Bunga pun berdesir dengan posisi seintim ini.


Ditatapnya sang istri lamat-lamat, sorot mata Sastra saat ini seperti ingin menelanjangi istrinya. Disibakkannya anak-anak rambut yang menutupi pelipis Bunga dan aroma feromon favoritnya yang menguar dari tubuh di bawahnya itu membuat Sastra tidak tahan lagi.


Ia mulai mengecupinya dengan mesra, dari kening, mata, hidung dan kedua pipinya kemudian ditatapnya kembali istrinya itu. Wajah Bunga memerah diperlakukan seperti itu, membuatnya semakin cantik menggoda di mata Sastra.


Lalu dengan perlahan dipagutnya bibir ranum dengan hati-hati, dilumatnya bibir itu dengan penuh kelembutan, Bunga pun ikut terhanyut dan mengalungkan tangannya di leher Sastra, ia membalas ******* demi ******* sarat dengan kerinduan yang terpendam.


*****


Mana tahan ye Bang Sastra, udah dipendem bertaun-taun itu 😂😂😂😂