
Bunga berdiri di depan foto pernikahannya yang terpampang di dinding kamarnya. Hati dan pikirannya begitu kalut, ditatapnya dirinya dan Sastra di foto itu yang tersenyum bahagia, lalu matanya beralih menatap cincin pernikahan yang tersemat di jari manisnya.
Haruskah ia pergi meninggalkan Sastra? Pikiran itu terus berdengung di kepalanya, menjalar menyesakkan dada hingga terasa perih ke dalam hatinya. Rasa bimbang itu sungguh menyiksa, setelah lama menimbang-nimbang ia pun memantapkan apa yang menjadi pilihan hatinya.
Bunga sudah mengambil keputusan bahwa kali ini tidak akan menjadi pengecut lagi yang lari dari kenyataan, ia akan menghadapi apapun masalah yang terjadi atas konsekuensi dari keputusan yang diambilnya.
*****
"Jadi bagaimana Carol? apa kamu masih ingin melanjutkan rencana busukmu?" Sastra duduk dengan santai sedangkan Caroline tampak begitu tegang dan panik.
"Bagaimana... bagaimana bisa ka-kamu_" ucapan Caroline menggantung di udara.
"Aku bisa melakukan apapun jika ada yang mengancam dan ingin menghancurkan keluargaku, bahkan bila perlu aku akan melakukan cara kotor sekalipun," seru Sastra dengan mata mengkilat berapi-api.
"Ta-tapi aku begini juga karena dirimu!" Caroline setengah berteriak.
"Carol, apa kamu tidak sadar bahwa telah merendahkan dirimu sendiri? kamu itu wanita cantik, berpendidikan tinggi, dan juga berasal dari keluarga terpandang. Dengan terus-menerus terobsesi padaku itu sama saja dengan tidak menghargai dirimu sendiri. Berhentilah mengejarku Carol, jika kamu ingin dihargai dan diinginkan maka kamu harus memulainya dengan menghargai dan menyayangi dirimu sendiri." Sastra menghela napasnya dan menatap Caroline dengan iba.
Caroline masih mematung, tak bergeming sedikitpun dari tempat duduknya sekarang.
"Aku tidak bisa lebih lama lagi disini, sebaiknya kamu hentikan semua kegilaanmu. Jika kamu tetap nekat maka tanggung sendiri akibatnya, karena file asli video itu masih ada padaku." Sastra pergi meninggalkan Caroline yang masih terpaku tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.
****
"Sayaaaaaaaang...."
"Sas, turunkan aku... kamu ini kenapa sih, kepalaku pusing, Sastraaaa....' Bunga memukul-mukul bahu Sastra meminta diturunkan.
Sastra menurunkan Bunga dan memeluknya posesif, "Aku merindukanmu, sangat merindukanmu."
Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Bunga, menghirup aroma candunya dan wangi rambut Bunga yang menenangkan serta memabukkan.
"Ck ck ck dasar manja." Bunga terkekeh dan mengusap-usap punggung Sastra.
"Sebaiknya mandilah dulu, kamu bau keringat suamiku sayang, biar kusiapkan air hangat untuk mandi." Bunga mengurai pelukannya.
"Mandi bersama?" Sastra melempar tatapan mesum pada istrinya.
"Haish kamu ini, ingat kata dokter, bahwa untuk trimester pertama kita tidak boleh terlalu sering melakukannya." Bunga menangkup wajah Sastra dan mengecup bibirnya mesra.
"Aku cemburu." Sastra merajuk.
"Belum apa-apa anakku sudah mencurimu dariku, sepertinya dia akan menjadi saingan beratku nanti," ucap Sastra sambil mengelus-elus perut Bunga.
"Hahaha, dasar kau ini, sebaiknya cepatlah mandi, ini sudah larut, nanti kamu masuk angin."
"Baiklah ratuku, sesuai perintahmu aku hanya akan mandi sendirian saja, sungguh malang nasibku." Sastra masuk ke kamar mandi dengan gontai.
Bunga hanya terkikik geli melihat tingkah Sastra yang sangat manja akhir-akhir ini, padahal yang hamil itu dirinya, tetapi yang moodnya naik turun malah suaminya.