Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 64


Bunga menaruh cangkirnya dan berlari ke kamar mandi, Nana langsung menyusul dengan sangat khawatir.


"Hoeeeek... hoeeek... hoeeek...."


"Bunga, sebenarnya kamu ini sakit apa?" Nana mengusap-usap tengkuk dan punggung Bunga.


Setelah mualnya mereda Bunga membasuh mulut dan wajahnya, setelah selesai ia kembali duduk di sofa dekat ranjang bersama Nana yang mengekorinya sedari tadi.


"Kamu sakit apa Bunga? jujurlah padaku!" Nana bertanya penuh selidik sambil mengoleskan minyak angin di punggung Bunga.


"Aku nggak apa-apa Na, cuma masuk angin seperti biasa," sahutnya lemah.


"Lalu ada apa dengan koper ini? dan kenapa kamu datang dengan wajah kusut seperti ini, Sebenarnya apa yang terjadi?" cecar Nana.


"Aku berhenti bekerja. Tapi saat ini aku belum bisa pulang ke rumah ibuku karena belum memberitahunya tentang hal ini, bolehkah aku menumpang beberapa hari di sini?" Bunga memaksakan bibirnya tersenyum walaupun hatinya getir.


"Tentu saja boleh, pintu ini selalu terbuka untukmu kapanpun. Tapi kenapa kamu berhenti bekerja? bukankah pekerjaanmu sekarang gajinya besar, apa tidak sayang?"


"Bolehkah aku menjawab alasannya nanti? saat ini aku sedang ingin beristirahat sejenak." Bunga memejamkan matanya.


"Baiklah aku mengerti, beristirahatlah. Apa ada sesuatu yang ingin kamu makan? kamu sangat pucat Bunga, perlukah aku belikan obat masuk angin?" Nana menyudahi mengoleskan minyak angin.


"Nggak usah Na, tiduran sebentar juga pasti udah enakkan kok," ucap Bunga meyakinkan Nana.


"Ya sudah, jika ada apa-apa beritahu padaku ya, hanya saja petang nanti aku harus lembur hingga pukul sembilan malam karena di swalayan sedang ada event produk baru, kamu nggak apa-apa aku tinggal sendirian di sini?" Nana menggenggam tangan Bunga.


"Apa kamu tidak melihat penampilanmu sekarang hah? setiap orang yang melihatmu pasti akan sangat khawatir, ngaca sana di cermin!"


"Iya_iya maaf, makasih ya Na." Bunga memeluk sahabatnya itu


"Sama-sama Bunga."


Sebenarnya perasaan Nana sungguh tidak enak, ini adalah pertama kalinya Bunga terlihat sangat berantakan. Ia merasa sesuatu yang buruk telah terjadi pada sahabatnya itu hanya saja dia memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut. Mungkin Bunga belum siap untuk bercerita saat ini, pikirnya.


*****


Seperginya Bunga dari apartemen, Sastra melemparkan dan membanting barang-barang yang ada di dalamnya, dadanya merasa sesak dan tidak menentu, dia pun tidak memahami dirinya sendiri.


Kelebatan-kelebatan bayangan trauma masa remajanya memenuhi isi kepalanya, dia berteriak frustasi dan menjambak rambutnya.


Sastra mengguyur dirinya di bawah shower berharap semua kenangan buruk yang telah lama dikuburnya itu hilang mengalir bersama air.


Menjelang sore Sastra baru keluar dari kamar mandi, tubuhnya menggigil dan kulit tangannya mengkerut karena terlalu lama di siram air dingin. Setelah berganti pakaian ia mengambil kunci mobilnya dan pergi keluar untuk sekedar mencari sngin.


Sastra melajukan mobilnya tak tentu arah, ingin pergi kemana dirinya pun tak tahu. Ia melamun sambil mengemudikan mobilnya, pikiranya melayang entah kemana.


Hampir saja mobilnya menabrak pembatas jalan, untungnya Sastra mengemudi dengan kecepatan rendah sehingga bisa mengendalikan mobilnya dengan mudah.


Setelah lama melaju tanpa arah tujuan, Sastra memarkirkan mobilnya di sebuah restoran untuk sekedar mengisi perutnya, ia masuk dan duduk di gazebo-gazebo lesehan yang telah disediakan.