Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 77


Tubuh tinggi lelaki itu limbung saat berjalan, ia bahkan hampir ambruk karena tidak mampu menopang dirinya sendiri. Sastra berpegangan pada mobilnya lalu merogoh saku jasnya mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.


"Segera carikan seseorang untukku, aku ingin kalian bergerak cepat! akan kukirimkan biodatanya sekarang."


Sastra masuk ke dalam mobilnya dan melaju tak tentu arah, setelah beberapa saat melajukan kendaraannya tanpa tujuan, ia memutuskan untuk pulang ke apartemen yang sempat ditinggali Bunga.


Saat pintu apartemen terbuka masih ada aroma dari lilin aromaterapi yang disukai Bunga, Sastra masuk ke kamar dan menatap nanar foto USG dan juga test pack di atas ranjang. Sastra ingat betul bahwa ia telah melemparkannya saat Bunga memberitahukan kehamilannya.


Diraihnya kedua benda itu, Sastra terduduk di lantai dengan punggung bersandar ke tempat tidur, diusapnya foto USG itu.


"Bayiku, maafkan Papa, Papa telah menyia-nyiakanmu sayang." Dikecupnya sangat lama foto hitam putih yang dipegangnya itu.


Terlintas kembali wajah Bunga yang tersenyum bahagia saat memberikan amplop yang berisi benda tersebut membuat rasa rindunya semakin meluap terasa mencekik dirinya sendiri. Lalu matanya beralih ke bingkai foto yang ada di nakas, foto Bunga yang sedang tersenyum dengan cantiknya saat di Bali.


Diambilnya bingkai foto itu dan air matanya menetes membasahi foto tersebut. "Bungaku maafkan aku, dimanakah kamu sekarang? aku sangat merindukanmu."


Rasa bersalah dan penyesalan yang teramat dalam menyeruak memenuhi seluruh jiwa raganya, Sastra tertunduk, dia menangis dengan pilu dalam kesendirian di malam yang semakin sunyi.


*****


Hamparan rumput nan hijau terbentang di hadapannya. Disana terdapat pohon rindang dan Sastra duduk dibawahnya, ia melihat seseorang yang sangat dirindukan bertahun-tahun lamanya menghampirinya bersama seorang anak kecil.


"Sastra."


.


"Mom?"


Wanita itu tersenyum selembut awan kepada Sastra dan mengelus kepalanya.


"Anakku, pulanglah ke rumah, berdamailah dengan masa lalumu, maafkanlah Papamu."


"Tapi Mom."


"Aku merindukanmu Mom." Sastra memeluk wanita itu. "Anak laki-laki ini siapa? Kenapa dia mirip sekali denganku? Bahkan anak ini juga mempunyai lesung pipi?" tanyanya penasaran.


"Dia anakmu Sas, dia tampan seperti dirimu bukan? semenjak kedatangannya Mom sangat bahagia dan tidak kesepian lagi, hanya saja dia sering menangis karena mencemaskan Mamanya.


Sastra bergetar, tangannya terulur menyentuh anak kecil itu. "Anakku...."


Bocah itu tersenyum padanya dan juga mengulurkan tangannya, saat tangan kecil itu menyentuh wajahnya ada rasa asing yang membuncah di sanubarinya.


Beginikah rasanya menjadi seorang ayah? Jiwaku terasa penuh haru bahagia tiada tara.


"Papa, tolong aku, Mama selalu bersedih dan menangis, dia merindukanku. Katakan padanya aku baik-baik saja disini, ada nenek dan juga kakek yang bermain denganku," ucap bocah itu dengan tatapan matanya yang sangat mirip seseorang, mata Bunga.


"Kakek?"


Anak itu mengangguk dan mengarahkan telunjuknya pada seorang pria yang duduk di kursi tak jauh dari situ, pria itu melambaikan tangannya pada Sastra, itu adalah Pak Wahyu.


"Sas, jangan lupa minta maaflah dengan benar pada ibu dari anakmu, kami harus pergi sekarang."


Lalu tiba-tiba angin bertiup sangat kencang dan Sastra merasa dirinya seperti tersedot dari sana, semuanya memudar, tempat itu semakin menjauh darinya.


"Moooommmm... anakkuuuuuu... tidaaaaaak, jangan tinggalkan akuuuuu...."


Sastra tersentak bangun dari tidurnya, keringat dingin membanjiri dirinya, rupanya d


ia bermimpi dan tertidur dilantai sambil memeluk foto Bunga dan foto USG bayinya.


*****


Pagi-pagi Sastra sudah mandi dan berganti pakaian dengan rapi. Ia hendak pergi ke suatu tempat, ditatapnya kembali foto hitam putih itu lalu disimpan ke dalam sakunya kemudian ia mengambil kunci mobilnya dan bergegas berangkat dari sana.


Di tengah-tengah perjalanan Sastra mampir ke toko bunga dan membeli sebuket bunga mawar putih.