Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 47


Bunga termenung disela-sela istirahat makan siangnya. Dirinya mulai jenuh tentang hubungan pacarannya dengan Sastra yang begitu-begitu saja dan ia juga mulai bosan saat mengulangi dosa yang sama.


Tidak dipungkiri setiap kali selesai melakukannya ada rasa bersalah yang bergelayut di hatinya. Bunga sering berpikir sampai kapan dia harus terus menjalani hubungan yang tak sehat seperti ini.


Ia juga tahu apa yang dilakukannya itu adalah salah, tetapi Sastra selalu bisa dengan mudah meruntuhkan semuanya setiap kali Bunga mencoba menolaknya.


Usia pacarannya sudah memasuki bulan ke sepuluh bahkan mereka sudah seperti layaknya sepasang suami istri, tetapi hingga kini masih belum ada perkembangan dan kejelasan tentang arah dan tujuan hubungan mereka mau dibawa kemana.


Bunga selalu menunggu dan berharap Sastra akan segera membawa hubungan mereka ke jenjang pernikahan, tetapi hingga saat ini pria itu tidak pernah sekalipun membahasnya.


Memang benar jika selama ini Sastra selalu memberinya cinta dan kasih sayang serta materi yang berlimpah, tetapi Bunga juga menginginkan status yang jelas tentang kebersamaan mereka yang sudah berjalan hingga sejauh ini.


Bunga memutar otaknya bagaimana caranya untuk meminta Sastra menikahinya, lagipula ia sudah menyerahkan segalanya pada kekasihnya itu. Namun, Bunga tidak mau Sastra menganggapnya mengemis status tanpa alasan yang kuat. Lalu tiba-tiba terlintas ide gila dikepala cantiknya.


Bagaimana kalau aku hamil saja ya? Jika aku mengandung anaknya aku yakin Sastra pasti akan segera menikahiku.


Selama ini Sastra selalu menggunakan pengaman dan setelah Bunga sering membaca artikel-artikel dewasa akhirnya dia paham bahwa Sastra melakukan itu semua agar dirinya tidak hamil.


Bunga membulatkan tekadnya untuk membuat dirinya mengandung, gadis itu memang benar-benar sudah tidak waras dan akal sehatnya menguap entah kemana.


Sore ini setelah jam kerja usai, Bunga langsung pulang ke apartemen karena esok akhir pekan jadi Sastra pasti akan datang nanti malam. Ia membuang semua pengaman yang ditaruh Sastra di kamarnya, kemudian mencari lagi ke sudut -sudut ruangan agar tidak ada satupun pengaman yang tersisa.


ia sengaja berdandan sangat cantik malam ini untuk melancarkan misinya.


Ia menunggu Sastra sambil menonton tayangan televisi, lalu tak berapa lama pintu apartemennya berbunyi dan muncullah sosok yang ditunggu-tunggu dari balik pintu.


Bunga langsung menghambur dengan senyum manisnya yang begitu cantik, ia memeluk Sastra dan kemudian bergelayut manja. Mata Sastra langsung menelusuri penampilan gadisnya yang tidak biasa.


"You're so beautiful baby, apa ada hal yang spesial? kelihatannya hari ini seneng banget." Sastra merangkul pinggang Bunga.


"Of course I'm happy karena kamu akan datang kemari. Aku sudah sangat merindukanmu." Bunga berbisik ke telinga Sastra dan tangannya mengelus-elus dada lelaki itu.


"Kamu mulai nakal ya sekarang." Sastra mencubit ujung hidung Bunga dengan jarinya.


Bunga tersenyum manja. "Sas, kamu pasti lelah bukan? mau makan dulu atau mandi dulu?" aku sudah membeli makan malam tinggal dihangatkan, dan jika kamu ingin mandi dulu aku akan siapkan air hangat."


"Aku ingin mandi terlebih dahulu, lagipula badanku sudah terasa lengket dengan keringat."


"Oke. Tunggu sebentar akan kusiapkan ya." Bunga berlalu ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat.


Sementara Sastra sedang mandi Bunga membongkar isi tas pacarnya itu dan juga memeriksa kantong celana serta jasnya. Ia mencari-cari dan menemukan satu pack di saku dalam tas kerja Sastra. Bunga langsung mengambilnya dan membuangnya ke tempat sampah lalu mengikat kantong sampahnya dan menyembunyikan supaya tidak ketahuan bahwa ia telah membuang semuanya.