
Satu minggu berlalu Bunga dirawat di rumah sakit, luka-luka fisiknya sudah sembuh total dan sore ini ia sudah diperbolehkan pulang. Bu Marni sudah pulang lebih dulu, sedangkan Bunga pulang di antar oleh Sastra. Mereka berdua sudah berada di dalam mobil sekarang.
"Bunga, sebelum pulang aku mau mengajakmu ke suatu tempat," ajak Sastra sambil tetap fokus mengemudi.
"Mau kemana?" Bunga melirik ke samping menatap Sastra.
"Mmmm, rahasia, sebentar lagi kita sampai." Sastra menyunggingkan senyum manisnya.
Sastra membelokkan mobilnya di tepian sungai Barito dan tampaklah para bodyguardnya sudah berada di sana.
"Ayo." Sastra membukakan pintu mobil dan mengulurkan tangannya.
Sastra mengajak Bunga duduk di sebuah kursi kayu, di belakangnya berlatarkan keindahan matahari terbenam nan syahdu di sungai itu. Para bodyguardnya membawa berpuluh-puluh buket mawar merah dan putih, lalu ia berlutut dan membuka kotak berisikan cincin berlian yang indah di hadapan kekasihnya itu.
"Bungaku, menikahlah denganku. Aku memang bukanlah pria sempurna yang tanpa cela, ataupun pria yang pandai mengungkapkan cinta dengan kata-kata bak syair pujangga. Aku juga tidak bisa berjanji bahwa hidupmu bersamaku akan selalu bahagia karena hidup manusia selalu dihiasi dengan dua warna antara tangis dan tawa. Tapi aku bisa menjamin bahwa hanya kamulah satu-satunya pemilik jiwa dan ragaku, wanita yang bertahta menjadi ratu di hatiku seumur hidupku."
Senyum gadis itu merekah dengan cantiknya, matanya dipenuhi binar kebahagiaan. "Aku bersedia, ayo kita menikah!"
Sastra bangkit dari posisinya berlutut tadi lalu duduk disamping Bunga, mengambil cincin dan menyematkannya di jari manis Bunga.
"Jadi, apakah sekarang aku sudah melamarmu dengan benar?" ujar Sastra sambil memandang gadis itu dengan penuh cinta.
"Hmmm." Bunga mengangguk.
"Aku benar-benar sudah diterima?"
"Terimakasih sayang, terimakasih." Sastra langsung meraup Bunga kepangkuannya dan menciuminya. Sastra menciumi seluruh wajah cantik Bunga. Gadis itu meronta minta diturunkan karena Sastra menciuminya di tempat umum.
"Sas, jangan begini dan turunkan aku! Ini tempat umum, itu para pengawalmu melihat kita!"
"Maafkan aku sayang, aku terlalu senang, lagipula aku tidak perduli jika mereka melihat." Sastra malah meneruskan kegiatannya tadi, sedangkan Bunga terus berusaha melepaskan diri dan sekarang wajah gadis itu sudah memerah seperti kepiting rebus.
Para bodyguard yang memegang buket mawar langsung membalikkan badan, mereka merasa malu sendiri melihat kelakuan tuannya yang memesrai kekasihnya tak tahu tempat. Sungguh kasihan para bodyguard yang kebanyakan masih jomblo itu, karena disuguhi pemandangan yang membuat mereka merana.
*****
Keesokan harinya Arya Prawira langsung terbang ke Banjarmasin untuk memenuhi permintaan putranya, Sastra ingin menikahi Bunga dan meminta ayahnya untuk datang menemui orang tua Bunga.
Sekitar sepuluh mobil mewah sudah terparkir di depan Flower's Cake & Bakery, Sastra dan Arya Prawira memasuki toko dan para pengawalnya berdiri dengan siaga di area halaman.
Para pekerja pun seketika heboh, Nisya berlari kebelakang memanggil Bu Marni yang sedang memanggang kue.
"Tan... Tante, it-itu mas ganteng lesung pipi udah ada di depan tapi datengnya gak sendirian, terus bawa pengawalnya juga lebih banyak dari biasanya, memangnya pacar Mbak Lia itu sultan ya?" Nisya berbicara dengan hebohnya.
"Oh ya? coba kamu panggil Lia diatas, biar Tante kedepan sekarang.
Bu Marni membuka apronnya dan berjalan memasuki toko, ia juga terkejut karena kedatangan Sastra kali ini tidak seperti biasanya.