Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
Extra Part 7


Hai my beloved readers yang kusayangi, ini adalah extra part ke tujuh dari novel Kapan Menikah dan masih akan ada beberapa extra part lainnya.


Terima kasih banyak untuk apresiasi, dukungan bintang, like, komentar, dan vote poinnya. Happy reading 💕😘.


*****


Tiga tahun berlalu terasa begitu cepat, Arion sudah tumbuh menjadi bocah lucu yang sedang aktif-aktifnya.


Hanya melihat sekilas saja orang-orang akan tahu bahwa Arion adalah putranya Sastra Prawira, gen papinya itu begitu kental melekat padanya. Mulai dari alisnya, hidungnya, matanya, bahkan lesung pipinya sungguh mirip dengan Sastra, menurut Arya Prawira Arion seperti kloningan Sastra saat masih kecil dulu.


Pagi ini Bunga tengah membantu Sastra berpakaian, hari ini mereka akan menghadiri acara pernikahan Caroline dan Kevin, Bunga dengan telaten mengancingkan kemeja, memakaikan dasi dan membantu Sastra mengenakan jas.


Setelan resmi berbanderol mahal dari brand ternama rumah mode di Eropa, berwarna navy blue dengan garis kerah berwarna hitam legam yang berpadu begitu elegan dan maskulin dengan warna kemeja dan dasi yang senada, melekat begitu sempurna di tubuh tinggi tegapnya.


"Selesai," ujar Bunga.


Matanya memindai penampilan sang suami dari ujung kepala hingga kaki, sorot matanya memancarkan kepuasan atas hasil sentuhan tangannya. Ujung bibirnya tertarik ke atas, sebuah senyuman mengembang di wajah cantiknya, sebuah senyuman yang menyejukan hati siapapun yang memandangnya.


Sastra mengecup kening istri tercintanya, mengusap lembut puncak kepalanya dan menghela Bunga ke dalam rangkulannya.


"Ayo kita berangkat nona cantik," rayu Sastra sambil menipiskan bibirnya.


Di lantai bawah nampak Arion yang sudah siap untuk ikut serta berangkat ke pesta. Bocah kecil itu tengah berlarian ke sana kemari sambil membawa mainan karakter bus kesukaannya, bocah tampan itu juga memakai setelan seperti papinya, hanya saja di desain dari kain khusus untuk balita agar terjamin kenyaman dan kualitasnya.


Bunga menghampiri Arion, ia setengah membungkuk dan menghela putranya kedalam gendongannya. Arion langsung memeluk maminya, ia berceloteh dan tampak begitu senang berada dalam gendongan perempuan yang melahirkannya itu.


Mereka bertiga berangkat diantar oleh Pak Pendi, Sastra sengaja tidak membawa sendiri kendaraannya, ia ingin menggunakan waktunya yang sedikit itu untuk bisa berdekatan dan bercengkrama dengan istri dan putra semata wayangnya.


Saat di dalam mobil, Arion selalu protes jika Sastra memeluk Bunga. Bocah itu akan langsung cemburu jika papinya terlalu berdekatan dengan maminya, posisi Bunga duduk di tengah-tengah mereka, Arion menarik Bunga untuk duduk lebih dekat dengannya.


"No no no... Papi da boleh pegang-pegang Mami lion," seru balita itu dengan ucapan cadelnya yang menggemaskan.


"Kenapa gak boleh? Mami kan istrinya Papi," sahut Sastra protes pura-pura merajuk untuk menggoda putranya dan dengan sengaja ia malah merangkul Bunga ke dalam dekapannya.


Bunga hanya terkikik geli dan menggeleng-gelengkan kepalanya karena kelakuan dua laki-laki yang tengah mengapitnya saat ini.


"Papiiiiiii... jangan peluk-peluk Mami, da boleh pokoknya da boleh!" Arion berteriak-teriak kesal.


Bocah itu melepas paksa tangan Sastra di pinggang Bunga, sudut bibirnya mulai tertarik ke bawah, hidungnya mulai memerah dan di matanya sudah mulai menggenang cairan bening yang siap untuk meluncur saat itu juga.