
"Sekarang kenapa?" Bunga bertanya masih dalam keadaan terisak.
"Sekarang matamu bengkak seperti panda."
"Apa! huwaaaa...." Bunga malah menangis semakin kencang membuat Sastra kelabakan. Refleks Bunga mengambil bantal disampingnya dan memakainya untuk memukuli Sastra.
Bugh... bugh... bugh....
"Aku sebel sama kamu aku sebel!" ucap Bunga kesal sambil menangis dengan tetap menganyunkan bantalnya memukuli Sastra.
Sastra kembali mencoba memeluk Bunga dan mengusap lembut punggung gadisnya. Walaupun awalnya meronta-ronta teapi akhirnya Bunga berhenti dan membenamkan wajah cantiknya di dada bidang Sastra sambil masih tetap menangis sesenggukan.
Dengan sabar Sastra menenangkan sambil sesekali mengambilkan tisu dan memberikannya pada Bunga.
"Sayang jangan nangis lagi ya." Sastra mengusap sisa-sisa air mata di pipi Bunga namun gadis itu menepis tangan Sastra.
"Jangan menyentuhku, aku mau pulang!" seru Bunga setelah tangisnya mereda.
"Yakin mau pulang sekarang?" Sastra bertanya sambil mengulum senyumnya.
"Iya, memangnya kenapa?"
Tanpa aba-aba Sastra meraup Bunga dan menggendong gadis itu menuju kamar mandi, yang di gendong meronta-ronta berusaha melepaskan diri. "Sas, kamu mau ngapain sih?" protes Bunga dengan nada cemas.
Sastra menurunkan Bunga tepat di depan wastafel. "Kamu yakin mau pulang dengan penampilan begitu?"
Bunga otomatis menghadap ke cermin, dia terperanjat kaget ternyata penampilannya saat ini sungguh kacau. Mata sembab, hidung memerah dan rambut acak-acakan.
Hah ini benar aku? Ya Tuhan kenapa Sastra harus melihatku yang seperti ini? malunya aku huhuhu.
"Seperti apapun tampilan dirimu, bagiku kamu selalu yang paling cantik." Sastra seolah dapat membaca isi kepala Bunga.
Bunga langsung berbalik menghadap Sastra yang sedang berdiri di belakangnya kemudian membeliak kesal sambil cemberut.
"Hahaha, apa mungkin aku memang punya Indra keenam ya?" Sastra terkekeh.
Sastra mengambil washlap dan membasahinya dengan air, kemudian mengusap wajah cantik di hadapannya dengan gerakan lembut dengan telaten. Bunga tidak menolaknya hanya saja dia masih tetap cemberut. Setelah selesai Sastra menuntun Bunga keluar dari kamar mandi dan mendudukkan gadisnya di tepi tempat tidur lalu menyisir rambutnya yang tak karuan.
"Nah, sudah selesai tuan putri." Sastra menampakkan senyuman berlesung pipinya. Kemudian bel pintu apartemen berbunyi.
"Tunggu sebentar, sepertinya asistenku sudah datang." Sastra segera keluar dari kamarnya.
Bunga memegangi dadanya. Dia tadi memang marah pada Sastra, tetapi semua perlakuan lembut lelakinya membuat rasa marahnya menguap begitu saja dan berganti dengan rasa bahagia yang semakin membuncah di hatinya. Setelah beberapa saat Sastra kembali ke dalam kamar dan melihat Bunga yang sedang merapikan ranjangnya.
"Sudah biarkan saja, tidak usah dirapikan. Nanti capek." Sastra merangkul Bunga dan menggiringnya ke arah Sofa yang terdapat di dalam kamarnya. Ia mendudukkan dirinya dan juga menarik Bunga untuk duduk disampingnya.
"Barusan asistenku sudah mengambil berkas lamaranmu, dan mulai hari Senin kamu sudah bisa bekerja di kantor cabang," jelasnya.
"Benarkah?" Bunga yang tadinya cemberut tiba-tiba langsung berubah ceria dan merangkul lengan Sastra, dia bahkan lupa kalau tadi sedang marah pada kekasihnya itu.
"Apa kamu sesenang itu?"
Sastra tersenyum geli karena Bunga berubah bersikap manis padahal tadi sempat mengamuk. Bunga mengangguk dengan senyuman tersungging di bibirnya.
"Lalu kapan kita berangkat kesana? ah tidak tidak. Begini saja, kamu berikan alamat lengkap kantor cabang, aku akan berangkat hari Sabtu saja sekalian mencari tempat kontrakan yang tidak terlalu jauh dari kantor dengan harga sewa terjangkau," Bunga berucap dengan penuh semangat.
"No no no. Tidak perlu mencari, nanti kamu akan tinggal di apartemenku yang dekat kantor cabang. Apartemen itu jarang kugunakan hanya kupakai sesekali jika banyak pekerjaan di sana."
"Apa? apartemen? ta-tapi, aku tidak terbiasa tinggal sendirian di tempat yang luas, lagipula kurasa itu terlalu mewah untukku, aku tidak ingin terlalu membebanimu," sahutnya sungkan.
"Bunga, aku sama sekali tidak terbebani. Kamu adalah pacarku, aku tidak mungkin membiarkanmu tinggal di tempat kontrakan. Aku ingin kamu tinggal di apartemen karena fasilitas di sana sudah memadai dan keamanannya terjamin, aku mohon tinggalah di apartemen saja ya?" pinta Sastra.
Sejenak Bunga termenung, kalau di pikir-pikir ucapan Sastra ada benarnya juga, lagipula dia belum mengenal daerah baru itu bukan? Sepertinya tinggal di apartemen adalah pilihan yang tepat untuk saat ini karena sudah jelas terjamin keamanannya.
"Baiklah."