
Bunga sudah sampai di depan rumahnya dan langsung disambut oleh sikembar yang menghambur memeluknya.
"Kakak... kami kangen banget sama kakak kami yang cantik ini."
Bunga terkekeh. "Sudah pandai merayu ya sekarang? nih oleh-oleh buat kalian." Bunga menyerahkan laptop dan printer yang dibelinya serta paper bag yang berisi kue, si kembar bersorak gembira lalu membawa semua belanjaanya ke dalam rumah dan langsung membongkarnya.
"Bu... Ibu... cepat sini, kakak bawa belanjaanya banyak sekali." Bu Marni muncul dari arah kamarnya dan menghampiri Bunga.
"Eh anak gadis Ibu akhirnya pulang juga. Bunga, kamu sekarang jarang sekali pulang ke rumah, apa akhir-akhir ini pekerjaanmu sangat sibuk?" tanya ibunya.
"I-iya Bu, sekarang lagi banyak pekerjaan dan harus lembur di kantor saat akhir pekan." Bunga berbohong, padahal dia tidak pulang karena malas berdebat dengan ibunya.
Si kembar masih sibuk dengan oleh-olehnya, Bunga beranjak ke ruang makan dan duduk di sana bersama ibunya sambil meminum teh.
"Kamu pulang diantar sama siapa? mana Sastra, biasanya selalu dia yang mengantarmu pulang." Mata Bu Marni mencari-cari melihat ke arah depan rumah dari jendela ruang makan.
"Aku pulang diantar sopirnya Sastra Bu, Sastra lagi keluar negeri untuk urusan pekerjaan," jelas Bunga.
"Wah orang kaya memang berbeda ya, kerjaannya sering keluar negeri. Ibu jadi tak sabar untuk mengenalkannya sebagai menantu. Tapi Bunga, kenapa kamu tidak minta mobil saja sama pacar kayamu itu, sepertinya mobilnya banyak?" usul ibunya dengan ambisi berapi-api.
"Bu, untuk apa aku meminta mobil sementara tidak bisa mengemudi sendiri. Lagipula Sastra sudah menyiapkan sopir untuk mengantar kemanapun aku ingin pergi, itu sudah lebih dari cukup."
"Tapi kalau kamu punya mobil sendiri kamu kan bisa mengantar ibu jika berkunjung ke rumah saudara-saudara kita, dengan begitu Ibu bisa pamer dan berbangga pada mereka semua," desak bu Marni pada Bunga.
"Hhh... kamu ini selalu saja begitu jawabanmu. Susah diajak kerja sama. Bagaimana sekarang perkembangan hubunganmu dengan Sastra, apa sudah ada kemajuan?" Bu Marni kembali melontarkan pertanyaan yang sangat sering Bunga dengar.
Tidak seperti biasanya yang selalu ingin menghindar dari pertanyaan semacam ini, kali ini Bunga malah tersenyum merekah menanggapi pertanyaan ibunya.
"Ibu tunggu saja, sebentar lagi apa yang selama ini ibu inginkan akan segera terwujud." Bunga menjawab dengan percaya diri.
"Yang benar kamu?" Bu Marni mengguncangkan bahu Bunga. "Ibu senang sekali mendengarnya, kira-kira kapan?"
"Kupastikan secepatnya Bu."
*****
Sore harinya Nana dan Deni sudah sampai di tempat mereka janjian dengan Bunga, mereka akan menonton film di bioskop bersama-sama, dari kejauhan terlihatlah Bunga muncul dengan penampilan yang sangat berbeda karena sekarang dia terlihat lebih cantik dan modis.
Semenjak berpacaran dengan Sastra, Bunga jadi sering mencicipi yang namanya treatment dan perawatan tubuh untuk memanjakan dirinya karena Sastra yang mengajarinya. Ditambah sekarang Bunga mulai terbiasa memakai barang-barang bermerek dari ujung rambut hingga ujung kaki dan tentu saja karena Sastra yang membelikannya.
Nana dan Deni terperangah melihat seseorang yang muncul di depan mereka.
"Wow... siapa anda nonaaaa? Bunga... kamu jadi berubah gini, bikin pangling. Makin cuantik sekarang." Nana dan Deni langsung menghambur memeluk Bunga.
"Bisa aja kalian, gimana kabar kalian disini? aku kangen." Mereka bertiga berpelukan tanpa memperdulikan orang-orang yang menatap keheranan karena kehebohan mereka bertiga.