Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 104


"Lia, aku sudah lama menyukaimu, jadilah pendamping hidupku."


Para pengunjung cafe yang menyaksikan langsung langsung bersuara riuh.


"Terima, terima, terima, terima."


Mereka terus berkata begitu beramai-ramai membuat Bunga merasa linglung, ia tidak menyangka Rama akan melamarnya di depan umum.


*****


Semua yang terjadi di cafe itu tidak luput dari pengawasan para bodyguard yang ditugaskan Sastra, mereka mengambil gambar kejadian di sana dan mengirimkannya pada sang bos.


Sastra baru saja turun dari jet pribadinya, setelah urusannya selesai dia segera kembali dari Singapura dan langsung menuju Banjarmasin.


Sastra menghidupkan ponselnya, terdapat beberapa pesan dan gambar yang dikirim. Lelaki berlesung pipi itu terkesiap saat melihat foto-foto yang dikirimkan bodyguardnya. Sekujur tubuhnya lemas, seluruh tulangnya seperti dilolosi, ia melihat foto Rama yang berlutut memegang kotak cincin di depan pujaan hatinya dan Sastra sangat paham dari gambar ini bahwa Rama tengah melamar Bunga


Sastra meminta sopirnya langsung mengantarnya ke apartemen. Ia melangkah dengan gontai dan tak bertenaga, apakah sekarang dirinya sudah benar-benar tidak memiliki celah lagi untuk bersama Bunga? Batinnya.


*****


Bunga merasa bimbang, apakah harus menerimanya? Ia tidak memiliki perasaan yang lebih pada Rama, tetapi jika menolaknya di depan umum maka itu akan mempermalukan Rama dan membuatnya kecewa.


Selama ini Rama sudah sangat baik padanya dan membantu pemulihannya, bukankah seharusnya dia membalas budi? Tetapi di saat seperti ini malah Sastra yang memenuhi seluruh isi kepalanya.


"Terimalah aku Lia, aku berjanji akan selalu membahagiakanmu."


Bunga memilin jari-jarinya dengan gusar, kemudian menghela napasnya dan berusaha tetap tenang, ia tidak menyangka tiba-tiba berada dalam situasi yang tak terduga.


"Kak, aku sangat berterimakasih dan menghargai semua yang telah Kakak lakukan untukku, tetapi aku tidak bisa menerima ini. Aku tidak pantas. Kakak orang yang sangat baik dan pantas mendapatkan wanita yang mencintaimu dengan tulus, tapi itu bukan aku. Sekeping hatiku telah dibawa pergi olehnya dan aku sudah tidak bisa memberikan hatiku pada yang lain karena aku sudah tidak memilikinya, maafkan aku."


Perlahan Rama menurunkan tangannya dari bahu Bunga.


"Aku tidak masalah dengan itu semua, asalkan kamu bersedia berada di sisiku aku akan menerima walaupun hatimu bukan untukku."


Bunga tersenyum lembut dan meraih tangan Rama kedalam genggamannya.


"Jangan seperti itu Kak, kamu berhak untuk mendapatkan yang lebih baik, yang kau cintai dan juga mencintaimu. Aku sangat menghargai perasaanmu yang berharga, untuk itu aku jujur padamu. Saat kita memaksa untuk bersama tanpa hati yang terpaut, itu hanya akan membuat kita tersiksa nantinya. Terima kasih atas semua yang sudah Kakak lakukan untukku selama ini, aku hanya bisa mendo'akan semoga kakak selalu dilimpahi kebahagiaan oleh Tuhan, aku pergi Kak."


Rama merasakan dadanya bergemuruh, hatinya terasa sakit karena wanita yang sangat diinginkannya gagal dia dapatkan. Padahal semuanya adalah salahnya sendiri karena nekat melamar Bunga padahal dia tahu bahwa yang dicintai Bunga adalah pria lain. Rasa marah melingkupi dirinya, obsesinya semakin tak terkendali.


"Biar kuantar, please untuk yang ini jangan menolak." Rama menatap Bunga dengan tatapan memohon.


Akhirnya Bunga mengangguk dan mengekori Rama ke tempat parkir.