Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 113


Bunga sedikit melonggarkan pelukannya dan mendongakan wajahnya. Sastra tersenyum disertai tatapan matanya selembut awan. Dengan hati-hati telapak tangannya menyentuh pipi Bunga yang lebam.


Hatinya meringis perih. Pasti Rama menampar Bunga sekuat tenaga, sehingga bekas tamparannya menggelap hampir keunguan membuat amarahnya kembali tersulut, ingin rasanya dia menghajar Rama hingga wajahnya tak berbentuk sekarang juga.


Maka dari itu ia memilih untuk tidak menemui Rama dikantor polisi dan menugaskan pengacaranya untuk mengurus semuanya, karena jika langsung bertatap muka mungkin Sastra tidak akan bisa mengendalikan dirinya. Dan juga Sastra tidak membiarkan polisi penyidik bertemu secara langsung dengan Bunga karena takut malah membuat gadis itu semakin stress.


"Sakitkah?" tanya Sastra.


"Hmmm." Bunga mengangguk.


Dikecupnya dengan lembut pipi kanan, pipi kiri dan sudut bibir Bunga yang terluka.


"Masih sakit?" Sastra menatapnya penuh cinta.


"Hanya sedikit." Seulas senyum menghiasi wajah pucat Bunga.


Lalu Sastra mengecupnya lagi seperti tadi.


"Sekarang masih sakit?


"Sudah tidak."


Sahut Bunga sambil menggelengkan kepalanya, ada semburat merah di wajahnya. Bunga kembali menenggelamkan dirinya dipelukan Sastra untuk menyembunyikan wajahnya yang memanas. Bunga merasa malu tapi di saat yang sama juga tidak ingin berjauhan dengan lelaki yang dipeluknya ini, ia merasa begitu aman dan nyaman bersamanya.


*****


Orang tua Rama dan Nadine terbang ke Banjarmasin saat mendengar kabar tentang putranya. Mereka langsung menuju kantor polisi untuk menjenguk Rama. Keduanya sangat terkejut dan tidak menyangka putranya bisa berbuat sampai sejauh itu, ibunya hanya bisa menangis, tetapi mereka tetap akan mematuhi hukum yang berlaku karena bagaimanapun juga anaknya harus belajar dari kesalahan yang telah diperbuatnya.


Setelah dari kantor polisi mereka menuju rumah sakit untuk memohon maaf yang sebesar-besarnya pada Bu Marni dan Bunga atas tindakan anak laki-lakinya itu. Dan mereka berjanji bahwa anaknya akan mendapat hukuman yang setimpal dengan kesalahannya.


*****


Sudah beberapa hari Bunga dirawat dan Sastra selalu setia menemani bergantian dengan Bu Marni. Sastra lebih sering berada di rumah sakit karena Bu Marni harus mengurus toko, bagaimanapun juga toko harus tetap berjalan dan beroperasi, apalagi mereka mempunyai pelanggan tetap yang cukup banyak setiap harinya.


Sastra membawa pekerjaannya ke rumah sakit, bahkan ia sering rapat secara online dari sana karena Bunga tidak mau ditinggalkan seolah menempel padanya. Menurut Nadine itu terjadi karena Bunga menemukan titik amannya pada diri Sastra di saat gadis itu berada dalam situasi yang mengerikan.


*****


Pukul 18.00


Sastra sedang menyuapi Bunga makan malam, tetapi yang disuapi terus-menerus protes dan menggerutu karena menu rumah sakit rasanya tidak enak.


"Stop, sudah ah, aku tidak mau lagi." Bunga menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Tapi kamu baru makan tiga suap, buka mulutmu hemm." Sastra mengangkat sesendok penuh makanan ke depan mulut Bunga.


"Aku tidak mau, rasanya tidak enak." Bunga tetap menutup mulutnya.


"Kalau kamu tidak mau makan, aku akan menyuapimu menggunakan ini?" Sastra menunjuk mulutnya dengan seringai tengil lalu memajukan wajahnya hingga jarak mereka hanya sejengkal.


"Ehh tidak tidak, ak-aku makan pakai sendok saja". Bunga mendorong dada Sastra agar sedikit menjauh karena detakan jantungnya tiba-tiba menggila.


"Kalau begitu buka mulutmu, aaaaa...." pinta Sastra.


Bunga membuka mulutnya dengan patuh kemudian Sastra segera menyuapinya, membuat lelaki itu tersenyum penuh kemenangan karena berhasil membujuk Bunga.


"Anak pintar." Sastra mengacak rambut Bunga, dan gadis itu mencebik sebal.