
Malam ini bintang- bintang bertaburan berserakan tanpa malu malu memancarkan cahayanya, dengan setia berkelap-kelip mendampingi sang bulan yang tinggal separuh menghiasi langit, menyajikan pemandangan menakjubkan yang memanjakan mata dan menyejukkan hati, sebuah lukisan terindah yang tak tertandingi mahakarya sang pencipta seluruh alam.
Sayup-sayup terdengar deru napas yang terengah-engah dari salah satu ruangan rumah megah bercat putih itu, suara itu berasal dari dari kamar tidur utama di lantai dua rumah tersebut.
Sastra menggeram menandakan sudah mencapai ambang batasnya. Peluh membanjiri keduanya, Bunga masih memejamkan matanya, mulutnya sedikit terbuka dengan dada tersengal naik turun.
Sastra membenamkan wajahnya di ceruk leher Bunga, kedua sikutnya digunakan untuk menopang agar beban tubuhnya tidak serta merta ambruk menimpa Bunga, sementara tangan Bunga masih setia melingkar di punggung Sastra dengan erat.
Keduanya masih berusaha menetralkan napas masing-masing, Sastra merasakan kelegaan yang tak terkira mengaliri seluruh aliran darahnya, setelah tiga bulan lamanya berpuasa akhirnya ia bisa kembali mencumbui istrinya dan menyeretnya untuk berkubang dalam pusaran gairah.
Sastra menarik wajahnya dari keharuman leher Bunga, ia masih memposisikan dirinya di atas tubuh polos istrinya itu. Matanya kembali bersirobok begitu dekat dengan Bunga, hanya berjarak beberapa sentimeter saja, bahkan hidung bangir Bunga bersentuhan dengan ujung hidung mancungnya Sastra.
"Sepertinya malam ini aku tidak akan puas jika hanya satu kali saja menyentuhmu istriku," ucap Sastra menggoda sarat akan hasrat yang sama sekali tidak disembunyikannya.
"Kalau Arion terbangun bagaimana?" Bunga memukul pelan bahu sastra.
"Maka dari itu pelankan suara desahanmu sayang, agar tidak membangunkan putra kita," rayunya mesra tepat di telinga Bunga dan embusan hangat napas Sastra yang menerpa daun telinganya membangkitkan kembali gairah Bunga yang baru saja mereda.
"Jangan menggodaku." Wajah Bunga memerah, rayuan Sastra yang tidak tahu malu membuat wajahnya merona dan memanas.
"Aku ingin memiliki anak yang banyak, jadi kita harus rajin membuatnya, dan aku akan selalu siap sedia untuk mewujudkannya." Sastra terkekeh.
"Tentu saja tidak sekarang sayangku, aku ingin Arion mendapatkan perhatian yang maksimal dalam tumbuh kembangnya, tapi nanti setelah Arion cukup usia untuk memiliki adik, kamu harus berhenti menggunakan kontrasepsi."
Ditatapnya istrinya yang merona dan tersipu itu, terlihat begitu menggemaskan dimatanya. Bibir bunga yang tadi diciumnya habis-habisan semakin ranum merekah, menggodanya untuk menundukkan wajahnya semakin mendekat dan mamagutnya kembali penuh gelora cinta.
Tanpa menunggu persetujuan, Sastra menarik Bunga untuk kembali berpacu dan bergelung dalam gairah. Keduanya sama-sama menggelora seolah tak ada habisnya, bahkan jam di dinding sudah menunjukkan hampir dini hari tapi mereka seolah enggan untuk berhenti.
*****
Cahaya matahari menelisik mengintip masuk ke dalam kamar itu, Bunga terbangun dan merasakan seluruh tubuhnya remuk redam. Pergulatannya semalam sungguh menguras energinya, sebuah senyuman terukir menghiasi wajah cantiknya, ia terkikik geli mengingat semalam mereka berdua benar-benar liar dan menggila.
Di sebelahnya Sastra tertidur dengan lelap, tangan kekarnya masih setia memerangkap tubuh Bunga dengan erat. Keduanya masih polos tanpa sehelai benang pun, hanya ditutupi selimut yang membungkus tubuh mereka. Perlahan Bunga menyingkirkan tangan suaminya dengan hati-hati agar tidak membangunkannya.
Ia segera turun dari ranjang, mengambil dan memakai gaun tidurnya yang teronggok di lantai karena Sastra melemparkannya seenak jidat tadi malam.
Ia melangkah mendekati box bayi, namun saat melihat ke dalamnya Arion tidak ada disana. Bunga mengucek matanya dan mengerjapkannya beberapa kali mungkin saja ia salah melihat karena baru saja bangun tidur.
Namun, setelah berulang-ulang ia melakukannya Arion tetap tidak terlihat di sana. Sekujur tubuhnya lemas, kemana bayi kecilnya pergi? Apakah anaknya hilang? Bunga ambruk ke lantai dan berteriak.
"Arioonnn...."