Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 92


PLAK....


Sastra hanya diam tak bersuara saat Nadine menamparnya.


"Apa benar Lia adalah wanita yang kamu cari selama ini?" tanya Nadine.


"Namanya Bunga Nad, Bunga," sahut Sastra lirih.


"Oke, jadi Bunga yang kau maksud adalah gadis itu?" Nadine menunjuk ke arah tempat tidur.


Sastra mengangguk. Nadine berkacak pinggang dan mencoba berpikir jernih.


"Apa kamu tahu betapa menyedihkannya dia saat pertama kali bertemu denganku? dia adalah pasienku yang pernah kuceritakan padamu."


"Semua itu salahku Nad, aku yang membuatnya begitu. Dan setelah sekian lama mencari akhirnya aku bisa bertemu lagi dengannya, tidak akan kubiarkan dia pergi lagi dariku. Aku sangat mencintainya Nad, tolong berikan aku ruang untuk memperbaiki kesalahanku." Sastra berusaha menahan dirinya agar tidak sampai menangis di depan Nadine.


Nadine terdiam dan menatap saudaranya itu kemudian melirik kearah Bunga di tempat tidur. Dua orang itu terlihat begitu kasihan dimatanya.


"Ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi saat itu!"


Sastra menceritakan kejadian waktu itu secara terperinci, semuanya tanpa terkecuali. Setelah Sastra bercerita kemudian Nadine menghampirinya dan menggenggam tangannya.


"Dulu aku begitu malu, aku tidak ingin orang lain tahu kelemahanku mengenai aib dan prahara kehidupan pribadi orang tuaku, untuk itu aku memendamnya sendiri. Namun, tanpa kusadari akibat dari traumaku malah membuatku melukai dan menyakiti orang yang kucintai. Tapi sekarang aku sudah berdamai dengan papaku, dan terasa lebih ringan disini." Sastra menyentuh dadanya.


"Semua yang terjadi padanya tidak sepenuhnya salahmu. Aku mendengar cerita dari versi ibunya, karena Lia...maksudku Bunga tidak mau bercerita banyak mengenai hal yang membuatnya depresi. Dan juga ibunya menuturkan bahwa anaknya jadi seperti itu juga karena kesalahannya, apakah selama bersamamu Bunga pernah bercerita tentang masalah yang membuat dia begitu tertekan dalam keluarganya?"


"Tidak pernah Nad." Sastra menatap Nadine penuh tanya.


"Kondisi psikis setiap orang berbeda-beda. Mungkin untuk kebanyakan orang tuntutan dari orang tua hanya dianggap angin lalu, tapi untuk sebagian orang itu malah membuatnya tertekan dan melemahkan mental mereka, sehingga saat ada masalah berat lainnya yang datang membuat dia lebih cepat terpuruk dan rapuh, salah satunya adalah Bunga."


Sastra merasa bersalah, karena selama kebersamaan mereka dia tidak mengetahui bahwa Bunga memiliki masalah pribadi yang membuatnya tertekan dan tidak pernah bercerita padanya, dan dia malah menambahkan beban berat yang tidak sanggup ditanggung oleh Bunga.


"Sebenarnya masalah apa yang membuatnya tertekan dalam keluarganya Nad?"


"Sepertinya bukan hakku untuk menceritakannya padamu, kamu bisa bertanya sendiri pada ibunya. Malam ini kupercayakan dia padamu, aku harus kembali ke aula pesta, hanya saja perlu kamu tahu beberapa bulan ini kondisi mentalnya baru saja membaik dan kembali normal walaupun belum sepenuhnya. Jadi ku ingatkan padamu jangan membuat dia tertekan ataupun stress saat dia terbangun nanti."


"Aku mengerti."


"Besok pagi aku akan memeriksa keadaannya, mungkin malam ini dia akan tidur lelap hingga pagi karena efek obat penenangnya. Jangan lupa obati lukamu, memar dan luka itu tidak cocok dengan wajah tampanmu, aku pergi." Nadine menepuk bahu Sastra dan beranjak dari duduknya.


"Terima kasih Nad."