Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
Extra Part 9


Mereka bertiga telah sampai di tempat resepsi pernikahan Kevin dan Caroline dilangsungkan, acara digelar di luar ruangan di sebuah villa yang letaknya tidak jauh dari gereja tempat pemberkatan kedua mempelai.


Sebuah pesta dengan konsep pesta kebun berlatarkan pepohonan dan rerumputan hijau yang asri memanjakan mata, membuat suasana begitu nyaman, tenang dan menyenangkan.


Saat tiba di sana, para tamu undangan akan langsung disambut karpet berwarna merah yang sepanjang sisinya dipenuhi jejeran bunga-bungaan segar yang tertata rapi, mulai dari bunga gardenia, tulip, lili, hingga mawar merah dan putih nampak menghiasi seluruh tempat itu dengan indah memesona.


Sastra menggandeng Bunga sambil menggendong Arion di pangkuannya, mereka menghampiri pasangan pengantin baru itu untuk mengucapkan selamat.


"Selamat Vin, Carol, semoga menjadi keluarga yang bahagia, saling mengasihi dan menjaga satu sama lain hingga akhir hayat." Sastra memberi selamat dan memeluk Kevin.


"Makasih kamu sudah mau datang ke acara pernikahanku, makasih banyak Sas," ucap Kevin begitu bahagia karena sahabatnya bisa datang menghadiri acara penting dalam sejarah kehidupannya.


Bunga yang berada di balik punggung Sastra menampakkan dirinya, ia juga mengulurkan tangannya pada kedua mempelai.


"Carol, Vin, selamat, semoga kehidupan pernikahan kalian selalu di berkati kebahagiaan," ucapnya tulus dari lubuk hatinya.


Caroline memang pernah berbuat salah padanya di masa lalu, akan tetapi bukankah setiap orang berhak diberi kesempatan kedua? Apalagi jika orang tersebut sudah menyadari kesalahannya dan benar-benar menyesal serta bersungguh-sungguh ingin berubah menjadi manusia yang lebih baik lagi.


Karena semua yang terjadi di masa lalu bukan tanpa sebab. Dulu Caroline terlalu terobsesi memiliki Sastra, awalnya memang dia pikir itu cinta, tapi seiring waktu berjalan semuanya semakin tak terkendali sehingga membuat akal sehatnya tidak bekerja lagi dan pikirannya hanya dipenuhui oleh ambisi gila untuk memiliki Sastra digenggamnya.


"Terima kasih Nyonya Sastra, karena telah sudi meluangkan waktu untuk datang ke acara pernikahanku," sahut Caroline dengan sopan, karena bagaimanapun juga kenyataannya Bunga adalah nyonya dari pimpinan perusahaan Prawira Grup tempat firma hukumnya bernaung.


"Baiklah Nyo... eh maksudnya Bunga, silahkan dinikmati hidangannya," ujarnya canggung.


Bunga mengangguk, lalu ia dan Sastra menuju ke tempat duduk yang telah disediakan untuk para tamu. Arion masih betah berada di gendongan Sastra, namun karena mungkin banyak orang yang tidak dikenalnya bocah itu menjadi agak sedikit rewel.


Akhirnya Sastra membawa Arion agak menjauh dari keramaian agar putra kesayangannya itu tidak merasa bosan, sementara Bunga tetap berada di tempat duduknya tengah mencicipi makanan penutup yang manis menggoda menggugah selera.


Datanglah seorang wanita berpakaian seksi duduk mengisi kursi kosong di sebelah Bunga, secara spontan Bunga menolehkan pandangannya saat merasa ada pergerakan di sebelahnya, lalu mata mereka saling bertemu karena ternyata wanita itu tengah menatap kearahnya.


Bunga tersenyum ramah kemudian melanjutkan menyantap makanan yang ada di hadapannya.


"Ehm maaf, apakah benar anda adalah Nyonya Sastra Prawira?" tanya wanita itu tiba-tiba.


Bunga menghentikan makannya, lalu kembali menoleh, matanya memindai wanita itu sejenak. "Iya benar," sahutnya masih dengan senyuman manis yang tersungging di bibirnya.


Jadi rupanya ini istrinya Sastra, ternyata desas-desus bahwa istrinya sangat cantik memang benar adanya, pantas saja Sastra tidak pernah lagi memakai jasaku lagi sejak lama, padahal Sastra adalah salah satu tambang emasku, batin Anita.


"Senang bertemu dengan anda Nyonya, perkenalkan namaku Anita, aku temannya Sastra juga." Anita mengulurkan tangannya. Mereka berdua berjabat tangan, lalu Bunga teringat pernah melihat wanita seksi ini muncul di katalog sebuah majalah fashion.