
Bunga kembali tenang setelah dokter menyuntikkan lagi obat penenang. Bu Marni yang baru datang hanya bisa menangis melihat anaknya harus terus menerus diberi obat itu.
Saat Bu Marni masuk, Sastra memilih keluar dari ruangan itu dan menunggu di tempat yang agak jauh tapi penglihatannya masih bisa menjangkau kamar Bunga dirawat.
"Ibu..." ucap Bunga lirih
"Aku ingin pergi menemui bayiku, kasihan dia sendirian Bu, hiks hiks...," ucap Bunga yang menangis dipelukan ibunya.
"Bunga anak Ibu, bayimu tidak sendirian, bukankah ada bapak disana? pasti sekarang cucu ibu sedang bermain dengan kakeknya, jadi kamu tidak usah khawatir lagi." Di usapnya lembut punggung putrinya yang berguncang.
"Benarkah begitu Bu, bayiku bersama bapak?" Bunga mendongak menatap ibunya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tentu saja, dan sekarang kamu harus segera sembuh, bapak dan bayimu disana pasti tidak suka melihatmu seperti ini," bujuknya menatap anaknya dengan senyuman dan membelai kepalanya.
"Kalau aku sembuh bayiku akan bahagia bersama bapak?" tanyanya sambil menatap ke dalam mata ibunya.
"Iya sayang, kamu ingin mereka bahagia bukan?"
Bunga mengangguk. "Kalau begitu aku ingin segera sembuh Bu, tapi aku ingin pergi jauh dari sini Bu. Di sini... di sini masih terasa amat sakit setiap kali aku melihatnya." Gadis itu mengepalkan tangan dan memukuli pelan dadanya sendiri.
"Bunga, apapun yang kamu inginkan Ibu akan menurutinya. Mari kita pergi bersama-sama ke tempat yang kamu inginkan, kita mulai lembaran baru, Ibu akan selalu menjagamu." Bu Marni mencium kepala anaknya dan Bunga memeluk ibunya kemudian terlelap.
Bu Marni meminta tolong pada Nana menggantikannya menjaga Bunga untuk sementara waktu karena ia harus mengurus sesuatu yang mendesak.
*****
*****
Saat ini adalah hari kelima belas Bunga berada di rumah sakit, pagi-pagi sekali Bu Marni sudah berkemas di ruangan Bunga. Karena kondisi putrinya sudah mulai pulih ia meminta pada dokter agar Bunga bisa dipulangkan.
"Bunga, hari ini kita akan pergi Nak, sesuai keinginanmu kita akan pergi jauh."
"Terimakasih Bu, tapi kemanakah kita akan pergi? aku ingin pergi sangat jauh dan tidak bertemu lagi dengannya." Wajah Bunga yang masih sedikit pucat menyendu.
"Tenang saja sayang, Ibu sudah mengatur semuanya, Ibu tahu bahwa dia orang yang berkuasa dan pasti dengan mudah menemukan keberadaan kita, tapi ibu akan berusaha agar dia kesulitan mencari kita," ucapnya meyakinkan Bunga.
Bu Marni mendapat informasi dari Nana bahwa untuk beberapa hari kedepan Sastra ada pekerjaan di luar kota karena Rasya juga ikut serta, untuk itu dirinya sengaja memilih hari ini untuk membawa Bunga pergi. Bu Marni berpesan pada petugas rumah sakit untuk tidak mengabari Sastra bahwa Bunga keluar pagi ini, dengan alasan bahwa laki-laki itu sedang sangat sibuk dengan pekerjaannya.
Bu Marni memesan taksi online dan langsung menuju pelabuhan, di pelabuhan Deri dan Devi sudah menunggu.
Beberapa hari kemarin Bu Marni mengurus kepindahannya keluar pulau dan juga mengurus mutasi sekolah si kembar. Dia memutuskan pindah ke Kalimantan, Bu Marni punya sepupu yang bertransmigrasi di sana, ia ingin memulai hidup baru demi kebaikan Bunga bermodalkan uang hasil menjual rumah dan hanya Nana yang mengetahui tentang hal itu. Kapal telah berlayar dan Bunga menoleh kebelakang.
Selamat tinggal Bunga, selamat tinggal Sastra Prawira, selamat tinggal masa lalu. Selamat datang lembaran baruku, sambut aku sebagai manusia baru, Bunga telah mati, kini panggil aku Lia, Aulia.