
Hai my beloved readers yang kusayangi, ini adalah extra part ke enam dari novel Kapan Menikah dan masih akan ada beberapa extra part lainnya.
Terima kasih banyak untuk apresiasi, dukungan bintang, like, komentar, dan vote poinnya, Happy reading 💕😘.
*****
Bunga masuk ke dalam rumah, lalu meminta Bik Isah dan satu pelayan lainnya untuk memandikan dan menjaga Arion karena ia dan Sastra hendak membersihkan diri sebelum sarapan bersama. Mereka berjalan beriringan menaiki tangga dan kembali masuk ke dalam kamar besarnya, Sastra menutup pintu dan menarik tangan Bunga.
"Bagaimana kalau kita mandi bersama?" Sastra menaikkan alisnya dan menyeringai menggoda Bunga.
"Ih kau ini, bisa-bisanya masih sempat berpikiran mesum. Kita sudah kesiangan, jangan sampai membuat Papa menuggu lama untuk sarapan bersama," seru Bunga dengan mata melotot pada Sastra.
Sastra tertawa dan tergelak kencang, ia malah merangkul Bunga ke dalam pelukannya dan merapatkan tubuh mereka.
"Tapi aku juga perlu diperhatikan dan dimanjakan, sekarang kamu lebih perhatian pada Arion dibandingkan aku." Sastra merajuk seperti bocah kecil.
Bunga memicingkan matanya, "wah wah wah, kamu bahkan cemburu pada anakmu sendiri!" Bunga menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Semalam kamu berkeringat bercucuran seperti atlet marathon, jadi cepatlah mandi! jangan menggodaku terus."
Bunga hendak mengurai pelukan suaminya yang mendekapnya begitu erat, tetapi tenaganya tidak seimbang dengan tubuh Sastra yang tinggi tegap.
"Give me morning kiss baby, setelah itu baru aku akan mandi." Ia nenyapukan jarinya di bibir Bunga yang ranum, lembut dan menggoda.
"Tidak tidak tidak, kamu belum mandi, aku tidak mau!" seru Bunga dan tangannya menahan dada Sastra yang semakin mendesaknya.
Bunga memutar bola matanya jengkel, jika tidak dipenuhi maka bisa dipastikan bahwa suaminya itu tidak akan melepaskannya.
"Oke, tapi hanya kecupan saja, setelah itu kamu harus melepaskanku!" sahutnya kesal.
Sastra terkekeh dan menundukan wajahnya. "As you wish my dear."
Bunga mendongak, kakinya berjinjit untuk mensejajarkan tinggi badannya kemudian mengecup sekilas bibir suaminya itu.
Namun, saat hendak melepas kecupannya Sastra malah menahan tengkuknya dan merapatkan pelukannya. Ia memagut bibir Bunga dengan piawai, hingga sekarang yang terjadi bukan lagi kecupan ringan, tetapi sebuah ciuman yang mampu membuat Bunga meremang dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Setelah beberapa saat akhirnya Sastra melepaskan pertautan bibir mereka, Bunga sampai terengah-engah dan dengan rakus menghirup oksigen saat Sastra melepaskan ciumannya.
Sastra tersenyum geli melihat Bunga kepayahan karena ulahnya, ia segera berlari masuk ke kamar mandi sebelum terkena amukan dan meninggalkan Bunga yang masih mematung bersandar ke tembok.
Bunga menutup kedua matanya dan memijat pelipisnya, kini ia merasa memiliki dua bayi, yaitu si bayi besar dan Arion. Lalu sesaat kemudian ia malah tertawa sendiri, karena kelakuan Sastra terkadang seperti anak kecil yang takut kehilangan kasih sayang dari ibunya.
Sastra mandi terlebih dahulu, sementara menunggu suaminya selesai Bunga bersenandung dengan riang sambil merapikan tempat tidur yang lebih mirip kapal pecah dengan jejak bekas pergulatan mereka semalam.
Bunga memungut semua tisu bekas yang berserakan dan membuangnya ke dalam tempat sampah kecil yang ada di kamar, ia juga memungut pakaian dalam Sastra yang tergeletak di lantai. Ketika matanya melirik ke arah kepala ranjang ia melihat sesuatu yang berwarna hitam tersampir di pinggirannya.
Bunga mendekat lalu membelalakkan matanya, ternyata itu adalah celana dalam miliknya. Ia mengumpat dalam hati, kekacauan di kamar ini terjadi karena ulah suaminya yang seperti lepas kendali tadi malam. Bunga segera membereskan pemandangan liar itu sebelum para pelayan datang untuk membersihkan kamarnya lebih lanjut.