
Sastra menaruh ponselnya di atas nakas. Ia kembali berbaring dan menghadapkan wajahnya hingga sejajar bertatapan dengan Bunga. Tangan kanannya tetap menjadi bantalan kepala Bunga dan melingkar memeluk tubuh gadisnya, sedangkan tangan kirinya menyampirkan untaian rambut sang kekasih lalu ditatapnya lekat-lekat iris mata indah itu.
"Sayang, sore ini juga aku harus segera berangkat ke New Zealand. Mungkin sekitar satu bulan disana karena perusahaan cabang New Zealand sedang dalam keadaan darurat, tetapi aku mencemaskanmu sendirian di sini." Sastra mendesahkan napasnya berat.
"New Zealand...."
Bunga termenung sejenak, selama ini ia tidak pernah berjauhan terlalu lama dengan Sastra. Sebenarnya hatinya merasa sedih karena ini adalah pertama kalinya Sastra akan pergi jauh dalam waktu yang cukup lama, tetapi Bunga tidak bisa egois karena ini menyangkut kepentingan perusahaan keluarga Sastra.
Gadis itu menghela napasnya lalu menangkup pipi Sastra dan menatap ke dalam mata elang itu. "Pergilah. Jangan cemaskan aku walaupun aku pasti akan sangat merindukanmu."
Sastra mencium kening Bunga sangat lama, lalu kembali menatap gadisnya. "Justru aku yang akan sangat merindukanmu, membayangkan jauh darimu membuatku gila. Kupastikan dalam satu bulan akan menyelesaikan semua permasalahan di sana, jadi tunggulah aku pulang."
"Tentu saja, aku akan selalu berada disini menunggumu pulang, jangan lupa untuk selalu saling memberi kabar." Mata Bunga mulai berkaca-kaca.
"Aku akan berusaha untuk selalu mengabarimu setiap hari, don't cry okay."
"Sastra, I love you."
"Love you more baby." Sastra menciumi seluruh wajah cantik itu dan mengusap air mata yang merembes di pipi mulus itu.
"Aku akan berangkat dari sini tengah hari nanti jadi masih ada waktu untuk kita beristirahat, tidurlah kembali." Tangan Sastra bergerak mengelus punggung telanjang Bunga dengan sangat lembut membuat gadisnya itu kembali terbuai untuk masuk ke alam mimpi, Sastra mengeratkan pelukannya dan mereka berdua kembali terlelap bersama.
*****
Sementara Sastra membasuh diri, Bunga menyiapkan makan siang untuk kekasihnya itu. Ia membuat salmon panggang, french fries dan juga salad. Tak lama berselang terlihatlah Sastra keluar dari kamar sudah berpakaian rapi dengan aroma parfum mahalnya dan selalu tampan seperti biasanya.
Sastra duduk berhadapan dengan Bunga, senyumnya merekah bahagia karena Bunga selalu perhatian padanya. "Aku pasti akan merindukan masakanmu di sana."
"Makanlah, sebentar lagi kamu harus segera berangkat bukan?" Bunga memberikan garpu dan pisau makan pada Sastra.
"Terima kasih sayangku."
*****
Setelah selesai makan Sastra langsung berpamitan pada Bunga dan beranjak pergi untuk menuju rumah utama sebelum ke bandara. Dia mengambil berkas-berkas perusahaan dan membawa semua keperluannya untuk urusan di New Zealand, tak lupa dia berpamitan juga kepada Papanya.
"Pa, Sastra pamit."
"Papa percayakan semua urusan disana padamu, Papa sudah meminta Andrew pengacara terbaik kita untuk membantu. Dia sudah menugaskan adiknya yang tak kalah hebatnya untuk terbang ke New Zealand dan bergabung dengan tim pengacara disana. Kamu juga pasti mengenalnya, dia satu kampus denganmu waktu di Amerika," tutur Pak Arya.
"Adik Andrew? maksudnya Caroline." Sastra sedikit terhenyak. "Apa tidak ada orang lain selain dia?"
"Papa sudah meminta yang terbaik dan Andrew merekomendasikannya, Papa yakin pilihan Andrew tidak akan salah mengingat bagaimana selama ini dia selalu berhasil membantu permasalahan perusahaan kita."
Sastra mengembuskan napasnya kasar. "Ya sudah Pa, aku berangkat sekarang."
"Hati-hati Nak, semoga perjalanannya lancar."